[MacSeoul’s Edge of Seventeen] Tahun Baru dan Pesan Terkutuk

President Obama Holds Twitter Town Hall Meeting

credit pict.

Tahun Baru dan Pesan Terkutuk

Ditulis oleh kidokei.

Apa kau pernah dibenci sebegitu besarnya oleh seseorang?

.

Tahun baru ini aku dibebaskan olehnya.

Apa kau pernah dibenci sebegitu besarnya oleh seseorang? Kalau iya, siapa? Apakah itu temanmu atau saudaramu sendiri?

Kalau salah satu atau keduanya, maka itu sudah biasa. Karena aku sendiri, dibenci oleh seseorang yang notabenenya tidak mengenal banyak tentangku—dan dia kunamai Azumi.

Kami saling mengetahui identitas satu sama lain lewat salah satu situs pencarian jodoh terkenal di negara kami, lalu kami berdua memutuskan untuk bertukar kontak media sosial kami dengan alibi untuk mengenal lebih dalam.

Awalnya dia memanggilku dengan sebutan ‘Sayang’ tetapi, karena aku merasa tak nyaman maka aku menolak panggilan itu darinya, dan semenjak itu perlahan sikapnya berubah secara drastis terhadapku.

Azumi: Kau menghindariku, huh?
Azumi: Berani-beraninya, ya.

Bisa kaubayangkan dia orang yang seperti apa? Kalau kalian pikir dia seperti seorang kekasih yang posesif dan menganggapnya wajar-wajar saja, maka aku akan menolak mentah-mentah asumsimu  itu.

Bagiku, dia membenciku lebih dari segala-galanya di dunia ini dan aku ingin segera terlepas dari kekangannya.

Mungkin kalian berpikir aku berlebihan tetapi, yang kuceritakan di sini benar-benar tak ada separo dari berbagai bentuk kebencian yang dia layangkan kepadaku dan aku sudah sangat muak akan semua itu.

Aku merasa terpenjara dan terhina oleh setiap pesan yang selalu dia kirimkan kepadaku. Aku lelah dan sakit, hampir tidak tahan membaca setiap pesan-pesannya akhir-akhir ini. Namun aku harus, bagaimanapun aku harus membacanya, membaca setiap kiriman darinya karena aku tak ingin dianggap sebagai pengecut, terlebih lagi oleh wanita itu. Sungguh, aku tak bakal sudi.

Omong-omong, hari ini hari yang sangat menggembirakan untukku. Hari ini, katanya adalah hari terakhir dia akan menggangguku, membenciku dan mengekangku. Katanya, hari ini dia akan membebaskanku, melepasku terbang ke atas langit dengan sayap baru yang baru saja disembuhkan olehnya sendiri.

Katanya, katanya, katanya. Ah bukan, maksudku ketiknya. Kami tidak pernah sekalipun bertukar suara melalui telepon.

Nah hari ini, dia mengirimkan beberapa pesan singkat yang membuatku dapat bernapas lega. Membuatku merasa dapat hidup kembali dan berhenti memikirkan wanita gila pembenciku tersebut.

Ia mengetik,

Azumi: Hari ini aku akan berhenti.

Aku: Berhenti untuk apa?

Azumi: Mengirimkan pesan padamu dan mengganggumu.
Azumi: Aku akan membebaskanmu, akan kuterbangkan kau ke langit di luar sana.
Azumi: Apa kau tertarik, Sayang?

Aku: Berhenti memanggilku begitu, Keparat.
Aku: Tapi tawaranmu itu, aku mau.

…aku bernapas lega. Selebrasi macam apa yang sekiranya harus aku lakukan untuk ini? Harus bagaimana aku merayakan kemenangan ini? Aku sangat senang!

Azumi: Baiklah.
Azumi: Tetapi, tepati janji ini sebagai permintaan terakhirku padamu.
Azumi: Kau harus datang ke tempat parkir bawah tanah D`Eath Lounge and Bar, tepat beberapa menit saat malam menjelang tahun baru nanti.

Aku: Tentu, aku akan datang.

Azumi: Oke, sampai jumpa.

Aku membaca balasannya tanpa membuka ruang obrolan kami. Dalam pikiranku kembali mengganjal suatu perasaan yang membuatku lagi-lagi tak tenang dan tak tentram. Tapi segera kutepis perasaan itu, kupikir toh ini adalah permintaan terakhir sebelum dia benar-benar melepasku dari jeratan sialannya. Jadi, kenapa tidak?

[Malam Tahun Baru]

Sudah pukul sebelas lebih lima puluh sembilan menit larut malam dan aku masih sendirian di sini—di tempat sepi dan cukup gelap yang hanya diterangi oleh lampu redup hampir rusak satu-satunya di area parkir bawah tanah ini.

“Di mana keparat itu? Apa dia hanya mengerjaiku menunggu semalaman hingga mati kedinginan di sini? Wah, benar-benar,” ocehku menghilangkan kebosanan yang mulai menyergapku dalam keheningan.

Tepat beberapa detik setelah aku mengucapkannya, suara heels sepatu wanita terketuk-ketuk pada tanah berjalan mendekat ke arahku—dan baru saja aku hendak menolehkan kepala, suara lembut seorang wanita tertangkap oleh kedua runguku samar.

“Kubebaskan kau ke langit, Sayang. Happy new year and farewell.”

Lantas semua yang kulihat hanyalah hitam pekat dan aku benar-benar terbang.

Damn, selamanya aku membenci panggilan itu, ucapan selamat tinggal dan tahun baru.

tamat.

Refi’s Note: Haiiii! Udah lama nggak ketemu, gimana kabarnya? Aku balik-balik nulis bawain yang nggak jelas kayak gini maaf yaaa🙏  Oh iya, Refi mau ngucapin selamat tahun baru buat semuanya, semoga semua resolusi kalian tercapai di tahun 2018! Last but not least, mind to review?

Cheers,

Refi.

Advertisements

3 thoughts on “[MacSeoul’s Edge of Seventeen] Tahun Baru dan Pesan Terkutuk

  1. rep ini bener da aku ga nyangka banget endingnya kek gini like lebih arah dari bayanganku ya ampun kaget loh aku huhu edun ini bahasanya ga berat sederhana banget malah tapi beneran seleraku walau aku tetep dag dig dug sejak baca dari awal karena merasa ada yang gak beres di endingnya DAN TERNYATA BENER agsaggjsdjs ;;-;; memang ya bojoku ini demen banget ngagetin ah pokoknya aku amat sangat joha dengan fic ini. semangat terus nulisnya repina bojoku, kutunggu selalu karyamu selanjutnya ❤ ❤ ❤

    Like

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s