[TULUS] Tanda Tanya

KPBT

by lightlogy

Prompt: Kau pergi berjejak tanya. –Kisah Sebentar

 

Asap mengepul tepat setelah Sehun meletakkan secangkir latte buatannya. Cuaca pagi ini mendung–bagai refleksi dari perasaan pria itu sendiri. April telah lama lewat namun hujan masih turun dengan intensitas yang cukup sering. Hal itu juga yang membuat Irene tak pernah alpa untuk mengingatkan Sehun agar selalu menyiapkan payung di dalam ransel. Terdengar sepele, tapi Sehun begitu mengingat itu.

Tapi hari ini ponselnya tak kunjung berdering. Mungkin belum.

Suara ketukan pintu bergema setelahnya–membuat Sehun yang semula statis di tempat, langsung berdiri dan beranjak menuju sumber suara.

“Lihat,” Irene tahu-tahu telah berdiri di hadapannya sembari tersenyum jenaka. Jemari kurusnya saling tertaut menggenggam satu kantung belanja berukuran sedang.

“Itu apa?”

“Aku beli ayam ukuran jumbo,” Wanita itu lantas melesak masuk ke dalam apartment Sehun setelah meletakkan sendalnya di rak. “Tadi gak sengaja lewat pasar, eh, lihat ayam. Aku kalau lihat ayam pasti selalu inget kamu deh, Hun. Gak tahu kenapa.”

Senyum Sehun lantas mekar. Irene tampak cantik hari ini dengan rambut yang tergelung rapi. Andai saja Sehun punya kesempatan untuk mengelus surai itu setiap malam. “Kamu kan emang selalu inget sama aku, pun tanpa harus liat ayam dulu, Rin.”

Irene tak merespon–sibuk mengeluarkan barang belanjaannya untuk kemudian dimasukkan ke dalam lemari pendingin. Ia kemudian berteriak pada Sehun yang berada di ruang tengah untuk ikut membereskan dapur yang tampak berantakan. Irene itu pecinta kebersihan nomor wahid, dan kebalikannya adalah Sehun.

“Kamu teriak-teriak cuma gara-gara dapur?” Sehun menatap wanita berparas cantik itu dengan alis bertaut dan bibir mengerucut.

“Dan kamu komplain cuma gara-gara kusuruh membersihkan dapurmu sendiri?”

Irene bertanya balik secara lugas–membuat yang ditanyai cuma bisa diam lantas menaruh piring-piring kotor ke wastafel. Bagi Sehun, pertanyaan yang dilontarkan Irene adalah sebuah pernyataan bermakna perintah.

“Kamu tahu kan kalau kamu harus belajar mandiri,” Tutur Irene sambil memasang sarung tangan khusus untuk mencuci piring berwarna jingga. “Gimana kalau nanti aku udah gak bisa disini lagi? Kamu bakal–”

Udah gak bisa gimana sih maksudnya.” Sehun menyambar tak suka sementara Irene terdiam–namun tangannya masih bergerak untuk mencuci mug keramik kesayangan Sehun. Gambarnya Larva, kartun kesukaan sahabatnya itu meskipun Sehun telah memasuki umur dua puluh tiga tahun ini. Memang pantas untuk disebut jika Sehun itu masih bertingkah kekanakkan.

Irene bahkan jadi sering berpikiran naïf bahwa Sehun mungkin tak akan bisa menghidupi hidupnya sendiri tanpa ada dirinya. Membuat ia berpikir seribu kali untuk melepas pria itu–meski pada hakikatnya, Sehun mungkin saja sudah sanggup tanpa atau dengannya.

Meninggalkan Irene yang masih terkukung dalam rasa cinta yang begitu penuh–namun tak kunjung berwadah.

“Aku tahu aku egois,” Sehun tiba-tiba bertutur. Binarnya mengarah pada permadani lembut berwarna merah marun yang sedang ia pijak. “Tapi, tidak bisakah kalau aku minta kamu tetap di sini?”

Irene kembali diam–membuat Sehun kembali melanjutkan. “Kamu selalu siaga berada di samping kasurku setiap aku sakit, menyemangatiku saat aku skripsi, mengingatiku untuk membereskan rumah. Kamu dambaanku, Irene.”

Dan ia belum selesai sampai disitu. “Kamu begitu indah sampai aku gak tahu bagian mana pada deskripsimu di otakku yang bermakna buruk.”

Irene menghela napas dalam dengan mata yang mulai tergenang. “Sudah puas mengataiku indah? Manis? Cantik?”

Sehun menatapnya bingung.

“Aku gak butuh pujianmu dan segala asa-mu, Sehun.”

Aku butuh kau cintai–bukan untuk sekadar jadi manusia yang hanya kau minta berada di sampingmu tanpa status apa-apa. Irene menjerit dalam hati–andai Sehun mampu mendengar.

Irene menggigit bibirnya–menahan isakan. Pun Sehun tiba-tiba tak bisa menemukan kalimat untuk diucap. Atau sekedar menemukan makna dari kalimat Irene barusan.

“Kamu sudah cukup membuatku menunggu. Sudah sangat cukup.” Bahu sempit itu bergetar. “Sekarang sudah saatnya buatku untuk beranjak ke seseorang yang bisa menjemputku tanpa harus membuatku menunggu lebih lama.”

“Kamu bisa goreng ayamnya sendiri, kan? Bumbunya sudah kusiapkan, ada di dalam kulkas.” Irene menunduk. Bahunya yang semula bergetar kini luruh ke bawah.

Sunyi bahkan enggan mengusik keduanya.

Undangan berwarna biru muda itu tahu-tahu telah tergeletak begitu saja di atas nakas di ruang tengah. Irene telah pulang satu jam lalu–meninggalkan Sehun yang masih merenungi setiap bait yang tadi diucapkan oleh wanita yang selama ini dipujanya habis-habisan.

Sehun tak pernah paham–bagian mana yang salah pada dirinya bagi Irene. Yang membuat wanita itu pergi berjejak sakit juga tanda tanya.

Satu hal yang Sehun tak tahu–bahwa ia sudah cukup hanya dengan langit biru berpayung awan putih. Namun, bodohnya dirinya terlalu lama mengembara. Hingga langit biru tersebut terlanjur berubah menjadi malam tanpa bintang–hanya berhias kerlap kerlip lampu kota.

Sehun masih berada pada tanda tanya.

Fin.

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “[TULUS] Tanda Tanya

  1. nyesek bacannya 😥
    sehun yg gk peka sama perasaannya sndiri dan irene yg gk mau jujur atas perasaannya, mmbuat mereka brdua jadi sama” tersakiti….
    apa kamu terlalu naif atau gmana ya hun? smpe gk bisa memahami kata” tetsirat yg diucapkan irene…
    ceritanya bagus, feelnya dapet 🙂

    Like

  2. Hi kak,
    Aku suka banget fanfiksinya, kata katanya juga nusuk sekali, hikseu.
    Mau numpang tanya buat poster bikinnya pakai apa ya kak?
    Terimakasih sudah mau share.

    Like

  3. Reblogged this on b a e k l o g y and commented:
    ((ini perdana lightlogy berani ngepost dan bikin ff di blog setelah ribuan tahun berlalu)) ((ini iseng jadi jangan pasang ekspektasi setinggi tiang sutet sama isi ffnya)) ((apalah w cuma writer amatir dari paling amatir)) ((enjoy!))

    Like

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s