[TULUS] Find The Other Gravity

photo-1461770354136-8f58567b617a

Find The Other Gravity

by ZulfArts

“Yang berubah hanya tak lagi ku milikmu.”_Tulus, Pamit. 

Sudah tiga tahun, tapi tetap begini.

Aku dan Farel sedang jalan-jalan di sebuah mal pada Oktober 2013. Tubuhnya yang kurus dengan kulit tan merupakan perpaduan yang pas dengan kulitku. Kepalaku sejajar dengan bahunya, membuat banyak mulut meniupkan kata-kata ‘mereka kelihatan cocok’ bagi mereka yang baru pertama kali bersua. Umur kita pun tidak terlampau jauh. Hanya selisih satu tahun, dan itu lebih dari cukup.

Hebat dia bisa bertahan lama denganku, setelah berbagai cercaan terlontar dan mencabik hampir sebagian dari dirinya. Salahku juga, sih dia diperlakukan begitu. ‘Peace’ kata orang-orang. Bah! Muka dua! Tetap saja topik-topik hangat diperbincangkan ramai-ramai, sampai kuping korban panas tak keruan. Keliru bilang manusia zaman sekarang waras, karena nyatanya semuanya sudah gila. Yang mungkin membuatku dan Farel termasuk dalam kelompoknya.

“Bil, ada film baru, tuh! Manusia Setengah Salmon? Lucu gak, sih?” Pemuda itu menunjuk sebuah poster film yang diangkat dari buku Raditya Dika. Sudah banyak yang bilang, sih kalau ceritanya seru dan menghibur. Tak ada salahnya aku dan Farel ikut masuk ke dalam ruangan gelap yang dingin dengan perpaduan pop corn dan soda. Membiarkan netra kami tersorot cahaya langsung yang bisa merusak. Biarlah rusak, dunia ‘kan sudah rusak. Otak manusia sudah rusak, terlalu banyak makan micin!

Tak ada yang lebih spesial ketimbang sudah melihat Farel tertawa. Terimakasih kepada Manusia Setengah Salmon, yang mengajarkan bahwa segala sesuatu tak perlu dipendam. Termasuk menasihati dan memberi hadiah deodoran kepada mereka yang bau ketiaknya (adegan yang paling disukai Farel). Tapi yang paling berkesan untukku adalah tentang bagaimana tokoh Dika mencoba melupakan mantan kekasihnya. Apa suatu hari nanti, jika–ya, hanya pengandaian. Aku tidak berharap lebih-aku dan Farel harus berpisah, akankah mudah untukku berpindah ke lain hati? Ah, jangan lah. Jangan sampai kejadian-kejadian macam itu terjadi. Aku dan Farel begini sudah cukup, benar-benar cukup.

“Rel, aku ke mushola dulu, ya. Mau pesan makan duluan?” Aku berucap pertama kali setelah tayangan film selesai. Farel masih dengan senyumnya, mungkin euforia setelah nonton film komedi yang absurd minta ampun.

“Mm, gak, deh. Bareng aja, yuk ke mushola!” Dia menarikku penuh semangat. Tipikal Farel. Bagaimana bisa aku melupakan dia yang begitu semangat menarikku ke tempat ibadah?

Aku mungkin harus segera banyak-banyak berdoa dan bersyukur. Farel baik sekali, membiarkan dirinya terikat denganku. Padahal berhubungan dengan Farel merupakan satu dari banyaknya rintangan berat. Aku bahkan harus sedikit demi sedikit menyalahi aturan. Ya harus bagaimana lagi? Aku dan Farel bagaikan sebuah kesatuan yang enggan dipisah.

Setelah beribadah dan bersyukur atas nikmat-Nya, aku dan Farel menyantap nasi timbel dan es doger. Wajahnya terlihat lucu dengan nasi yang penuh dalam mulutnya. Keringat sebesar biji jagung lolos keluar dari pori-pori kulitnya karena sambal yang pedas minta ampun. Membuatku tak kuasa menahan tawa melihat kerusuhannya ketika makan siang. Setelahnya, kami pulang tanpa lupa untuk berjanji esok hari bertemu lagi.

Esoknya, Farel menjemputku dengan motor vespanya. Jadwal hari minggu memang jadwal yang sudah biasa dilakukan untuk pergi bersama Farel, mengantarnya ke gereja untuk beribadah yang katanya juga sambil terus menerus menyelipkan kata syukur karena telah mempertemukan dirinya denganku. Ya, perbincangan hangat orang-orang terhadap hubungan kami itu karena menyangkut kepercayaan. Satu-satunya kesalahan hubungan kami hanyalah karena menyangkut topik yang amat sensitif di kalangan umat manusia.

Aku bahkan pernah bertanya-tanya, kenapa ada agama, ya di dunia ini? Kenapa semua orang mempunyai kepercayaan yang berbeda-beda? Kenapa aku dan Farel harus terjebak di dalamnya?

Sempat terpikir bagiku untuk merubah diri dan membuat kami sama. Tapi pada akhirnya pergi dari sesuatu yang sudah menyatu bersama diri sejak kecil adalah sebuah kesulitan terbesar. Urusannya ‘kan bukan lagi hanya tentang omong-omongan orang, namun juga tentang Tuhan yang tidak pantas diingkari. Makanya, aku cukup bersyukur dan pura-pura tuli saja, lah daripada harus melangkah kepada maksiat yang lebih jauh.

Sebenarnya aku sempat ditegur beberapa kali oleh orang tuaku, yang membuat aku dikikis rasa bimbang hingga saat ini. Aku cinta orang tuaku, aku cinta agamaku, namun di sisi lain, aku juga cinta Farel. Wah, aku sudah bertransformasi jadi manusia egois. Tidak waras.

Tak lama kemudian, Farel keluar. Kami menyusuri rentetan ornamen patung yang terlihat unik di mataku. Tapi tak ada yang lebih menyenangkan ketimbang melihat Farel sudah berada di sampingku, berjalan bersamaku di pagi hari. Wajahnya terlihat berseri, namun netranya seolah menggumamkan hal lain. Entah apa maksud dari tatapan yang menghindari bersirobok, semoga saja hanya karena Farel sakit perut akibat sambal super pedas kemarin.

Ia mengajakku membeli martabak mini yang berada tak jauh dari gereja. Aku suka pisang keju, Farel suka coklat kismis. Farel tak terlalu suka keju, dan aku membenci kismis. Selera kami memang sedikit berbeda, ada di antara kami yang tidak menyukai satu dengan yang lain. Berhubungan itu kesulitan terbesar, aku bilang. Pesan martabak mini saja malah mengingatkanku akan begitu banyak perbedaan yang ada di antara kita.

“Mmm, Sabil. Aku ingin bilang sesuatu… Tapi nanti saja, deh. Makan saja dulu martabaknya.” Aku mengernyit sejemang, lalu kembali menyantap perpaduan pisang dan keju di atas martabak.

Pemuda itu terlihat malas memandang martabak mini kesukaannya. Biasanya, satu martabak mini bisa langsung lolos sekali telan. Tapi kali ini dia malah mengikuti caraku makan, mencubiti kecil-kecil dan dilahapnya dengan khusyuk. Kenapa dia berubah dalam sekejap?

Aku masih memerhatikan caranya makan. Pandangannya terlihat kosong, dan alisnya sesekali mengerut. Pasti ada sesuatu yang salah. Pasti ada kegelisahan yang tak segera dia ungkapkan. Ayolah, Farel. Apa sesulit itu membagi gelisahmu denganku?

“Farel,” mulutku tak tahan untuk terus diam. Pemuda itu benar-benar tak biasa berlaku begini. Apa yang membuat dia begitu bimbang sampai harus membuatku khawatir?

Ia melirik, matanya masih penuh dengan kegelisahan.

“Kamu…. Kenapa?” Dia menggeleng.

“Ceritakan saja, kalau kamu masih menganggap aku pacarmu.” Dia kembali memandang martabak coklat kismisnya yang sudah malas dilahap, seolah martabak mini coklat kismis adalah hal paling menyedihkan di dunia.

“Ini semua bukan karena aku tidak cinta kamu, tapi…. Ah, lupakan saja, lah Bil. Biar aku saja yang tanggung semua.” Ia mencoba tersenyum, pun sebenarnya tak tersirat sedikit pun bahwa dia baik-baik saja.

“Apa, sih, Rel?” Aku berdiam barang sejenak. Rasanya ada yang janggal, pasti ada sesuatu. Ya, sesuatu. Dan kekhawatiran itu terasa semakin nampak memperlihatkan bentuknya.

“Tadi aku bertemu orang tuaku. Ini… Tentang… Hubungan kita.” Dia enggan menatapku. Begitu pula aku yang rasanya tengah ditumbuk rasa kecewa. Seberapa keras pun aku menghindari, ternyata Farel yang lebih dulu mematik api di bagian ujung sumbu. Ya, bakar saja, Rel! Bakar saja semuanya!

“Oh,” helaku kaku. Ingin marah pun tak bisa, terlalu berat untukku memarahi seseorang yang tidak sepenuhnya salah.

Farel tak berkutik lagi, karena tak ada yang perlu dibahas kalau sudah tahu arah pembicaraan yang jelas terlihat sangat tidak diinginkan. Ternyata hari ini datang juga, padahal aku sedang enggan bersua.

“Ayo, Sabil. Kuantar pulang.” Tidak seperti minggu sebelumnya, tak ada lagi bioskop, makan batagor bersama, atau pun makan nasi timbel dengan sambel super pedas lagi. Semuanya berjalan dengan cepat, pasti waktu sudah terdistorsi. Kalau aku bisa, aku ingin menyalahi aturan sekali lagi. Aku ingin waktuku kembali, agar bisa lebih lama bersama Farel.

Tak ada yang berbisik di atas vespa kecuali deru angin yang menerpa. Aku hanya dapat menatap kosong jalanan, lalu menatap punggung pemuda di depanku. Mungkin besok, minggu berikutnya, bulan berikutnya, akan jadi mustahil menatapnya dalam radius sedekat ini. Aku harus pandai-pandai memanfaatkan keadaan, supaya tidak terlalu menyesal.

Sampai gerbang hitam yang menjulang datang pada netraku, saat itu juga aku mulai merutuki kenapa waktu tidak berjalan dengan lambat, dan kenapa Farel terus menancap gas cepat-cepat. Apakah harus seperti ini caranya berpisah? Tak bisakah lebih lama lagi aku menatap punggungnya? Bagaimana dengan minggu berikutnya? Apa aku harus mengantarnya lagi ke gereja? Apa kita bisa pergi nonton bioskop kembali? Tertawa bersama kembali? Makan nasi timbel dengan sambel super pedas lagi?

“Sudah sampai, Bil.”

“Apa tidak bisa lebih lama lagi seperti ini, Rel?” Ada helaan napas yang terdengar dari sosoknya.

“Tidak. Tidak bisa,” dia merunduk. “Aku yakin, kalau kita memang harus bersama, nanti kita dipertemukan lagi.”

Aku kecewa, sudah pasti. Persetan lah jika aku ini egois.

“Lagipula, tak akan ada yang berubah, Bil. Hanya aku bukan lagi milikmu. Semoga kita bisa bersama lagi, ya!”

Tidak, Rel. Semuanya berubah! Bahkan tentang bagaimana cara aku menghadapi esok hari. Atau minggu nanti, apa yang harus aku lakukan kalau bukan pergi mengantarmu beribadah? Siapa yang akan begitu semangat mengajakku ke mushola di mal?

Bahkan tanpa pelukan terakhir, ia kembali melesat bersama vespanya. Meninggalkan aku yang membeku di pelataran rumah, membayangkan kalau semua ini hanyalah fiktif, cakupan distorsi waktu, tidak nyata!

Kata-kata terakhir dari Farel terus terngiang selama tiga tahun dalam benakku. Bahkan sampai hatiku tetarik oleh medan gravitasi lain, membuat sebuah susunan satelit baru, masih ada gaya yang hinggap untuk Farel. Masih terkukung sebuah harapan untuk dia kembali.

Ya, Farel. Kamu bilang semuanya tak ada yang berubah, ‘kan? Tapi jauh dari itu semua, sesudah gaya gravitasi di antara kita tersusun kuat-kuat, kita harus merelakan semuanya dan mencari medan gravitasi baru. Sekuat apa pun gaya yang kita buat, tidak lebih besar daripada kepercayaan dan restu orang tua.

Yasudah, lupakan saja si gravitasi bodoh yang selama ini kita bangun. Cukup fokus kepada Tuhan, siapa tahu di alam yang lain kita tidak memiliki perbedaan sensitif, dan bisa kembali bersama.

Fin

Advertisements

One thought on “[TULUS] Find The Other Gravity

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s