[TULUS] Kisah Cinta Sang Bumi

11004472.gif

Juliahwang

“Aku sang sepatu kanan. Kamu sang sepatu kiri.”

“Ve, bagaimana hubunganmu dengan Mars?”

Venus menoleh dengan senyum termanis yang pernah kulihat. Sorot matanya nampak bersinar memancarkan kebahagiaan. Aku turut senang. Tapi, Venus tak akan pernah tahu bagaimana sakitnya hati ini.

“Bumi, kamu tahu? Mars adalah pria yang sangat romantis! Selama kita berteman dengannya, ia mana pernah memperlakukanku semanis ketika kita pacaran.”

Melihatnya tersenyum, ingin rasanya aku ikut tersenyum bersamanya. Menjadi yang pertama tahu kebahagiannya dan menjadi pertama pula yang tahu bahwa ia sedang bersedih. Walau aku terus menahan sakit, setidaknya Venus masih memperhatikanku walaupun hanya sebagai sahabat yang selalu ada untuknya.

Mars pria yang baik dan tentu saja ia akan cocok dengan Venus. Sebagai Bumi, apa dayaku yang hanya memperhatikannya dari kejauhan. Seperti waktu itu, ketika aku melihat mereka berciuman di belakang sekolah tepat ketika hujan turun membasahi atap di atas kepala, hatiku rasanya hancur. Langit pun tak akan pernah tahu bagaimana air mataku menetes bersamaan dengan air hujan. Aku tak pernah mempermasalahkan bagaimana aku kehujanan menunggunya untuk pulang bersama, ia hanya tak menepati janjinya padaku.

“Bumi, pulang bersamaku, ya?” Kata-kata itu acap kali mengganggu pikiranku dan membawanya ke masa di mana aku hanya bisa sebagai pengagum yang sakit hati.

Aku kadang menertawai diriku sendiri. Tak sadar, kini Venus sedang mengguncangkan tubuhku dan melambaikan tangannya di depan wajahku. “Bumi, kamu mikir apa sih?” dan segala rentetan film sedih kehidupanku seketika buyar. “Oh, aku hanya melamun. Lanjutkan ceritamu,” ucapku dengan setengah hati berharap Venus mengartikan itu sebagai, “Tolong sudahi cerita ini.” dan sayangnya Venus tidak berpihak padaku dan masih tetap menceritakan kisah manisnya bersama Mars. Sekarang yang bisa kulakukan hanyalah mengembuskan napas dan diam mendengarnya. Tidak lupa juga menggunakan topeng manisku agar Venus tidak curiga.

“Bumi, bagaimana menurutmu jikalau nanti aku menikah dengan Mars? Kamu mau ‘kan menggantikan ayahku menjadi saksi pengantin wanita nanti?”

Entah kenapa setelah ini aku ingin mengubur diriku hidup-hidup. Rasanya aku ingin menangis dan berteriak yang walaupun itu bukanlah gaya seorang pria tulen. Aku menatapnya dengan mata membulat. “Ve, apa maksudmu?”

“Um, ayahku ‘kan sudah meninggal dan pria yang selalu berada di sisiku hanya kamu, apa salahnya coba?”

“Saksi pengantin wanita?”

“Iya, saksi pengantin wanita yang tugasnya menggandeng mempelai menuju calon suaminya di altar nanti, bagaimana?”

“Seandainya aku lah yang berdiri di altar nanti, Ve,” batinku yang tak akan pernah di dengar Venus.

Aku tidak menjawab dan hanya tersenyum. Ingin sekali aku menghentikan perbincangan hari ini yang sudah kelewat batas, menurutku. Tanganku terulur mengacak puncak kepalanya. Ia meringis sambil tertawa.

“Ve, dengarkan aku!” Venus terdiam dan menopang dagunya dengan kedua tangan. “Apapun yang terjadi pada kita nanti, aku akan berusaha selalu ada di sampingmu.”

Venus tertawa terbahak-bahak memamerkan gigi kelincinya yang menggemaskan. Aku mengerutkan kening tak mengerti. Baru saja aku ingin menggombal di tengah-tengah sakit hati tapi tanggapannya tak seperti harapanku.

“Kenapa tertawa?”

“Lucu saja,” sahutnya dan kembali mendengarkan. Aku mengerti sekarang, Venus tak akan pernah mau melirikku sebagai seorang lelaki.

“Ya, seperti sepasang sepatu. Aku sang sepatu kanan, kamu sang sepatu kiri.”

Kali ini Venus malah menahan tawanya. “Bumi, kenapa harus sepatu? Kamu belajar kata-kata itu darimana sih?”

Satu lagi yang membuatku muak, Venus tak pernah berusaha menyenangkanku. Oh, apakah aku harus sering membuat drama agar Venus mau menghargaiku walaupun hanya sedikit saja. “Baiklah cukup kali ini!” Aku menghentikan perbincangan kami dan beranjak dari tempat duduk. Kurasakan Venus menahan lenganku dengan cepat.

“Yah, Bumi ngambek.” Ia akhirnya beranjak dan menautkan lengannya pada lenganku. “Jangan ngambek gitu dong, gak seru sekali.”

“Aku baru saja ingin melanjutkan kalimat tadi, tapi kamu malah ketawa.”

Venus tersenyum kemudian berkata, “Emang lanjutannya apa?”

“Walaupun kita selalu bersama tapi tak akan pernah bisa bersatu.”

Aku menghempas lengannya pelan kemudian melenggang pergi. “Sudah, lupakan saja.”

“Tapi aku belum mendengar lanjutannya!” Ia berlari kecil menyamakan langkahku.

“Gak usah, tidak penting juga.”

-fin

Advertisements

One thought on “[TULUS] Kisah Cinta Sang Bumi

  1. kakjul hai! maaf kemaren sempet ninggalin like doang ya 😦

    ini… surrealism bukan? ((soktau ya)) atau mungkin orang-orangnya emang dikasih nama berdasarkan tata surya, bodo amat yang penting tulisan kakjul bagusssss kusuka ide ceritanya 👍👍👍 suka juga sama karakter venus di sini yang gak pekaan, gaktau yha aku suka aja sama cewek yang gak pekaan sama cowok. gemesh gitu :>

    buat bumi, yang sabar yaa. masih ada bulan yang setia kok, LOL.

    nice work, kakjul. keep writing! 👋👋

    Like

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s