[MacSeoul’s Edge of Seventeen] Romeo, Romeo

Kau tidak bisa menjual keselamatan dua adikmu ini demi tiga jam bermesraan dengan Juliet!

Advertisements

577fafd3bb83faf2bced04e3cef1cc8d (1)

Kau tidak bisa menjual keselamatan dua adikmu ini demi tiga jam bermesraan dengan Juliet!

Orientasinya dimulai saat Dad, Mum, dan Astrid—kakak sulung kami yang baru tujuh puluh delapan hari lalu resmi bekerja di kementrian—terlihat di ruang tengah mengenakan coat terbaik mereka, dengan tataan rambut terbaik mereka pula. Tiga kepala itu menoleh seolah menyambutku yang sedang menuruni tangga.

Aku sontak terheran-heran. Belum juga aku membuka mulut untuk memvokalkan kuesionerku, Astrid keburu menyambar kesempatan.

“Kami mau menghadiri jamuan musim dingin Tuan Macmillan, kalau kau bertanya.”

“Kenapa mendadak sekali?”

Uh… sebenarnya kami sudah memberi tahumu minggu lalu. Kau akan tinggal di rumah menjaga si kembar, ingat?” itu Mum yang menjawab—dan balik bertanya. Apa pun itu, kalimat Mum telah bertransformasi jadi palu yang menghantam kepalaku cukup keras.

Sial. Orion Chamberlain, kenapa hal penting macam ini bisa terlewatkan? You’re doomed.


No, no, no, big fat NO, Orry. Kau tidak bisa menjual keselamatan dua adikmu ini demi tiga jam bermesraan dengan Juliet!” teriakan Miranda, sedikit terlalu anarkis (dan hiperbolis), dibarengi beberapa pukulan tangan mungilnya di permukaan meja makan.

Aku bersandar pada pintu lemari penyimpan makanan, dua tangan terlipat di dada, dan menghela napas berat. Di sinilah konfliknya dimulai, Kawan. Aku memang bukan abang terbaik sepenjuru Inggris, namun di atas itu aku tahu bahwa melarikan diri dari tanggung jawabku terhadap si kembar adalah hal buruk yang bermuara kepada omelan orang tua kami.

Namun—lagi—ah, membiarkan tiga jam kencan musim dingin dengan si primadona Gryffindor Juliet Parker menguap jadi angan-anganku saja? Merelakan kesempatanku mendengar tawa dan memegang tangannya di arena ice skating jadi koleksi mimpi?

Tidak. Tentu tidak. Di mana harga diriku sebagai seorang Slytherin?

Cordelia yang sedang mengupas apel menimpali, “Bahkan jika kau memborong semua permen di Honeydukes buat kami, jangan harap kami bakal membiarkan satu langkah kakimu pun keluar rumah.” Nadanya lebih tajam daripada pisau di tangannya, kutebak ia mempelajari hal tersebut dari Astrid.

Kutatap dua adik perempuanku ini. Sekalipun satu sekolah, kami bertiga jarang bertemu sebab masuk asrama yang berbeda-beda. Miranda menghuni Gryffindor, dan Cordelia ditempatkan di Ravenclaw. Jika diamati baik-baik Cordelia memotong rambutnya sejengkal dan bintik-bintik di wajah Miranda semakin banyak.

“Oke. Pertama, terima kasih sudah beranggapan bahwa aku mampu membeli seisi Honeydukes buat kalian. Kedua, tolong bersimpatilah sedikit padaku, sisters. Aku menghabiskan sepanjang tahun keempatku untuk mendekati Juliet! Dan baru di tahun kelima ini dia akhirnya bilang oke padaku.”

“Cih, menyedihkan,” ketus Cordelia. Ia mendorong piring berisi irisan apel yang langsung disambut oleh Miranda. Ia menatapku dengan ekspresi yang jika diterjemahkan ke dalam bentuk verbal adalah: “Kasihan benar. Tapi jawaban kami masih sama.”

Aku setengah hidup menahan diri agar tidak gusar. “Kalian masih delapan tahun waktu itu, dan sekarang kalian sudah dua belas. Aku percaya kalian berdua tidak akan melakukannya lagi. Jadi… pretty please?”

Ya ampun, aku terdengar seperti anak kecil yang merengek-rengek. Lebih menyedihkan lagi: kepada dua gadis kecil berusia dua belas tahun.

“Opsinya hanya ada tiga, Orry,” Cordelia mengangkat tiga jarinya. “Batalkan kencanmu, ajak kami ikut, atau bawa Juliet ke sini.”

“Lagipula,” Miranda menggigit apelnya, “Juliet menyukai kami, kok. Telepon saja rumahnya. Atau kirim dia surat lewat Jill… uh, apakah ini berpotensi membuat tetangga-tetangga Muggle Juliet jantungan?”

“Oh, ayolah, Orry,” pinta Cordelia dengan nada suaranya yang paling aku takutkan. Suara Cordelia melambung-lambung di udara, masuk ke indera pendengaranku, lalu mengetuk keras pintu identitasku sebagai seorang kakak.

“Kita jarang ketemu di sekolah. Masa sewaktu liburan pun kamu memilih untuk main dengan Juliet?” Miranda yang anarkis tadi melarikan diri.

Sebenarnya aku bisa saja menggunakan Alohomora untuk membuka pintu dan langsung melesat secepat bludger menghantam kepala Lucas Lee saat turnamen Quidditch musim panas yang lalu. Namun, ah, adik-adikku ini…


“Juliet, babe?”

Miranda membuat gerakan seperti orang muntah, sedangkan Cordelia bergidik. Kuletakkan satu jari telunjuk di depan bibir, meskipun tidak ada satu dari mereka yang berbicara.

Orion, hei! Aku sudah menunggu dari setengah jam yang lalu. Jangan bilang rencananya batal atau akan kuubah kau jadi pajangan dinding.”

“Tidak, tidak batal. Hanya saja… ada perubahan sedikit. Aku tetap akan menjemputmu, tapi kita batal ke tempat skating,” jelasku sepelan mungkin agar tidak salah bicara dan benar-benar dijadikan pajangan oleh Juliet.

“Bloody hell what happened there?”

Yah… kuharap kau tak keberatan babysitting date denganku. Nanti saja aku jelaskan di jalan. Kututup, ya?”

///


 

  • been forever since the last time u heard of me rite
  • and idk i dont really feel the enjoyment of writings like how it used to be 😦 mungkin karena kelamaan hibernasi dari kegiatan ini??
  • this crap is based on my personal hogwarts au
  • ANYWAYS!! HOPE 2018 GONNA BE ANOTHER NICE YEAR FILLED WITH GOOD THINGS AND PRECIOUS LESSONS FOR US ALL!!1!1!!!!
  • also thank u for reaching this point u sweetcake

xx,
a.

One thought on “[MacSeoul’s Edge of Seventeen] Romeo, Romeo

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s