[IRIDESCEMBER] #Track8 – Senyuman

552f5794-5918-409c-bf07-a723892da775

Track 8 of Iridescember : Let’s Talk About Love

Senyuman

by dhaneestoryi

956 wordcount about Married-Life, Hurt/Comfort for PG-13

 “Jika ditanya oleh yang lain, jawaban mereka hanyalah satu, dan tetap itu; senyuman.”

 

Badai nampaknya tidak sekali-dua kali menerpa mereka. Tidak hanya satu badai, sepertinya bermacam-macam badai. Kerikil, bebatuan dan tembok-tembok penghalang agaknya menjadi pelengkap di setiap jalanan yang mereka lalui. Tidak hanya peluh keringat yang keluar dari pori kulit mereka, peluh air mata juga menetes kala hening malam menyadarkan mereka.

Seperti malam itu yang agaknya tidak terlalu dingin. Kendati tak dingin, angin bertiup sesekali bersama Dewi Bulan yang sedang memancarkan sinarnya. Yoongi dan Nara, duduk di atas lantai balkon kamar mereka. Memandang langit terang beserta bintang kecil yang bertebaran di atas sana.

Kedua jari kelingking itu saling bertaut. Sesekali salah satu pemiliknya mengayun pelan. Satu cangkir teh besar tersaji di depan mereka, uap panas mengepul pelan, menjadi satu-satunya penghangat di antara mereka berdua. Nara sengaja menghidangkan satu cangkir besar saja, untuknya dan Yoongi. Toh, kalau dipikir ini juga bukan pertama kalinya menyesap teh secangkir berdua.

Angin-angin kecil bertiup jahil mengganggu mereka. “Dingin. Tidak masuk?” Yoongi menoleh ke Nara. Namun Nara hanya menggeleng, sembari mengulurkan tangannya ke cangkir, lantas menyesapnya sedikit.

“Nara-ya,” yang dipanggil hanya menoleh. Tidak membalasnya dengan suara atau semacamnya. Nara hanya menoleh, dan menatap manik mata Yoongi yang nampak lelah dengan lembut.

“Aku tahu kita duduk di sini bukan hanya untuk sekedar duduk, ‘kan? Katakan sesuatu yang ingin kau katakan,” Yoongi lagi-lagi menjadi satu-satunya pengisi suara di antara mereka. Sementara Nara hanya beringsut mendekap kakinya. Mendongak, sembari melihat bintang-bintang di atas sana yang kelihatannya makin meredup. Rambut-rambut kecilnya bergerak ke arah wajahnya perlahan kala angin bertiup jahil.

“Nara­-ya.”

“Yoongi-ya,” sahut Nara cepat. Ia kembali duduk bersila, tetap dengan jari kelingkingnya yang bertaut dengan milik Yoongi. Tatapan lembut Nara tertuju penuh pada mata lelah milik Yoongi. Ia bertanya, “Kau tidak kesepian?”

“Sepi? Kupikir tidak,” kata Yoongi. Pria berkulit pucat itu mengangkat bahunya. “Kupikir kata sepi tidak akan mengisi hidupku. Karena ada kau, temanku. Teman hidupku.”

Yoongi tersenyum, menatap Dewi Bulan yang menjadi penonton dirinya dan Nara. Ia menggoyangkan kelingkingnya. “Kenapa?”

“Tidak. Tidak ada apa-apa,” jawab Nara. Menunduk, dengan nada lemah. Napasnya terhela sebentar, sebelum akhirnya ia kembali menyesap teh miliknya dan Yoongi.

“Nara-ya,” Yoongi beringsut mendekat pada Nara. Menghadapkan wajahnya pada Nara. Sebelumnya ia tahu kalau Nara berbohong. Pasti ada apa-apa. Penasaran, ia bertanya, “Kulihat seharian ini kau murung. Jika ada sesuatu katakan padaku, hm?”

“Tidak, hanya saja,” Nadanya bergantung di ujung. Nara ragu-ragu hendak mengucapkannya. Namun jika bukan pada Yoongi, pada siapa lagi ia mengadu?

“Kutanya lagi. Apakah kau benar-benar sungguh tidak kesepian?” tanyanya. Menatap penuh pada manik kelam Yoongi. Ia tahu bukan sekarang waktunya yang tepat untuk membahas ini. Ia paham betapa pemilik mata yang ia tatap saat ini tengah lelah. Namun ia tidak bisa menahannya lebih lama. Semakin lama dipendam, semakin ia tidak bisa tidur. Gelisah.

“Kesepian? Aku memlikimu, Nara-ya. Namun terkadang, kupikir iya. Namun rasa sepi yang bertambah itu kunjung hilang kala kau berada denganku.”

“Kemarin waktu aku mengambil bajumu, ibu bertanya padaku,” Yoongi berdeham, hm? “Pertanyaannya sama seperti seminggu yang lalu, ingat?”

Pernyataan itu. Pertanyaan yang keluar dari rasa penasaran serta tak sabar dari ibu Yoongi. Pertanyaan yang membuat Nara kepikiran terus-menerus. Mungkin bagi Yoongi itu permasalahan sepele, biasa, dan bukan hal yang terlalu penting. Namun hal ini berbeda dengan Nara. Ini menjadi beban di pikirannya.

“Tidak cuma ibu. Temanku juga bertanya begitu,” lanjut Nara.

Yoongi mengangguk. Akhirnya ia paham kenapa Nara seperti ini seharian ini. Hanya karena itu.

“Dan kau mau tahu? Tadi aku mengambilkan topi kecil lucu milik seorang wanita paruh baya. Saat hendak mengembalikannya dia malah berkata, ‘Simpan saja untuk anakmu di rumah,’ begitu,” lanjut Nara lagi.

“Nara-ya.”

“Mungkin bagimu ini terlihat mudah. Namun bagiku ini menjadi beban—“

“Nara-ya, dengarkan aku,”

“—ini sulit bagiku, Yoongi-ya,” Nara mengangkat wajahnya, terlihat matanya yang mulai basah. Yoongi melepas tautan kelingkingnya. Kalau boleh jujur, ia juga merasakan hal yang sama seperti Nara. Namun ia hanya menanggapi setiap pertanyaan itu dengan senyuman.

“Nara-ya, aku pun sama sepertimu. Aku juga dihujani pertanyaan yang sama, setiap minggunya lebih dari sepuluh,” Yoongi mengusap peluh yang menetes dari mata Nara. “Namun aku hanya bisa menanggapinya dengan tersenyum. Lagipula, kita sedang berjuang, ‘kan?”

“Jika kau mendapat pertanyaan yang sama, mengapa kau tidak mengatakannya padaku? Apa kau sesibuk itu?” Tidak dirasa, air matanya menetes lagi.

“Aku hanya tidak mau membebanimu. Hamil, melahirkan, merawat anak, itu sama sekali bukan hal yang mudah, Nara-ya. Aku, kau dan kita berdua butuh waktu untuk menyiapkannya.”

Nara menatap cincin emas yang melingkar di jari manisnya. Mengingat janjinya di altar gereja, di depan pendeta, dengan sungguh dan yakin dua tahun yang lalu. “Tapi ini sudah dua tahun, ibu selalu mengatakan begitu.”

“Jika kau tidak tahu harus bagaimana, berikan senyum saja,” kata Yoongi. Lantas ia meminum teh dari cangkir hingga separuhnya. Yoongi mendekap bahu Nara ke dekatnya. Sembari berucap, “Tidak apa. Kau tahu?”

Nara melihat Yoongi, tahu apa?

“Jadi begini. Tuhan memberi jawaban atas permintaan kita dengan tiga cara. Satu; ya, Dia akan memberinya saat itu juga. Dua; ya, Dia akan memberikannya namun kita hanya harus tunggu waktu yang tepat. Tiga; Dia akan mengabulkannya dengan yang lain, yang lebih indah dari yang dikira.

“Jadi, Nara-ya, tanggapi dengan senyum saja,” tukas Yoongi, diakhiri dengan senyumnya. Jujur, ia lelah dengan pekerjaannya sehari ini, ditambah dengan mellihat Nara yang murung. Namun hatinya bisa sedikit lega melihat Nara tersenyum lagi.

Ini hanya masalah waktu saja, tunggu waktu yang tepat. Jika memang Tuhan benar-benar tidak memberikannya, mungkin pemberianNya yang lain akan jauh lebih indah.

Debu, kerikil, batu, tebing, badai, hingga angin kencang pun akan mereka lalui bersama dengan senyuman. Yoongi menautkan lagi jari kelingkingnya dengan Nara. Sembari menyandarkan kepalanya di bahu Nara, melepaskan sedikit penat hari ini. Nara mendapatkan senyumnya lagi hari ini, ia mengusap pelan rambut Yoongi yang sudah waktunya dipotong.

Hingga saatnya tiba, jika ditanya oleh yang lain, jawaban mereka hanyalah satu, dan tetap itu; senyuman. Bukankah indah?

Selesai.

Ps: halo dhani di sini. Di projek kali ini aku dapat genre married life. Sempet tertunda lama banget haha (maaf anaknya lagi (sok) sibuk (dan males) buat bikin ini) tapi akhirnya terselesaikan dan berujung seperti ini hahaha xD Sudah lama gak nulis jadi sempet tumpul buat beberapa saat. Doakan aku tidak tumpul terus dan senantiasa tajam seperti silet.

Pss: Untuk pembaca yang telah membaca, terima kasih banyak sekalii sudah membaca. Aku akan lebih berterima kasih lagi apabila pembaca mau merelakan waktunya untuk meninggalkan jejak di kotak komentar. Thanks a lot, love ❤ J

Advertisements

2 thoughts on “[IRIDESCEMBER] #Track8 – Senyuman

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s