[MacSeoul’s Edge of Seventeen] About Freshly Baked Cookies, Family Gathering, and Warm Christmas Atmosphere

christmas au 3

presented by kateejung

“Kita berkumpul menukar tawa dan canda. Merajut jalinan pertemanan lebih dalam, mengikat hubungan keluarga lebih erat.”

.

Irena tersenyum senang begitu melihat kukis buatannya telah selesai dioven. Gadis itu mengangkat nampan dari dalam oven dan menaruhnya di atas meja marmer. Bau kukis yang khas menyeruak ke segala penjuru rumah, membuat Adriel—adiknya yang berusia 11 tahun—berlari ke arah dapur dikelilingi antusiasme yang tinggi.

“Ci Rena, sudah jadi ya kukisnya?” tanya sang adik dengan semangat yang membara. Membuat Irena tak dapat menahan tawa renyahnya.

“Sudah nih. Adriel mau coba?” tawar Irena.

Adriel nampak berpikir sejenak. “Nggak deh, aku nunggu Raga aja, jadi nanti sekali ambil langsung banyak.” Lalu anak itu meninggalkan Irena yang membuat gadis itu mendengus geli.

Gadis itu membiarkan kukisnya tergeletak sejenak, mengambil satu toples kaca berukuran besar, dan membersihkan toples itu lalu setelah memastikan bahwa kukisnya sudah tidak begitu panas, gadis itu memasukkan semua kukis buatannya ke dalam toples hingga terisi penuh dan meletakkan toples itu di meja marmer di dekat meja makan. Irena tersenyum puas melihat hasil karyanya dan segera pergi ke ruang tamu untuk melihat apakah ada yang bisa ia bantu.

Sembari berjalan, Irena menjumpai Daniel—kembarannya yang hanya berjarak setengah jam darinya—sedang menerima pesanan yang diantar oleh delivery service. Irena memutuskan untuk menghampiri kembarannya dan membantu cowok itu membawa pesanan yang ternyata tidak sedikit.

“Papa, ini makanannya ditaruh di mana?” tanya Daniel kepada sang papa yang sedang mengangkat kursi.

“Taruh di atas meja makan aja, Dan. Nanti Mama kamu yang ngurusin makanannya.” jawab Papa. Mendengar jawaban dari sang papa, mereka segera membawa bungkusan yang banyaknya tak terkira itu ke meja makan.

Daniel duduk di salah satu kursinya dan mengamati toples yang isinya kukis buatan Irena. “Ren, kukisnya udah jadi? Minta dong, tester pertama nih.”

“Ya udah ambil sana, tapi satu aja ya. Nanti kalo kebanyakan nyoba, habis dong kukisnya?”

Daniel lantas mencoba kukis buatan adiknya dengan semangat. Maklum, cowok itu belum makan apa pun siang ini selain hamburger yang dibuat oleh papa mereka tadi pagi.

“Gimana Dan rasanya? Enak nggak? Atau kurang manis?” tanya Irena bertubi-tubi.

“Kalo urusan gini emang lo jagonya. Kukis lo tuh gak kalah sama kukis-kukis yang biasanya dijual di toko kue, Ren. Nggak mau buka bisnis apa?”

Irena tertawa mendengar celetukan Daniel, “Nggak ah, males. Lagian buka bisnis gitu kan modalnya harus banyak, koneksi juga harus punya. Repot Dan.” Daniel hanya manggut-manggut, ia ingin mengambil kukis periode selanjutnya namun dihentikan oleh Irena. “Heh, katanya cuman satu?!”

“Laper, Ren. Belum makan apa-apa nih selain burger dari Papa tadi pagi.”

“Tunggu aja, ini juga bentar lagi kelar kok. Jam berapa sih sekarang? Tuh, udah jam empat, begitu makanan-makanan ini siap juga acaranya mulai.”

***

Benar kata Irena, begitu mereka selesai menyiapkan segala sesuatu dan semua makanan telah terhidang di atas meja makan, tamu-tamu acara mereka datang. Iya, Keluarga Halim sedang mengadakan open house hari ini berhubung Natal sebentar lagi akan tiba. Dari pagi kediaman Halim telah sibuk mengurusi ini dan itu, beruntung persiapan mereka selesai pada waktunya. Tamu-tamu yang dimaksud di sini adalah teman-teman orangtua Irena, Daniel, dan Adriel berserta anak-anak mereka. Begitu tamu undangan telah hadir semuanya, acara malam itu pun dimulai.

“Ren, lo jadi bikin kue kering?” tanya seorang remaja laki-laki yang umurnya berkisar sama dengan Irena.

“Jadi dong, Gas,” jawab Irena dengan menyematkan senyuman kecil, “Mau nyobain? Ambil aja tuh di toples kaca di atas meja marmer.”

“Gas, jangan makan banyak-banyak, nanti lo keracunan!” sahut Daniel jahil, disusul gerutuan Irena dan tawa dari seisi ruangan. “Lo ngomong gitu tapi buktinya tadi lo minta tambah loh, Dan.” Irena menyunggingkan seringaian tanda kemenangan ke arah kembarannya, membuat Daniel kicep.

Ish Daniel pencitraan amat sih, biasanya juga doi nggak suka gangguin Irena.” Zidny datang bergabung sambil memakan chocolate lava-nya. Tadi Mama dan Papa Zidny membawakan dua kotak cake buat acara malam ini.

“Lo kok ga ngajak-ngajak sih kalo mau ambil cake, gue juga mau!” cerocos Zidan, cowok itu lalu bangkit dan berjalan ke arah dapur; atau lebih tepatnya ke arah kulkas. “Ya kalau mau tinggal ambil aja apa susahnya sih? Dih si Zidan ini emang ya kelakuan selalu nggak pernah bener, dasar bulu onta.” Zidny mengomel sambil mengambil spot duduk di antara Irena dan Naraya. Mendengar julukan Zidny ke Zidan, Naraya sontak tertawa kencang.

“Aduh panggilan lo ke Zidan tuh kok unyu banget?” sahut Naraya di sela-sela tawanya. Zidny mendengus, “Lucu dari mana sih, Nay? Orang panggilan itu tuh nista banget aduh gue kalo sebel biasanya manggil Zidan pake julukan yang bervariasi, tanya aja ke Mas Ghibran atau Raesha.”

“Bodo amat Zid, mau lo anggap itu panggilan nista tapi kalo bagi gue lucu ya gue ketawain sampe mampus.”

“Duh temen gue pada gak waras semua,” timpal Naren yang sedari tadi diam saja. “Ditambah ini nih curut satu, ketawa nggak berhenti-berhenti. Untung aja Mama sama Papa lagi nggak di ruangan ini bareng kita-kita.”

“Diam, Narendra!”

Sekali lagi, ruang rekreasi lantai dua kediaman keluarga Halim dipenuhi kericuhan. Ada yang cekikikan, mengomel, dan menggelengkan kepala akibat terlalu kenyang mengomentari kelakuan satu sama lain.

***

Setelah mendengar panggilan dari Jared—papa Naraya dan Narendra—semua yang berada di lantai dua segera menghambur ke bawah. Rupanya sebentar lagi mereka akan menyalakan kembang api yang dibawakan oleh Jared di taman belakang.

“Adriel sama Raga jangan pegang-pegang kembang api ya, bahaya.” ujar sang nyonya rumah sambil membagikan tempat kembang api ke para orangtua.

“Iya, Mama. Riel nggak mau main kembang api kok, Riel mau main Mario Kart aja sama Raga.” Adriel menyahut dengan nada yang polos, membuat para ibu-ibu gemas. “Yuk, Raga, kita ke kamar aku, kita main Mario Kart aja.” ajak Adriel. Raga yang sedari tadi diiming-imingi Mario Kart segera melonjak kegirangan.

“Ayo!” jawab Raga kelewat antusias. Kedua anak laki-laki itu menghilang dengan cepat setelah mendapat pesan dari mama mereka. Dasar anak kecil.

Pertunjukan kembang api berlangsung dengan meriah. Bagas dan Zidan heboh mengomentari bentuk dari kembang api mereka, yang lainnya hanya tertawa mendengar celetukan Bagas dan Zidan. Acara malam itu tergolong sukses, menyisakan kebahagiaan dan kehangatan di hati masing-masing individu. Open house yang diimpikan oleh para anggota keluarga sukses membuat mereka semua menyunggingkan senyuman lebar dan melepas gelak tawa. Para orangtua pun juga tanpa beban membahas masalah ini dan itu, membuat suasana menjadi lebih menyenangkan dan tidak garing.

“Kita tunggu open house tahun depan, kawan-kawan. Tahun depan kita request aja ke Irena suruh bikinin apa gitu.” Bagas memberi usul lalu langsung disetujui oleh Zidan dan Naren. Daniel hanya manggut-manggut saja, toh juga dia nantinya disuruh menemani beli bahan.

“Ya nggak papa kalian request, tapi aku kasih tarif satu loyang Rp 50.000 ya. Enak aja kalian request tapi kalian nggak bayarin bahan-bahannya!” Irena menatap teman-teman lelakinya dengan sengit.

“Ya elah Ren, diskon 20% lah, harga teman.”

“Nggak bisa, ini namanya bisnis.”

“Gapapa guys. Nanti kita pesen, gue yang bayarin.” Bagas menyahut dengan tampang sok heroik, mengundang ejekan dari Naraya. “Halah, omong doang lo. Ditagih uang kas aja kata bendahara kelas lo, lo ngelak mulu gak bayar-bayar. Nggak usah sok heroik lo, Gas!”

“Gini nih nasib jadi orang ganteng, Naya aja tau gue nggak bayar uang kas.”

“Ah udah deh! Intinya yang bayar Bagas ya! Gas, gue tagih uangnya di lo kalo kalian mesen. Terima kasih telah memercayai saya.”

Pembahasan itu ditutup dengan erangan Bagas dan tawa puas dari Naraya. Damai sukacita menyertai mereka semua.

fin.

hello, kateejung’s speaking! i wrote these in hurry so i’m sorry if any you accidentally found so many nonsense parts on your way here ;__; thank you for spending your time to read mine, have a joyful holiday! ♥

Advertisements

4 thoughts on “[MacSeoul’s Edge of Seventeen] About Freshly Baked Cookies, Family Gathering, and Warm Christmas Atmosphere

  1. YAELA BAGAS NGAPAIN SIH MUNCUL MANA SERING AMAT GANGGU AJA
    Sumpah ini tuh unyu minyi banget huw christmas spirit-ku sudah meredup lantas kembali lagi abis bacanya. Aku jadi pengen makan kue-kue Natal hahuehuehue ntar nyolong di rumah eyang ajalah :3 Last keep writing ya jane doe q ditunggu karya selanjutnya!
    P.S.: Ditunggu fic gasren-nya tq.

    Like

  2. HELLOOOOOO NYONYA HALIM Q hehehehhehe
    WAHAHAHA JINJJA DAEBAK REAL WANJEON HEOL yoksi halim family yha sampe anak anak ayamku ikut ngerusuhin hm zidan kalo macem macem bakar aja gpp : ) aku jadi kepengen banget makan kue deh abis baca ini tuh soalnya huhu kebayang banget mereka ngumpul semua tuh gimanaaaa yaampun aku kepengen join tapi tapi tapi—
    ayok semangat terus ketlim ((iya manggilnya ketlim)) jangan pantang menyerah, ditunggu karya selanjutnya hm mi luv ya ❤ ❤

    Like

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s