[MacSeoul’s Edge of Seventeen] Holiday


(credit pict)

H o l i d a y

© echaakim 2017

Aku lagi liburan.

“Masuk aja, Mas. Kakak di dapur.”

Aku lekas menoleh ke arah adikku yang menonton teve di ruang tengah. Dia balas menoleh seolah mengisyaratkan bahwa ada orang lain selain kami berdua di rumah ini, lalu berpaling sebelum aku sempat bertanya siapa.

Kutinggalkan adonan hijau pandan itu di atas meja, lantas bergegas menemui anonim yang dimaksud adikku tadi, dan langsung berhenti sebelum langkah keempat. Yang kudapati adalah sosok familiar tengah berjalan melewati sofa yang diduduki adikku; tubuh jangkungnya berbalut kaus biru laut yang kuingat betul diklaim sebagai kaus favoritnya serta jeans yang sobek di bagian lutut. Dia memandangku—yang mematung dengan celemek dan noda tepung di mana-mana.

“Wah, rupanya lagi latihan jadi calon istri yang baik, ya?” senandungnya disertai gelak, entah menertawakan kalimatnya atau malah menertawakan penampilanku yang serupa badut.

Aku meringis mendengarnya, segera membalikkan badan kala menemukan adikku tersenyum mengejek di balik bantal-bantal sofa. Ya Tuhan, aku pasti bakal jadi sasaran olokan di meja makan malam nanti.

 

Adonan telah kutuang ke dalam loyang persegi berukuran sedang. Kusempatkan diri untuk melirik dia yang sialnya tengah menatapku sambil bertopang dagu di meja makan, seolah menontonku dan peralatan dapur merupakan hal paling menarik di muka bumi ini.

“Nggak liburan, San?” tanyaku akhirnya, seraya memasukkan loyang ke dalam oven.

“Ini aku lagi liburan.”

Kupindahkan peralatan-peralatan kotor ke tempat cucian piring untuk dicuci nanti, pun celemek sudah kulepas dan digantungkan di tempat sebagaimana biasanya. “Jalan-jalan sekeluarga gitu maksudku,” sahutku sebelum menarik kursi di sebelahnya. “Kamu sekeluarga kan biasa liburan ke luar kota.”

Dia menggeleng. “Gak perlu ke luar kota,” katanya sembari bersandar di bahuku secara tiba-tiba tanpa permisi. “Pergi kemana pun asal merasa libur juga udah disebut liburan.”

Buru-buru kudorong kepalanya supaya menjauh. “Aduh, minggir! Nanti adikku—”

“Diam. Aku lagi liburan.”

Aku hanya bisa berpasrah sambil memandang cemas ke arah di mana adikku berada, setengah mati berharap agar dia tidak melihat ke dapur dan mendapati kami dalam posisi menyebalkan ini. Aku tidak mau jadi bulan-bulanan ledekan saudaraku yang lain lantaran adikku dan mulut embernya membeberkan hal ini tanpa ampun. Bisa-bisa aku mati di usia yang cukup muda.

“Lagian nanti kalau aku jauh kan kamunya juga yang susah.”

“Susah apanya?”

“Susah kalau kangen, soalnya gak bisa langsung ketemu. Nanti kamu jadi sedih.”

“Ngawur! Pergi sana—“

“Diam. Aku lagi liburan.”

“Sandy!”

“Aku lagi liburan.”

Lalu aku tak sengaja bertemu tatap dengan adikku yang entah sejak kapan menjadikan kami sebagai tontonan gratis. Sial.

 

 

—tamat.

 


  • Ya, halo kembali lagi bersama echaakim dan tulisan nirfaedah yang ditulis dalam keadaan tidak adanya setitik pun ide disertai perasaan buru-buru ingin cepat selesai.
  • Akhirnya menemukan sedikit titik cerah setelah melihat snapgram seorang teman yang katanya sedang menikmati liburan. Hehe, trimakasi kawand!
  • Tapi ini tuh… astaghfirullah geli banget aku kenapa sih malah nulis ini ;;-;; Gapapa buang aja aku ke laut, gapapa bener de i deserve it!!!!
  • Selamat menikmati libur akhir tahun ❤
  • Trimakasi banyak pada yang sudah meluangkan waktu untu membaca sampai sini ❤ ❤ ❤
Advertisements

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s