[TULUS] Rindu Dalam Diorama

image1 (1) (1).jpeg

Rindu Dalam Diorama

A story by Shannellerush

“Harusnya cerita ini bisa berakhir lebih bahagia, tapi kita dalam diorama.” – Diorama, Tulus

Hanya sebuah hasrat yang mampu menyuarakan sejuta rasa tanpa bisa menggapainya. Hanya untaian perasaan yang mewakili kesendiriannya selama ini. Layaknya sebuah patung, ia hanya bisa diam. Sesungguhnya, jika ia boleh jujur, ia tak pernah merindu seperti ini. Merindu pada sosok Rendy.

Dulunya, ia adalah sosok gadis kecil yang nakal. Penuh dengan kenakalan. Itu dilakukan semata-mata agar eksistensinya terlihat di mata Rendy.

Paris memang kota yang menyenangkan. Banyak hal bisa dilakukan di sini. Apalagi saat musim gugur seperti ini, Lauren biasanya menikmati teh sambil menatap keindahan langit jingga Kota Paris. Tak lupa, Lauren memikirkan sosoknya. Sosok yang selama ini membuatnya jatuh terbelenggu ke dalam jurang cinta. Sudah dua tahun ia menetap di sini. Dalam diam. Dalam kesendiriannya. Tanpa sosok keluarga yang menemani. Namun, ia bahagia di sini. Ia dapat melupakan segala kenangan memalukan dan pahit yang pernah ia buat juga dapatkan. Satu yang tak bisa ia lupakan. Rendy. Nama itu selalu terngiang dalam benaknya. Selalu melintasi pikirannya. Lima vokal yang mampu membuatnya terbawa perasaan sejak kecil.

Hanya takdir yang membuat mereka harus berpisah. Tidak, bukan mereka. Hanya Lauren. Yah, hanya Lauren. Dahulu, Lauren berharap kisahnya akan punya akhir yang bahagia melebihi kisah di film-film atau cerita dongeng. Tapi nyatanya tidak. Tidak ada kisah membahagiakan dalam hidupnya. Dapat terhitung kisah bahagia yang masuk dalam hidupnya.

Ia menyeruput tehnya pelan. Kemudian mengehela napas menikmati paduan aroma teh dan musim gugur. Bau-bau dedaunan khas musim gugur semakin memantapkan suasana hatinya untuk tetap berada di Paris. Setahun pertama tinggal di Paris memang sedikit merepotkan. Apalagi tanpa di temani keluarga. Benar-benar sulit. Namun, seiring waktu berjalan ia menikmati kesendiriannya. Terlintas dalam benaknya waktu itu, bukankah aku sudah sering sendiri? Seharusnya aku menjalani kesendirian ini tanpa perlu mengeluh.

Omong-omong soal Rendy. Dia masih berada di negaranya. Singapura. Dan Lauren pikir, pemuda itu pasti baik-baik saja. Yup, tentu. Ada atau tanpa ada Lauren, Rendy baik-baik saja. Tak ada yang berubah. Pun tak ada yang perlu di khawatirkan.

Semerbak wewangian musim gugur membuatnya merasakan kelegaan tiada kira. Kelegaan itu memenuhi pikiran, hati, dan tiap desir darah yang mengalir dalam tubuhnya. Namun, ada satu titik dimana ia merasakan sebuah sensasi yang tidak bisa ia definisi kan. Ada rasa sesak di titik itu. Tepatnya di relung hati. Rasanya ia tidak bisa bernapas meski kelegaan telah memenuhi seisi tubuhnya. Mungkin ini efek merindu. Seberapa pun seseorang merasa lega, merasa semuanya baik-baik saja. Namun, apabila terjangkit merindu, maka tak ada hal lain yang bisa di lakukan selain bertemu dengan sosok yang membuat mereka merindu.

Pertanyaannya, apa mungkin Lauren harus kembali ke Singapura hanya untuk bertemu dengan Rendy?

Tentu saja, tidak.

Lauren begitu menjaga image-nya. Mana mungkin ia mau bertemu dengan Rendy, padahal selama ini Lauren sendiri telah menghindar dari Rendy.

Kalau saja sebelum berangkat ke Paris ia bertemu dengan Rendy, mungkin merindunya akan sedikit berkurang. Mungkin sekitar 0,00001%.

Bertemu atau tidak, toh juga ia tetap merindu pada pemuda itu.

Lauren menghela napasnya pelan, ia menatap dedaunan yang terbang akibat hembusan angin musim gugur.

“Seberapa pun angin musim gugur ini berembus, tak akan meretas rasa rinduku padamu.”

Ia tersenyum getir.

Lauren sadar bahwa ia dan Rendy ada dalam diorama yang berbeda. Punya kehidupan masing-masing. Punya jalan tersendiri.

.

.

.

Dan Lauren juga sadar, bahwa ia tidak boleh mencinta pada sosok kakak sepupunya.

 

-FIN-

pict cr: here

Advertisements

3 thoughts on “[TULUS] Rindu Dalam Diorama

  1. what a plot twist………
    awalnya selo-selo aja bacanya kayak baca romance galau biasa (ketauan demen baca romance galau), tapi ambyar sudah pas nyampe kalimat terakhir. well, meskipun udah beberapa kali baca cerita yang plot twistnya brother complex begini but still, good job! 😀
    salam kenal anyway, aku nadya dari line 97 ^^

    Liked by 1 person

    1. Halo Kak Nadya ^^ aku Shellin, line 98 😀

      Sebelumnya makasih banyak udah mampir, baca terus komen hihi~

      Sebenernya aku gaada niatan buat plot twist kkk~ tapi nggak tau knp jadinya malah begitu. Btw ini hasil dari wb akut :”) jadi maaf kalo ada kata2 aneh dan ada yg gak berkenan, kak

      Sekali lagi, makasih sudah memberikan apresiasinya ^^

      Like

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s