[TULUS] Ride or Die

tumblr_oaecr1L6ga1rxfoslo1_500.jpg

RIDE OR DIE

.

by Angela Ranee

based on the prompt

“Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku,

berdua kita hadapi dunia.” —Tulus, “Teman Hidup”

.

picture taken from here.

Namanya Raymond Parker dan ia adalah wujud nyata Dewa Apollo di dunia. Sulit bagi setiap wanita yang ada di Dallas untuk menolak jatuh cinta pada sepasang manik elangnya yang kelam atau senyum semanis madunya.

Dan Samantha Evans memang bukan titisan Dewi Aphrodite, tetapi kecantikannya tidak bisa dipandang sebelah mata. Semua pria mengakui bahwa gadis muda asal Rowena ini terlihat seksi ketika menggenggam Revolver 38 dengan selinting sigaret terselip di antara kedua belah bibirnya.

Raymond Parker dan Samantha Evans (atau Parker, karena keduanya telah menikah beberapa bulan silam) adalah pasangan perampok bank nomor satu Texas dan sampai sekarang masih menjadi buronan.

Bukan pilihan mereka untuk hidup sebagai bandit. Depresi Besar yang melanda perekonomian dunia semenjak Oktober 1929 lalu membuat keduanya kehilangan pekerjaan dan sulit untuk mencari yang baru. Hingga pada suatu malam yang sunyi di pertengahan bulan Agustus 1930, Raymond pulang dengan sekarung uang hasil jarahan dan berkata,”Aku telah mengingkari janjiku ketika kita menikah dulu.”

Sam mengerutkan dahi penuh tanya, membuat Raymond tak perlu lagi menunggu lama untuk kembali berucap,”Aku berjanji akan memberimu segala hal yang baik di dunia, tetapi aku gagal. Dan yang kuberikan sekarang adalah harta yang bukan milik kita serta rasa tidak aman karena kita akan selalu menjadi incaran polisi selanjutnya.”

Raymond mengira Sam akan menamparnya, mengumpat, dan mengusirnya. Tetapi wanita berambut cokelat tua itu beranjak untuk mendekap Raymond dan berbisik,”Kau memang salah, tetapi aku tak akan membiarkanmu sendirian.”

Sam tersenyum timpang, lanjutnya,”Let’s walk on the wrong lane together.”

***

23 Mei 1934, sebuah malam di sudut Kota Gibsland, Louisiana. Di dalam sebuah Ford Model 370 Deluxe Sedan abu-abu itu keduanya duduk berdampingan dan bercengkerama ngalor-ngidul, satu yang hampir tidak pernah mereka lakukan sejak lama lantaran terlalu sibuk merampok bank dan melarikan diri kesana kemari.

“Empat tahun yang lalu di hari ini kita saling mengikat janji pernikahan,” ucap Raymond sembari mengulas senyum tipis. “Hari dimana kita akan menjalani hidup sederhana yang bahagia, siapa yang sangka, sih kalau kita bakal berakhir seperti ini?”

“Kita tidak bisa menyalahkan keadaan,” Sam mengendikkan bahu. “This is what we called as fate. Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah menjadi takdir kita.”

“Pernahkah kau berpikir untuk meninggalkanku?” tanya Raymond sembari menghisap rokoknya, sudah yang ketiga dalam kurun waktu dua jam terakhir. “I mean, you deserve better. You deserve a good life, good man, and good things in your life. A jerk with complicated life like me doesn’t deserve a goddess like you.”

“Berhentilah bicara sok puitis seperti itu,” ledek Sam. Jemarinya menyelipkan sebatang lintingan tembakau di antara bibirnya dan segera menyulut ujungnya. “Yes, I might deserve better than a jerk with complicated life like you. But I still chose you anyway.”

“Bukankah empat tahun lalu kita berjanji untuk selalu bersama dalam suka dan duka serta dalam untung dan malang? Apapun yang terjadi, aku akan selalu menjadi teman hidup seorang Raymond Parker.”

Wanita itu meraih tangan Raymond dan menggenggamnya lembut. “Screw the people. They may hate us together, but they can’t stop us.”

Raymond belum sempat membalas ucapan Sam ketika didengar olehnya suara sirene polisi yang meraung-raung dari kejauhan. Pemuda itu menaikkan sebelah alis, dibalas dengan senyum menantang dari Sam. “Apa yang kau tunggu, Sayang? Let’s ride or die tonight.”

***

Raymond Leonard Parker dan Samantha Claire Evans, dua insan yang saling mencintai bahkan ketika seluruh dunia membenci. Ketika cinta telah membutakan mata dan menulikan telinga, maka tak ada yang bisa orang lain perbuat. Sejak awal, mereka telah mengikat janji untuk selalu bersama dan saling mencintai dalam kondisi apapun. They ride or die together, dan malam ini adalah puncaknya.

Louisiana Highway 154 yang lengang dalam kesunyian malam di Kota Gibsland menjadi saksi bisu kisah Raymond dan Sam. Pria berambut arang itu mengemudikan Ford-nya (well, secara teknis itu bukan milik Raymond karena Ford tersebut adalah hasil curian) dengan serampangan lantara beberapa bagian jalan yang sengaja sudah diblokir membuatnya pening seketika.

 “Sam, apa yang kau lakukan?!” desis Raymond ketika wanitanya meraih Revolver dan menurunkan kaca jendela. “There’s nothing we can do now, Sammy!”

Who cares?!” balas Sam setengah berteriak. “We’ll die tonight anyway!”

Suara sirene, decitan ban mobil yang beradu dengan aspal, serta desingan peluru membelah sepi. Satu peluru menembus lengan Sam, membuatnya berteriak dan mengumpat kesakitan. Satu yang lain menjadikan Raymond sebagai target, membuyarkan fokus pria itu hingga mobilnya berputar tidak karuan dan menabrak pembatas jalan.

Satu, dua, sepuluh, dan entah berapa lagi. Raymond dan Sam terlanjur kehilangan hitungan akan berapa banyak peluru panas yang bersarang di tidak hanya di badan mobil, tetapi juga di tubuh mereka sendiri. Keduanya memilih untuk menyerah setelah Raymond menabrak salah satu mobil polisi. Sam benar, bagaimanapun mereka akan mati malam ini. Raymond hanya tidak menyangka bahwa rasanya akan sesakit ini.

Raymond dan Sam tidak ingat apapun ketika tiba-tiba saja keduanya telah dikeluarkan dari mobil yang ringsek dan tergeletak di jalanan yang berdebu. Di ambang ketidaksadaran, bibir Sam yang berlumur cairan merah pekat masih sempat menyungging senyum timpang pada Raymond. “Sakit, ya?” gumam Sam sebelum terbatuk dan memuntahkan lebih banyak darah.

“M-Maaf…” balas Raymond dengan napas satu-satu. “…dan terimakasih.”

Tetapi tangan Sam meraih tangannya pelan. “Kita tidak selesai sampai di sini, Ray,” Sam tersengal. Menyadari pandangannya yang semakin kabur, Sam tahu bahwa waktu takkan sudi menunggu lebih lama lagi.

“Ray,” panggilnya lirih. “Ayo saling jatuh cinta lagi di kehidupan selanjutnya.”

.

.

.

.

.

“Pasangan suami istri kriminal Raymond dan Samantha Parker tewas di tangan kepolisian Gibsland semalam, 23 Mei 1934. Pasangan perampok bank yang telah menjadi buronan seluruh kepolisian Texas semenjak tahun 1930 ini tewas tertembak setelah dikepung di Louisiana Highway 154. Keberadaan mereka telah dilacak semenjak mereka menjadi pelaku perampokan R. P. Henry & Sons Bank di Lancaster, Texas pada Februari lalu. Selanjutnya, kedua jenazah telah dibawa ke rumah sakit terdekat untuk diautopsi—“

.

-fin.

 

Notes :

  • Salam kenal! Saya Angela Ranee dari garis ’00 J
  • Pertama kali menulis dengan genre historikal dan saya mengambil peristiwa Depresi Besar yang terjadi di era 30an sebagai setting. Pada era tersebut, perekonomian dunia memang lumpuh dan banyaknya pengangguran membuat tingkat kejahatan naik drastis. Cukup banyak perampok ternama dari era Depresi Besar, salah satunya adalah The Barrow Gang.
  • Pertama kali menulis romance dengan tokoh antagonis, sebenarnya hanya sebagai pengingat untuk semuanya bahwa sejahat-jahatnya orang mereka tetap punya sisi kemanusiaan. Dan sisi kemanusiaan Raymond serta Sam di sini ditunjukkan melalui kisah cinta mereka. Maaf kalau jalan ceritanya terkesan terburu-buru dan kurang mengena. Yang menjadi fokus di sini bukan Raymond dan Sam sebagai perampok, tapi kisah cinta mereka sebagai pasangan suami-istri.
  • Semuanya terinspirasi dari kisah cinta Bonnie Parker dan Clyde Barrow, pasangan suami istri perampok bank yang ternama di era 30an. Saya sengaja mengambil tempat serta tanggal kematian mereka untuk dijadikan setting di sini. Selain itu, mobil yang dipakai Raymond dan Sam merupakan death car Bonnie dan Clyde.
  • Good luck bagi Macaroon Seoul dan peserta project lainnya, ya ^^
Advertisements

6 thoughts on “[TULUS] Ride or Die

  1. Ran.
    Oke.
    Jadi gini.
    Aslinya tuh aku ga begitu suka fiksi yang tokoh dan latarnya luar negeri banget begini, aku ndeso jadi sukanya yang lokal-lokal saja terutama jawa. Yha malah jadi curhat.
    Tapi.
    KOK INI BAGUS???
    Pertama, fiksi ini backgroundnya jelas yaitu depresi besar beserta tralalatrilili-nya dan kayanya kamu ngelakuin little research or something pas nulis ini atau emang udah punya pengetahuan tentang semua itu sebelomnya. I think it has to be appreciated because ga semua writer mau repot-repot research dulu. Keren lagi kalo ternyata emang bener ini based on pengetahuan kamu 😀
    Terusss kalo aku perhatiin (cielah) kamu tuh kalo nulis gaya bahasanya sederhana gitu ga pake diksi yang ribet, tapi tetep ga ngebosenin dibaca sampe akhir.
    And lastly I want to thank you for bringing fluff story to another level! Aku kalo dapet prompt kaya kamu pasti bakal bikin cerita tipikal remaja gemas dan ga bakal kepikiran buat beginian. Belom tertarik juga sih sebenernya eksplorasi genre action, huehehe~

    Astaga aku kok sekarang demen komen panjang-panjang ya. Padahal isi komennya super sampah. Tetap menulis ya ranee my luvly semarang fella ❤ ❤ ❤

    Like

    1. Hai, Kak Nadya!
      Wkwkwk sebenernya aku juga kalo bikin fiksi tuh jarang merhatiin latar tempat soalnya yha emang aku kudet dan pemalas sih, jadi aku mau berbangga hati (sekaligus sombong dikit ahahahaha) soalnya ini pertama kalinya aku niat nyari latar tempat buat bikin fiksi 😀
      Sebenernya udah lama aku pengen nulis kisah ala bonnie and clyde. And yes, I did research for almost a week untuk nulis ini. Cukup rumit karena kisah Bonnie and Clyde sendiri kan udah lama banget dari era 30an dan informasi di internet banyak yang rancu, aku bahkan revisi sampe 4-5 kali untuk fiksi ini dan hampir menyerah! Aku sampe mikir “udahlah nulis bonnie-clyde nya kapan-kapan ini jadiin fiksi teenlit alay aja kaya biasanya”, tapi terus termotivasi lagi karena… ya kapan lagi, sih aku bisa belajar keluar dari comfort zone? Hahahaha… Dan karena ini emang temanya historikal, itu kan masuknya udah lumayan ribet, diksinya kubikin simple saja biar ngga puyeng waktu bacanya, hehehe…
      Wkwkwkwk nggak apa-apa Kak aku seneng kok baca komennya 😀 Makasih sudah baca dan komen, Kak Nadya! Terus menulis juga buat my semarang eonni eaaa ^^

      Like

  2. raniiiii yaampun aku mau nangis bahagia dulu dong soalnya kamu bikin ini based on bonnie & clyde yang emang salah satu couple favoritku :(((

    oke oke, aku suka bgt bgt bgt sama historical yg kamu angkat di sini. terus kamu fokus ke romance-nya dan menurutku itu semacem kayak stating ini loh kriminal juga manusia; they had life, they had love, they had heart. dan kamu nulisinnya juga apik tenan. crime-nya kerasa, romance-nya juga. apalagi yang di akhiran itu tuh… “ayo jatuh cinta lagi di kehidupan selanjutnya.” BYE MAU MENGGLESOR.

    keep writing yhaa rani ❤ ❤

    Like

    1. Halo, Ais!
      Same here, aku juga ngeship Bonnie & Clyde karena mereka pairing anti-mainstream, hahaha…
      Whoa glad you like it, deh! Ini pertama kali aku nulis historikal dan sebenernya aku nggak berharap banyak, loh >< Jangan menggelosor dong banyak kuman atuh XD
      Makasih udah baca, Ais! Keep writing juga buat Ais ^^

      Like

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s