Baper Talk

1440839258301

Baper Talk

by laxies

.

“Rasanya kayak setiap lagu yang aku dengerin buat aku inget sama kamu. Bukan gombal, tapi itu kenyataan.”

.

Pada suatu masa, kamu akan merasakan di mana kamu ada di titik jenuh yang benar-benar tak punya titik terang. Aku benar-benar tak mengerti kenapa fase itu harus ada juga dalam suatu hubungan. Maksudku, aku benar-benar tak mau menghadapi masa itu. Benar-benar tak mau kalau tahu rasanya akan jadi seperti ini.

‘Hai!~’

‘Oh, hai.’

‘Lagi ngapain?’

‘Lagi diem, kamu?’

‘Sama.’

‘…..’

‘…..’

‘…..’

Kalau kami mengobrol melalui aplikasi messenger maka semuanya akan berakhir seperti itu. Tak ada topik bahasan yang menarik atau bentuk perhatian selayaknya seorang kekasih. Dulu, kami tak begitu. Kami benar-benar mesra bahkan rasanya aku merasa dia adalah jodohku yang sesungguhnya. Oh sial, aku mulai mengada-ada.

Ya, sejak sekolah kami terpisah, hubungan kami merenggang. Tak seperti dulu di mana kami akan berjalan bersama dengan obrolan ringan yang menyertai. Aku pun tak mengerti kenapa hal ini bisa jadi begini. Apa karena intensitas bertemu jadi berkurang? Atau kalau aku harus berpikir kemungkinan terburuknya, aku dan dia sudah tak punya perasaan itu lagi? Oh, yang benar saja!

Beberapa waktu lalu, aku sempat mendeklarasikan perasaan yang kupendam selama beberapa bulan tak berkomunikasi dengannya. Apalagi banyak kabar burung yang sampai ke telingaku tentang dia yang mulai hinggap ke bunga lain. Wah, itu mungkin cukup menyakitkan buatku yang sudah bertahan selama setahun penuh. Jadi, saat aku mendapat kesempatan untuk meneleponnya, aku katakan semuanya. Se-mu-a-nya.

“Hey, tahu nggak, aku ngerasa perasaannya jadi aneh kalau aku inget kamu.”

Terdengar sedikit kekehan di sana. “Hahaha, kamu mau gombalin aku? Wah, perubahan banget buat si Cuek.”

Sial, malah dianggap gombalan. “Please, bukan gitu maksudnya. Umm, yah, nggak tahu juga sih, tapi rasanya beda kalau sekarang,” kataku yang kini menggigit bibir bawahku gugup karena di sana tiba-tiba hening. “Rasanya kayak setiap lagu yang aku dengerin buat aku inget sama kamu. Bukan gombal, tapi itu kenyataan.”

Jeda tiga detik sebelum dia membalas, “Kamu… serius?”

“Kamu pikir kenapa aku berkali-kali minta teleponan? Rasanya udah lama kita nggak kayak gini, aku sedikit kangen masa lalu.”

“Maaf—“

“Nggak,” selaku, “nggak apa-apa kok. Aku tahu kamu sama aku sama-sama sibuk sekolah. Akunya juga yang nggak pernah berubah dan nyoba buat hubungin kamu duluan. Tahu nggak, waktu ngerasain perasaan aneh itu, aku sadar kalau aku terlalu cuek. Bahkan aku nggak habis pikir kenapa kamu mau—“

“Udah satu tahun, La,” katanya memotongku, “udah setahun kita bareng, masih masalahin alasan aku? Aku pikir kamu udah percaya sepenuhnya, La.”

Momen ini malah membuatku diam terpancang. Aku tahu kok, dia tak pernah main-main denganku, bahkan pernah bilang kalau dia tak tahu alasan apa yang membuatnya menyukaiku. Berkali-kali aku mengeluh padanya, tentang betapa tidak sempurnanya aku sebagai kekasih ideal. Secara fisik, jelas aku tak mumpuni. Selalu perhatian dan mencurahkan kasih sayang? Aku merasa otak dan hatiku sebeku es, jadi mana mungkin itu jadi daya tarikku?

“Bukan gitu, Han, aku pikir aku bener-bener nggak punya daya tarik.”

“Kamu punya dan nggak semua orang mandang kamu kayak kamu mandang diri kamu sendiri. You’re special for me, that’s the reason, La.”

Rasanya terlalu asing buat didefinisikan. Mungkin seperti saat aku baca novel roman sebelum semua ini terjadi, di setiap adegan romantis yang kubaca, aku pikir aku bahagia cukup dengan sekelebat khayalan tentang aku dan Rayhan melakukan adegan romantis itu. Mungkin sekarang aku… sebahagia itu.

“Makasih, Han.”

Dari lubuk hati terdalam, aku harap sekarang dia tengah memasang senyum yang sama lebarnya dengan senyumku.

Tamat.

“Han, aku denger kamu punya gebetan baru, siapa tuh, Sophie ya?”

“Hahahaha, ya ampun itu cuman main-main aja kali. Anak-anak di kelas aku main-main manggil aku ayah terus dia ibunya. Cuman gitu doang kok.”

“Hm, main-main nanti keterusan jadi serius. Aku ngasih selamatnya dari sekarang aja deh ya.”

“Hahahaha, ngambek mode on, nih. Kalo cemburu bilang aja kali, munafik amat.”

“Sial, iya gue cemburu.”

“Hahahahahahahahaha.”

—Rayhan&Lala

Advertisements

4 thoughts on “Baper Talk

  1. OKE LAM maafin gue karena ngebayangin lo sama si lima huruf itu.
    Btw ini style-nya nilam banget, malah menurutku kamu jadi improve meskipun kamu udah jarang update 😦 da aku kan envy 😦
    sukaa banget sama: “Ya, sejak sekolah kami terpisah, hubungan kami merenggang. Tak seperti dulu di mana kami akan berjalan bersama dengan obrolan ringan yang menyertai. Aku pun tak mengerti kenapa hal ini bisa jadi begini. Apa karena intensitas bertemu jadi berkurang?”

    GUE BAPER, tapi bapernya ke temen-temen gue yang beda sekolah HAHAHA bukan ke doi ((sekarang gue udah jadi tunadoi)), and yeah gue se-posesif itu sama temen hahahaha ok guys sori.

    hmmm mau komen apa lagi ya huhu bingung 😦 pokoknya kusuka benget baca ini ok

    keep writing tilam q ❤

    Like

    1. OMO DINOTIS AURORA SENPAI OMO
      wkwkwk gapapa kok is, itu emang dari kisah yata hahahahaha, tapi cuma beberapa hal aja sih yang emang bener itu gue sama pentem wkwkwk
      Duh style ku tuh kayak apa heung 😦 improve apa heung 😦 masih jauh la dibandingi sama fiksi lau is 😦
      Hahaha, baper doesn’t exist only for bae ya is, iya gue juga kangen temen-temen smp pas nulis ini heuheu
      makasih udah notice me, senpai q, lafyaa ❤

      Like

  2. HEH NILAM APA APAAN LO BIKIN GUE BAPER HEH?-_-
    Sukaaaaaaa banget sama penggalan kalimat yang kamu rangkai lam. Simpel tapi enak aja gitu buat dipahami, engga ribet dan berbelit belit. Terus juga alurnya enak banget diikutin, ngalir aja gitu selama dibaca. Weh lam, kalo kekgini masih gangaku kalo diri lau itu adalah senpay? 😍

    Like

    1. WEEYY ECHAA WKWK
      ah suka gitu ah, apalah daya tulisanku ini heuheu 😥 tbh au kira ini alurnya berantakan wkwk, tulisan lama soalnya cha baru aku lanjut terus post aha :’)
      anyway makasih banyakk buat komentar dan reviewnyaa chaa ❤

      Like

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s