[TULUS] Museum

Museum copy copy

Tob present

“Pikiran mereka kosong, memikul peran.” –Diorama, Tulus

:::

Akhir pekan adalah waktu yang paling tepat untuk bersantai di rumah. Ditemani cemilan, tumpukan DVD, dan kasur merupakan kombinasi paling indah. Itu pula yang dipikirkan Joshua dua hari sebelum akhir pekan bertandang, tapi semua rencananya harus hancur lebur karena Mr Lim, dosen kuliahnya, telah memberikan tugas untuk pergi ke museum.

Terima kasih banyak Mr Lim!

Kalau bukan karena tugas itu harus dikumpulkan tepat hari Senin pukul tujuh pagi mungkin Joshua akan tetap diam pada pendiriannya untuk melepaskan penat di akhir pekan. O, tenang saja, masih ada hari Minggu. Masih ada satu hari yang tersisa. Semoga saja tugas menyebalkan itu bisa selesai di hari itu juga.

Tugas yang diberikan sebenarnya tidak sulit-sulit amat. Joshua dan teman seperjuangannya hanya diminta untuk pergi ke museum, melihat patung-patung dan benda artistik lainnya, lalu membuat laporan. Selain itu, kunjungan kali ini sebagai referensi untuk tugas memahat patung minggu depan. Jurusan yang diambil Joshua adalah seni patung, omong-omong.

:::

Di sinilah Joshua sekarang, bersama dua temannya; Kei dan Romeo. Kebetulan tugasnya dibuat secara berkelompok dan Joshua mendapatkan teman sekelompok seperti mereka. Kei tipe gadis yang manis dan penurut. Cantik dan pintar pula. Beruntunglah Joshua berada satu kelompok dengannya. Romeo pun sama, laki-laki pekerja keras meskipun tidak terlalu pintar. Lalu bagaimana dengan Joshua? Laki-laki itu hanyalah mahasiswa biasa yang mengerjakan tugas tepat waktu meskipun malas. Tipe-tipe rajin karena terpaksa. Ya, begitulah.

Pukul satu siang ketiganya bertemu di depan museum. Nama museum tersebut adalah Come and Life. Joshua tidak tahu mengapa diberi nama demikian. Mungkin maksudnya adalah untuk datang dan melihat-lihat makhluk yang setengah hidup. Joshua berpendapat demikian karena menurutnya patung-patung itu bisa hidup jika waktunya tiba. Tolong jangan tanya alasannya lebih lanjut.

Setelah membeli tiket masuk, ketiganya langsung dihadiahi patung manusia sambil membungkuk berwarna putih pucat. Kepalanya menunduk dan Kei buru-buru memotret patung tersebut.

“Maaf, di tempat ini tidak diperkenankan memotret.” Seorang petugas dengan topi hitam dan kumis tebal menghampiri Kei. Gadis itu menundukkan kepalanya, meminta maaf.

Joshua langsung mendekati Kei. “Sudahlah. Kita simpan saja melalui otak. Semoga tidak lupa.”

Namun Romeo yang ternyata sudah ada di samping Kei juga menggeleng. “Tidak bisa. Aku tidak bisa mengingat dalam jangka panjang. Harus di foto.”

Kei pun mengangguk. “Aku juga.”

Joshua menghela napas. “Ya sudah, kita sembunyi-sembunyi saja memotretnya. Jangan menggunakan flash.”

Kei dan Romeo mengangguk. Ketiganya lantas kembali melihat-lihat patung yang ada di sana.

Ternyata, selain patung, terdapat juga boneka-boneka. Semuanya boneka manusia. Ada boneka yang sedang memainkan biola, boneka catur, dan masih banyak lagi. Kei dengan hati-hati mulai memotret mereka satu per satu. Joshua dan Romeo yang berjaga-jaga, memberitahukan ada petugas atau tidak.

Ketiganya sampai di sebuah patung setengah badan beberapa jam kemudian. Warnanya putih tulang. Ada tiga patung di sana. Ruangan tempat patung tersebut pun merupakan ruangan terpisah. Berada di tengah-tengah museum. Entah apa istimewanya tiga patung ini, bagi Joshua semuanya biasa saja. Masih lebih bagus boneka manusia yang ia lihat sebelumnya.

Romeo berbisik kepada Kei dan Joshua yang sedang memerhatikan setiap sudut patung tersebut. Di sana ada petugas yang berjaga, mereka tidak mungkin mengambil gambar.

“Kurasa patung-patung ini aneh.”

“Kenapa?” balas Joshua ikut berbisik. Kei ikut mengangguk menyetujui ucapan Joshua. Padahal mereka tidak perlu saling berbisik, toh hanya ada mereka bertiga dan satu petugas di sana.

“Pikiran mereka kosong, memikul peran.” Joshua mengerutkan dahi sedangkan Kei sekarang memilih untuk mengeksplorasi patung-patung tersebut. “Maksudku, biasanya kita bisa melihat kehidupan di sana. Kau tahu, ketika kita membuat sebuah patung, kita akan memberikan sebuah sentuhan yang membuat patung-patung tersebut berbicara. Sedangkan patung-patung ini tidak memilikinya.”

Joshua mengangkat bahunya dua detik. “Mungkin karena mereka terlalu memikul peran banyak makanya pikirannya kosong.” Laki-laki keturunan  Amerika-Korea itu membalas asal.

Kei yang sudah selesai mengeksplor patung mendekati Joshua dan Romeo. “Josh, kurasa Romeo benar. Ada yang aneh dengan patung-patung ini.” Kei melirik petugas di sudut ruangan sebentar lalu kembali menatap Joshua dan Romeo. “Selain yang disebutkan Romeo tadi, mata patung itu,” Kei menunjuk patung perempuan yang di sebelah kanan, “sejak tadi sepertinya menatapku.”

Joshua mengibaskan tangannya. “Itu hal biasa, Kei. Patung-patung memang suka seperti itu. Seperti memandang kita padahal tidak.”

:::

Tidak terasa senja sudah bertandang. Museum tersebut tutup pukul enam sore. Joshua, Kei, dan Romeo masih melihat-lihat patung manusia kepala laki-laki yang di pajang di ruangan paling ujung. Patung itu mirip manusia-manusia di zaman Yunani, hidungnya mancung, bibirnya tipis, dan matanya tajam.

“Lima menit lagi museum tutup. Mohon kepada pengunjung untuk keluar dari setiap ruangan dan pergi menuju pintu keluar.”

Suara speaker dalam ruangan memberitahukan museum akan tutup. Ketiganya masih asyik melihat patung manusia Yunani tersebut. Dua menit sebelum museum tutup, Romeo justru ingin ke toilet.

“Aku mau ke toilet, sebentar. Sudah tidak kuat.”

Joshua memutar bola matanya. “Cepat. Dua menit lagi pintu keluar di tutup.”

Romeo hormat di depan Joshua. “Siap, Kapten!”

Kei terkekeh melihat tingkah Romeo.

Joshua pikir, Romeo hanya akan buang air kecil karena laki-laki itu menyebutkan kata sebentar sebelum pergi ke toilet. Kenyataannya ternyata tidak demikian.

Joshua dan Kei duduk di bangku dekat toilet laki-laki dan perempuan berada.  Keduanya memilih membunuh waktu dengan melihat-lihat gambar yang diambil oleh kamera saku Kei. Joshua agak bergidik ngeri begitu layar kamera menampilkan tiga patung yang menurut Romeo dan Kei memiliki keanehan (Romeo dan Joshua berhasil mengajak bicara petugas dan saat itu Kei cepat-cepat mengambil gambar ketiga patung tersebut).

Bola mata patung laki-laki yang di tengah berwarna merah. Dan bibirnya membentuk seringaian.

“Josh…” Kei memanggil pelan. Gadis itu sepertinya merasakan apa yang Joshua rasakan.

“Hai, maaf menunggu lama. Ternyata ada sesuatu yang harus dikeluarkan juga.”

Blam.

Bersamaan dengan datangnya Romeo di hadapan Kei dan Joshua, lampu padam. Museum resmi tutup. Dan, Joshua beserta kedua temannya masih di dalam tempat tersebut.

Ketiganya resmi terjebak.

“Josh, aku takut.” Kei memegang lengan Joshua. Romeo yang berada di sampingnya mengusap pundak gadis tersebut.

“Tenang, Kei. Kita akan mencari jalan keluar.” Romeo bersuara.

Ketiganya lantas beranjak dari tempatnya untuk mencari pintu, jendela, atau apapun yang bisa membuat mereka pergi dari tempat tersebut. Joshua mengenakan lampu di ponselnya sebagai penerangan. Begitu pula Romeo.

Srek. Srek.

Rungu ketiganya mendengar suara benda keras digeser. Atau mungkin bergeser. Joshua dan kedua temannya sudah separuh perjalanan. Sekarang mereka mau melewati ruangan dimana tiga patung yang menurut Romeo dan Kei aneh.

Srek. Srek.

Joshua mengalihkan pandangannya ke arah kanan. Ia merasa suara tersebut berasal dari arah sana. Dan suaranya semakin dekat.

Begitu lampu ponselnya menyiram tempat yang Joshua inginkan, laki-laki itu mendapatkan sebuah hadiah. Romeo dan Kei yang di sampingnya pun melihat hadiah tersebut.

Tiga patung setengah badan berjarak lima kaki dari tempat mereka berada. Joshua terkejut. Ia berteriak. Ponselnya terlempar.

“Selamat bertemu kembali, Teman.”

Terdengar patung tersebut berbicara. Entah patung yang sebelah mana karena tidak ada penerangan yang menyiram mereka. Romeo menarik Kei untuk lari sedangkan Joshua jatuh terduduk.

“Kau benar. Pikiran kami memang kosong. Kami terlalu banyak memikul peran, teman.” patung wanita mendekati Joshua. Ia menyeringai lalu memegang lengannya.

“Mau berganti posisi?””

Dua detik kemudian Joshua kehilangan kesadaran. Atau mungkin hilang dari peradaban.

FIN.

 

Advertisements

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s