[MacSeoul’s Edge of Seventeen] Tournament’s Bet

angelaranee©2017

.

“The relationship status between me and her?

Love-hate relationship.

And, no, doesn’t mean that I both love and hate her at the exact same time.

I am the one who loves her, and she’s the opposite. 

That’s how this relationship works.”

.

“…maka dengan ini mari kita sambut dengan meriah, para peserta Turnamen Pencabutan Nyawa tahun ini! Yang pertama, merupakan kandidat terkuat untuk menjadi pemenang, sosok yang sudah digadang-gadang oleh para fallen angel senior bahkan sejak tahun pertamanya menjadi malaikat pencabut nyawa! TEPUK TANGAN UNTUK EL DIABLO!!!”

Stadion itu lantas gegap gempita, dipenuhi sorak-sorai dan tepuk tangan yang saling bersahutan tiada henti, makin heboh kala sosok yang disebut namanya menaiki panggung dengan senyum tengil dan tatapan angkuh yang telah menjadi ciri khasnya.

“El Diablo! Dari namanya saja kita semua sudah tahu kalau ia adalah fallen angel yang luar biasa! Karirnya berkembang pesat dan sosoknya semakin mendapat perhatian dari Yang Mulia Lucifer semenjak ia diangkat menjadi wakil kepala Divisi Pencabutan Nyawa region Amerika Selatan! Oh, Señor, bisa ungkapkan bagaimana perasaanmu saat ini?” Asmodeus—sang pembawa acara—menyodorkan mikrofon di depan wajah El Diablo.

“Tentu saja, pertama-tama aku mengucapkan terima kasih atas kepercayaan para senior kepadaku. Menjadi peserta Turnamen Pencabutan Nyawa adalah impianku sejak awal aku menjadi fallen angel, dan aku merasa benar-benar tersanjung karena dari sekian banyak fallen angel berbakat yang ada, mereka memilih untuk mencalonkanku dalam turnamen ini. Aku harap aku bisa melaksanakannya dengan baik, dan pulang ke Neraka membawa Golden Cup yang sudah lama menjadi mimpi terbesarku,” celoteh El Diablo, yang kemudian mengakhiri pidato singkatnya dengan mengedipkan mata kanannya ke arah kamera, membuat stadion heboh untuk kesekian kalinya.

“Mengesankan sekali, El Diablo! Kalau boleh jujur, aku sendiri adalah salah satu penggemarmu, hahaha… Mungkin memang tidak segila gadis-gadis di sana yang sedari tadi tak ada habisnya menyerukan namamu, tapi tetap saja aku harap kita bisa berfoto bersama setelah upacara pembukaan ini usai,” kelakar Asmodeus. “Baiklah! Terima kasih, El Diablo! Sekarang saatnya kita bertemu dengan peserta selanjutnya…”

El Diablo berjalan menuju sisi kiri panggung, menatap lurus-lurus gadis berambut kelam yang berdiri di sana, lantas menyeringai. Gadis itu tak butuh waktu lama untuk segera membuang muka dan melipat kedua tangan di depan dada. Ia hampir saja melontarkan serentetan sumpah serapah dan cibiran, kalau saja ia lupa dengan posisinya sekarang.

“…dan kini saatnya, kita sambut peserta kita yang terakhir… TEPUK TANGAN UNTUK ANGELICA!!!”

Stadion kembali heboh dengan sorak-sorai, namun Angelica—nama gadis itu—yakin mereka tidak bersorak karena kagum atau mendukungnya, melainkan karena mencibirnya. Tentu saja, apa yang diharapkan dari seorang malaikat surga yang baru saja dikutuk jadi fallen angel enam bulan silam? Ia masih sangat baru dan tidak berpengalaman, namun dengan begitu lancangnya nekat mendaftarkan dirinya sendiri dalam Turnamen Pencabutan Nyawa yang diadakan setiap akhir tahun. Semua ini akibat dari mulutnya sendiri, yang keceplosan melontarkan sesumbar kala beradu mulut dengan El Diablo beberapa bulan yang lalu.

“Jadi… Angelica? Kuharap namamu tak terlalu suci untuk jadi fallen angel, hahaha…” Asmodeus tertawa garing, dan Angelica hanya bisa merespons dengan senyuman canggung. “Dengar-dengar belum lama ini kau jadi fallen angel, apakah aku benar?”

“Ya… aku… baru mulai bekerja sebagai fallen angel sekitar enam bulan,” jawab Angelica. Suaranya terdengar pelan kendati sudah dibantu dengan mikrofon.

“Enam bulan dan sudah mendaftarkan diri jadi peserta Turnamen Pencabutan Nyawa? Wow, kau benar-benar punya keberanian yang patut dicontoh!” komentar Asmodeus, entah sarkastik atau tidak, karena kini seisi stadion menyambut dengan tawa meremehkan, tak terkecuali si biadab El Diablo.

“Tidak apa-apa, Angelica! Walaupun kau tergolong masih sangat baru, tapi kalau kau punya keyakinan dan ambisi yang besar, semuanya pasti bisa saja terjadi, bukan? Nah, boleh kau jelaskan bagaimana perasaanmu saat ini?”

“Aku…” Angelica berdeham, melirik sekilas El Diablo yang balas menatapnya dengan satu alis terangkat. Angelica bersumpah kalau sedang tidak di depan umum, ia bakal menonjok wajah menyebalkan iblis itu. “Aku tahu aku masih sangat baru, dan aku bukanlah fallen angel berdarah murni. Ya, kalian semua pasti sudah tahu awal mulanya aku bisa berada di sini dan menjadi malaikat pencabut nyawa, bukan? Jangankan menjadi pemenang, mengikuti jalannya turnamen ini saja terdengar begitu mustahil bagiku dan semua orang,” ucapnya. “Aku tidak pernah berharap jadi juara. Berani mendaftar saja sudah begitu kurang ajar. Jadi… aku hanya berharap semoga melalui turnamen ini aku bisa memperbanyak pengalaman yang akan berguna bagiku di kemudian hari. Terima kasih.”

***

What a humble speech.

Itu suara El Diablo, tepat ketika Angelica baru saja hendak melangkahkan kaki meninggalkan stadion. Upacara pembukaan Turnamen Pencabutan Nyawa sudah selesai, yang tertinggal hanyalah sampah dan ejekan dari para penonton yang ditujukan kepada mantan malaikat surgawi itu.

“Apa kau mengatakannya agar mendapat simpati dari… what should I call them, penggemarku?” lanjut El Diablo, mengangkat satu alis dan tersenyum timpang.

Angelica menggeleng pelan, tidak berniat menyahut barang sepatah kata saja. Ia sudah cukup banyak mendengar caci maki hari ini, dan tidak yakin telinganya masih cukup untuk menampung satu lagi dari El Diablo.

“Ayolah, jangan pasang wajah murung begitu. Kau berharap aku jadi kasihan dan bakal bermain aman besok, ya?”

“Aku tidak pernah butuh belas kasihan dari siapa pun,” tukas Angelica. “Yang aku butuhkan adalah turnamen ini segera berakhir dan aku bisa segera lepas darimu.”

El Diablo dan Angelica telah memasang taruhan bagi Turnamen Pencabutan Nyawa ini, karena rasa-rasanya hadiah berupa piala, uang, dan jabatan sebagai kepala Divisi Pencabutan Nyawa tidak cukup memuaskan. Bila Angelica menang, maka El Diablo tidak boleh mengganggunya lagi. Bicara sepatah kata saja padanya—jika tidak benar-benar perlu—pun dilarang. Namun bila El Diablo yang menang, maka Angelica harus jadi pelayan pribadinya sampai turnamen tahun depan. Ha, denda yang klasik sekali. El Diablo pasti suka ikut-ikutan menonton sinetron kala turun ke Bumi untuk mencabut nyawa.

“Itu, kan kalau kau menang,” sahut El Diablo dan lagi-lagi Angelica terdiam. Tanpa perlu repot-repot bersaing di turnamen pun, sudah jelas siapa yang bakal jadi juaranya. El Diablo bukanlah fallen angel yang bisa dipandang sebelah mata.

“Apa kau sudah selesai menyombongkan diri?” tanya Angelica. “Karena kalau sudah, aku mau segera pulang.”

El Diablo terkekeh. “Aneh rasanya melihat kau jadi pendiam,” ujarnya. Laki-laki itu merentangkan kedua tangan, membuat Angelica mengernyitkan dahi. “A hug? Friend’s hug, maybe?”

Teman apanya? Demi kaus dalam para Archangel keparat, Angelica takkan pernah sudi menjalin hubungan pertemanan dengan El Diablo. “How do I know you won’t punch me as soon as I come closer?” tanya Angelica.

I won’t,” jawab El Diablo singkat, mengambil beberapa langkah maju sebelum benar-benar mendekap Angelica. Gadis itu mungil, dan terasa jauh lebih kecil dalam pelukannya.

“Kau tidak mau membalas pelukanku?” tanya El Diablo, suaranya teredam oleh rambut panjang Angelica yang terurai. Angelica mendengus, dengan terpaksa mengulurkan kedua tangan untuk balas mendekap El Diablo.

“Kau gendut,” komentarnya, mencubit pinggang El Diablo.

“Tentu saja! Aku baru saja dapat suplai makanan dan perbaikan gizi besar-besaran dari para penggemarku yang budiman!” sahut El Diablo. Angelica memutar bola mata. Here we go again with the Mr. Show-Off.

“Hei, jangan cemberut seperti itu. Kau terlihat seperti pecundang,” cibir El Diablo seraya meninju pelan bahu Angelica. “Tenang saja, kau masih punya pendukung, kok.”

“Oh?” timpal Angelica penuh sarkasme.

“Aku! Aku pendukung nomor satumu!” El Diablo bersorak girang, dan Angelica tidak butuh berpikir dua kali untuk memukul dadanya. “Dasar setan sakit jiwa! Kali ini aku benar-benar mau pulang!” katanya, berbalik dan meninggalkan stadion dengan langkah terhentak-hentak.

“HEI, ORANG SUCI!!! TUNGGU, DONG! KITA PULANG BERSAMA!!!”

***

Tiga hari berlalu sudah, begitu pula dengan Turnamen Pencabutan Nyawa, yang diadakan pada tanggal 24-27 Desember (menurut penanggalan Masehi atau apalah itu, pokoknya sistem kalender yang biasa digunakan di Bumi). Kini, Neraka tengah sibuk mempersiapkan agenda akhir tahun mereka, pencabutan nyawa akbar serta pendataan para penghuni baru.

Oh, apakah aku lupa umumkan nama pemenang turnamennya? Seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, pemenangnya tidak lain adalah El Diablo. Namun yang jauh lebih mengejutkan para iblis adalah Angelica menempati posisi kedua, dengan total skor yang selisihnya tipis sekali dengan sang juara. Kondisi ini tentunya membantu memperbaiki citranya, yang semula jadi bahan hinaan kini mulai diperhitungkan oleh iblis-iblis yang lain.

Dan, ya… yang paling penting untuk diingat dari keseluruhan perhelatan tahunan ini adalah… denda bagi Angelica dari El Diablo.

“Oh, kau sudah datang? Cepat sekali!” sambut El Diablo kala mendapati presensi Angelica di ambang pintunya. “Benar-benar tidak sabar, ya menjalani setahun bersamaku?”

“Yang benar saja?” sungut Angelica. “Aku ada pekerjaan mulai jam sebelas nanti, Setan. Jadi sekalian mampir.”

“Tidak mau masuk dulu?”

“Aku buru-buru. Cepat segera jelaskan apa saja yang harus aku lakukan setahun ke depan.”

“Hmm… baiklah.” El Diablo berkacak pinggang, sementara satu tangannya mengacak-acak rambutnya yang basah, membuat Angelica mengumpat karena wajahnya terkena percikan air. “Jadi, kau tahu, ‘kan pada malam pergantian tahun besok akan ada pesta sekaligus penobatanku sebagai kepala Divisi Pencabutan Nyawa yang baru?”

“Kau mau minta aku menyiapkan setelan jas dan sepatu yang necis untukmu?”

“Tentu saja tidak, aku bisa lakukan sendiri. Tugas pertamamu sebagai pelayan pribadiku adalah menjadi pasangan dansaku di pesta.”

What?” Angelica mengerutkan dahi. “Tugas macam apa itu?”

“Hei, dilarang protes! Aku ini majikanmu!” El Diablo menyentil kening Angelica.

“Tidak, Setan Laknat! Lebih baik kau suruh aku bersihkan apartemenmu yang seperti kandang babi ini daripada jadi pasanganmu di pesta pergantian tahun!”

“Sudah kubilang dilarang protes!”

“Ini bukan protes, ini penolakan!”

“Apa bedanya?!”

Angelica mengerang sebal. Belum apa-apa dan El Diablo sudah membuatnya sakit kepala. “Fine! Hanya pada malam itu, kan?” Angelica memastikan. “Lagipula dansa tidak bakal lebih dari tiga menit.”

“Kalau denganku tiga puluh menit.”

“Dansa macam apa tiga puluh menit?! Tumit high heels-ku bisa aus!”

“Bukan urusanku. Hei, jangan kabur dulu! Aku belum selesai bicara!” El Diablo segera menarik tangan Angelica sebelum perempuan itu benar-benar angkat kaki dari kediamannya. “Tugas selanjutnya adalah jadi pelayan…”

“Kalau itu aku sudah tahu!”

“…hatiku.”

“Apa?” Lagi-lagi Angelica mengerutkan dahi, El Diablo khawatir ia bakal mengalami penuaan dini. “Pelayan apa? Hatimu? Ha, mana ada setan yang punya hati? Makanya kalau sedang turun ke Bumi tidak usah ikut-ikutan menonton telenovela!”

“Ada! Aku setan yang berhati nurani!” klaim El Diablo, membusungkan dan menepuk-nepuk dadanya.

“Omong kosong macam apa lagi ini?” gumam Angelica.

“Ayolah, yang tidak punya hati itu dirimu sendiri! Tidak bisakah kau menyadari kalau aku menyukaimu?” ungkap El Diablo. “I, a fallen angel who falls in love, get the pun, huh?”

“Kau bicara apa, sih?” cetus Angelica. “Kau memang pandai membuang-buang waktuku.”

Angelica membalik badan, dan lagi-lagi El Diablo menarik tangannya. Namun tidak hanya sampai di situ saja, karena detik selanjutnya dunia dan waktu Angelica seolah terhenti oleh pagutan bibir El Diablo.

“Sialan,” desis Angelica. “Kau, dan seluruh kaummu, benar-benar makhluk paling sialan di seluruh alam semesta.”

And you… for a former angel, are almost too good at kissing. Beruntung sekali mantan kekasihmu yang di Bumi itu,” timpal El Diablo, mencuri satu lagi kecupan singkat di bibir Angelica.

“Jangan sebut-sebut dia lagi,” ucapnya. “Kalau bukan manusia hormonal itu sekarang aku pasti masih jadi malaikat surgawi.”

Don’t blame him, you used to love him anyway,” ledek El Diablo. “Toh, aku merasa sangat perlu berterima kasih padanya. Kalau bukan karena skandal sialan di antara kalian berdua, aku tidak akan pernah berkesempatan untuk bertemu denganmu.”

Corny.” Angelica mencubit hidung El Diablo. “You’re really wasting my time. Aku cuma punya lima menit untuk lari ke gerbang utama dan turun ke Bumi.”

You’re going to skip work tonight, and cuddle with me instead. Come in, Shortcake!”

Screw you, Satan!”

.

.

.

—fin.


  • Yes, hello, me is back with trashy fiction yang ditulis dalam keadaan terburu-buru tanpa dasar plot yang jelas. Judul, gambar, dan isi nggak ada yang nyambung. Hell. Like, seriously, I won’t read it anymore, not even if plague happens and reading this is the cure of it.
  • Anyway, merry Christmas for those who celebrate! May joy will always be in your favor, People! For those who don’t celebrate, happy holiday and have some fun!
  • Drop some comments if you agree this writing is crap to let me know what do you think about this. Thanks a lot!
Advertisements

6 thoughts on “[MacSeoul’s Edge of Seventeen] Tournament’s Bet

  1. HAIII ANGELICAAAA💙💙
    Ih aku suka yang begini nih yang romance-fantesey terus mana ini konsepnya love-hate relationship idiwww DEMEN WA❤
    Yoksi tulisanmu sih ran tak perlu diragukan lagi wes, lucu banget diablo sama angelicanya manis sekali apalagi yang pas kecup kecup deuh untung ga sampe diabetes thengs. Btw pas aku baca ini aku keinget film hunger gamess huhu katniss-peeta 4lyfe:(
    Yawes daripada kepanjangen saya sudahi saja. Keep writing, ndes q!!!

    xx, ref

    Like

    1. NO I AM NOT ANGELICA AKU MAHARANEE!!!

      Sebenernya aku tidak look up to Katniss-Peeta karena walaupun aku nonton semua film The Hunger Games, tapi aku tidak begitu menikmati HE MON MAAP YEOREOBUN.

      Kissing scene bersama El Diablo gausah banyak-banyak diekspos itu adalah private show ((paansi))

      Anw makasih udah baca la leone gondes gizibeh q kamu juga harus keep writing!

      Like

  2. WELL HELLO DARLINQQQQ!!!!!
    ah akhirnya aku menepati janji untuk memberikan jejak huhu maaf ya lama ;;-;;
    love and hate relationship HUHUHU KESUKAAN AQU!! gils ini angelica dan diablo pula uhuhuhuy XD
    gue senyum senyum loh bacanya soalnya i can imagine them in my head asdfhjslsnj!!!!
    yoksi uri maharanee tidak pernah mengecewakan, daebaque! yok semangat terus mbak e ❤

    Like

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s