Lotus (Chapter 1)

LOTUS

Lotus : About Me

By. Iamayounglady

Romance, PG-17

“You like a glass of alcohol, so intoxicating.”

-Oh Sehun

~.:::.~

Chapter 2 | Chapter 3

~.:::.~

Jung Soojung bisa saja hidup mewah tanpa bekerja. Harta orang tuanya yang kaya raya bisa menopang hidupnya serta anak cucunya tanpa perlu bersusah payah. Tapi Soojung bukanlah gadis seperti itu. Hampir 2 tahun ia keluar dari kediaman mewah keluarga Jung. Hidup dari hasil jerih payahnya sendiri. Berulang kali orang tuanya meminta Soojung untuk kembali, tapi selalu ditolak oleh gadis itu. Seperti saat ini. Bukan Jung Minyoung atau Jung Sooyeon yang datang, tapi kakak tertuanya, Insung.

“Baik. Apa lagi sekarang?”

“Ayolah darling. Aku lelah 2 tahun membujukmu terus menerus.”

“Kalo begitu berhentilah, boy. Aku sudah menerima uang kiriman ayah setiap bulannya untuk membayar kuliahku. Aku mulai merasa tidak berguna.”

“Tolong jangan katakan itu, darling. Kami semua menyayangimu.”

“Aku tahu. Astaga, oppa. Tak bisakah kalian memberiku kesempatan? Aku ingin berdiri dengan kakiku sendiri.”

“Kau sudah melakukannya, darlBy the way, malam ini aku menginap.”

Soojung membelalakkan matanya. Menginap?

“Ayolah oppa. Apartemenku tak cukup luas untuk kita berdua.” Soojung berusaha mengurungkan niat kakak yang 8 tahun lebih tua darinya.

“Itu resikomu. Kau yang memutuskan untuk tinggal di tempat ini. Dan kau tak boleh melarang kakakmu yang ingin menginap di tempat tinggal adik kesayangannya.” Soojung menghela napas kasar. Sejak kapan Insung mulai berbalik menyalahkan keputusannya? Bukankah pria itu disini untuk membujuknya? Seperti yang biasa ia lakukan.

“Kalau begitu tahu dirilah. Oppa, aku yakin kamar luasmu di rumah akan terasa lebih nyaman. Besok kau harus bekerja ingat?”

“Kau jelas berusaha mengusirku, darl. Tapi sekeras apapun usahamu, aku tak akan pergi.”

“Terserahlah.” Soojung memutar bola matanya -menyerah.

Insung beranjak dan membuka setiap ruang di dapur sederhana adiknya. Hanya ada beberapa botol minuman dingin, keju sisa, dan saus tomat. Pria 28 tahun itu menggeleng. Bagaimana bisa Soojung bertahan dengan situasi seperti itu?

Darling, kau tak memiliki makanan lain? Astaga, kau ingin membiarkan kakak tersayangmu ini kelaparan?”

“Aku belum mengisi ulang bahan makananku. Bisakah kau tak berceloteh selama kau menumpang disini?” Soojung menekankan kalimat terakhirnya.

“Gadis malang. Pakai mantelmu. Malam ini kau kutraktir.” Insung mengambil kunci mobilnya dan keluar dari apartemen minimalis yang disewa adiknya.

Beberapa menit kemudian, Soojung menyusul.

Insung menghentikan mobilnya di sebuah restoran italia yang menjadi langganan keluarga mereka. “Tidak bisakah kita ketempat yang lebih mahal?” Tanya Soojung.

“Hey, ada apa dengan hidup berhematmu? Paling tidak ini lebih baik dibandingkan dengan melahap keju dan saus tomat untuk bertahan hidup. Kau bahkan tak punya ramyeon.” Insung terlihat tersinggung dengan apa yang dikatakan adiknya.

“Karena kakakku yang membayar. Bukan salahku jika aku meminta sedikit lebih. Anggap saja sebagai bayaran karena kau kuijinkan menginap ditempatku untuk satu malam ini,” kilah Soojung.

Darling, kau menghinaku? Jika aku mau, aku bisa membeli seluruh apartemenmu. Jadi sekarang diam dan turun sebelum aku menyeretmu masuk kedalam.”

Sudah sangat lama semenjak Soojung memasuki restoran ini. Sejak ia memutuskan untuk hidup mandiri, restoran ini tampak terlalu mewah untuk dompetnya.

“Selamat malam tuan dan nona Jung. Ada yang bisa saya bantu?” Seorang pelayan menyambut dengan sopan kedua pewaris JG Company yang sudah cukup dikenalnya.

“Aku ingin Abacchio al forno dan Caffe Espresso. Bagaimana denganmu darl?”

Soojung tampak masih memilih milih, “tortellini. Dan espresso.” Gadis itu menjatuhkan pilihannya pada pasta dengan keju yang berasal dari Italia bagian utara.

“Dan tolong bawakan campagne.” Tambah Insung.

“Apa yang sedang kita rayakan? Kenapa kau memesan campagne?” Tanya Soojung.

“Aku tahu mungkin kau tak peduli dengan ini. Tapi perusahaan baru saja memenangkan tender. Karena kau masih bagian dari keluarga, jadi kupikir tak ada salahnya merayakannya bersamamu.” Kalimat terakhir terdengar sedikit kejam di telinga Soojung. Tapi gadis itu tak bergeming.

Beberapa menit kemudian, makanan datang. “Habiskan. Aku tahu kau tak selalu mampu makan makanan seperti ini setiap harinya.” Soojung sadar, Insung mengubah strateginya. Membuatnya merasa tak berdaya sehingga ia mau pulang ke rumah keluarga Jung. Dimana seharusnya dia berada.

“Besok kau kuliah?” Soojung mengangguk.

“Dengan apa kau berangkat?” Tanya Insung lagi.

“Bus? Kereta bawah tanah? Apapun,” jawab Soojung sekenanya. Ia terlalu memfokuskan diri pada Tortellini dihadapannya.

“Lusa, aku akan membelikanmu mobil. Aku adalah kakak baik hati yang tak tega membiarkan adik kecilnya harus berdesakan di dalam bus atau kereta bawah tanah. Berterima kasihlah karena kau memiliki kakak pengertian seperti aku.”

Soojung berdecih, “Tak perlu repot repot. Aku akan menumpang pada Qian. Jadi aku tak ingin ada mobil bermerek apapun di depan apartemenku.” Insung sudah menduganya. Soojung akan menolak pemberiannya.

~0.0.0~

Darl, bangunlah jika kau tak ingin terlambat kuliah.” Insung mengguncang tubuh adiknya yang masih bergulung di dalam selimut.

“Jung Soojung, aku harus segera pergi ke kantor dan aku tidak akan merasa tenang jika adikku terlambat kuliah dan ia menyalahkanku karena ia merasa aku tak membangunkannya. Bangun sekarang atau kusuruh Seungyu datang kemari dan membangunkanmu, sayang.”

Dan benar saja, Soojung langsung membuka matanya. “Baik-baik. Aku sudah bangun. Sekarang pergilah sebelum ayah membunuhmu karena terlambat bekerja.” Soojung mendorong Insung keluar dari apartemennya.

“Akhirnya pria itu pergi. Jam berapa sekarang? Astaga. Pukul 7. Aku harus bergegas.”

Kurang dari 30 menit kemudian, Soojung sudah berada dalam bus. Tak perlu waktu lama. Dandanan seadanya dan lokasi apartemennya yang memang dekat dengan halte bus. Ia bisa menggunakan waktu 30 menit lainnya untuk sarapan atau sekedar memejamkan mata sejenak di kelas. Menyiapkan tenaga tambahan sebelum ia bekerja sepulang kuliah nanti.

Kampusnya belum terlalu ramai. Hanya terlihat 7 sampai 9 orang yang berlalu lalang. “Hai, sayang,” sebuah tangan memeluknya dari belakang kala Soojung menapaki gerbang kampus.

“Qian, lepaskan aku. Astaga, keajaiban. Sejak kapan kau datang sepagi ini ke kampus? Biasanya kau akan membolos setiap mata kuliah pertama.” Soojung sedikit menatap heran pada sahabatnya, sekaligus kekasih kakak termudanya, Jung Jiyoung. “Song Qian, aku bicara padamu.” Soojung mencubit hidung mungil Qian. Gadis itu memegangi hidungnya yang memerah.

“Jiyoung oppa mengantarku pagi ini. Dan kau, sopanlah sedikit padaku. Setelah lulus kuliah aku akan menjadi kakak iparmu, Jung Soojung. Dan kita akan jadi saudara. Oh, aku tak sabar menantikannya.” Akhir tahun ini Qian memang akan menikah dengan Jiyoung –kakaknya. Usia Qian dua tahun diatas Soojung.

“Aku tahu. Astaga, aku tak bisa membayangkan bagaimana kehidupanku kelak. Dikelilingi tiga pria idiot sudah membuatku merasa sangat tersiksa dan sekarang ditambah seorang perempuan gila yang akan menikah dengan salah satu dari tiga idiot bersaudara itu. Kasihanilah aku Tuhan.” Soojung mendramatisir.

Qian mencubit pelan pipi calon adik iparnya. “Kalau begitu cepat cari pacar dan susul aku.”

“Insung dan Sungyu belum menikah. Ingat? Pacarmu melangkahi mereka. Kejam sekali.”

“Itu salah mereka karena tak segera mencari pasangan. Sudah dulu ya. Aku ada kelas pukul tujuh. Bye, sayang. Oh ya, minggu depan hari ulang tahun pernikahan orang tuamu. Pastikan untuk datang dan berdandanlah.” Qian melambai.

Ah, benar. Ulang tahun pernikahan. Soojung tak pernah mengingat tanggalnya. Dan hampir selalu gadis itu memberi selamat seminggu sesudahnya. Dengan omelan panajng dari ibunya. Namun kali ini, ia ingin memastikan ia tak terlambat.

“Apa yang akan kau lakukan malam ini?” Tanya Sunyoung. Salah seorang sahabatnya yang lain.

“Bekerja. Seperti biasa. Kau mau mentraktirku makan malam romantis?” Goda Soojung.

“Jangan konyol. Menjauhlah dariku. Penyuka sesama jenis. Masokis gila!” Sunyoung menjauh beberapa meter dari Soojung. Tentu saja hanya candaan.

“Nona Park. Aku normal oke. Aku bukan penyuka sesama jenis apalagi masokis gila. Astaga. Kejam sekali.”

“Bukan salahku. Salahmu yang tetap berstatus single di jaman seperti ini. Tak salah jika aku menganggapmu seorang lesbian.”

“Hey, aku hanya belum menemukan orang yang tepat oke. Jangan menghinaku.” Soojung melempari Sunyoung dengan buku tulis miliknya.

“Hentikan itu. Kau membuat semuanya berantakan, Soo. Astaga. Baiklah, malam ini aku akan mampir ke pub. Aku butuh sedikit hiburan,” Sunyoung kembali duduk.

“Ada masalah? Tak biasanya kau ingin ke pub. Hanya minum atau perlu aku suruh Peter untuk menemanimu?” Tawar Soojung.

“Hanya minum.”

~0.0.0~

Soojung sudah mengganti seragamnya. Gadis dua puluh satu tahun itu bekerja di sebuah pub. Sebagai seorang bartender wanita.

“Martini.” Kata salah seorang tamu tetap di pub itu. Soojung mengenalnya sebagai Yeonhee.

“Seperti biasa? Kali ini apa?” Soojung selalu menyempatkan untuk mengobrol dengan pelanggannya. Ia bukan host. Tapi ia rasa itu dapat sedikit membantu mental pelanggannya.

“Hoon berselingkuh lagi. Di depan mataku. Pria brengsek,” Yeonhee tampak benar benar emosi.

“Baiklah. Akan kunaikan alkoholnya. Kau perlu host?” Tawar Soojung.

“Peter.” Vegaas segera memanggil pria yang diminta oleh Yeonhee. Peter Song adalah host laki laki primadona di pub ini. Pria itu seolah memiliki sihir yang bisa membuat para wanita merasa lebih baik walau tanpa sex. Dan itulah kelebihannya.

“Hai Yeon.”

“Hai Pete. Aku butuh bantuan. Sihoon. Aarrgghh..”

Soojung menyodorkan segelas penuh Martini, “aku menaikkan takarannya.” Yeonhee menghabiskan isinya dalam sekali teguk. Sebentar lagi ia akan mabuk. Peter memulai pekerjaannya. Memberi sedikit motivasi dan hiburan. Yeonhee sesekali menggebrak meja dan menangis di dada Peter. Terlihat jika gadis itu sangat mencintai Sihoon. Tapi tidak sebaliknya.

“Jung, beri aku sebotol besar tequila.” Soojung berbalik. Melihat pelanggannya.

“Santai saja kawan. Aku tak ingin membuatmu masuk rumah sakit. Ini.” Sunyoung meneguk tequilanya.

“Kau yakin tak membutuhkan host? Kau tampak kacau kawan,” tawar Soojung sekali lagi.

“Aku tak butuh host. Aku butuh gigolo. Astaga. Untuk sekarang, kau saja cukup.” Soojung tahu sahabatnya bukanlah maniak sex. Meskipun Sunyoung sudah tak perawan, tapi dia bukan tipe wanita jalang seperti itu.

“Baik. Ceritakan padaku.”

“Perusahaan ayahku bangkrut. Orang tuaku bercerai. Dan..” –Sunyoung menghela napas– “Minsoo memutuskan hubungannya denganku.” Soojung mengisi ulang gelas Sunyoung.

“Jadi itulah kenapa kau seperti sekarang ini? Kuatkan dirimu. Lalu apa yang kau butuhkan sekarang? Jika bisa, aku akan membantumu.”

Sex. Dan pekerjaan? Bisakah kau tanyakan pada manajermu untuk memberiku pekerjaan? Apapaun itu asal bukan jadi pelacur.” Soojung tak tega menolak. Sunyoung benar benar terlihat kacau. Ia merasa sedikit bersalah karena baru tahu sekarang tentang keadaan sahabatnya.

“Akan kulakukan. Bagaimana jika kau berdansa disana? Ada segerombol pria tampan disana. Aku kenal beberapa diantara mereka. Choi Inho dan Choi Minjae. Mereka berdua teman Insung oppa. Mereka baik. Dan kurasa dapat membantumu. Katakan saja kau sahabatku. Semoga beruntung kawan. Aku tahu kau hebat dalam merayu seseorang.”

“Terima kasih Soo. Kau sahabat terbaikku.” Sunyoung menuju ke arah beberapa orang pria yang sedang duduk bersantai. Ia berpura pura menjadi salah seorang host baru.

Soojung tersenyum tipis. Sampai.. BRAK..

Meja di hadapannya digebrak. Tampak seorang pria dengan penampilan kacau. “Permisi. Anda ingin sesuatu?” Soojung sedikit mengamati wajah pelanggannya. Tak begitu tampan. Jambang yang tumbuh lebat menutupi dagunya. Dugaannya, pria ini bangkrut.

“Beri aku apapun. Yang bisa membuatku lupa jika aku hidup.” Secara tidak langsung, pria ini minta dibunuh. Soojung bisa saja mengambil sebuah pistol tangan dibawah konternya dan menembakkan selongsong peluru ke kepala pria ini. Tapi tidak ia lakukan. Di pub ini setiap pegawainya dilengkapi dengan masing masing sebuah pistol. Kebijakan pemilik. Karena kabarnya, pemilik sebenarnya pub ini adalah seorang ketua yakuza dari Jepang. Menggelikan memang.

Soojung memberikan minuman dengan kadar alkohol sepuluh persen. Sangat sedikit jika dibandingkan dengan kadar normal yang biasa ia berikan pada pelanggannya. Memberi minuman dengan kadar alkohol tinggi justru bisa saja menimbulkan kekacauan. Lagipula, pelanggannya tak akan sadar jika ia tak akan mabuk.

Waktu berjalan cukup cepat. Pub mulai cukup sepi. Pukul tiga pagi. Waktunya Soojung pulang ke apartemennya. Ia tak dapat menemukan Sunyoung. Sepertinya dia berhasil menggaet salah satu dari jutawan Choi. Soojung tak begitu peduli. Ia mengganti seragamnya dan menutup pub. Besok ia tak perlu bekerja karena adanya pergantian shift. Jadi ia akan bekerja paruh waktu di sebuah toko buku. Hari-hari Soojung dipenuhi dengan bekerja.

Soojung merapatkan mantelnya. Kantuk melandanya. Ia kelelahan dan besok ada kuliah pagi. Dapat dipastikan gadis itu akan terlelap di jam jam kuliah.

Tak ada bus ataupun taksi. Terpaksa Soojung harus berjalan kaki. Sambil menendang kaleng kosong yang tanpa sengaja ditemukannya di jalan. Tendangan yang terlalu berlebihan. Kaleng itu mengenai kaca sebuah mobil yang sedang melintas. Mobil itu berhenti. Begitu juga dengan Soojung. Ia tahu ia telah menimbulkan sebuah masalah yang akan membuatnya kekurangan uang dalam jangka waktu tertentu. Sang pemilik mobil keluar.

“Bodoh. Kau mengenai mobilku. Lihat kacanya.” Pria tampan dengan setelan kantoran dan dasi yang sudah di kendorkan. Usianya mungkin setara dengan Sungyu atau Insung.

To Be Continued.

Note : Aloalo.. Mungkin ada yang udah pernah baca ceritaku di wattpad dg main cast Vegaas Rougen sama Dave Arthamiel. Well, aku disini post versi ff nya. Maaf kalo mungkin cast disini agak kurang cocok :v Aku nggaberani janji-janji post setiap berapa hari sekali, tapi aku berusaha post sampe selesai :))

Untuk post selanjutnya, akan diprotect karena berisi konten 17+ (bukan NC kok tenang aja) >> kata-kata kasar dan beberapa kalimat yang kurang…… gitulah. password bisa diminta via E-mail : murtisima@gmail.com

Tapi ngga semua part akan diprotect. Mungkin hanya beberapa part yang aku rasa kurang pantes aja.

Terimakaseehh…

 

Advertisements

3 thoughts on “Lotus (Chapter 1)

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s