[TULUS] Cerita Tentang Canopus

325cbc59aa35538413d3681979c007a0

Cerita Tentang Canopus

by monamuliaa

pic source : here 

Based on prompt:

“Mengagumimu dari jauh. Menyayangimu dari jauh.” ―Tulus, Mengagumimu Dari Jauh.

 

*

 

Sekali lagi jemariku menari di atas lembaran kertas kosong. Ingatanku bekerja keras menyusuri lorong-lorong memori, berusaha keras menggenggam kembali ingatan tentang seseorang yang dengannya aku pernah tumbuh remaja. Yang dengannya aku mengenal apa itu cinta pertama.

Ini masih tentang seorang laki-laki bernama Cano. Cano Mahesa Saputra. Canopus-ku.

Bagiku, Cano bukan hanya tentang bintang paling terang di kerajaan malam―Canopus. Bukan pula tentang sekelumit bagian dari kepingan-kepingan masa lalu.

Cano lebih dari semua itu.

Dia adalah tentang belajar mengagumi, tentang belajar menyayangi, dan tentang mencintai tanpa pernah memiliki.

Dia pernah―dan masih―menempati bilik penting nan istimewa di dalam hati. Yang manakala lisan ini menyebut nama Cano ataupun mengingat tentang Cano, selalu terbersit keinginan untuk menuliskan banyak hal tentangnya. Meskipun aku tak yakin apa yang dapat kutuliskan dari kebersamaanku dan Cano selain ingatan tentangku yang hanya mengagumi Cano dari jauh. Dari jarak yang jauh namun tak cukup jauh untuk kehilangan pandangan darinya. Dari jarak yang cukup dekat namun tak benar-benar dekat untuk menyentuhnya.

Walaupun demikian, aku tetap harus menuliskan sesuatu tentang Canopus-ku. Sebab, aku tak ingin dia menghilang dari ingatan. Dan seandainya dia memang harus menghilang, aku ingin tulisanku kelak mendongengkan kembali tentangnya padaku.

Hal paling kuingat tentang Cano yakni bahwa dia adalah sesosok kutu buku, persis sepertiku. Meski semua yang menempel pada dirinya tak sedikitpun menunjukkan bahwa laki-laki itu lebih sering menghabiskan jam-jam istirahatnya di antara koridor-koridor rak buku ataupun menekuri sebuah buku di sudut perpustakaan daripada di sudut kantin sekolah bersama kelompok siswa populer lainnya. Sedangkan aku, hanya perlu sepersekian detik lirikan untuk ditempeli julukan kutu buku.

Dulu, alasanku menyukai bersembunyi di dalam perpustakaan karena haus pada buku bacaan. Namun sejak mengenal Cano―dengan tambahan keterangan menjadi pengagum rahasianya―alasanku pergi ke perpustakaan telah berubah dari hanya sekedar memuaskan dahaga pada buku bacaan menjadi memuaskan keinginan untuk melihat Cano. Dan sejak mengenal Cano pula lah aku mengubah cara pandangku pada perpustakaan sekolah.

Perpustakaan sekolah adalah saksi bisu, betapa aku yang hanyalah gadis remaja biasa, pun tidak populer, yang mana bahkan namaku tak pernah dilafalkan lebih dari tigapuluh lima siswa di dalam kelasku diam-diam memiliki perasaan sayang begitu tulus pada seorang siswa populer yang mana hampir setiap hari, namanya selalu didengung-dengungkan di seantero sekolah.

Aku dan Cano tak pernah saling bertukar sapa, apalagi saling bicara, namun kutahu rak buku mana yang sering didatanginya, ataupun buku apa yang sering kali dia baca.

Setiap hari, dia akan datang lebih awal ke sekolah, membaca koran harian pada halaman olahraga hingga bel bergema. Sesekali dia akan membaca kisah inspiratif namun tak pernah tertarik pada kolom politik. Dia menyukai astronomi dan ilmu perbintangan. Empat dari enam hari waktu istirahat di sekolah, akan dihabiskannya dengan membaca buku astronomi bersampul abu-abu dengan gambar roket, Saturnus, Bumi, serta astronot pada sampulnya. Sedangkan sisanya, dia habiskan untuk membaca ensiklopedia. Namun bukan berarti dia tak membaca buku lain. Minggu terakhir dalam satu bulan, digunakannya untuk membaca berbagai jenis buku, terkadang, kumpulan puisi Khalil Gibran, terkadang dongeng dalam Bahasa Inggris, terkadang kumpulan prosa lama, terkadang…aku tak dapat menyebutkan semuanya, sebab aku baru saja ingat bahwa nama Cano ada hampir di setiap buku dalam perpustakaan.

Aku dan Cano tak pernah sekalipun duduk bersama. Bahkan barangkali Cano tak pernah menyadari keberadaanku meskipun aku selalu berada disana, namun bukan berarti perpustakaan tak meninggalkan sebuah kenangan indah tentang aku dan Cano. Yang lagi-lagi, sebenarnya jika ditelisik dari manapun aku tak yakin apakah itu sebuah kenangan indah.

Suatu hari, karena beberapa hal yang harus kulakukan di ruang konseling pada jam istirahat, ketika aku pergi ke perpustakaan, aku kehilangan Cano. Ia tidak duduk di singgasananya―meja di sudut ruangan―dan aku tak menemukan sepatunya―converse hitam bulukan―di rak sepatu. Namun diantara kekesalanku karena tak menemukan Cano, aku tetap berjalan ke rak buku, hanya untuk berhenti di deretan fiksi. Berusaha kuambil buku di deretan atas. Dan kekesalanku bertambah manakala bahkan buku pun seolah mengejekku dengan tak kunjung dapat kuraih. Namun saat aku hendak berbalik, sebuah tangan terjulur di sampingku ke arah buku yang ingin kubaca. Lalu tangan itu mengulurkan buku itu padaku. Tanpa kata apa-apa, kemudian berlalu.

Pada detik itu aku seolah mati. Ragaku kehilangan kendali atas jiwaku yang telah terbang meninggalkan bumi. Aku tahu siapa pemilik tangan itu, pun punggung yang berjalan menjauhiku. Dia Cano. Canopus si misterius yang terkenal seantero sekolah namun pelit bicara. Dan Cano yang walaupun tidak peka, selalu baik pada siapa saja.

Kau tahu, bagi orang-orang yang tinggal di hemisfer selatan, atau di lintang yang lebih tinggi dari 37°18’15” LS, Canopus akan menjadi bintang sirkumpolar, yaitu bintang yang tidak pernah tenggelam. Aku ingin Cano persis seperti Canopus si bintang sirkumpolar di dalam ingatanku. Aku ingin dia tetap terapung meski kenangan lain telah tenggelam.

Ditulis di malam bertabur bintang dengan selipan doa agar laki-laki bernama Cano hidup berbahagia, dan agar kenangan tentangnya tetap ada, meskipun Alzheimer ini sedikit demi sedikit telah mulai mengikis segelintir kenangan lama.

 

End.

 

Author’s note:

Sebenarnya selain karena lagu Tulus, tulisan ini juga terinspirasi dari tulisanku sebelumnya Shine Like Canopus. Dan ini sengaja ditulis agar menyambung dengan tulisanku sebelumnya, walaupun untuk mengerti tulisan ini tidak perlu membaca tulisanku sebelumnya. Silakan memberi review di tulisan ini dan jika berkenan, juga di tulisanku sebelumnya yang bisa dibaca disini. Terima kasih.

Advertisements

5 thoughts on “[TULUS] Cerita Tentang Canopus

  1. Hai ^^
    Asyik banget twist nya di akhir kalo si cewe–tokoh aku–mengidap alzheimer ❤ ❤ <3. Karena twist ini cerita tentang bagaimana cemerlangnya si Cano bagi tokoh aku jadi lebih meaningful.

    Liked by 1 person

  2. Oiihh. Geeeerr~ Bulu kudukku merinding. Tulisanmu keren 👍👍👍👍👍Sebelume bingung baca tapi ngerti endingnya ternyata gitu. 짱!!!

    Like

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s