[TULUS] Epilogue

1468238412851.png

Epilogue

an original fiction by feyrefly

.

Based on prompt :

“Yang tersisa dari kisah ini hanya kau takut kuhilang.”

.

.

Rooftop apartemen adalah tempat yang sangat jarang dijejaki kaki oleh Tara, sebelum Sean datang dan mengacaukan rotasi kehidupannya. Tara benci dingin, mulanya, namun setelah mengenal Sean ia mulai terbiasa. Sean pernah berkata jika hawa dingin yang didesirkan angin tak ada apa-apanya dengan dingin yang didesaukan takdir. Opini itu agak sulit dimengerti oleh seorang Tara Austeen. Butuh sekitar dua tahun untuk mengenal Sean Abraham, namun hingga dua tahun itu terlangkahi pun rasanya Tara belum juga mengenal siapa Sean sepenuhnya.

Seakan ada tabir tak kasat mata yang sulit dijebol oleh Tara. Setiap kali ia memandang jelaga di manik Sean, yang ia temukan tak lebih sederhana dari labirin berbelit-belit yang sulit diuraikan. Tara selalu kesulitan membaca Sean. Pemuda itu seperti lautan—mungkin selaras dengan namanya yang memiliki silabel ‘sea‘ atau laut—terlihat tenang dan damai di permukaan, namun beriak dan bergejolak di dalamnya. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di kedalaman samudra, mungkin ombak yang mendobrak-dobrak atau sekadar pusaran air yang menggerus terumbu karang; begitu pula dengan Sean—tak terdefinisikan.

“Ada apa?” Tara buka suara setelah sepuluh menit mereka terperangkap dalam senyap. Dini hari itu tidurnya dibuyarkan dering panggilan Sean di ponselnya. Pemuda itu memintanya naik ke atap, tanpa alasan yang jelas.

Sean tak lekas menjawab, ia hanya melirik Tara sekilas. Memastikan jika suara yang baru saja ia dengar benar-benar dari seorang Tara. Merasa diabaikan, Tara memutuskan mendekat. Kini rentang jarak di antara keduanya hanya sebatas lima jari manusia, bahkan Tara bisa mendengar suara napas Sean yang berembus perlahan.

Menenangkan.

Mereka terjebak diam hampir setengah jam, hingga Tara merasa kedua kakinya mulai kebas. Ia tak terbiasa berlama-lama berdiri di sana, tapi karena Sean, ia melakukannya. Tara masih menunggu, karena ia tahu pemuda itu memiliki sesuatu yang ingin ia bagi bersamanya—seperti biasa. Namun hingga Elizabeth Tower yang terlihat jelas dari rooftop apartemennya berdentang tiga kali—menunjuk pukul tiga pagi—Sean belum sekalipun membuka bibir.

“Bila tidak ada yang ingin kau katakan, aku akan turun sekarang,” putusnya, kemudian berbalik.

Jemari Sean tiba-tiba menahan lengannya, lantas menariknya dalam rengkuhan.

“Jangan pergi,” bisiknya, tepat di liang telinga Tara. Lirihan yang diam-diam membuat jantung Tara berdentum-dentum tidak jelas. Sebelum detakan di jantungnya semakin parah, Tara segera melepas lilitan tangan Sean di pinggangnya. “Lalu apa maumu? Jangan membuatku menunggu seperti orang idiot!”

Sudut-sudut bibir Sean terjungkit asimetris. “Maaf.” Ia masih membiarkan senyuman itu terkembang. “Aku hanya mempraktekkan adegan drama yang kutonton tadi sore. Bagaimana? Apa menurutmu aku cocok masuk kelas teater?”

“Tolol,” sergah Tara kesal. Berulangkali berusaha menahan diri untuk tidak mendorong Sean jatuh dari rooftop apartemennya. “Kau benar-benar tolol, Sean.”

Sementara pemuda Abraham itu melepas tawa konyol yang terdengar begitu menyebalkan, Tara hanya mampu menatapnya dengan pandangan jengkel. Iris birunya memindai gurat wajah Sean yang sedang tertawa—ia tampak lepas dan bebas. Seperti ada sosok lain yang menyusup ke dalam diri Sean, sosok yang membuat pria itu selalu bahagia. Tara berharap; ialah pemicu utama munculnya sosok itu. Tiba-tiba saja rasa kesalnya melumer tanpa bekas.

“Kau tidak seharusnya berada di sini,” ucap Tara setelah tawa Sean mereda. Si pemuda hanya mendesah pelan. “Jika alasannya karena wawancara di London News nanti siang, maaf, tapi aku tak tertarik.”

“Kau berniat melepas kesempatan kerja di koran raksasa Inggris? Kau bodoh atau bagaimana?” cerca Tara dan ia mulai melakukan kebiasaanya bersedekap.

Sean menghela napas tak acuh. “Aku tidak pernah ingin bekerja di bawah perintah orang lain. Kau tau itu dengan jelas, kan?”

Ya, Tara tahu dengan jelas tentang itu; Sean dan keegoisannya yang sebesar Himalaya. Tara sendiri memang tak pernah paham dengan paradigma yang menempel dalam tubuh Sean, apa pun yang menjadi pilihan pemuda itu selalu bertentangan dengan apa yang menurutnya benar.

Selama beberapa saat, Tara tak berniat menjawab. Ia hanya melempar tatap pada pemandangan London yang terpeta jelas di depan muka. Kota ini tak pernah tidur, bahkan pada dini hari sekali pun.

“Aku akan berangkat ke New York nanti siang—lulus audisi di Juilliard.”

Otomatis kedua bola mata Tara membulat. “Kau benar-benar serius dengan kelas teater itu?”

Saat Sean mengangguk, imajinasi Tara dalam sekejap hancur. Persetan dengan pemikiran Sean yang selalu terkesan tiba-tiba dan pilihannya yang tak pernah bisa diterima nalar oleh Tara. Kelas teater atau apa pun itu, Tara tak pernah benar-benar peduli dengannya. Ia tahu, Sean masih muda. Ia baru saja melepas statusnya sebagai mahasiswa Oxford bulan lalu. Sean pintar, ia memiliki masa depan yang bahkan jauh lebih cerah dari milik Tara. Namun yang masih tidak ia sangka adalah; niat pemuda itu untuk meninggalkannya.

Mereka tak pernah terikat status yang jelas. Pertemuan keduanya terbilang klise dan tolol; Sean mabuk di sebuah bar yang kebetulan Tara menjadi waitress freelance di sana. Tara baru saja lulus kuliah di sebuah universitas yang tak lebih ternama dari Oxford saat menemukan Sean dengan tangan memegang botol bir dan hampir tidak sadarkan diri. Awalnya Tara masa bodoh, ia hanya ingin bekerja dan mendapatkan uang. Namun tak dapat dipungkiri, manik birunya tak bisa mengalihkan pandangan dari pemuda yang duduk di meja seberang. Yang kepalanya sejajar dengan meja; terlelap.

Wajah pemuda itu begitu polos dan tenang seperti anak kecil. Tara bahkan mengira ia seorang remaja yang sengaja kabur dari kamarnya lantas berakhir di tempat ini tanpa ia sadari. Perlahan-lahan, Tara menyingkir dari balik meja bar dan berjalan mendekat, kemudian mendudukkan diri tepat di sisi sang pemuda lantas mengamati wajahnya dari jarak tak lebih dari tiga puluh senti. Garis rahangnya tirus, bibirnya agak tebal dan berwarna sedikit kehitaman—sepertinya pemuda itu pecandu nikotin—dengan garis hidung yang tinggi. Kedua bola matanya terpejam damai, sedikit tertutupi surai blondenya yang sudah melewati dahi. Sederhananya; pemuda itu tampan, dan semakin tampan saat kelopak matanya terbuka perlahan dengan iris abu-abu jernih yang berpendar lemah.

Uh, maaf, aku tidak bermaksud membangunkanmu,” ujar Tara pada saat itu. Sean mengusap wajahnya sejenak sebelum bibirnya tersenyum samar. “Tak apa, akan lebih buruk jika aku tertidur di sini sampai bar tutup.”

Lalu mereka berkenalan, saling berbagi nomor ponsel dan alamat, lantas sekarang berakhir di rooftop apartemen Tara menjelang pukul empat dini hari bersama keputusan Sean untuk pergi.

“Kau tidak sedang bercanda, kan? Akan kupukul kepalamu jika kau melakukannya.”

Tara ingin sekali melihat Sean menyengir lalu tertawa keras. Atau sekadar menampakkan wajah jahil demi menggoda Tara. Wajah konyol atau apa pun yang menandakan jika ucapan pemuda itu tidak benar-benar serius.

Namun nyatanya, Sean mengangguk dan tersenyum lemah. Jenis senyum yang selalu ia tunjukkan saat ia merasa bersalah. “Aku serius, Tara. Ini hari terakhirku di London. Nanti pukul sembilan pesawatku akan lepas landas.”

Tanpa sadar, Tara memejamkan matanya. Napasnya tersengal dan terasa sesak. Sial, airmatanya sudah nyaris merembes keluar. “Kalau mau pergi ya pergi saja, kau tidak perlu memanggilku pagi-pagi begini hanya untuk memberi tahu hal itu.”

“Aku harus melakukannya,” desah Sean pelan, menatap tegas kedua manik biru Tara.

“Perlu kuingatkan jika kau dan aku tak mempunyai hubungan apa pun, hm?” Tara mengalihkan pandangan. Kemana pun, asalkan tidak bertemu dengan si manik abu-abu.

“Bukan tidak, tapi belum. Sekembalinya dari Juilliard, kau sepenuhnya milikku. Jadi selama aku di Juilliard, kau bisa bersenang-senang.” Ucapan Sean tak dengar seperti sebuah tawaran, melainkan sebuah perintah. Intonasinya tegas dan datar, tak urung membuat Tara seakan diintimidasi.

“Kau tidak berhak mendikte kehidupanku. Jika ingin pergi ya pergi saja,” jawab Tara. Suaranya bergetar.

Keduanya didera hening selama beberapa saat hingga Sean tiba-tiba mengikis jarak di antara mereka dan menarik Tara dalam pelukannya. “Yang tersisa dari kisah ini hanya kau takut.”

“Takut apa?” potong Tara, ia merasakan pelukan Sean semakin mengerat.

“Aku hilang—pergi dan tak kembali. Kau takut merindukanku, kan?”

Tak ada jawaban selain bisunya Tara lantaran kehabisan kata-kata.

Sean benar, Tara takut. Ia belum pernah merindu sebelumnya. Bagaimana jika itu berat? Bagaimana jika ia tak cukup kuat? Bagaimana jika—

“Pergilah. Pergi saja.” Tara melepaskan pelukan Sean. Manik birunya menatap abu-abu milik Sean lekat-lekat. “Aku akan menyusul ke New York dan menendang bokongmu jika kau lupa untuk pulang.”

“Kau melepaskan aku begitu saja? Kupikir akan banyak drama di sini,” desah Sean kecewa. “Kau tidak ingin menahanku? Tidak ingin menangis dan memintaku untuk tidak pergi?” lanjutnya.

Tara tertawa, menggelengkan kepalanya. “Dasar drama king! Sudah sana, kau harus berkemas, kan?”

“Kau benar,” Selintas senyum Sean terulas. Nanosekon selanjutnya ia menjerat bibir Tara dalam satu pagutan—dalam, sebagai pelampiasan. “I’ll be back. Wait for me, ok?”

“Hm.”

Setelahnya Sean berbalik dan pergi.

Semuanya tak sesederhana itu; epilog dari kisah cinta Tara dan Sean tak seharusnya sesimpel mengucapkan selamat tinggal dan janji untuk segera pulang—Tara paham, ada yang lebih menyanyat ketimbang saat maniknya memerangkap punggung Sean berderap kian menjauh dari pandangan. Pada kilatan kaca di kedua warna samudra di manik Tara, pada gejolak-gejolak yang gadis itu samarkan dengan sepenggal tawa kasar, pada semua akhir dari kisah ini yang terpeta jelas; Tara tak semudah itu melepaskan Sean, namun ia juga tak berhak untuk menahan kepergiannya.

Tara berderap tepat saat kaki Sean berpijak di anak tangga teratas. Lengannya merengkuh pemuda itu dalam sedu sedan dan bisik pelan. “Kau benar, Sean, yang tersisa dari kisah ini hanya kutakut kau hilang—atau yang lebih buruk, kau sengaja menghilang.”

—fin.

Advertisements

5 thoughts on “[TULUS] Epilogue

  1. hm. kok aku nagkep ini kayak bittersweet ya? (hehe iya nggak sih? maaf ngaco bat emang).

    di sisi lain sedih juga sih, tapi mereka kok lucu ya? (halah ngaco lagi) lagian sean seenaknya aja sih bikin anak orang baper haha tanpa kejelasan hubungan kan trs tiba2 mau pergi gitu aja ke sana itu… dan suruh si cewek nunggu, kesian mbaknya huhu kyk semacem ldr 😥

    keep writing 😀

    Like

  2. kak fey, maaf bgt baru komen sekarang 😦

    apa ya… dari awal aku baca di e-mail tuh udah yg kayak whaaaa ini fluff my type nih e taunya bittersweet HAHAHA. kak fey, aku jatuh cinta sama gaya nulisnyaaaa aaaaa ; A ; ala2 teenlit terjemahan, bacanya enak. sean ya ampun aku pikir dia semacem gentlemen dan tara ini damsel in distress ((yha anaknya emang suka mengira2)). kalimat terakhirnya tara dong yang “atau yang lebih buruk–kau sengaja menghilang.” AH AKU PERLU SUDUT PANDANGNYA SEAN BIAR NGGA KEGANTUNG GINI.

    yoksi kak fey keep writing ya ❤ ❤

    Like

  3. Halo! Salam kenal, aku Dhila, 98l! Tanggapanku buat fic ini adalah; aku suka banget! Suka sama tata bahasa dan variasi kata kamu, juga sama pengemasan idemu. Resah sama sedihnya Tara kerasa banget, dan Seanㅡaduh, Sean. Hari di mana Tara ketemu Sean kayaknya hari hoki, nih! Tapi juga bikin sakit sih huhuhu semoga mereka menemukan jalan yang terbaik. Aku suka tulisanmu! ❤ ❤ ❤ Triple love untuk cerita di atas! Hahaha. This is gem, pertahankan yaaaa! 😀

    p.s : Juilliard bikin aku inget The Sky is Everywhere-nya Nelson Jandy! What a great chance!

    Like

  4. Hai! Salam kenal, aku Aya.
    Ceritamu bikin gemes karena mereka berdua kayanya gak berniat untuk men-clear-kan hubungan mereka. Haha. Overall aku suka cara kamu bertutur, love your narrative ❤❤❤❤❤❤

    Like

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s