[TULUS] Matahari

matahari-ayachaan-poster

MATAHARI

BY AYACHAAN

================================

“Mungkin mereka bulan, tapi ingat kau matahari. Cahaya mereka darimu.” – Lagu Untuk Matahari, Tulus.

Picture credit: here

Bunda tersentak sembari menghindari semburan bubur tim dari mulutku. Brokoli yang bunda masukkan diam-diam dalam buburku berhasil terdeteksi oleh saraf pengecap di lidahku. Huek, aku benar-benar tak mampu memakannya. Kulihat bunda beringsut mengambil tisu basah lalu membersihkan mulut juga leherku. Ia nampak menghela napas dan perlahan menyingkirkan potongan-potongan kecil brokoli pada suapan berikutnya.

Maafkan Alifa ya, Bunda.

*

            Hari ini cuaca agak mendung. Aku berusaha memicingkan mata agar tetap mampu menyusun balok kayu di sekelilingku. Huft, gelap sekali, sungutku. Bunda masih di dapur—sepertinya—hingga ia tidak menyalakan lampu tengah tempat aku bermain. Oh, benar juga. Sore nanti tante Ilma dan Jihan akan berkunjung—seingatku bunda mengatakannya tadi pagi pada ayah sembari menggendongku. Pantas saja sekarang bunda tidak memperhatikanku. Ia kepalang sibuk membuat kudapan ringan untuk suguhan tamu nanti.

 

BRAK. BRUK.

Aku melempar beberapa balok kayu hingga membentur lantai, menimbulkan suara gaduh. Ya, kalian benar, aku memang sedang berusaha mencari perhatian bunda. Tak sampai semenit kurasakan langkah kaki bunda tergopoh-gopoh menghampiriku. Ia meraih tubuh kurusku dan menggendongnya.

“Alifa mencari Bunda, ya?” tanyanya sembari mendekapku.

Aku tak memberikan jawaban apapun, lidahku kelu. Padahal dalam benakku sudah terangkai gerutuan karena bunda mengindahkanku begitu lama. Iris cokelat bunda berusaha beradu tatap dengan bola netra hitamku, namun aku menganggap balok-balok kayu di lantai jauh lebih menarik. Kudengar bunda terkekeh gemas di samping telingaku. Ia mengecup pipi gembulku bertubi-tubi sebelum akhirnya mendudukanku kembali di lantai. Aku beringsut mengambil balok sementara bunda menyalakan sakelar lampu. Setelahnya aku kembali asyik dalam lingkaran magis.

 

Sedari tadi aku hanya duduk diam di samping kaki bunda yang duduk di sofa ruang tengah. Tante Ilma baru saja datang dan berbincang ini-itu dengan bunda. Sementara itu, putrinya—Jihan—nampak asyik merusak istana yang baru saja selesai kubangun. Sesekali aku menoleh pada bunda, berharap bunda segera mengerti rasa tidak nyaman yang kurasakan. Aku tak begitu menyukai Jihan sebab ia senang merusak segalanya, sementara aku suka menyusun dan merapikan semua yang nampak berhamburan.

“Jihan senang banget makan sayur sekarang, Mba.”

Aku menangkap sebait kalimat dari tante Ilma. Takut-takut kulirik wajah bunda. Paras cantik laksana pualam itu tetap tersenyum manis. Namun aku dapat melihat kilatan sendu bermain dalam iris cokelatnya. Bunda pasti mengingat keadaanku yang tak kunjung bisa makan sayur, padahal usiaku lebih tua setahun daripada Jihan.

Jihan sudah mampu berjalan, sementara aku masih tak mampu berdiri tegap. Beringsut dan merangkak adalah caraku beralih. Aku masih belum bisa memegang apapun dengan mantap, kecuali balok kayu dan biskuit—itupun susah payah. Setelah kelahiranku, nampaknya aku tak pernah membuat bunda tidur dengan tenang. Setiap malamnya ia harus berbaring dalam kekhawatiran karena sindrom sesak napas yang seringkali menghampiriku ketika tidur.

Bunda seringkali kecewa padaku, pun juga ayah—kurasa. Mereka begitu merindu sebuah panggilan keluar dari mulut kecilku. Walaupun hanya sebuah silabel “Yah” atau “Nda”. Seandainya bunda mampu mendengar jerit hatiku, beribu kata sayang tumpah ruah di sana, terpatri hanya untuknya. Namun apa daya jika kekeluan lidah selalu terjadi kala aku ingin memanggilnya secara verbal.

Aku kembali menoleh pada bunda, namun ia nampak masih fokus mendengarkan cerita tante Ilma. Huh, aku tidak tahan lagi. Aku terisak sekali, dua kali, hingga akhirnya berbuah tangisan. Kupeluk kaki bunda sambil menarik-narik ujung rok biru muda yang ia kenakan.

“Lho, lho… Alifa kenapa, Nak?” Bunda meraih badanku.

Tante Ilma tersenyum maklum. “Lagi rewel yah, Fa?” tanyanya—nampak berusaha menghiburku. “kalo begitu kami pamit saja ya, Mba. Insyaa Allah kapan-kapan main ke sini lagi,” lanjut tante Ilma.

Bunda mengangguk saja sembari berusaha menenangkanku. “Hati-hati di jalan ya, maaf nih tidak bisa mengantar kalian ke depan,” sahut bunda.

“Iya, nggak apa, Mba. Kami pamit, ya. Dadah Alifa…,” ucap tante Ilma. Aku diam saja, tak berminat melambaikan tangan. Hah… selesai sudah rasa tak nyamanku.

*

            Sesak napas yang kerap kali menyerangku membuat aku sering terjaga saat tengah malam. Biasanya aku akan bangkit dari tempat tidur dan mengetuk kamar bunda. Namun—dalam beberapa kebetulan—kadang kujumpai bunda tengah duduk sendirian di meja dapur. Sinar lampu yang temaram tak mampu menyembunyikan rona sendu di wajah bunda. Aku sadar, kala itu bunda tengah bersedih. Entah tentang diriku; atau hal-hal yang tak kupahami. Satu hal yang membekas dalam kalbuku ialah perasaan tak ingin bunda terus berwajah sendu dalam waktu-waktu yang ia habiskan sendirian.

 

Malam ini—lagi-lagi—kutemui bunda duduk tercenung. Jejak air mata yang mengering nampak kentara di pipi pucatnya. Aku terus merangkak mendekati bunda, lalu menjulurkan tangan untuk menyentuh lututnya. Ia terkesiap menyadari kehadiranku.

“Alifa sayang,” panggilnya.

Kuangkat kedua tanganku—memintanya meraihku dalam dekapan.

Bunda tersenyum simpul. Segera saja dalam sekejap aku berada dalam pelukan hangatnya. Netra hitamku yang tak lagi mengantuk bersitatap dengan iris cokelat bunda—indah, batinku. Tangan mungilku yang kurus terangkat menyentuh pipinya. Oh, semoga lidah ini tak kelu.

“..lif…a…ta…ng…n…nda.”—Alifa sayang Bunda.

Kulihat setetes bening kristal meluncur dari sudut mata bunda, disusul oleh tetesan lainnya. Bunda mendekapku, mencium keningku lama. Dalam isaknya yang pelan kudengar bunda menggumamkan kalimat di telingaku.

“Alifa mataharinya Bunda. Terus bersinar untuk Bunda ya, Sayang.”

Aku tak memahami makna kalimat itu, namun bunda kerap kali mengucapkannya padaku. Mungkin kalimat itu bentuk kasih sayang; mungkin juga hanya sebuah ungkapan biasa; atau justru sebuah harapan, entahlah. Seiring waktu yang mendewasakan, kuharap aku dapat memahaminya.

*

FIN – #160804

Advertisements

One thought on “[TULUS] Matahari

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s