[TULUS] Rottura

tumblr_n742eyrcrL1te9jsdo1_500.png

Rottura

OtherwiseM presented

Based from prompt  “Sudah coba berbagai cara agar kita tetap bersama—Pamit, Tulus.

 

Karena satu-satunya yang bisa kulakukan saat ini hanya membisu, biarkan likuid bening mengalir dan bermuara di dagu.

.

.

“Aku mau kita putus.”

Lehernya segera berputar ke arahku. Sedang aku yang dilempari sorot tak percaya lekas menunduk dan biarkan ujung sepatunya singgahi netraku. Hening masih menggantung—ditemani letusan peluru serta kicau burung gagak. Perang masih belum berakhir, namun hubungan kami harus segera berakhir.

“Ke-kenapa …?”

Lirih suaranya mengusir hening, tersayupkan letupan senapan yang bersahutan, menembus gendang telinga dan memaksaku memejam rapat-rapat hingga dahi mengernyit. Pertanyaannya memang sederhana—terlampau sederhana malahan. Kendati begitu, aku kesulitan melontarkan satu frasa saja. Masih bungkam bak tunawicara, aku menunggu untaian kata lain darinya. Namun desah napas kecewalah yang kudapat.

Ujung sepatunya masih di sana. Itu artinya dia masih berdiri di hadapanku. Itu artinya juga aku tidak akan bisa mendongak untuk beberapa waktu ke depan. Rasa-rasanya sinar mata lelaki itu bisa merobohkan pondasi yang sudah susah payah kubangun dalam sejemang. Membuatku kembali luluh dan berlari mendekapnya. Tapi tentu saja hal semacam itu tidak akan pernah bisa terjadi.

Kupikir akan lebih baik kalau ia hanya mengakatan, “Oke.” kemudian melengos pergi seolah pernyataanku barusan tak lebih dari tolakkan untuk pergi berkencan—walau faktanya kami tak pernah berkencan akibat perang sialan yang entah kapan berakhirnya ini. Aku sangat ingin tanggapan seperti itu darinya. Tapi harapan selamanya hanya akan menjadi harapan.

“Apa aku berbuat salah?”

Ya. Kau sangat salah.

“Apa aku menyakitimu?”

Ya. Aku sangat sakit melihatmu seperti ini.

“Lalu?”

Bibirku masih terkatup rapat.

“Bisa tidak kau beri aku satu alasan saja?”

Kalau bisa sih, aku ingin menjerit dari tadi. Mengutarakan betapa aku tidak menginginkan ini, mengutarakan betapa realita ini mengungkungku sedemikian rupa, mengutarakan betapa bodohnya kamu dengan suara seperti itu. Ya, kalau bisa. Karena satu-satunya yang bisa kulakukan saat ini hanya membisu, biarkan likuid bening mengalir dan bermuara di dagu.

“Tatap aku!”

Kali ini nadamu tegas. Seorang prajurit memang tidak boleh lemah, bukan?

“Hei! Tolong berhenti menunduk dan angkat kepalamu! Kenapa kau berkata seperti itu?”

Oke, kutarik kata-kataku barusan. Ternyata kamu masih merengek seperti biasa.

“Apa kau sudah menemukan lelaki lain? Hei, kurang apa aku ini? Banyak gadis yang menyukaiku! Kau tahu itu, ‘kan? Sebenarnya selama ini apa arti ‘kita’ bagimu sampai kau ingin mengakhirinya seperti ini? Kita kan sudah berjanji untuk bisa terus bersama. Kenapa—”

 

            .

            .

            .

“Aku sudah mati. Sekarang aku hanya ilusimu.”

—End—

Advertisements

2 thoughts on “[TULUS] Rottura

  1. Lah yaampun kaget pas liat ending-nya huweeee kok syedih. Ni cowok penderita skizofrenia apa gimana ya Mel :”’) Trus trus ada kesalahan redaksional dikiit ‘tolakkan’ mestinya ‘tolakan’ karena tolak + an bukan tolak + kan. Truss ada typo mengakatan, harusnya mengatakan, ‘kan? Ehe.

    Udah segitu aja, selebihnya okee banget. Cuma lebih refresh pemikiran aja kalau pas perang mungkin lebih banyak sesuatu yang terjadi. Misalnya di depan ilusinya ini si cowok tertembak, atau menjelaskan latarnya bukan hanya ada suara senapan tapi daerah yang berdebu, baju kusut … dsb. Hehe terus menulis yaa Imel ^^

    Like

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s