The Last Question

picture taken from here.

angelaranee©2017

.

“It’s not fun to keep secrets,

but sometimes you have to do it to protect yourself.

And to protect people around you.

.

Tuan Thompson merasakan guncangan lembut pada bahunya, lantas perlahan-lahan membuka mata. Dalam pandangannya yang nanar, ia masih bisa mengenali siapa saja yang berada di sekelilingnya saat ini. Istrinya serta keempat anaknya duduk mengelilingi ranjang, berusaha tersenyum meski ia tahu kesedihan di mata mereka tidak dapat bersembunyi.

“Maaf aku terlambat datang, Pa,” ucap pemuda yang duduk di sisi kanan ranjang, yang tak lain adalah putra sulung Tuan Thompson. “Musim liburan begini susah sekali mendapatkan tiket pesawat.”

Tuan Thompson manggut-manggut memahami. “Aku bisa mengerti,” jawabnya lirih. “Aku senang kalian semua ada di sini, mengingat waktuku tidak lama lagi.”

“Papa tidak boleh bicara seperti itu.” Kali ini satu-satunya perempuan muda di dalam ruangan tersebut menimpali, yaitu anak kedua Tuan Thompson. “Papa tetap harus bersemangat untuk segera sembuh, oke?”

Namun Tuan Thompson menjawab dengan tawa. “Kalian tidak perlu menaruh harapan yang terlampau tinggi kepadaku.”

Semuanya kembali jatuh dalam kesunyian yang tidak mengenakkan. Di satu sisi, berat bagi Nyonya Thompson dan keempat anaknya untuk melepas kepergian pria lanjut usia tersebut. Namun di sisi lain, mereka tidak bisa egois dengan tidak mengikhlaskan Tuan Thompson untuk pergi. Pria itu sudah menderita terlalu lama. Kanker menggerogoti nyaris seluruh harapan yang ia punya. Tidak ada yang bisa ia harapkan lagi selain menunggu waktu menjemputnya.

“Aku sudah menulis surat wasiat untuk kalian,” kata Tuan Thompson, memecah keheningan. “Surat itu sudah aku titipkan kepada ibu kalian, dan hanya boleh dibuka sehari setelah kematianku. Apapun yang tertulis di sana, aku harap kalian tidak menjadikannya sebagai bahan perseteruan. Kalian semua anak-anak yang sangat aku cintai, dan kalian sudah cukup dewasa untuk memahaminya.”

Setelah berbicara demikian, Tuan Thompson menatap satu per satu anak-anaknya. Mulai dari si sulung, yang tubuhnya paling kurus di antara mereka berempat, dengan rambut cokelat gondrong sebahu. Kemudian anak keduanya yang juga merupakan satu-satunya putri yang Tuan Thompson miliki, wanita muda bertubuh mungil dengan surai kecokelatan yang bergelombang indah bak model produk perawatan rambut. Lantas yang ketiga, pria yang tubuhnya paling tinggi dan tegap di antara saudara-saudaranya, dengan rambut cokelat cepak khas tentara. Lalu yang terakhir, si putra bungsu, satu-satunya yang berkacamata dan berambut pirang di antara mereka.

Oh, dan sebelum kau bertanya, si bungsu tidak mendapatkan surai pirang tersebut melalui proses pengecatan rambut. Rambut pirang itu sudah ada padanya sejak ia dilahirkan oleh Nyonya Thompson, entah apa penyebabnya. Namun seiring berjalannya waktu, pertanyaan-pertanyaan mengenai asal-usul rambut pirang alami si bungsu tidak lagi dilontarkan dalam kesempatan apapun.

Merasa waktunya tidak lama lagi, Tuan Thompson kemudian beralih untuk menatap istrinya. Tangannya yang teramat kurus susah payah menggenggam milik istrinya. Bibirnya bergetar, melontarkan satu pertanyaan terakhir kepada wanita yang telah membina bahtera rumah tangga selama puluhan tahun dengannya.

“Istriku, izinkan aku bertanya untuk yang terakhir kali, apakah anak pertama, kedua, dan ketiga kita benar-benar buah hati kita sendiri?”

Nyonya Thompson tersenyum. “Tentu saja, Suamiku. Mereka adalah buah hati kita.”

Dan dengan demikian, pandangan Tuan Thompson beralih ke langit-langit kamar, perlahan mengabur, hingga matanya benar-benar terpejam dan napasnya tidak berhembus lagi. Ruangan tersebut diliputi keheningan untuk beberapa detik, sebelum tangisan anak perempuan keluarga Thompson pecah. Ia dan ketiga saudaranya lantas merengkuh tubuh tak bernyawa sang ayah, meninggalkan sang ibu duduk dalam diam sebelum menghela napas lega.

“Oh Tuhan, untung saja ia tidak bertanya soal si bungsu.”

.

.

.

-finished.

Advertisements

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s