[TULUS] Untuknya, Sekali Lagi

lalala.jpg

Untuknya, Sekali Lagi

by Niswahikmah

1st sentence from Tulus

Jangan paksakan genggamanmu.

[based on song Pamit]

~

Aku mencintai Merlyn. Tapi, dia lebih mencintai orang lain. Orang dengan bola mata bulat yang lucu itu tampaknya lebih menyenangkan untuk diajak bermain. Orang dengan senyum manis bibir ceri itu sepertinya lebih asyik sebagai rekan bercanda. Merlyn tidak pernah jauh-jauh darinya. Dia akan terus berada di sampingnya, sepanjang hayatnya, dia bilang.

Aku juga mencintai orang itu, sama besarnya dengan cinta Merlyn padanya. Karena orang itu yang menyatukan tautan tangan kami saat merenggang. Orang itulah yang menyelamatkanku dari lautan amarah dan menyadarkanku bahwa Merlyn kesakitan karenaku. Orang itu yang membuat senyumku tetap terkembang meski tubuhku letih.

Dia … anak kami. Namanya Melly.

Dulu, ketika Melly masih kecil, tangannya selalu merekat pada jari yang menyentuhnya. Yang paling sering menyentuhnya adalah Merlyn, sehingga tangan itu paling suka menggenggam jemari Merlyn. Kedekatan mereka seperti jari manis dan ibu jari—tak mungkin dijauhkan.

“Melly, Ayah juga mau sama Bunda. Gantian, ya?” aku sering sekali mengatakan itu pada Melly kecil, sambil menggoyang-goyang jemarinya atau menciumi pipinya. Merajuk sampai Merlyn tertawa melihatnya.

“Ayah, Melly belum bisa bicara buat jawab pertanyaannya Ayah. Maaf, ya,” jawab Merlyn dengan suara buatannya. Kemudian, ia mencoba meletakkan bayi mungil itu. Seringkali gagal jika dia belum pulas. Lepas dari buaian, dia akan menangis keras-keras.

“Ayah harus mengalah terus, ya, sampai kamu besar?”

 Aku masuk kamar dengan gerutuanku, meskipun sudah diantar elusan lembut tangan Merlyn supaya aku ikhlas. Melly anakku, tentu saja aku terima semuanya. Tapi, seringkali ada desiran kesal ketika Merlyn terlalu mencintainya.

“Bunda, bukankah tidak baik memperlakukannya seperti itu?” tanyaku suatu hari. Merlyn menukikkan alis mendengarnya. Aku mempertajam pernyataanku, “Kalau Melly jadi manja, itu bukan salah Ayah, ya.”

“Dia masih kecil, Yah, anak pertama lagi.” Merlyn menggeleng tidak setuju dengan penilaianku. Ia menambahkan, “Lagipula, aku mengajarinya agama. Dia berjilbab dari kecil begini, mendengarkan lantunan ayat-ayat Quran. Dia … akan jadi muslimah yang baik nanti.”

Aku menggenggam tangannya sambil berucap, “Bunda hanya bisa mengarahkan. Bukan menuliskan takdirnya. Jangan menggenggamnya terlalu erat, Bun, dia akan lepas dengan mudah nanti.”

Pesanku tak pernah berubah. Merlyn selalu mengerjap bingung saat aku mengatakan itu, tapi aku hanya membalasnya dengan senyuman. Dia akan paham ketika waktu terus berputar nanti. Akan segera dimengertinya apa maksudku.

***

“Ayah, Melly keluar bentar, ya. Ke rumah temen di kompleks sebelah.”

Tahun demi tahun berlalu. Melly yang dulunya baru kuajari berjalan, kusuapi, dan kupasangkan baju di tubuhnya, sekarang sudah beranjak remaja. Ia mirip sekali dengan Merlyn. Hanya bola matanya yang sewarna denganku dan senyumnya simetris bagaikan aku. Selebihnya, punya Merlyn. Termasuk sifat-sifatnya. Mungkin, karena Merlyn-lah yang lebih banyak andil dalam mengasuhnya.

“Jangan pulang malam. Sebelum magrib sudah di rumah, ya?” pintaku saat ia mencium tanganku.

Ia tersenyum sambil membenahi jilbabnya. Kemudian memasang sikap berdiri tegap dan hormat padaku. Tidak lupa, katakan dengan lantang, “Siap, Bos!”

Aku tertawa melihat tingkahnya. Sudah akan beranjak, tiba-tiba Merlyn datang tergopoh-gopoh dari kamar. “Bunda anterin, ya?”

“Jalan kaki aja, Bun, sehat!” Melly nyengir.

“Nggak, nggak,” bantah Merlyn membuatku mengerutkan kening. “Zaman sekarang banyak penculikan anak remaja. Gimana bisa Bunda biarin kamu pergi sendirian? Ayo, Bunda anterin.”

“Tapi, Bun ….”

“Ayo, udah!”

 Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah kehendak Merlyn yang berkaitan dengan anaknya. Dari dulu, aku bisa memimpin sikapnya, tapi tidak untuk perkara Melly. Dia akan bertingkah layaknya alpha woman seketika. Tidak butuh saranku, tidak perlu ideku. Hanya pikiran dan tindakannya-lah yang benar.

“Bunda, hati-hati!” teriakku ketika mobilnya sudah bermanuver keluar dari garasi. Ia tersenyum sambil melambaikan tangannya padaku dan mengucap salam.

Padahal sudah kubilang berkali-kali, bisikku dalam hati.

***

Setiap kali Merlyn menetapkan aturan A-B-C-D hingga Z kepada anakku, aku bisa melihat senyumnya pudar. Kadang, raut wajahnya tersenyum di depan Merlyn, namun akhirnya berubah lesu. Cuma aku yang bisa membacanya semudah membaca buku yang terbuka. Aku membaca Merlyn dengan baik selama bertahun-tahun, tapi semenjak Melly bertumbuh semakin dewasa, aku jadi kesulitan.

Maka, untuk meringankan beban ikatan Merlyn itu, aku sering mengajak anakku berjalan-jalan berdua. Dia boleh makan dan minum apa saja denganku—asal halal, menonton film apa saja—asal sesuai batas rating, dan beli barang apa saja—asal bermanfaat.

“Melly, coba tebak, apa yang berubah dari dua orang yang habis putus cinta?” tanyaku suatu kali, setelah kami keluar dari gedung bioskop. Tentunya tontonan kami tadi adalah film cinta (ya, aku hampir tertidur menontonnya, tapi Melly suka sekali bahkan sampai menangis untuk ending-nya).

Melly berpikir sejenak. “Mmm … yang berubah hanya mereka tidak lagi saling memiliki.”

“Cuma itu? Bukannya ada perubahan lain? Kayak salah satunya akan patah hati, mungkin? Atau mungkin ada salah satu dari mereka yang berniat bunuh diri?”

“Yah, itu hanya kemungkinan. Cuma orang bodoh yang ngelakuin itu. Aku tahu betul, lebih baik berpisah dan membuat orang yang kaucintai tenang. Daripada bersama dengan orang yang jemu pada diri kita. Ada begitu banyak orang di dunia ini. Kita nggak akan mati hanya karena satu orang, ya ‘kan?”

Aku merangkul bahunya sambil mengangguk setuju. Benar juga logikanya. Dulu, aku pernah merasa akan mati karena ditinggal selingkuh kekasihku. Tapi, nyatanya, aku mendapatkan ganti yang lebih baik. Keluarga yang bahagia.

Lain waktu, Merlyn mengomel lagi karena aku sering mengajak Melly menonton film romantis. Ia minta aku menonton film yang lebih islami. Dan, perbincangan lain terulang setelah kami keluar gedung bioskop—kali ini Merlyn ikut.

“Mel, kalau menurutmu yang benar pakai hisab atau ruqyah hilal?” tanyaku mengawali.

Melly mengetuk dagu dengan jari. “Menurutku, bisa pakai keduanya, Yah. Dua-duanya adalah teori yang logis dan sah buat dipakai. Hal seperti itu tidak sepantasnya diperdebatkan. Negara ini disatukan dengan perbedaan. Agama juga boleh begitu. Penolakan pada perbedaan itu yang membuat kita terpecah belah—”

“Itu karena ada pihak-pihak yang tidak mau dibetulkan,” sahut Merlyn ketus, “kamu jangan terbawa pada arus plural seperti itu. Kalau hisab memang lebih cepat, kenapa pemerintah pakai cara yang susah? Memang susah diberitahu mereka itu!”

Kusenggol keras-keras lengan Merlyn. Topik pun kualihkan ke menu makanan. Sejak saat itu, aku tahu, anakku punya pikiran yang berbeda dari orang lain. Aku hanya perlu mengawasinya sambil membimbing. Apa pun jalan yang dia dapatkan, kuserahkan penuh pada kuasa takdir.

***

“Keputusanku sudah bulat, Bun, Yah. Aku mau masuk gereja itu.”

“Masuk dalam model bagaimana dulu?! Kalau kau hanya ada urusan study tour atau penelitian, Bunda izinkan! Kamu mau murtad, merusak nama baik keluarga besar, mana mungkin Melly?! Jangan buat Bunda malu!” Merlyn meracau marah siang itu, ketika anak kami mengubah cara berkerudungnya menjadi semodel dengan biarawati.

Aku tidak tahu apa yang telah terjadi. Baru tiga bulan ia masuk kuliah jurusan Filsafat Agama. Kurasa, semua benteng sudah terbangun kuat. Kukira, pegangannya sudah cukup tegak. Kuhela napasku berkali-kali sambil ber-istighfar.

“Ayah, bilang pada Melly! Ayah, bilang kalau dia salah!”

Rumah kami seperti kapal pecah. Aku meminta Melly kembali ke rumah kosnya sementara Merlyn terkulai pingsan di lenganku. Guncangan ini sebegitu hebatnya, membuat tangisku terbata-bata ketika menunaikan shalat.

“Ayah yang membuatnya seperti itu.”

Aku menoleh pada ranjang di mana Merlyn tertidur. Wanita itu kusut dengan bekas air mata di kedua pipinya. Tatapannya tajam seolah hendak merajamku.

“Ayah tidak lakukan apa-apa, Bunda. Kenapa—”

“Tidak lakukan apa-apa?! Siapa yang membebaskan Melly berpendapat? Siapa yang selalu mendukung propaganda bebas buat Melly? Kalau dia tidak masuk kampus itu, dia tidak akan murtad! Dia tidak akan terpengaruh agama lain! Dia akan tetap jadi anak Bunda dan Ayah yang muslimah sejati! Dia tidak akan masuk agama sialan itu ….”

“Bunda, istighfar.” Aku beranjak ke arahnya, membimbingnya untuk menenangkan diri. Kupeluk erat-erat tubuhnya. Kuembuskan kasih sayang pada daun telinganya.

Astaghfirullah. Ini juga salah Bunda. Ini salah Bunda.”

“Tidak, Bunda, tidak,” bantahku, “ini maksud Ayah dulu. Bunda nggak inget?”

Merlyn diam, membuatku melanjutkan, “Bunda hanya bisa mengarahkan. Bukan menuliskan takdirnya. Jangan menggenggamnya terlalu erat, Bun, dia akan lepas dengan mudah nanti.”

Merlyn terisak mendengarnya. Perih sekali aku mendengar tangis tertahannya.

“Jadi, a-aku … tidak bisa menggenggamnya lagi?”

Kucium berulang kali kepalanya. “Tidak ada yang tidak mungkin. Tugas kita sekarang adalah menyadarkannya. Selanjutnya, biar Allah yang melakukan. Bunda, jika didikan kita gagal, itu bukan karena kita sempurna gagal. Tapi karena anak kita belum mendapat hidayah-Nya. Kita berusaha dan Allah yang menentukan hasilnya, ‘kan? Dalam hidup ini, keberhasilan tidak selalu diraih dengan cuma-cuma.”

Merlyn menggenggam tanganku erat-erat. Bersandar sepenuhnya pada dadaku. Ber-istighfar berkali-kali.

“Ayah, jangan pernah lepaskan Bunda, meski Bunda tidak memaksakan genggaman ini.”

Saat itulah, aku tahu pasti bahwa Merlyn bisa diajak berjuang sekali lagi. Demi orang yang lebih dia cintai dibanding aku. Demi orang yang membuat senyumnya terbit dan tangisnya luruh. Demi Melly, perjalanan panjang ini akan kami tempuh. Sekali lagi.

fin.

Advertisements

13 thoughts on “[TULUS] Untuknya, Sekali Lagi

  1. Wahaa, Nis. Aku …speechless. :O
    Aku mangap baca ceritanya. Seriously promptnya dibikin kayak gini .=. Aduh, aku salut bangeeet kamu berani nulis ini. Aku kalau pengen nulis tema ini aku udah gemeter duluan yang ada .=.

    Great job! Pesan di akhirnya dapet banget buatku. Keep writing, Nis! 😀

    Liked by 1 person

    1. Waduh mingkem dulu kakdil ehehe. Yah kan kakak tau sendiri aku ngga pernah ragu buat melewati tembok batas, padahal udah sering dapet kritikan sana-sini, sih. Its okay, kakak juga bisa asalkan mau mencoba 🙂 Makasih sudah menyempatkan baca dan berkomentar. Keep writing too!

      Liked by 1 person

  2. KAK… KAK NISWA….

    pengakuan dosa dulu dong. sebetulnya aku pas buka e-mail dari Niswa Hikmah itu yg kayak “Direview apa ngga… direview apa ngga…” bcs ini Niswa Hikmah gt loh ntar malah kicep sendiri. terus ternyata beneran kicep. HAH YAAMPUN AKU ANGKAT TANGAN AJA DEH KALO KAK NISWA NULIS FAMILY GINI. terus2 ada topik2 religius-nya juga (sebenernya aku takut bakalan SARA tapi setelah kubaca2 ulang imo ini aman kok, makanya kupost).

    salut deh kak niswa ngga nulis romance kayak kebanyakan peserta (padahal prompt-nya imo romance banget tapi sama kak niswa dijadiin family atulah ddq bisa apa…) sampe bingung mau ngomong apa hhHHhhH keep writing kak niswakuuhhh ❤ ❤ ❤

    Like

    1. Aisyakamilaaa ehehehe. Ya kali nggak direview is, emangnya aku siapaa masih butuh banyak belajar banyak membaca :””)

      Oh sebelum aku kirim sudah kupastikan itu ndak nyerempet SARA kok hehe. Biasanya kalau aku nggak yakin nggak bakal kukirim. Makasiiih udah nyempetin koemn jugaa keep writing too aiskuuh ❤

      Like

  3. Niswa, iniㅡini bener-bener bikin takjub! Aku tersentuh banget dari awal baca sampai akhir. Aku suka gimana kamu nulis dari Melly masih bayi, suka gimana kamu gambarin masing-masing karakternya, kayak Ayah yang pemerhati, Bunda yang tegas, dan Melly yang punya pandangannya sendiri. Nilai plus-nya adalah kamu berani masukin perkara agama ke sini, yang aku yakin, bahkan penulis yang usianya lebih tua dari kamu pun masih sangsi mau menulis latar seperti ini. Intinya, aku suka. Aku gak terlalu fokus ke koreksi niiih, tapi menurutku yang di atas tadi itu udah oke banget. Niswa, keep writing, yaa! Aku bener-bener suka liat perkembangan tulisanmu! You nailed it:) Ini anti-mainstream dan membuka pikiran kita mengenai sudut pandang. Aku sukaak! ❤ ❤ ❤ ❤ ❤

    Like

    1. Halooo mbadhil, duh malu nih dibaca mbadhil /.\ Huhu alhamdulillah kalau emang suka sama karakter dan tema yang dibawakan. Doakan aja perkembangan tulisanku engga macet ya :’) Keep writing too buat kakdhilaa ^^

      Liked by 1 person

  4. halo kak niswa! (ikutan manggil kaya yang lain) (padahal mah belom kenal)
    well, sebenernya ga tau mau komen apa karena mostly udah disampein sama komenan-komenan yang lain. aku juga ikutan project ini tapi begitu baca ini langsung minder suerrr :’) topiknya sensitif tapi dibawainnya bagus banget sama kakak dan bikin mikir ‘hmm iya ya bener juga’ gitu. semoga kakak paham deh what im trying to say hahaha😂
    anyway salam kenal kak niswa, aku nadya dari line 97 ^^

    Like

    1. Kak nadyaa plis plis jangan manggil kakak ke aku, bikos aku 99line………. yha topikku memang sering nyerempet-nyerempet kasus sensitif gini, makanya terkadang dipikir umurku sudah berapaa :””)

      Anyway salam kenal jugaaa kak nadd, dan makasih sudah berkenan membaca juga komentar ❤

      Liked by 1 person

      1. hahahaha astagaaa kocak sih ternyata niswa 99 line, sok muda banget aku manggil-manggil kakak😂 maaf niswaaa abisnya tulisan kamu on another level gini sih :’) maaf yaaa :”)

        Like

  5. Hai, Niswa. Ini Bagus sekali. Sebelum baca kadang aku lihat komentar dulu masa. Karena aku penasaran dengan apa yang orang bilang ehehe. Kemudian baru baca dan, ya. Ini benar-benar Bagus.

    Tidak ada menghakimi, semuanya berjalan dengan baik dan ini memang aman. Suka deh serius. Serius. Serius.

    Nice, ya, Nis!💞

    Like

    1. Aloo kak Alif 😉 Duhh belum sebagus itu kok, masih perlu lebih banyak belajar. Makasih sudah meluangkan waktu membaca dan berkomentar, dan aku tahu kakak serius ehe ehe XD

      Like

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s