[TULUS] Oh, Universe

28135253211_35cdd55e07_b.jpg

Oh, Universe

by slovesw

Tak ‘kan lagi ku sebodoh ini, larut di dalam angan-angan tanpa tujuan.” — Sewindu, Tulus.

Menjadi baik bukan berarti itu adalah langkah terbaik yang bisa kaumiliki. Kau bisa menjadi orang baik dengan mempersilakan orang-orang untuk menginjak-injakmu, namun kau harus berani menyingkirkan mereka untuk menjadi orang yang terbaik. Mama selalu bilang bahwa menawari gula pada teh bagi orang tua adalah salah satu hal baik yang bisa kaulakukan, namun bukan hal yang terbaik jika kaulihat dari sisi medis.

Hal sama berlaku saat melihat Inara. Aku ingin sekali menunjukkan bahwa aku bisa menjadi orang baik untuknya. Namun aku tahu, itu bukan hal terbaik yang bisa kulakukan untuknya.

Oh, Inara.

Aku dan Inara tak ubahnya gubahan fragmentasi yang mandek di tengah jalan. Sang Penggubah pasti bingung benar bagaimana menyatukanku dengan wanita ini selagi kami berdua masih meributkan dua opsi yang berbeda. Tentang kopi Inara yang tak pernah absen dengan tambahan krimer dan punyaku yang hitam kelam sampai membuat tenggorokanmu tenggelam. Tentang Inara yang selalu memilih Björk dan solois feminin lain untuk diputar di player dan aku yang kukuh dengan MCR. Tentang Inara yang memilih hidupnya menjadi akademisi ulung pun aku yang sepertinya cukup puas untuk bekerja di balik meja kerja.

Jelas kekanakan, kendati ‘kepala tiga’-ku dan umur dua puluh tujuhnya memang tak bisa dibohongi. Permulaan hubungan kami berdua memang terlihat nyata, namun—setidaknya sampai sekarang—hubunganku dengan Inara bak sungai berkelok tak berujung; yang hilirnya entah ditelan perut bumi, atau barangkali hubungan kami harus rela bermuara di lautan berbuih.

Inara-ku yang manis, mengiluminasi, dan menjebak dalam saat yang bersamaan.

Seperti itulah Inara; senyum dan perangainya memang memicu rayu, tapi di saat bersamaan ia datang dengan segenap gelombang mengerikan yang ada dalam dirinya.

*

Wanita itu datang ke rumahku senja itu. Tanpa menginisiasi satu rembuk bersama. Kendati bukan berita yang buruk, agak sedikit mengejutkan mendapati onggok tubuhnya di muka pintu sementara lima bulan belakangan ia seperti akan mati saja kalau bertemu denganku. Bodoh kalau aku tak sadar itu adalah aksi yang ia ambil untuk menjauhiku, yang entah apa sebabnya. Sekarang ia berkontradiksi, malah menawari kunjungan hangat.

Inara masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai. Memindai tegel sedikit lebih lama, sebelum memilih untuk menubrukkan dirinya ke sofa.

“Sepi banget Ga rumahmu, udah kayak makam aja.”

“Ngelucu?” ujarku sarkastik dari ujung pantry, membopong dua cangkir untuk kami berdua. Satu kopi banci untuk Inara, dan satu yang lain jelas milikku.

Inara tertawa kasual, menumpukan seluruh beban tubuhnya ke punggung sofa. Menjalin pandangan dengan mataku agak lama, meskipun pada akhirnya ia berpaling dan lebih tertarik pada denting beling antara cangkir dan permukaan meja.

“Iya, iya. “ Ia bangkit, kedua sikunya bertelekan di lututnya. “Eksmud kita galak banget.”

Dan tertawa.

Aku berusaha abai akan godaannya, meski aku tertawa. Dari ekor mata kulihat Inara seperti melihatku lebih lama, yang membuat kedua tungkaiku mendingin bukan main.

Seandainya kedua kakiku bisa bicara, mereka pasti akan memilih untuk berlari. Atau meringking ngeri. Intinya jauh-jauh dari Inara agar pertemuan ini sebisa mungkin tak terjadi.

Namun kuupayakan agar bertindak kasual. Duduk tepat di samping Inara, menekuk tungkai ke atas kursi—takut kalau tiba-tiba mereka lari tunggang langgang.

“Selama ini ke mana?”

O, langkah terbodoh untuk memulai konversasi dengan orang yang kausukai.

Jemari Inara berlarian membelah rambut hitam jelaganya. Begitu menawan dengan berbagai gestur yang ia punya. “To the point banget, basa-basi dulu dong, Ega.”

“Itu bukannya basa-basi juga?”

Mata sendu Inara berotasi. “Yang lain, kek.”

Aku tersenyum. Suasananya tak begitu kaku lagi, namun bukan berarti aku sudah tidak punya ambisi untuk melenyapkan diri. Lebih baik begitu. Lebih baik menangani proposal-proposal sinting, proyek-proyek basi, ketimbang menangani Inara yang kutaksir delapan tahun belakangan.

Jauh di lubuk hati, aku tak pernah menyetujui reuni ini.

“Oke,” balasku gaguk, “apa kabar?”

Kurang basi apa lagi?

Berlawanan ketimbang yang kukira, Inara justru kelihatan tertarik dengan kalimatku tadi. “Baik, baik banget malah. Makanya aku datang ke sini.”

“O, kukira kamu lagi patah hati, apa lagi dalam kondisi berengsek,” kelakarku asal. “Biasa kan, tuh, lagi kesambet kayak gitu baru inget sama temennya.”

“Apaan.”

“Tapi kelihatan lho, Nar, mukamu kayaknya lagi muak banget.”

Dungas sarat bantahan keluar dari Inara. “Sok tau.”

Inara bangkit sejenak dari sofa, menggaet cuping cangkir dengan telunjuknya. Sejenak ia baru mengambil napas untuk bertanya, aku sudah keburu memotongnya.

“Gulanya dua sendok, kok.” Senyumku mengudara dengan bangga.

Inara kelihatan mencibir, kendati air mukanya kelihatan senang juga. Ceruk bibirnya menggampit bibir cangkir, sebelum akhirnya larutan kafein itu mengalir bebas ke dalam tubuhnya. Agak lama, sampai baru kusadari ternyata sedari tadi kupandangi Inara tanpa berkedip.

Pasti tolol.

“Kamu kepo banget ya, Ga.” Inara kelihatan seolah ia akan tersedak saat menyadari nihilnya perubahan ekspresi dariku. “Santai dong, nanti juga aku cerita—nggak usah melototin aku juga.”

“Melototin apanya?”

Mengutip aforisme singkat yang lazimnya dikatakan orang tua, “Cantik itu nisbi, bergantung pada siapa yang melihat.” Sekarang aku baru tahu, hal itu juga berlaku bagi Inara.

“Oke, aku ceritain, ya,” ia memulai kalimatnya. Satu telunjuknya berdiri di depan muka.“But one condition.”

Aku yang semula mengangguk simpul kini meneleng sangsi.

“Jangan kaget,” ucapnya.

Cangkir Inara kembali ke posisi sebelumnya. Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas hitam kelamnya. Air mukanya berangsur-angsur berubah. Seolah ada aib memalukan dari dalam tasnya yang terpaksa harus ia bongkar padaku.

Pikiranku mulai merajalela. Sejenak aku mulai meraba-raba, akankah ada hal buruk yang dibawa Inara senja ini. Seketika aku tahu, bahwa ekspresi bahagia yang ia buat sebelumnya, tak ubahnya hanya topeng temporalnya semata.

Oh, Inara.

*

Kira-kira dua tahun yang lalu.

Kami menyusuri jalanan kota di tengah malam. Tanpa mobil, tanpa motor, tanpa uang. Hanya sekadar kami berdua, memijaki pedestrian sambil bercerita tentang masa depan yang didamba seperti pengidap skizofrenia.

Kami memang gila, berciuman di bawah lampu jalanan seperti kaum tunawisma. Tak ada yang tahu siapa yang memulai, tak ada yang tahu apa yang membuat kami berdua tenggelam—namun pembual kalau kubilang aku tak suka.

Sekarang, semua itu hanya bisa terkenang saja. Inara beserta kenangan yang ditinggalkannya hanya mampu tersimpan di ceruk memori selamanya, tanpa bisa diulang, tanpa bisa direstorasi, pun tak bisa dianulir.

Undangan pernikahan Inara terangsur begitu saja dari telapak tangannya.

“Aku tahu kamu sibuk,” ungkapnya dengan nada mengambang, “apalagi acaranya hari Senin. Tapi kalo bisa sih, dateng.”

Efeknya lama sekali terserap otak. Sedikit … dan perasaan yang sudah lama kupupuk sewindu untuknya mengabur begitu saja. Sendu dan tawa yang dulu kusebut cinta terkikis serta-merta.

Tak mungkin kalau Inara tak tahu tentang itu.

“Kamu yang pertama kukasih tahu, by the way.”

Selama lima bulan ini ternyata Inara berkontemplasi. Menggali jalan terbaik dari rute buntu yang mengganjal dirinya. Berusaha mengubur diri, menghadapi dunia seorang diri—kendati rute buntu yang ia temui memang sumbangsih dari perilakunya sendiri.

Bibir tipis wanita itu bertutur jeri. Kedua matanya terus-terusan melancarkan sedu sedan tiada akhir. Malam di bulan Mei itu, dirinya harus terpaksa berakhir nahas bersama seorang pria di balik gelungan selimut motel tanpa busana.

Inara diam-diam berharap, tak akan ada kehidupan baru di dalam rahimnya. Ia merapal berdoa lebih kuat ketimbang biasanya, namun Tuhan berpikir mungkin ini usia yang tepat bagi Inara untuk memelihara janin di dalam rahimnya.

Sekarang usia kandungannya sudah tiga bulan, dan pernikahannya akan digelar tiga minggu lagi.

“Yah,” ujar Inara sambil menggigiti bibir berulang kali, “untung dia mau tanggung jawab. Kalau nggak, mungkin aku udah jadi jasad dari kemarin.”

Keluarlah tawa satiris.

Aku terdiam. Meraba-raba pikiran, mencari secuil kata. Namun yang kudapat hanya angan yang sedikit demi sedikit, perlahan demi perlahan, mulai hangus terbakar realitas.

Kuucap dengan lidah kelu, “You know that I love you, right?

“Makanya aku kasih tahu kamu duluan, Ega,” pekiknya. Kedua matanya masih ditenggelamkan air mata. “Tolol kalau aku minta kamu nikah sama aku.”

Tak selalu menjadi baik adalah yang terbaik. Seperti apa yang dikatakan Inara, tolol rasanya kalau aku menikahinya—menikah tak sesederhana kelihatannya; tak sesimpel kedengarannya.

Mungkin aku yang terlalu berangan tinggi; mengharap sejak bertahun-tahun bisa merengkuh Inara suatu hari nanti. Namun perlahan wanita itu mundur teratur, sehingga delapan tahun yang kusisihkan untuk sosoknya hanya menjadi sekadar memori.

Inara semakin terhanyut dalam tangisnya. Etiskah memeluk wanita yang sudah dalam pelukan orang? Aku akan ditertawakan dunia. Inara akan hidup bersama orang lain, dan mungkin akan menua bersama—sementara aku akan menertawai diri sendiri lantaran mengultuskan cinta tolol di atas segalanya.

“Boleh kutahu siapa dia?” ujarku pelan.

Tersengguk-sengguk ia sampai bingung menjawab. “Deo—kamu nggak bakal tahu siapa dia, Ega. Kami nggak ketemu di sini.”

Kupandangi matanya. Satu ciuman hangat itu, barangkali hanya aku saja yang mengagung-agungkannya. Mungkin selama ini Inara tak pernah menganggapnya istimewa. Tapi potret matanya yang berbinar terang kala itu selalu terekam, tak bisa kutiadakan. Mungkin aku akan menyisihkan Inara di satu relung khusus di bilik pikiran; membiarkannya jauh tak tersentuh.

Namun tua nanti mungkin aku akan bertanya, akan seperti apa hidupku jika delapan tahun tak kusisihkan hanya khusus untuk Inara. Akankah berbeda jika anganku untuk hidup bersama Inara menjadi nyata.

Tangan dingin Inara menangkup kedua tanganku. “Datang, ya?”

Aku mulai membayangkan, Inara pasti akan cantik sekali dalam balutan busana pengantin. Sekarang impian melihatnya dalam gelungan pakaian itu akan menjadi nyata. Sayang, sosok suami yang disongsongnya bukan aku.

Nyatanya, hal terbaik yang bisa kulakukan untuk Inara hanya merelakannya.

“Pasti, pasti dateng.”

 

Advertisements

5 thoughts on “[TULUS] Oh, Universe

  1. Kaktat. Oh, sistata. Udah lama bangeeet nggak baca tulisanmu dan setelah baca ini makin oke aja. Diksi huhu diksi. Perumpamaannya juga oke sekali 😦 badai abis. Sistata emang top banget soal diksi 😦 terus apa yah, meski ini tuh plotnya udah ketebak gimana, cara ngemasnya cantik banget. Dan feel-nya, aku gabisa jelasin pokoke kayak classy gitu. Terus ini cocok banget dibaca waktu dingin-dingin hujan LOL.

    Boleh dong berguru dengan sistata. Hahaha. Keep writing sis ❤

    Liked by 1 person

    1. halo Shiaaa!! iya emang akhir-akhir ini jarang nulis LOL makanya kaku bgt 😦 classy piyeeee 😦 wkwkwkwk makasih Shia! btw aku udah lama nggak baca tulisanmu huhu ku rindu. tida ada berguru-berguruan dgnku Shia malah kebalikan kayaknya HAHAHA thank you sis Shiaa💋💋💋 have a good time ya and keep writing tooo!! ❤

      Like

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s