[TULUS] Monodrama

teaser-lay-sm-station

-Monodrama-

by Liana D. S.

prompt: Jangan cintai aku apa adanya.

credit picture: Monodrama teaser photo

***

“Begitu saja menurutmu? Kau tidak ingin memberiku masukan untuk ini?”

“Tidak, bagiku itu sudah bagus sekali.”

“Kau tidak mengapresiasi laguku dengan serius, padahal kau kan mantan musisi juga, Fei,” Terdengar dengusan dan bunyi kursi yang berputar, menghadap ke laptop kembali, “Kau perlu mengkritik karyaku sesekali. Mustahil karyaku bagus terus seperti katamu; pasti kau hanya malas mengungkapkan kekuranganku. Kalau kau menerima semua apa adanya, aku tidak akan berkembang dan menanyakan pendapatmu atas karyaku jadi percuma.”

Itu adalah ujaran Yixing yang terpanjang selama dua hari belakangan, sayangnya ujaran itu memuat ketidakpuasan dan secerat amarah yang selama ini berusaha Feifei hindari. Wanita itu terpaku di balik bak cuci piring, sejenak berusaha mengendalikan diri, dan kemudian melanjutkan pekerjaannya membersihkan gelas dalam diam.

Yixing pulang ke Changsha sebulan sekali dari studionya di Beijing, sekali pulang sekitar dua atau tiga hari lamanya. Muda dan ambisius, sang pencipta lagu kini bergabung dalam proyek yang menurutnya cukup besar, yaitu program survival grup idola remaja di Beijing. Sebagian besar karyanya diperdengarkan oleh calon-calon anggota grup idola baru tersebut pada akhir minggu di saluran televisi terkemuka dan Feifei tak pernah lupa untuk menikmati lagu-lagu karangan suaminya, hitung-hitung lumayan buat menggantikan presensi si pria. Selain itu, jika Feifei rajin mengikuti perkembangan musik suaminya dalam program tadi, ia bisa membicarakan banyak hal mengenai pekerjaan Yixing di penghujung bulan. Bagi Feifei, semua lagu Yixing memang sempurna, tidak perlu diperbaiki lagi, maka waktu dua hari mereka hampir selalu terlewati dalam pembicaraan yang menyenangkan, tidak tergantikan oleh video chat atau pesan-pesan singkat. Namun, tentunya ada minggu-minggu seperti ini, ketika Yixing punya setumpuk pekerjaan rumah hingga Feifei khawatir mengusiknya bila berbicara terlalu banyak. Penghujung bulan mereka akan dingin jika sudah begitu, jadi keduanya mesti menunggu sebulan lagi untuk kembali bermesraan. Sebetulnya, Feifei tak begitu mempermasalahkan dirinya yang didiamkan oleh Yixing si sibuk, tetapi nada kesal yang dilontarkan lelaki itu tanpa sengaja membuatnya emosional.

Feifei mulai berpikir bahwa kekagumannya selama ini pada karya-karya Yixing semata bertujuan untuk menyusun bahan bualan pemanis pertemuan mereka.

Bagi seorang seniman, diperlakukan tidak jujur begitu jelas lebih menyakitkan ketimbang disembur kritikan pedas. Kendati demikian, Feifei punya dalih yang cukup bisa diterima, terutama oleh para istri yang hampir sepanjang tahun menyimpan rindu untuk diri sendiri. Ia rasa membahagiakan kekasih yang jarang pulang dengan memujinya supaya betah di rumah bukan sebuah dosa. Menjaga cinta dalam pernikahan yang serawan milik mereka amat sulit dan sejauh ini, Feifei sanggup mempertahankan Yixing menggunakan metode sederhana tadi. Masalahnya, Yixing tidak mengerti. Sebagaimana lazimnya anggota kaum Adam yang mudah terseret impian-impian besar, Yixing terlalu fokus menuntaskan tugas luar biasa di hadapan, sampai-sampai lupa pada Feifei yang jungkir balik, berusaha memanjangkan usia pernikahan ini. Feifei tak pernah menuntut, tak pernah mencela, semata karena ia tidak ingin menambah beban.

Sekarang, Yixing justru memperkarakan sikap Feifei lantaran kepasifan Feifei menghalangi perkembangan kariernya.

“Aku minta maaf karena tak memiliki saran apa pun untuk musik-musikmu saat ini. Kau tahu sendiri aku telah melepaskan peranku di dunia musik sejak kita menikah, sementara kau terus berkarya dan oleh sebab itu, wajar kalau kau lebih baik dariku dalam bidang ini. Aku tidak bisa menuntut lebih dari musikmu karena aku memang tidak merasa ada yang kurang di sana.”

Yixing tidak menggubris. Feifei menutup keran air dan mengeringkan tangan.

“Tentu lain ceritanya kalau kau memintaku mengkritik hubungan kita sekarang.”

Meski hanya sekilas, Feifei menangkap perlambatan gerak tangan Yixing di atas mousepad, walau kemudian, ia menduga itu merupakan halusinasi belaka. Khayalan yang mencerminkan betapa ia ingin diperhatikan oleh Yixing, sesamar apa pun buktinya. Feifei menghela napas dalam sebelum melanjutkan, sebisa mungkin mengatur nada bicaranya supaya perasaan yang ia simpan tidak terbaca jelas.

“Mungkin aku tidak banyak berkomentar soal karya-karyamu karena mereka menemaniku melewati akhir pekan lebih sering dibanding dirimu. Mereka membawakanku kasih, rindu, dan pahitnya ditinggalkan, tetapi itu tidak cukup, Xing. Tidak akan pernah cukup selama bukan kau yang datang dan mengganti waktu-waktu kita yang hilang. Pahamilah, aku bukan kritikus musik, maka aku tidak akan bisa memenuhi ekspektasimu, tetapi jika kau ingin aku memintamu menjadi lebih baik, kau bisa mulai dengan …” Suara Feifei kian lirih seiring langkahnya menjauhi dapur dan ruang tengah, “… tinggal di rumah lebih lama.”

Feifei tidak mendapat balasan, tetapi ketegangan di antaranya dan Yixing memuncak gara-gara kalimat barusan. Pukul sembilan, Feifei sudah masuk kamar, tidak berminat lagi melanjutkan sisa malam itu buat berkasih-kasihan. Tidak mungkin juga, toh atmosfernya tidak lagi mendukung. Berbaring telungkup dengan separuh wajah tertutup bantal, Feifei mencoba membendung air matanya. Ini masalah sepele saja, tidak patut menghancurkan Feifei yang tangguh, bukan?

Tidak. Gagal membangun kebersamaan yang dinanti-nanti setelah sebulan tak bersua bukan masalah sepele. Malam itu terpaksa Feifei lalui dalam satu lagi monodrama, dengan dia sebagai pemain tunggal dan Yixing sebagai penonton yang acuh tak acuh. Ganjilnya, pada malam sepi ini, Feifei menemukan sedikit kelegaan lantaran telah mengungkapkan harapan yang sebelumnya terpendam. Seraya merapikan isi tas yang akan Yixing bawa kembali ke Beijing besok pagi, ia berdoa agar satu permohonan sederhananya mampu mencapai nurani sang kekasih.

***

Fajar.

Feifei masih bermimpi, tetapi ia tak yakin itu benar-benar mimpi. Kecupan yang didaratkan pada kelopak matanya terasa terlalu nyata, begitu pula suara lirih yang memanggilnya.

“Aku berangkat, Fei.”

Tidak, jangan.

Momen ketika Feifei membuka mata dan menggenggam lemah tangan pria yang menciumnya terlalu samar bagi wanita itu sendiri, maka ia lantas meyakini bahwa ini mimpi. Ia keraskan gumamannya yang memohon Yixing agar tidak pergi ke mana-mana.

“Maaf. Aku harus mengejar penerbanganku, jadi aku mesti pergi sekarang. Dan maaf juga soal semalam.”

Keraguan makin tidak mendapat tempat. Dalam keadaan biasa, Yixing akan perlahan menurunkan telapak Feifei yang menahannya, tertawa kecil sambil bertanya mengejek ‘padahal aku belum ke mana-mana, sudah kangen?’, atau mungkin—sebelum ini tak pernah, sih—bahkan marah karena Feifei bersikap kekanakan di saat pekerjaan sudah menanti. Yixing yang ini tidak. Ia menangis sunyi, meminta Feifei melepaskan lengannya tetapi tidak bergerak sama sekali untuk menepisnya, dan berjanji akan pulang lebih cepat serta tinggal lebih lama di rumah ‘setelah pekerjaanku selesai’. Kapan itu akan terjadi, Feifei tidak tahu. Sudah untung Yixing yang di dalam mimpi ini berniat mengabulkan permintaannya; Feifei tidak boleh bersikap kelewat menuntut.

Cengkeraman telapak Feifei di sekitar lengan Yixing melonggar sebelum jatuh ke atas selimut, lantas hening. Feifei tak bisa menggerakkan kakinya dalam mimpi ini; ia terlalu mengantuk dan lelah, padahal ia ingin sekali mengantar Yixing setidaknya sampai ke gerbang. Mengapa penerbangan Yixing mesti pagi sekali?, keluhnya.

Tidak apa-apa. Bila Feifei tidak bisa memberi salam perpisahan untuk Yixing di depan pintu, Feifei harus mengucapkannya di atas ranjang ini.

“Xing, tolong mendekatlah.”

Yixing mencondongkan tubuhnya pada Feifei dan tanpa buang tempo, Feifei menyentuhkan bibirnya ke pipi pria itu. Harum sabun masih tertinggal di sana, aroma yang Feifei sebut ‘wangi pagi’—yang acapkali sekaligus menjadi wangi perpisahan.

“Hati-hati,” Feifei bisa merasakan dirinya tersenyum tipis, “Kerja yang semangat, ya. Tak perlu minta maaf untuk semalam dan jangan menangis begitu.”

Bayangan Yixing semakin kabur. Kata-katanya timbul tenggelam di telinga Feifei, tetapi yang jelas, ada ‘terima kasih’ dan ‘tidurlah kembali’ yang diikuti usapan lembutnya pada pipi Feifei.

Sinar matahari terang yang menyisip melalui celah tirai kira-kira satu setengah jam kemudian membangunkan Feifei. Ia menoleh ke samping, iseng meraba sisi berlawanan dari tempat tidur. Tempat Yixing seharusnya berbaring telah kosong dan dingin. Ransel yang semalam disandarkan Feifei ke kursi rias sudah tidak ada. Harum sabun dan parfum yang bertahan beberapa menit setelah Yixing keluar kamar mandi pun tidak bersisa lagi.

Yixing sudah berangkat.

Yang bermakna rangkaian pendek kejadian mirip mimpi tadi bukan mimpi. Semua yang di dalam ‘mimpi’ tadi nyata: air mata, permohonan maaf, janji untuk kembali lebih cepat, kecupan dan usapan di pipi, semua itu nyata.

Termasuk rindu yang menyerangnya serta Yixing sebelum mereka berpisah, itu juga nyata.

Jika kau ingin aku memintamu menjadi lebih baik, kau mungkin bisa mulai dengan tinggal di rumah lebih lama.

Malam kemarin, rupanya, bukanlah monodrama dengan seorang penampil dan penonton yang abai. Yixing mendengar Feifei, tetapi menunda jawaban untuknya meski ingin segera memperbaiki diri demi memenuhi tuntutannya. Memikirkan itu membuat Feifei menekuk lutut, menelungkupkan kepala ke balik lengan, dan membiarkan isakannya lolos. Kamar mereka berdua mendadak terasa begitu hampa, mungkin akibat janji Yixing untuk pulang tertinggal di sana bersama kesepian, menemani Feifei sampai bulan depan.

Detik itu, tidak ada lain yang paling diinginkan Feifei dari Yixing selain kehadiran si pria di sisinya, mengakhiri sandiwara tunggal ini dengan kisah yang benar-benar dijalani berdua.

TAMAT

Advertisements

2 thoughts on “[TULUS] Monodrama

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s