[TULUS] Ready or Not?

PicMonkey Image

Bila kau sanggup untuk melupakan dia,
biarkan aku hadir.

by Authumnder.

+++

Selama tiga tahun berkawan dengan Kun, Elkie selalu punya alasan mengapa ia tidak boleh berkata jujur soal perasaannya. Semua alasannya relevan, valid, dan masuk akal—bahkan seorang penganalisis handal pun akan setuju dengan pilihan Elkie untuk tetap menutup mulut. Ingin tahu?

TAHUN PERTAMA, tahun di mana Elkie akhirnya menyadari kalau detak jantungnya berdegup 0,5 detik lebih cepat dari normalnya ketika sedang berinteraksi dengan Kun, alasannya menyimpan segalanya sendirian adalah, karena Kun punya pacar—pacar tetap, lebih jelasnya. Jenis hubungan yang sekiranya belum akan berakhir sebelum mencapai perayaan setahun berpacaran. Jadi, mengikuti insting seorang perempuan, Elkie menunggu.

TAHUN KEDUA, penantiannya terbayar oleh retaknya hubungan Kun dengan si Cantik Berkepang dari kelas sebelah. Mengatakan kalau Elkie turut senang akan menghasilkan kesalahpahaman yang berat, sedang mengakui kalau ia menaruh sayang pada Kun juga kedengaran tidak tepat—meskipun keduanya faktual, nyata, dan benar adanya. Yap, Elkie berakhir menahan kembali pernyataan cintanya, meskipun itu artinya harus terbangun setiap harinya dengan kepala dipenuhi pemikiran “aku berbohong lagi.”

TAHUN KEDUA BULAN KEENAM, Elkie berpikir kalau inilah saatnya. Kun pasti sudah mulai melupakan mantan pacarnya, malah, kemungkinan besar cowok itu sudah memiliki lowongan untuk cewek lain di hati. Dan, Elkie yakin benar, dirinya bisa jadi cewek lain yang sangat cocok. Berbekal pengetahuan agak ngawur itu Elkie memompa semangat, tiga hari dua malam ia menghapal naskah Kun-aku-suka-padamu miliknya yang sebenarnya tidak susah-susah amat, tapi jadi susah kalau kau sedang panik dan lidahmu terbelit-belit. Di hari H, segalanya tampak sesuai rencana. Nyaris sempurna. Bakal sempurna kalau saja Kun tidak sedang berdiri di depan kelasnya dengan si Cantik Berkepang. Elkie ingin berpikir positif, ah paling cuman tidak sengaja bertemu, tapi semua isi kepalanya rontok berantakan setelah kedua matanya mengilas tautan tangan Kun dengan si cewek. Tidak lama kemudian, Kun menelepon Elkie—seperti yang biasa ia lakukan, dan saat itulah Elkie tahu kalau tebakannya benar.

“Aku baikan dengan Lei. Ingat dia tidak? Pacarku setahun yang lalu?” jahatnya, suara Kun kedengaran begitu ceria dan gembira. Bikin Elkie makin tidak enak karena telah berdoa yang tidak-tidak.

Awalnya Elkie ingin menepis segala topeng teman baiknya yang lama kelamaan justru menyakitkan dan mendengus, “Tentu saja aku ingat! Dialah penyihir jahat yang merebutmu dariku!” tapi, tentu saja, ia tidak bisa mengatakannya. Rasanya kok tidak adil. Bukan salah Kun ‘kan kalau ia tidak melihat Elkie sebagai gadis potensial untuk dijadikan pacar? Bukan salah Lei juga kalau ialah yang berhasil mencuri hati Kun. Salah Elkielah karena menyimpan asa terlalu tinggi untuk sesuatu… seseorang… yang tidak balas melihatnya.

Elkie berakhir mengucapkan selamat dengan kegembiraan palsu.

TAHUN KETIGA, Elkie perlahan-lahan mulai kehilangan harapan dan kesempatan (bukannya ia pernah punya kesempatan, sih). Ia mulai berpikir untuk melupakan Kun saja, terlalu banyak usaha yang telah dikerahkan dan tiada hasil memuaskan di baliknya. Tapi lalu keluarga Kun—yang rumahnya di ujung gang—mengajak keluarganya makan malam bersama dan kembali Elkie menemukan dirinya jatuh hati pada cowok itu. Perasaan bahagia bisa berhadapan dengan Kun di meja makan formal tidak berlangsung lama, sama seperti kembang api, karena bel rumah Kun berdentang dan hei, lihat siapa yang datang!

Tentu saja Lei. Tentu saja cewek itu, yang malam ini tampak manis dan rumahan. Dan, menilik keberuntungannya yang makin hari makin menipis, tentu saja semua orang merasa kagum padanya. Bahkan, Kun menatap Lei dengan mata penuh cinta yang bikin Elkie kepingin muntah.

Memang tidak logis sama sekali, Elkie tahu itu, tapi satu-satunya hal yang muncul di kepalanya saat bertemu pandang dengan Kun adalah, ”Beraninya kau, beraninya kau menyukai cewek lain saat aku begitu menyukaimu.”

TAHUN KETIGA BULAN KEENAM, Elkie mulai curiga kalau ia termasuk deretan orang-orang yang masokis tapi belum mengetahuinya. Mengapa? Ah, kayak kau belum tahu saja. Tentu saja karena Kun, yang tiap hari kelihatan makin ganteng sekaligus makin tak tercapai saja. Bagaimana mungkin dada Elkie masih berdesir ketika tengah berbicara atau berdiri di dekat Kun setelah semua patah hati ini? Bagaimana mungkin ia mendongak menatap langit dan masih terbayang rupa kekanakan cowok itu? Bagaimana mungkin sesuatu dalam dirinya mencelus tiap kali melihat Lei, tahu benar kalau cewek itu mendapatkan apa yang paling Elkie inginkan di dunia ini?

TAHUN KETIGA BULAN KESEMBILAN, kabar baik (bagi Elkie) yang buruk (bagi Kun) akhirnya tiba.

“Lei bilang ada yang aneh dengan persahabatan kita,” Kun mendengus di telepon, sementara Elkie berdiri dengan jantung berdegup terlalu cepat di seberang. “Katanya kita terlalu dekat untuk ukuran teman.”

Iya, Elkie ingin berkata, terlalu dekat untuk ukuran dua teman yang salah satunya naksir pada satunya lagi meski orang itu tahu kalau temannya tidak menyimpan perasaan apa-apa untuknya.

Kun menghela napas, “Yah, sepertinya memang ditakdirkan begitu.” Ujarnya. “Hei, Creamy Choo depan rumahku baru saja buka. Mau kutraktir frozen yogurt?”

Inilah, Elkie berpikir, mengapa aku belum juga mampu menahanmu di bilik “TEMAN SAJA”. Tapi toh ia menggumamkan, “Meluncur! Traktir, lho!”

TAHUN KETIGA BULAN KESEPULUH, Kun menelepon lagi, kali ini lewat video call. Yap, benar, video call saat rumah mereka berada di gang yang sama. Bukannya Elkie mau protes, sih, mengingat ia suka sekali melihat wajah Kun di layar ponselnya. Lagipula, video call kedengaran seperti komunikasi yang sangat intens dan… membuat harapan Elkie tumbuh berkembang lagi. Pokoknya, di menit kelima detik kedua belas mereka mengobrol, tiba-tiba Kun terdiam lantas menyipitkan mata. Lalu, setelah beberapa saat berlalu hanya diisi dengan suara TV di rumah Elkie, Kun tiba-tiba mencetus,

“El, sejak kapan kamu jadi imut begini?”

Percayalah, jantung Elkie kolaps saat itu juga.

TAHUN KETIGA BULAN KEDUA BELAS, inilah saatnya. Kesempatan entah-ke-berapa untuk menyatakan perasaan. Harapan baru! Kesempatan baru! Dan, semoga saja, hasil yang baru! Jadi Elkie bersiap. Kali ini segalanya diatur dengan lebih teliti dan mendetail—apa Kun pernah membicarakan cewek lagi setelah Lei? X. Apa Kun pernah bilang kalau ia tidak ingin menjalin hubungan? X. Apa Kun suka Elkie? Uh-oh, yang ini jawabannya entah apa—dan Elkie bersumpah kalau kali ini gagal juga, ia akan mengasingkan diri dari Kun sebulan penuh. Serius.

Namun rupanya persiapan yang baik dan penantian panjang masih kurang kalau tidak didukung oleh timing. Coba tebak siapa yang siang ini dibawa Kun ke Creamy Choo, kedai es krim langganan mereka berdua? Bukan, bukan Lei, kok, tapi tetap saja.

Namanya Mei, begitu Kun memperkenalkan. Mei artinya cantik.

Lucunya, Elkie masih sempat saja menyadari kalau dua cewek yang disukai Kun selalu memiliki nama yang terdiri dari tiga kata, dengan E dan I sebagai dua huruf terakhir. Apa aku harus mengganti nama menjadi Kei? Konyol kedengarannya, tapi saat ini, ketika sebuah truk raksasa sedang menggilasnya habis-habisan, Elkie benar-benar mempertimbangkan ide itu. Sekarang kau tahu, ‘kan, betapa besar perasaannya untuk Kun?

“Elkie, ada apa kok kamu mengajak bertemu?” Kun membuyarkan lamunannya.

Dan Elkie benar-benar bersyukur Kun membangunkannya dari posisi terpuruk-dilindas-truk, karena sekarang ia tahu pasti apa yang harus dilakukan. Tidak ada lagi alasan-alasan tolol yang sebenarnya digunakan Elkie untuk menutupi ketakutan akan tereksposnya perasaan. Tidak ada lagi setahun berlalu dengan duduk-duduk, bertanya-tanya kapan Kun akan melupakan Lei dan balik menyukainya. Elkie harus mengambil tindakan sekarang juga. Lakukan, atau pergi saja ke Neraka.

Jadi Elkie berdeham, mengambil kursi di depan Kun. Ia menarik napas dalam-dalam dan menatap keduanya bergantian, lalu memfokuskan pandangan ke cowok itu. “Kun, apa kamu punya pacar?” tanyanya, straightforward. Tidak ada lagi basa-basi!

“Eh… Tidak?”

“Apa kamu suka pada Mei?”

Kun menggaruk dahi, tapi menyahut, “Tidak?”

“Bagus. Kalau begitu, mau jadi pacarku?”

Berhasil. Elkie berakhir mengatakannya. Peduli amat dengan pidato panjang lebar mengenai “aku menyukaimu karena…” atau “sudah lama aku menyimpan ini sendirian..”, Peduli amat dengan ekspresi terkejut di wajah kedua pendengarnya sekarang. Peduli amat dengan mulut Kun yang membuka lalu menutup. Peduli amat dengan jawaban yang akan ia terima habis ini.

Elkie menuntaskan tugasnya!

fin.

finished: 1:58 | July 31, 2016.

 

Advertisements

3 thoughts on “[TULUS] Ready or Not?

  1. MEYDAAAAAAAA I LOVE THIS OMOONAA OTOKEEE INI BAGUS BANGEEEET ❤ ❤

    sarkas-sarkasnya si elkie tuuuh juaraaaa. as always nabil selalu terpana (alay hih) sama cara kamu nyusun kalimat-kalimat. gimana yaaa… enakeuun dibacanya ihh. terus kata-kata kamu kebanyakan ga baku yang malaaah bikin makiiin juara deh tiap paragrafnyaa. setiap pindah waktu yg kamu tandain sama capslock ituuu, kayaaa punyaaa jiwanyaaa masing-masing, kaya bacaaa awaal lagi tapi sebenernya berkesinambungan/? pokonyaaa ga bikin bosen deeeh ❤

    DAN KUSUKA BAGIAN INI

    makin ganteng sekaligus makin tak tercapai saja.

    tau aja meeeeey tau ajaaaa huhuuu :(((( sebenere kutaktau kun itu siapa, tapi seperti biasa kalo baca fiksimu tuuh gawsaa liat cast lah langsung samber aja wkwk

    KEEP WRITING BABEZZZZ ❤

    p.s. moodboardmu lucuq banget taw ga?

    Like

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s