[TULUS] Surga yang Dirindukan

moodboard_charas.jpg

SURGA YANG DIRINDUKAN

“Di dekatmu kotak bagai nirwana, tapi saling sentuh pun kita tak berdaya.” – Sepatu, Tulus

by aiveurislin

Saat itu beranjak petang dan Kota Semarang sedang dirundung keramaian yang suntuk kala pekerja kantoran tengah melaju pulang memenuhi setiap sisi jalan protokol. Sadar jika semburat oranye di ufuk barat sana akan segera sirna diikuti lampu penerang jalanan yang mulai dinyalakan, aku dan Hanum langsung tancap gas menuju cafê di salah satu sudut jalan Agus Salim yang menjadi destinasi kami sejak awal.

Setelah iming-iming traktiran red velvet latte dan sirloin steak yang sangat sayang untuk dilewatkan, kuputuskan untuk menyetujui tawaran Hanum tadi siang; menjadi penengah saat ia dan Aufar bertemu petang ini.

Aku kurang memahami hubungan macam apa yang mengikat Hanum dan Aufar. Long distance relationship Semarang-Jogja mereka sudah berjalan empat tahun, tapi tetap saja mereka membantah statement pacaran. Kendati demikian, Aufar yang memang dasarnya serius sudah menemui Ayah Hanum dan menyatakan niatnya. Itu sudah sekitar setahun yang lalu Hanum menceritakannya padaku, kurasa. Namun tak dapat dipungkiri, aku cukup terkesan akan sikapnya itu. Well, di zaman modern seperti sekarang populasi pria berkomitmen bisa dihitung dengan jari, asal kautahu saja. Diberkahilah hidup Hanum karena menjadi salah satu sosok yang bisa mendapatkannya.

Kami tiba di cafê tepat saat panggilan Tuhan baru saja dikumandangkan. Kelas sore Profesor Hanif Rusydi yang seringkali kebablasan membuatku sering menyerapahinya hingga sekarang sudah bertransformasi menjadi kebiasaan burukku. Hanum hanya bisa tersenyum dan menggiringku ke kursi kosong terdekat pun mengisyaratkanku untuk diam sejenak untuk menghormati dan meresapi panggilan-Nya.

Selang tiga menit kemudian, kami pindah ke meja yang sejatinya sudah ia reservasi sehari yang lalu. Mengambil tempat di seberang meja, dwimanikku menelusur sekeliling, menemukan jumlah pengunjung yang bisa dihitung dengan jari. Aku cukup senang dengan selera Hanum kali ini. Memilih meja yang agak jauh dari pintu masuk, tepatnya di dekat jendela yang menyorot view kolam renang. Tak sampai disitu, ia juga mempertimbangkan letak air conditioner. Dia tahu saja jika aku tipikal tidak tahan panas.

“Kak Aufar akan datang agak terlambat. Jadi kita pesan dulu saja. Nanti dia nyusul,” ucapnya yang kubalas anggukan singkat. Jari-jemariku yang sudah gatal pun meraih buku menu dan membolak-baliknya asal saat Hanum masih terpaku pada layar ponselnya.

Menit-menit berikutnya, kami sudah tenggelam dalam sesi saling lempar opini mengenai makanan. Hanum yang merupakan pelanggan setia cafê ini merekomendasikan beberapa jenis kopi yang tertera di list must-tastenya. Sementara itu, aku yang bukan penikmat kopi terus-menerus berkilah dan tetap bersikukuh pada pilihan red velvet latteku.

Tak lama kemudian, masuklah dua pria dengan setelan kemeja hitam dan coklat menyela kegiatan kami. Hanum sedari tadi membagi atensi antara meladeniku selagi mengawasi pintu masuk pun melambai, mengisyaratkan lokasi di mana kami berada. Fokusku pun mau tak mau juga teralih pada presensi mereka.

Salah satu dari mereka pasti Aufar.

“Dek, sudah lama nunggu?” klausa itu mengudara, menjelma menjadi akar konversasi kami. Hanum hanya mengulas senyum manis lalu beranjak ke seberang meja, mengambil tempat di sisiku. Aku pun membiarkan diriku terkungkung dalam satu spekulasi meyakinkan. Si kemeja hitam beriris cokelat madu dengan kacamata hitam tanpa lensa yang nangkring di batang hidung mancungnya itu orang yang sedari tadi kami tunggu, Dirga Aufar Amri.

Ah, kenalin ini sepupuku yang juga mangkal di angkatan udara, Asriel Amri.”

Bagai tersambar petir disiang bolong, aku hanya bisa tergugu saat itu. Tanpa sadar, kualihkan atensi fokusku ke sembarang arah, asal bukan menuju kedua pria itu. Kedua telapak tanganku mulai berkeringat dingin. Kalbuku mulai berkonspirasi, dipelopori imajiku yang semakin kabur. Hingga kusadari melalui ekor mataku, Si kemeja cokelat itu tengah memindaiku dengan sepasang iris sewarna mutiara hitamnya, yang tentunya sontak memicu gemuruh cukup keras dalam benakku. Sekuat hati aku menatapnya lagi, orang yang berhasil memorak-poranda semua rasa di hatiku lima tahun yang lalu. Kak Asriel, cinta pertamaku.

“O ya, ini temanku, Naya yang sering aku ceritakan ke Kakak itu lho,” Aufar mengulas senyum kepadaku yang kubalas dengan selipan senyum canggung. Kami pun duduk di kursi masing-masing dan kembali pada aktivitas kami memilih menu.

Ah iya, maaf. Hanum izin sembahyang dulu ya. Ini sudah mau jalan waktu isya soalnya. Kamu mau ikut nggak, Nay?”

“Aku lagi nggak boleh sembahyang. Kamu nggak perlu kutemani, ‘kan?” Hanum mengangguk singkat lalu merajut tungkai meninggalkan kami yang tengah sibuk berdiskusi.

Setelah cukup lama memilih menu, Aufar berisnisiatif untuk memesankannya untuk kami berempat sekaligus. Sosoknya mulai menghilang dari pandangan, menyisakan aku dan Asriel. Sepeninggal pemuda itu, keheningan mulai mengambil lakon parsial. Aku menyibukkan diri dengan menelusurkan dwimanikku ke sekitar, tidak terbesit sedikit pun niat dalam diriku untuk membuka konversasi.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Aku merasa pernah bertemu denganmu sebelumnya.”

Tergelak, aku menancapkan fokusku padanya. Sirat kami saling sambung-menyambung, menubruk lantas membentuk seutas bujur. Aku masih menatapnya dalam selagi geming pun membumi-hanguskan segala aksara yang terbesit kala itu. Kendati atmosfer kecanggungan masih menyelimuti kami, ia masih meladeni tatapanku yang sulit kuartikan dengan kata-kata. Tak bisakah kau membacanya sendiri, Kak?

“Rupanya, Kakak sudah melupakan aku. Lima tahun yang lalu, apa kau masih ingat ada seseorang yang memberimu surat-surat yang dililit pita merah-putih. Si yang-tidak-lagi-menjadi-rahasia?”

Ia tampak berpikir keras. Dibuktikan oleh beberapa kerutan yang tercetak jelas di keningnya yang mulai berbulir keringat walau menurutku posisi kami sudah cukup strategis untuk mendapatkan sirkulasi udara air conditioner. Aku mulai pesimistis pada saat itu. Dia tidak mengingatku dan itu artinya sia-sialah semua yang aku lakukan pada masa itu. Namun tepat saat aku baru saja menghela napas, aku menemukan secerca perubahan ekspresi wajahnya, khususnya pada cara Asriel menatapku, “K-kamu…. Naya… Arintania?”

Dia masih mengenalimu, Naya.

“Senang bisa bertemu lagi, Kak Asriel,”

Senang bisa mengetahui jika debaran itu masih tertuju padamu, Kak.

Kami lambat laun saling melibatkan diri dalam obrolan santai. Aku berceloteh apa dan dia menanggapiku, begitu pun sebaliknya. Obrolan kami terasa ringan dan menyenangkan. Perlu kuakui fakta atas realita yang kuhadapi sendiri yakni dia telah berhasil membuatku jatuh cinta untuk kesekian kalinya, bahkan petang ini juga. Semuanya terasa seperti mimpi paling indah dalam hidupku hingga kedua netraku menemukan sebuah objek yang langsung meremukkan tulang-tulangku. Sebuah cincin yang melingkari jari manis tangan kirinya.

Ia…. sudah bertunangan.

Aku mulai merasakan nyeri yang berdenyut mengiringi kerja jantungku memompa darah. Lidahku kelu dan melemas. Fokusku pun mulai kabur dan kembali kualihkan atensi pandangku darinya, kemana saja asal bukan padanya. Sekuat tenaga aku menahan gejolak yang menyeruak memicu kudeta dalam benakku.

Nirwana adalah sebuah kenyataan pada masa itu. Karena setiap aku keluar kelas, Asriel telah menjadi dunia yang aku lihat. Kendati terpisah oleh teralis pembatas dan terkecam perbedaan lantai yang kami pijak, ia tetap menjadi segala hal yang mengisi memori serebrumku.

Satu tahun yang kudedikasikan hanya untuk melihatnya mulai berbuah manis. Aku mulai membagi perasaanku lewat surat yang aku kirimkan padanya lewat sebuah event sekolah. Ia adalah pria terbaik yang pernah aku temui dalam hidupku selain ayahku. Sejak saat itulah Nirwana terasa begitu nyata untukku. Namun hari ini aku sadar jika tak selamanya Nirwana itu akan menjadi sebuah kenyataan, karena pada dasarnya itu hanyalah sebuah khayalan hasil imajiku.

–finish.

  • Cuma mau bilang kalo ini related sama Sincerely Yours.
  • So, aku ga tau ini kenapa jadi ngalor-ngidul ceritanya dan ga layak publish banget. Yang jelas quotes di atas itu bukan buat Asriel-Naya aja tapi Aufar-Hanum juga.
  • Jelas banget di sini Asriel-Naya nggak bisa bersatu karena Asriel udah ada yang punya dan Aufar-Hanum ga bisa ngerasain relationship yang lazim karena mereka masih belum muhrim.
  • Kalo aku bilang, Aufar-Hanum itu hubungannya macam udah dicup dulu alias udah di booking. Bukan ta’aruf sih, soalnya rentang hubungan mereka lama banget jadi ga bisa masuk kategori itu. Lagipula mereka serius tapi masih mau nyelesain pendidikan dulu baru nikah.
  • Jujur aku baper waktu nulis part Naya seolah-olah kaya cerminan diri gitu(?)
Advertisements

8 thoughts on “[TULUS] Surga yang Dirindukan

  1. Halo, Niswa di sini, salam kenal ya (ngga ngerti mau panggil apa heuheu).

    Sebenernya ceritanya oke. Simpel but ngena. Tapi ada beberapa kesalahan redaksional yang perlu dibetulkan, seperti penulisan huruf kecil dan besar (contoh: Si kemeja cokelat tua mestinya Si Kemeja Cokelat Tua kalau memang mau jadi sapaan; jalan Agus Salim justru mestinya Jalan Agus Salim; dsb). Juga ada beberapa typo seperti isnisiatif yang harusnya inisiatif.

    Nah itu aja, untuk lebih memperindah tulisan tentunya kan juga diperbaiki hal-hal tersebut. Terus menulis yaa, semangat!

    Liked by 1 person

    1. Halo, Kak Niswa! Bintan 00’line salam kenal 🙂

      Duh, makasih banget udah me-review fiksi ini. Membantu sekali yaampun. Sebenernya aku juga bingung bagian itu hahaha alhamdulillah sapet pencerahan dari kakak ❤

      Sip. Kedepannya akan aku perbaiki. Makasih banyak ya Kak 😀

      Liked by 1 person

  2. Halo Bintan, long time no see.

    Mungkin karena aku udah ngebaca Sincerely Yours, jadi girang banget akhirnya Aufar-Hanum ketemu. Alhamdulillah. Semoga Aufar-Hanum langgeng terus yak.

    Terus-terus, Asriel-Naya pingin gigit bantal ih, udah seneng gitu si Asriel masih inget sama Naya, tau-taunya udah tunangan. Yasalam. Baper euy.

    As always, orific ini khas Bintan banget. Aku udah lama ga baca fiksi dari kamu dan aku ngerasa jadi makin bagus dan makin enak buat dikonsumsi ((lho))

    Keep writing ya ^^

    Like

    1. Halo Ren, long time no see! Yaampun kamu kemana aja kok baru muncul? Kan aku kangen mau ber-fangirl ria sama kamu ((DUH)) hehehe

      Waduh, aku juga greget sendiri sama LDR-nya mereka yang kesannya mulus banget gitu. Apalagi si Aufar itu kentara bener-bener cowo idaman para wanita banget eilah. Kapan aku bisa jadi Hanum yang bisa seberuntung itu (T.T) Sip, semoga Aufar-Hanum akan terus LDR dan jadi contoh yang baik buat pasangan LDR yang lain khususnya aku ya ((HEH?))

      Yeah bisa dibilang Naya tuh karakter nista gitu ((heuheuheu)) dia ga bisa dapetin Asriel maupun Edo, kan akunya sendiri juga bingung mau digimanain itu karakternya? Mungkin nanti dia punya jalan sendiri lah ya hahaha tunggu kabar baiknya ajha 😉

      Kyaaa aku kangen fic mu, Ren ❤ Dhio-Dhira mau lanjut kapan oi?? ((Hehehe))

      Keep writing too, Darl ❤

      Like

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s