[TULUS] Diorama

black-and-white-boys-cry-cute-Favim.com-2302133.jpg

Diorama

By Siosilo To.

Kita dalam diorama.

Lima tahun lalu…

Lima belas juta, Rado membelalakkan mata. Modal awalnya supaya bisa diajar dosen adalah lima belas juta. Pontang-panting ibu dan ayahnya bekerja dan mengutang agar Rado tak seperti enam kakaknya yang lain; menjadi perantau rendahan di sebuah mega proyek.

Setelah uang itu ada tak lantas membuat Rado meringkuk tenang dalam pusaran ilmu. Uang kos, makan, dan uang tugas membentang bagai sirratal mustaqim, jika dia gagal melewatinya dia tak akan ke kampus lagi. Namun, entah karena amalnya yang meluber atau karena pintarnya dia menjaga keseimbangan di jembatan itu akhirnya dia bisa mencapai surga; wisuda.

Ibunya berulang kali menghapus air mata tanpa peduli bedak yang dipakaikan tukang salon murahan tadi pagi, wajahnya putih carut-marut, alis yang tadi digambarkan tak lagi ada, hilang entah dicuri siapa, lipstick merah memudar lantaran makan soto betawi di depan kampus tadi. Ibunya tak peduli, yang dia pedulikan adalah anak tampannya yang berjalan dengan tegap menuju ke panggung. Dia bertepuk tangan kencang sekali, sama sekali tak peduli tangannya yang memerah.

Dan hari itu pun berakhir, pengangguran muncul di hari selanjutnya. Rado membuka mata, tak ada lagi teror skripsi yang menghantuinya seperti dulu, hidupnya damai lenggang seperti kuburan. Dia bangun jam setengah dua belas, merasa bersalah ketika tau bahwa makanan sudah disiapkan untuknya.

Tak mungkin dia menganggur, ibu dan ayahnya mati-matian bekerja untuk dia. Menjadi pegawai honor di pemerintahan harus membayar dua puluh lima juta, tak akan sanggup dirinya. Dia akhirnya berjalan menelusuri kota dengan sepeda ayahnya. Mimpinya hanya tinggal ratapan, dia bagai anak tiri di pelukan tuhan.

Hanya meratapi mimpi masa mudanya pun tak ada guna, dia hanya harus bergelut dengan diorama ini. Diorama yang diatur sepenuhnya oleh benda mati bernama uang.

*****

Sekarang…

Sepeda milik almarhum ayahnya saat ini resmi menjadi miliknya. Setiap pagi dia harus mengayuh sepeda itu hingga sampai di sebuah sekolah miskin yang mulai tak mau lagi dilirik zaman. Anak-anak miskin menyapanya dengan hormat walau dia tahu di belakangnya anak-anak itu menghinanya habis-habisan dengan julukan yang tidak-tidak.

Dia masih mencari pekerjaan yang lebih baik, dia masih belajar di mejanya dan di dalam kamarnya. Kawan-kawannya sudah mendapat pekerjaan lantaran uang yang banyak dan kenalan yang luas. Mimpi-mimpinya memudar dan berserakan seperti debu di rumahnya, tak ingin lagi dia menangkap dan menyatukan mimpi-mimpi itu.

Seharusnya biarkan saja dia seperti keenam kakak-kakaknya, seharusnya ibu dan ayahnya tak perlu mati-matian mencari uang lima belas juta. Seharusnya dia bisa hidup dengan pekerjaan keras dengan nyaman, tidak menjadi guru yang menjaga anak-anak yang nakalnya minta ampun lalu berkutat dengan buku lusuh penuh tulisan ceker ayam mereka demi gaji tak seberapa, hanya karena dia sarjana.

Rado mengayuh sepedanya lagi, tak ingin dia memiliki akhir hidup mengenaskan seperti ini, walau mimpinya hancur bukan berarti dia kehilangan semangat. Diorama hidupnya dia haruslah sebuah patung yang bahagia, akan dipaksanya uang-uang itu tunduk padanya.

Ibunya yang semakin lambat berjalan membuat dirinya merasa sesak setiap hari, rasa bersalah dalam hatinya membuat dia terdiam kaku lalu masuk ke kamar dan menangis diam-diam. Batuk ibunya yang semakin kencang membuat dia makin khawatir. Janjinya untuk memperbaiki nasib makin kuat. Seandainya dia punya uang untuk memeriksa ibunya ke dokter.

Telah dilepasnya mimpi-mimpi indahnya, namun hanya satu mimpi yang tertinggal di dalam otak, mimpi itu central, itu adalah pembahagia hidup; uang. Mimpinya saat ini hanya satu, ingin mempunyai banyak uang.

credit pic: here.

Advertisements

4 thoughts on “[TULUS] Diorama

  1. Ibul aku makin suka cerita kamu ih. Cara mengemasnya itu loh, huhu. Ya kebayang banget gimana rasanya jadi pengangguran kayak gitu, mikirin duit ortu yb entah udah berapa2 keluar tapi akunya masih belom bisa balas :^
    Di satu sisi harusnya memegang prinsip ideal bahwa duit gaboleh dijadiin satu2nya tujuan hidup, tp takdir hidup si akunya yang pahit bikin dia begini.. huhu, endingnya bikin sedih 😦
    Keep writing ya Ibul! 😀

    Liked by 1 person

  2. Haloo. aku baru saja baca dan suka dengan ceritanya. Tapiii nggantung huhu pengen tahu lanjutannya 😦 tapi gapapa deh keep writing yaaa dan salam kenal, Niswa di sini 99liner ^^

    Like

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s