[TULUS] Bad Time

consultorios_medicos_bien_equipados_habilit_consultorios_medicos_1310135440109315162

Bad Time

By : Megasakti 

“Tak lagi ku milikmu.” –Pamit, Tulus

Begini, aku sering sekali mendengar harapan untuk bisa menghentikan waktu. Bagaimana, yah, hanya orang konyol yang memiliki harapan untuk menghentikan waktu, itu menurutku. Karena waktu, akan selalu berjalan. Mungkin, ada pengecualian jika tiba-tiba saja bumi berhenti berotasi. Tapi, apa akibatnya jika bumi berhenti berotasi? yah, pengecualian untuk waktu.

Terlepas dari orang-orang yang berharap jika waktu bisa berhenti, aku tipe gadis yang tabah akan perjalanan waktu. Maksudnya, tabah dengan kehidupanku sendiri. Seperti air yang mengikuti lika-liku aliran sungai.

Bokongku sudah mendarat dengan mulus di sofa panjang, menunggu anak yang lain datang. Lensaku melirik ke arah samping kiri. Melihat seorang lelaki yang asik dengan ponselnya.

Lelaki dengan perawakan tinggi dan berkulit coklat itu, duduk di sampingku bersamaan saat bokongku mendarat dengan mulus di sofa. Yah, katakan lah kami duduk pada saat yang sama.

Bedanya, lelaki di sampingku langsung sibuk dengan ponselnya. Sesekali, ia juga menampilkan senyum konyol dengan jemari yang aktif kesana kemari di layar ponsel. Sedangkan aku, aku hanya melihat ke arah TV mati.

“Hari ini tidak ada badai, kan?” seorang lelaki datang sembari menyuarakan isi kepalanya. Ia datang dari pintu utama dengan rambut berantakan, seperti terkena angin topan. Ia juga langsung memposisikan dirinya duduk di samping kananku. Lengannya dengan santai sudah menggantung manis di leherku.

“Ada. Lihat saja rambutmu,” kataku menjawab pertanyaan konyol Frang yang dibumbui sedikit sindiran. Sedangkan yang disindir hanya melirikku malas. Lengannya juga sudah tak berada di leherku lagi.

“Kita partner, kan.”

Aku tidak tahu harus menyimpulkan kalimat itu, menjadi pertanyaan atau justru pernyataan. Nadanya sedikit ambigu. Jadi, aku bingung untuk meresponnya.

“Pergi seminar bersamaku, yah.” Nah, yang seperti ini, mudah sekali untuk disimpulkan. Jelas sekali jika dia sedang memintaku untuk pergi bersamanya.

Iya, minggu depan akan ada seminar di pusat bimbingan belajar kami. Dikonsep yang benar, seharusnya aku lah yang meminta Frang untuk pergi bersamaku. Tapi, otak Frang dirancang untuk tidak memiliki konsep.

“Dia akan pergi bersamaku, Frang.” lelaki di samping kiriku baru saja membuka suaranya. Demi neptunus dan cincin saturnus, kenapa aku baru sadar, jika tengah diapit oleh Hans dan Frang. Buang aku ke sungai amazon, dong.

“Apa?!” Frang berteriak tepat di depan telingaku. Aku yakin, kotoran di telingaku mengalami keretakan karena teriakan super tinggi milik Frang. Seharusnya Frang masuk ke dalam buku rekor karena suara teriakan super tingginya itu.

“Pilih aku atau Hans?” pertanyaan konyol kedua dari seorang Frang.

“Terdengar seperti, pilih ibumu atau aku,” aku mengalihkan pembicaraan.

“Dan kau terdengar seperti memilih Hans ketimbang aku, yah,” Frang menyindirku.

Sial. Frang harus mendapatkan penghargaan dengan nominasi menyindir dan membuatku dongkol hampir mati. “Beri aku alasan kuat untuk menerima ajakanmu, Frang,” kataku, menantangnya.

“Karena aku Frang.”

“Dan aku Hans, Frang.” Hans sudah bersuara kembali.

“Kenapa kau tak bersama anak perempuan yang lain saja, sih, Hans?” Frang terlihat sudah kesal. Wajahnya saja sudah mulai memerah. Aku tahu sekali tabiatnya seperti apa.

“Karena dia kekasihku, Frang.” Hans sudah menggantungkan lengannya di leherku. Wajahku sudah melihat wajah Hans. Ia menampilkan senyum menawannya pada Frang.

Sedangkan Frang, ia terlihat sangat terkejut. Yah, sedikit banyak aku tahu bagaimana perasaannya. Bohong jika aku mengatakan kami hanya berteman atau sahabat. Sekonyol apapun kami berdua, kami sama-sama merasakan jika kami sudah saling memiliki. Hanya saja, kami tidak berkomitmen, dan mengatakan pada dunia bahwa kami saling memiliki.

Hey, tapi gadis mana yang tidak membutuhkan kepastian. Semuanya membutuhkan kepastian.Bahkan, badut sekalipun membutuhkan kepastian, apakah ia lucu atau tidak.

“Ya ampun, andai aku bisa menghentikan waktu satu jam sebelum kalian meresmikan hubungan, setidaknya aku masih memiliki waktu untuk memintamu pergi bersamaku, Be.”

END

Advertisements

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s