[TULUS] Mimpi Tertunda

376502

Mimpi Tertunda

ditulis oleh laxies

“Pembawa sejuk, pemanja rasa. Dia yang selalu ada untukku.”

Tulus – Teman Hidup

 

Adira Halim Abqari; laki-laki kuat yang punya sifat lembut namun begitu cerdas.

Satu kalimat pertama yang berhasil aku ciptakan ketika membuka lembar ketik di laptop. Satu cangkir kopi yang mengepul asapnya dan juga satu kue cokelat menemaniku. Satu kursi kosong di hadapanku yang tak kunjung terisi oleh seseorang.

Dia yang namanya kutulis adalah sosok tak terduga yang berhasil menaklukan seorang gadis kepala batu yang begitu arogan. Adira dengan pembawaannya yang tenang selalu punya hal jenaka dalam ucapnya. Tak perlu berlebihan menyampaikannya, dia selalu mendapatkan tawa gadis itu. Tawa yang mungkin sangat jarang terdengar oleh orang lain.

Dekat dan dekat, ternyata mereka menjalin sebuah konversasi dalam sebuah aplikasi chatting yang selalu terjadi setiap malam. Mereka tak tahu kalau konversasi malam itu adalah awal dari semua jalinan benang merah yang berlangsung hingga satu tahun lebih. Kenangan yang hinggap, tak terhingga indahnya. Kalau harus dideskripsikan dengan kata, gadis itu terlalu bahagia sampai habis diksinya.

Hubungan itu memang tak sepenuhnya sempurna, justru hubungan yang ideal bagi keduanya adalah hubungan penuh lika-liku namun punya banyak kejutan membahagiakan yang terpendam. Mereka tak selalu melempar kata manis karena sungguh, itu menjijikan. Gadis itu punya pikiran yang tak biasa, dia tak punya pikiran yang sama dengan gadis zaman sekarang. Apa yang ada dalam pikirannya justru kebalikan dari pikiran mereka.

Kalau Adira, sih, terlalu naif untuk mengerti bagaimana perannya dalam hubungan asmara. Adira memang bukan tipe ideal gadis itu, namun entah kenapa hatinya terpancing untuk menerima pernyataan Adira padanya waktu itu. Adira itu laki-laki baik, pintar, bertanggung jawab, namun begitu naif sampai gadis itu jadi gemas. Gemas sekali rasanya sampai dia ingin mendekap Adira terus di sisinya.

Pernah, suatu waktu, mereka terlibat dialog lewat sambungan telepon dan Adira sedang dalam fase naifnya.

“Hey.”

“Apa?”

“Aku mau mengatakan sesuatu, tapi kayaknya lucu banget buatmu. Mungkin bikin merinding?”

“Belum tentu aku begitu, mau mengatakan apa?”

“Aku bermimpi tadi malam.”

“Lalu?”

“Hm … aku bermimpi tentangmu. Sesuatu tentang kita yang sempat aku pikirkan sebelumnya, sih. Nggak tahu kalau kamu.”

“Aku tidak mengerti. Mau berikan satu petunjuk?”

“Hahaha, jiwa detektifmu keluar. Hm, bagaimana, ya … ini sesuatu tentang … masa depan? Uh, seperti sebuah rumah tangga?”

Gadis itu tentu saja mengerti, namun memangnya dia mau melontarkan pemikiran yang terlalu ‘manis’ itu lewat ucapan? Oh, tentu saja tidak. Cukup bibirnya yang melengkung ke atas dalam mengungkap rasa bahagianya.

“Ya, aku tahu. Aku mengerti, kok. Aku juga pernah punya mimpi yang sama.”

“Oh, ya? Kenapa, ya, aku sekarang begitu senang mendengar kamu bicara begitu? Hahaha, tahu tidak, mimpinya terlalu indah sampai aku gak rela bangun. Aghniya terlalu cerewet jika aku nggak bangun saat itu.”

Aghniya itu adik perempuannya, omong-omong. Gadis itu tersenyum lebih lebar lagi, gemas sekali mendengar Adira berceloteh tentang sesuatu, dan rasanya itu terlalu imut. Ugh, rasanya seperti kau melihat tulisan ‘diskon’ di suatu tempat belanja favoritmu yang dipajang dengan huruf besar-besar namun kau tak bisa pergi ke sana. Sungguh, rasa gemasnya tingkat dewa.

“Izinkan aku pergi dulu. Yang berubah hanya tak lagi kumilikmu.”

Tulus – Pamit

 

Itu hanya suatu kejadian manis yang selalu diingat oleh gadis itu. Namun seiring waktu berjalan, ia tahu kalau hubungan itu salah. Dia menyadari kalau menurut jiwa religinya, hal itu begitu salah. Adira adalah seorang lelaki penuh pengetahuan, kaya juga pengetahuan rohaninya. Padahal dia mengerti, namun dia suka mengelak dan memilih memeluk gadis itu dalam hubungan kekasih.

Suatu titik di mana gadis itu telah mengerti, di titik itulah dirinya melalui kebimbangan. Galau merundung hati ketika tiba suatu pilihan untuk memilih dia atau Dia. Sampai satu kebulatan tekad dalam bulan suci ia dapatkan, gadis itu telah memilih.

“Kamu tahu, kita sudah banyak dosa, aku takut jadi teman setan,” katanya dalam satu sesi bicara mereka melalui pesan singkat.

“Kenapa tiba-tiba? Aku pikir kita gak di luar batas seperti yang lain, kita masih tahu diri. Apa salahnya punya satu kebiasaan normal kayak remaja yang lain?”

“Normal mungkin bagi mereka yang buta ilmu, tapi bagi aku ini di luar batas, Dir. Perlakuan kita mungkin biasa, tapi ikatannya yang luar biasa. Aku nggak mau dilaknat.”

“Kamu tahu kalau kita biasa saja, lantas apa yang salah? Jangan bilang kalau perasaan itu sudah lenyap, aku mungkin gak mau melihat batang hidungmu kalau kalimat itu yang akan kamu katakan.”

Satu embusan napas berat bersumber dari gadis itu kala jemarinya mengetik pada layar ponsel namun satu titik air dari matanya mulai mengalir di pipi. “Bukan begitu, aku masih punya perasaan itu, selalu. Jangan pikir perlakuan aku yang kepalang gak peduli selalu selaras dengan hati. Aku tipikal yang lain di bibir, lain di hati; kamu tahu itu. Tapi kita sudah mulai dewasa, aku berharap punya jalan yang lebih baik untuk mencapai ‘kebersamaan’ yang kita impikan itu. Hanya hubungan yang mengikat kita yang terputus, semoga takdirnya nggak begitu.”

Satu menit berselang sampai balasan itu akhirnya datang. “Jadi, mau bagaimana sekarang?”

Bimbang itu datang lagi, gadis itu menangis lebih keras lagi. Ibunya datang memberi peluk, meredam tangis Sang Anak yang kini tahu artinya patah hati. Sakit sekali rasanya.

“Kamu tahu, sepertinya aku benci masa pubertas. Benci sekali rasanya.”

“Terserah apa keputusannya, aku tahu kalau pilihan kamu yang terbaik.”

Gadis itu makin tersedu. Pria pertama yang benar-benar bisa menaklukannya, mengalahkan sisi kerasnya, dan membuat ia peduli, kini ia lepaskan begitu saja. Batinnya menjerit tak rela namun pikirnya membangkang.

“Aku harap kita bisa punya masa depan itu, bersama. Mungkin kita nggak saling memiliki, tapi aku selalu berdoa kalau kita punya takdir yang sama. Makasih untuk semuanya, Dir. Makasih banyak.”

Malam itu adalah puncaknya; puncak gadis itu dalam mengeluarkan semua air matanya.

“Ya, aku akan selalu berdoa juga di sini, selalu. Makasih juga. Yah, aku sedih tapi mau bagaimana lagi. :’) Omong-omong, selamat tidur, ya. Aku tahu mata kamu udah ngantuk, jadi ayo tidur yang nyenyak dan mimpi indah! :)”

Tak habis pikir ketika aku baru menyadari aku telah menulis semua hal itu dalam beberapa halaman. Asap tak muncul lagi dari kopi milikku dan kue cokelat pun tinggal setengah. Suasana hatiku sudah tak karuan untuk melanjutkan tulisan ini di kafe, jadi aku mulai berbenah. Namun suatu derap langkah mengalun tak asing di telingaku dan tiba-tiba muncul sebuket bunga Primrose memenuhi pandanganku. Aku mendongak namun mendapat satu buket bunga lagi; bunga Baby’s Breath yang di tengahnya terdapat suatu lingkaran pengikat untuk ditanamkan di jari manis.

“Hai, sudah lama sekali, ya. Tapi, aku pikir, ini waktu yang pas buat melanjutkan mimpi yang tertunda. Jadi, ayo ta’aruf*?”

Itu Adira Halim Abqari, satu mimpiku yang tertunda.

selesai.

*Ta’aruf : istilah dalam agama Islam; kegiatan bersilaturahmi, kalau pada masa ini kita bilang berkenalan bertatap muka, atau main/bertamu ke rumah seseorang dengan tujuan berkenalan dengan penghuninya. Bisa juga dikatakan bahwa tujuan dari berkenalan tersebut adalah untuk mencari jodoh. Taaruf bisa juga dilakukan jika kedua belah pihak keluarga setuju dan tinggal menunggu keputusan anak untuk bersedia atau tidak untuk dilanjutkan ke jenjang khitbah- taaruf dengan mempertemukan yang hendak dijodohkan dengan maksud agar saling mengenal. ( sumber : Wikipedia)

things-that-you-shouldn’t-notice:

  • Pertama, ini memang curhat. Jadi, yah, alurnya berantakan.
  • Kedua, aku gatau pake gaya menulis apa, entah itu teenlit atau apa, aku gatau karena ini gajelas banget.
  • Ketiga, aku bahagia bisa menyelesaikan ini dalam waktu singkat dalam keadaan we-be. Abaikan juga moodboardnya. ((ketauan baru pertama kali bikin moodboard))
  • Keempat, ya ampun, gak nyangka bisa nulis hal yang seenggaknya nyerempet ke hal berfaedah, yawla.
  • Kelima, makasih ya udah sanggup baca tulisan ini.
  • Keenam, gudbai!

Xx, laxies.

Advertisements

16 thoughts on “[TULUS] Mimpi Tertunda

    1. i can sense huge amount of baperness here :))))))

      apa ya… aku tuh selalu speechless kalo habis baca tulisan nilam 😦 lagi wb aja jalinan kalimatnya indah banget apalagi kalo lagi di state lancar-nulis hhhh. btw ini teenlit apa bukan kujuga gatau, tapi rasanya ini lebih serius dari teenlit deh gaya nulisnya, meskipun topiknya masih remaja banget. dan aku ganyangka nilam bikinnya two in one gini, kupikir pas kamu bilang di grup “aku pake dua quotes ya” bakalan dua fict 😂😂

      anyway akhirannya malah jadi syariah njir mentang2 pasca ramadhan ya. tapi good job kok bunda nilam, mengajarkan generasi muda untuk ta’aruf! keep writing yha bunda, semoga webenya ga nempel lama2 ❤

      Liked by 1 person

      1. HAHAHA KETAUAN YA BAPER BANGET PFT
        duh aku mah apa atoeh 😥 nggak lah is, ini tuh masih kayak ga jelas gitu kalimat-kalimatnya hft, kurang indah hft. iya ini tuh gue juga bingung mau namain apa, soalnya emang ga jelas banget sih, tadinya mau dijadiin bablas teenlit tapi kok gak cocok jadi yawda hasilnya tidak jelas begini. tau ga is, aku tadinya juga mau ambil satu quote aja tapi setelah ngetik, jadinya aku ambil dua quotes wkwk plinplan banget emang w. yha itu endingnya w juga gatau ya, bcs ini basicnya curhatan jadi aja bener-bener ketulis kayak rl pft pft.
        makasih yha ais q udah mampir ke sini, aamiin, semoga ga nempel lama-lama ini wb :”) keep writing juga buat ais ❤

        Like

  1. Masya Allah, bunda nilam, aku tuh jadi baper banget iniiiiiiu😆
    Lam, kamu yakin lagi wb? Tulisannya keren banget gini mana mungkin lagi wb aaaaaaaaa(?)
    Duh, lam, gaya nulis kamu (yang kamu bilang gajelas) tuh, ya, kesukaanku banget. Ini demi apa diksinya asik, plotnya juga apalagi.
    Asli aku gak nyangka kamu beneran pake dua quotes, terus semacam ada dua cerita di satu fiksi yang sama. Nilam panutanku!
    Baper banget ini sama endingnya, ya ampun. Bun, lo tanggung jawab ya kalo w mulai berdelusi ria soal doi ft. masa depan ini (re;bbh)😆🔫
    Anyway, keep writing terus, ya, bunda nilam kesayangannya anak-anak macseoul🙆💞💞❤

    Liked by 1 person

    1. huhu sama cha, aku juga baper /lha
      iya cha aku yakin lagi wb 😥 ah nggak lah, aq taq sekeren itu 😦
      huhu makasih echaaaa, jujur aku juga gatau aliran nulis aku tuh apaan yah masih ga terlalu musingin ini sih, bcs aku nulis buat hobi aja ((tapi sekarang hobinya jarang dilakukan, hfthft)). wah kalau plot, wadoe aku ini asal banget ngeplot, wong ditulis cuman dalam waktu setengah jam cha ;-;
      hahaha pake dua quotes tuh awalnya aku juga bingung mau kayak gimana, tapi pas cerita diketik jadi kepikiran mau nyelipin dua quotes sekaligus ((hm kesannya maruk yha w)). Wah aq terharu dijadiin panutan :””)
      ending hidup yang selalu w pengenin pft pft lam jangan berdelusi terus woy. oh gitu cha, yoon sanha buat aku aja kalau gitu wkwk
      makasih ya echa udah mampir ke sini, keep writing juga buat echa sama anak macseoul lain kesayangan q!! ❤

      Like

      1. MAAFKAN BARU SEMPAT BALAS BUNDA NIL THE EMPEREROR😹😹

        BADAIIIIII. Q TAK BISA BERKATA KATA. Tuhkan spam banget komenannya, hancurkan sajalah si ay.

        Like

      1. anyong uri bunda nilam, ketlin akhirnya muncul setelah berabad-abad menyepi (nggak). bun, aku bingung mau komen apa di kolom ini tapi aku boleh minta izin ngejadiin satu atau dua kalimat di sini sebagai prompt nggak bun? kalimat yang: “Mungkin kita nggak saling memiliki, tapi aku selalu berdoa kalau kita punya takdir yang sama.” (this is my favorite part) nggak tau kenapa ini tuh apa ya, nyess gitu di hati, kayak disiram air es? aku tau bunda orangnya strong, bunda bisa ngejalanin ini semua kok :”)

        dan bun, tau gak sih waktu aku ngebaca ulang fiksinya bunda, lagunya afgan yang jodoh pasti bertemu keputer. KAN PAS BANGET YA BUN WKWK APALAGI WAKTU DI AKHIR SI ADIRA NGASIH BUNGA PRIMROSE ft. BABY’S BREATH WHICH MEANS BB ITU BUNGA FAVORIT AKU APALAGI ADA BENDA BERBENTUK LINGKARAN YANG MANIS SEKALI. asdfghjkl, ini tuh kayak “kalo kita jodoh, mau digimanain aja ya pasti nantinya kita ketemu lagi. ketemu di bawah kuasa Tuhan.” ((asek)) dan maaf bun kalo capslock aku jebol HAHAHAHAH. aku baper baca semua fiksinya anak macseoul, entahlah- project tulus membuat kita semua nulis pake hati.. keep writing ya mama nil the emperor, ketlin sayang bunda nilam selalu 💙 ((maaf juga kalo komenan ketlin tida berfaedah apalagi membangun, sekyan))

        Like

  2. BUN AKU DEMEN INIIIII!!!! SUMPA INI NGEFEEL BANGET I FEEL U BUN YA ALLAH.
    Semoga keputusan yang kamu ambil berkah ya bun buat kamu dan dia:”) Semoga bisa bersatu di kemudian hari.
    Aku jadi baper. Dua jenis baper. Pertama baper tingkat melayang. Kedua baper kek dijatuhin gitu, tapi akhirannya manis banget awww semoga terjadi seperti itu:))
    Yaudah, yoksi bunda nil, aku SPEECHLESS banget baca ini, bener bener berfaedah dan taugak bun? Kamu selalu aku jadiin inspirasi dikala pundung ga punya pacar:”) Like “bunda nilam yang punya pacar adem ayem wae diputusin buat ke jalan yg benar, masa aku malah pengen pacaran” dan yeah tengkiyu bun:”””)))
    Jadi inti dari komenan ga mutu aku ini sih, fic bun nil ini benar benar bermoral dan enak dibacanya, walau sempet agak bingung karna ada baku ada nggaknya but its noprob at all ini masih daebak bagi aku.
    Good job bun, keep writing and strong!

    Liked by 1 person

    1. AQ JUGA DEMEN SAMA KAMUU. g.
      iyaa aamiin ref, duh baper nih baper aq :’)
      aww baper ya hm, apalagi kalau itu kejadian di real life yha hm kurang baper apa. hahahhahahaha ya allah, aku aja masih ngga nyangka bisa nulis ini astaghfirullah, apalagi dengan nyelipin satu istilah sakral men pft. HAHAHAHA sebenernya ga adem ayem sih, baper masih lah, tapi life must go on kan yha jadi yasud lah wkwk
      NAH ITU HAHAHA THAT KATA BAKU DAN GA BAKU PFT
      jatuhnya aneh juga sih kalau aku pikir, makanya aku tuh nulis ini kok gaje banget rasanya :””)
      huhu makasih ref q udah mampir dan ngasih komen yang ugh men w suka w suka, keep writing jga buat kamoe! ❤

      Like

  3. Hai! Salam kenal, aku Aya.
    AKU BAPER BANGET BACA CERITA INI. HAHA. Okay… it’s okay *tarik napas*

    Seneng deh baca cerita-cerita macam ini. Kemarin ada juga baca yang serupa. Ah, semoga kedepannya makin banyak tulisan yang bermanfaat yaah.

    Semangat, Laxies ^^

    Like

    1. Hai! salam kenal jugaaak! Sebelumnya mohon maaf buat balesan yang supertelat ini huhu. Waah, makasih yaaa udah baca hahaha, ya ampun ini tulisan begitu absurd xD
      Hahaha ciee suka yang baper-baper nih yaaa ;D Semangat juga Ayaaa!
      Btw, panggil aku nilam aja kuy, aku line 00 eheheh

      Like

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s