[TULUS] Photograph and Her

poster_photograph

Made by © Aorenji

“Bukan tak percaya diri, karna aku tau diri”- Mengagumimu Dari Jauh, Tulus.

pic source : here

**

Laki-laki itu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Jarum-jarumnya telah menunjukkan pukul enam lebih lima belas menit. Sudah hampir seperempat jam ia berkelana sendirian di taman kota dengan sebuah kamera menggelayut di leher serta mantel hitam butut seadanya dan bergelut dengan udara dingin khas musim gugur.

Menghabiskan Minggu pagi di Taman Kota yang masih begitu lengang untuk berburu gambar sambil menikmati waktu seorang diri adalah hal favorit yang sudah ia anggap sebagai kebiasaan wajib dan selalu ia lakukan di hari libur.

Laki-laki itu kembali melangkah sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru taman yang masih sepi. Sejauh Ini ia masih berpikir jika dirinyalah pengunjung pertama sekaligus satu-satunya di taman pagi itu sebelum ia terhenti setelah menyadari ada sesosok manusia bermantel merah dilengkapi syal rajut warna putih beradius beberapa meter dari tempatnya sekarang berdiri. Seorang perempuan yang tengah asyik bermain dengan seekor tupai berhasil menyedot atensinya. Tak biasanya ia temukan pengunjung lain yang datang pagi-pagi buta selain dirinya.

Untuk beberapa saat laki-laki itu hanya menatap manusia asing itu sebelum akhirnya sang gadis sedikit menyibak rambut coklat semi ikalnya yang menutupi sebagian besar parasnya. Laki-laki itu lalu bergeming. Gadis itu tak asing dalam ingatannya. Perlahan, refleks saja ia menyentuh kamera yang masih menggantung di leher. Wanita itu adalah objek foto pertamanya hari ini.

“Jo!” Sepertinya gadis itu mulai menyadari adanya keberadaan manusia lain, gadis itu tahu-tahu saja kini sudah memandang lurus ke arahnya sambil berseru menyebut nama si pemilik kamera yang sedari tadi terus mengamati dan berusaha membidik pergerakannya lewat lensa kamera miliknya. Tupai yang menjadi teman bermain gadis tadi kini sudah melompat pergi entah kemana, gadis itu mulai berjalan mendekat menghampiri Johnny sambil sedikit mengerucutkan bibir. “Lagi-lagi mengambil gambar tanpa meminta izin.”

“Maaf.” Jo alias Johnny, si pemilik nama hanya tersenyum kecil. “Sudah menjadi kebiasaan seorang juru kamera,”  ujarnya ringan dengan sebuah kurva yang masih bertahan di wajah.

Mereka berdua kini telah berdiri berhadapan, raut protes yang tadi sempat menghiasi wajah sang gadis kini tergantikan oleh tatapan heran. “Sedang apa kau di sini sendirian? Dapat tugas tambahan dari kepala redaksi?”

Omong-omong soal gadis itu, namanya Eleanor. Eleanor Kim lebih lengkapnya, tetapi rekan-rekan kerjanya di kantor lebih sering memanggilnya Elle.

“Ehm, mencari angin segar? kau sendiri sedang apa di sini pagi-pagi sendiri?”

Sudah hampir enam tahun Johnny mengenalnya. Elle adalah mantan kakak tingkatnya semasa ia mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Pertama kali mengenalnya di universitas kini Jo kembali dipertemukan dengan wanita itu di redaksi majalah, tempat mereka bekerja dan sudah dua tahun ini mereka saling mengenal sebagai sesama rekan seperjuangan.

“Kurang lebih sama sepertimu,” Elle terkekeh kecil. “Aku bosan terkurung di rumah.”

Diam sempat memberi jeda di antara keduanya. Johnny, untuk beberapa saat hanya diam menatap gadis bersurai coklat di hadapannya dan bergumul dengan pikirannya sendiri. Tak menyangka saja bisa secara kebetulan bertemu dengannya di sini, tak biasanya ia berjumpa dengan Eleanor Kim dalam balutan pakaian hangat yang kasual serta polah yang lincah bak gadis remaja bukan dalam setelan kerja dan bingkaian kacamata atau raut wajah genius khas miliknya, si reporter wanita terpopuler di seantero kantor.

”Mau kutemani jalan-jalan? ‘Kencan’ dadakan denganku sepertinya bukan ide yang buruk.” Sebuah ajakan bernada iseng memecah keheningan di antara mereka berdua disertai sebuah kerlingan dan tatapan usil berkilat dari kedua iris sang gadis. Tanpa sempat menjawab, Elle sudah bergerak cepat dengan membawa Jo pergi mengikuti langkahnya sembari meraih lengan laki-laki itu yang sedari tadi terus tersembunyi di balik mantel butut.

Dan kini Johnny hanya bisa pasrah membiarkan raganya ditarik kesana-kemari. Dengan sukarela mengikuti langkah Elle yang kini telah dipenuhi level antusiasme yang begitu tinggi. Mereka berdua kini telah sama-sama berjalan menyusuri setiap sudut taman yang kini dipenuhi pohon ginkgo yang daun-daunnya mulai jatuh bertebaran di sepanjang jalan. Berbincang-bincang sambil menahan hawa dingin yang terus menyerang. “Bagaimana keadaan di kantor?”

Sudah tiga hari Elle ­seniornya itu mengambil cuti. Dan sudah tiga hari pula Jo tak menjumpai batang hidung gadis itu, hingga akhirnya pagi ini mereka kembali dipertemukan secara tak sengaja. “Masih dikejar deadline, seperti biasanya.”

“Ada yang merindukanku tidak?”

 

Aku merindukanmu tapi kau tak perlu tahu itu

“Semua orang begitu sibuk, jadi kurasa tak ada yang sempat merindukanmu.

Dan kemudian sebuah jitakan kecil mendarat di kepala laki-laki itu. Elle kembali memunculkan wajah cemberut dan bibir yang mengerucut membuat Jo akhirnya mau tak mau kembali menarik ucapannya barusan. “Hanya bercanda kok.

Ia dan Elle masih terus melangkah bersama mengelilingi setiap sudut taman kota yang masih nihil pengunjung. Sesekali Jo kembali fokus memainkan kamera dan mengambil beberapa potret dari objek yang ia temui. Sesekali juga Elle melingkarkan kedua tangannya erat di lengan laki-laki itu. Entah disengaja atau hanya refleks semata, tetapi Johnny bisa sedikit merasakan sesuatu yang aneh menjalari tubuhnya.

“Hei, kan sudah kubilang padamu untuk membeli mantel baru, lihat sekarang kau mulai kedinginan!” Warna bibir Jo yang mulai sedikit terlihat memucat membuat Elle kembali berada dalam mode cerewet.

“Aku sudah biasa begini, tak perlu khawatir begitu.

“Jangan anggap sepele udara dingin, kau itu gampang jatuh sakit tahu!” Gadis itu kembali berseru menasehati. Segera ia tarik syal rajutan warna putih yang tengah ia kenakan lantas dikalungkannya benda hanga itu pada Jo. “Kau tak boleh jatuh sakit, siapa nanti yang akan merawatmu? kau tinggal sendirian kan?”

 

Aku harap kau yang akan merawatku dan berada di dekatku di saat aku membutuhkanmu.

Jo kembali tersenyum. Kehangatan. Ya, itulah perasaan aneh yang sedari tadi terus ia rasakan. Dia yang selama ini hanya mampu mengamati gadis itu dalam diam dan dari kejauhan tentu tiba-tiba merasa aneh sebab keberadaan Elle yang kini terus menempel dengannya. Yang kini begitu dekat dengannya.

 

“Hei Bung, kau menyukai Senior Eleanor bukan?” Suatu hari, pertanyaan itu dilontarkan oleh salah seorang kawan kerjanya di kantor.

“Foto-foto di kameramu ini adalah bukti kuat, kau pasti menyimpan sesuatu untuknya, benar bukan?”

Elle, gadis yang selama ini selalu mendominasi potret-potret yang terekam lewat lensa kamera milik laki-laki itu. Gadis yang selama ini selalu diam-diam menjadi objek foto favoritnya. Sesosok manusia yang berhasil mengalihkan semestanya dan terfokus hanya pada sang gadis, Eleanor Kim, seniornya sendiri.

“Jadi kapan kau akan bilang padanya? Bukankah sudah sejak lama kau menyukainya?”

Hanya satu dua orang yang terus melemparkan pertanyaan tersebut kepada Jo, mungkin mereka gemas melihat kawan mereka yang kini berstatus sebagai fotografer idaman para wanita di kantor itu hanya mampu mengagumi Elle dalam diam. “Mengapa? Apa kau ragu? Oh Bung ayolah, mana mungkin ada gadis yang mampu menolak pria tampan dan mapan sepertimu, aku yakin Elle bukanlah salah satunya.”

Johnny kembali bergumul dengan pikirannya sendiri. Kalimat-kalimat yang sering ditanyakan oleh kawan-kawannya itu terus menggema di pikiran laki-laki  yang kini lagi-lagi hanya terdiam menyaksikan paras dan tingkah si makhluk ayu yang sekarang masih terus melangkah beriringan di sampingnya. Kedua manik gelap Jo masih terus fokus menatap Elle tanpa sepengetahuan gadis itu.

Bukannya ia tak percaya diri, jika saja ia berani nekat tentu sudah sejak lama ia tak akan menyimpan perasaan ini seorang diri. Ada satu hal yang hingga detik ini membuat Johnny tak mungkin seenaknya saja menyampaikan apa yang ia rasakan itu.

“Apa kau sudah selesai mengambil gambarnya? aku sudah bosan di sini, sebaiknya kita pergi ke tempat lain.” Gadis itu mulai menguap kemudian dengan seenaknya menempelkan kepalanya di bahu laki-laki itu. “Aku lapar, kudengar darinya kalau kau pandai memasak, kalau begitu aku ingin makan masakan Cina buatanmu!” seruan bernada manja disertai binar cerah terlihat jelas di kedua manik gadis itu. Membuat Jo refleks mengulas sebuah senyum di bibir.

Ah, sial bahkan di saat begini saja Eleanor masih terlihat menawan di matanya.

.

.

“Maaf tapi kurasa untuk saat ini tak bisa, sebab ada orang lain yang tengah mencarimu tuh,” Disingkirkannya perlahan pegangan tangan sang gadis yang masih menempel melingkari lengannya erat. “Pulanglah bersamanya, ia pasti sudah menyiapkan sarapan yang jauh lebih enak untukmu.

Namun ucapan lembutnya itu malah disambut cibiran oleh Elle yang kemudian malah memalingkan wajah. Tampak seorang laki-laki yang tak asing sudah berdiri menanti Elle dan Jo di bawah salah satu pohon ginkgo tempat mereka berdua bertemu tadi.

.

.

.

“ Oi, James! cepat bawa pacarmu pulang, Ia terus menggangguku!” Dan suara seruan milik Jo itu disambut kekehan kecil oleh laki-laki yang sepertinya sudah dari tadi memerhatikan mereka sambil tersenyum dari kejauhan.

 

Bukan tak percaya diri, karena ia tahu diri. Mana mungkin ia berani bilang cinta pada calon istri kakaknya sendiri.

 

Fin.

 

Advertisements

One thought on “[TULUS] Photograph and Her

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s