[IRIDESCEMBER] #Track7 – The Mirror of Surrender

The Mirror of Surrender3

Track 7 of Iridescember : Let’s Talk About Love

The Mirror of Surrender

By laxies

2.834 word count about fantasy, romance, slice of life for teenager

.

“Bertemu dalam penuh harap dan janji untuk masa depan, namun menyerah akhirnya menjadi pilihan. Tapi, aku tahu, menyerah tak selamanya bermakna pecundang.”

.

Seseorang pernah memintaku untuk menunggu. Menunggu sebuah kepastian yang bahkan aku tak tahu maknanya. Katanya, menunggu itu berbuah sabar dan sabar berbuah kebahagiaan. Walau tak mengerti apa yang dimaksud, aku tetap tersenyum dan mengangguk—mencoba berpura-pura mengerti.

Sampai waktu itu tiba, kami terpisah dalam rentang yang jauh bahkan anganku pun tak sampai. Kalau pun ada yang ingin kulakukan sekarang, aku hanya ingin bertemu dengannya, memastikan segalanya baik-baik saja dan aku akan menunggu lagi.

Namun, waktu itu tak pernah tiba, malah waktu seakan membelenggu diriku untuk terus menunggu dan menunggu, seperti orang bodoh. Karena orang itu, kehidupanku tak sama lagi. Rasanya hanya kelam dan keputusasaan. Rasanya mau mati saja.

Dan kini, aku benar-benar menyerah.

Hari ini, tepat tanggal 12 Desember, akan menjadi hari kelahiranku dan sekaligus kematianku. Aku baru saja melompati pagar jembatan Sungai Han dan meluncur menuju permukaan air dengan kecepatan yang aku sendiri tak peduli seberapa cepat. Hingga akhirnya aku tenggelam dan aku siap menutup mata.

Aku merasakan sakit di dada. Mungkin ini adalah sebuah serangan jantung ketika aku sudah tak lagi mampu bernapas di dalam air. Tapi tidak, jelas aku sedang berada di daratan dan seseorang berhasil mengeluarkan air yang menyumbat pernapasanku. Sesungguhnya aku begitu enggan membuka mata namun suara orang itu begitu membuat sesak, rasanya seperti sakit yang selalu kualami bertambah berkali-kali lipat.

“Nona! Kau baik-baik saja? Ayolah buka matamu.”

Saat aku membuka mata, aku pikir aku sedang melihat dia dengan aura yang berbeda. Auranya begitu penuh kekhawatiran, kepedulian, dan… kehangatan. Tetapi entah kenapa dadaku malah bertambah sakit.

“K-Kim Mingyu?”

Susah payah aku berucap karena tenggorokanku terasa terbakar, aku hanya bisa menggerakkan kelopak mataku untuk berkedip. Ya, selemah itu ragaku—juga hatiku.

“Ah, bagaimana kau tahu namaku? Kau mengenalku? Ah! Tunggu, kau pasti melihat ini, kan?” ‒dia menunjukkan nametag miliknya‒ “ah, sudah pasti begitu. Kalau begitu, kau bisa bangun, Nona? Perlukah aku membawamu ke rumah sakit?”

Aku tak peduli apakah sekarang dia tengah berpura-pura mengenalku. Yang aku tahu, tanganku mengikuti titah hatiku untuk menyentuh wajahnya yang begitu dekat. Rasanya begitu hangat, walau ia sama-sama basah sepertiku. Memaksakan diri sekali lagi, aku mengucap namanya—lagi.

“Kim… Mingyu….”

Ketika aku bangun, tak seperti di drama-drama, aku tak menatap langit-langit putih atau ruangan yang serba putih. Ruangan ini teramat familiar, namun aku merasa asing dengan interiornya. Aku pikir, ini seperti… kamarku?

“Ah, Nona sudah sadar? Ini, aku buatkan bubur.”

Suara itu lagi, ah tidak, orang itu lagi. Dia menghampiriku dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air. Rambutnya tampak basah dan dia nampak santai dengan setelan kaus hitam juga celana piyama biru tua. Dan sungguh, aku tak pernah melihatnya seperti ini seumur hidupku.

“Ini, dimakan ya buburnya. Aku memang tak terlalu pandai memasak tapi setidaknya kau harus makan setelah tadi ‘basah-basahan’. Oh ya, apa kau perlu obat?”

Aku yang sudah mampu terduduk menggeleng pelan. Dia mengangguk pelan lalu berucap, “Ya sudah kalau begitu, kalau ada apa-apa panggil aku saja. Aku ada di halaman belakang.”

Sejenak setelah dia pergi, aku merenung. Apa yang aku sangkal selama aku berada pada alam bawah sadarku ternyata mutlak, benar-benar nyata dan fakta. Tapi, keterkejutanku masih menganggap semuanya adalah mimpi. Ini benar-benar di luar nalar. Kenapa semuanya terasa berkebalikan?

“Hey, Nona! Setidaknya makanlah buburnya, kau harus mengisi perutmu!” Dia berteriak melalui jendela sembari memegang selang air. Aku menengok dan menemukannya tengah memberi isyarat agar aku segera memakan buburnya. Yang kulakukan hanya mengangguk dan tanganku bergerak meraih sendok.

Ah sial, kenapa tanganku harus gemetaran di saat seperti ini. Aku terus mencoba sampai aku mendengar suara siraman air di luar berhenti dan diganti dengan suara tapak kaki yang melangkah kemari. Ugh, apa yang harus kulakukan kalau sudah begini?! Tsk, retoris sekali.

“Kalau kau masih tak sanggup makan sendiri kenapa tak bilang dari tadi?”

Dia duduk di tepi ranjang dan mengambil alih sendokku. Dia mulai menyuapkan bubur itu ke mulutku. Dan ternyata benar, dia memang tak pandai memasak, ini terlalu asin dan sayurannya pun dipotong terlalu besar. Ini… sungguh berkebalikan dengan Kim Mingyu yang kukenal dulu. Tapi kenapa Kim Mingyu yang ini tak mengenaliku? Kenapa semuanya terasa rumit sekarang?

Setelah tak tersisa lagi bubur di mangkuk, dia memberiku minum dan menyuruhku meminum obat. Sebelum dia pergi, dia memegang dahiku. Tangannya begitu hangat dan besar, tangan yang selalu ingin kugenggam setiap detik dalam belenggu kerinduan.

“Kau masih demam, sebaiknya istirahat dulu.” Dia membetulkan selimutku dan jika kaupikir dia akan beranjak meninggalkanku, kau sangat salah. Dia masih terdiam duduk di tepi ranjang dengan tatapan hangatnya yang menyentuh netraku. Aku tahu ini begitu salah setelah semuanya terjadi, tapi aku merasa getaran itu lagi. Getaran yang sebenarnya tak pernah ingin kurasakan lagi dengan orang yang sama.

“Nona, kenapa… aku merasa tak asing denganmu?”

Membeku adalah reaksi tubuhku. Mataku terlalu panas dan akhirnya cairan bening itu keluar juga. Aku menatapnya lekat tanpa berniat melepas pandang.

“Apa kita… pernah bertemu sebelumnya?” tanyanya masih menatapku, “aku merasa kau adalah penghuni lama.”

Apa dia akan mengatakan lelucon? Apa maksudnya penghuni lama rumah ini?

“P-penghuni lama?” Mingyu mengangguk. “Hm, penghuni lama di sini.”

Dia menepuk dadanya pelan, mencoba mengartikan frasa ‘di sini’. Jantungku bertalu begitu cepat namun pada akhirnya denyutan itu menjadi menyakitkan. Sakit sekali rasanya sampai aku merasa sesak dan tercekik.

Aku berbalik memunggunginya dan memilih mengeluarkan tangis dalam diam. “Mingyu-ssi, a-aku ingin beristirahat.”

“Ah, b-baiklah. Maaf menganggumu dengan perkataan anehku. Kalau begitu, selamat beristirahat.”

Dia beranjak dan menutup pintu seiring dengan isakan kecilku yang mulai memenuhi ruangan.

Walau aku tak tahu harus bagaimana, aku tetap memilih untuk pergi. Setelah aku bangun tadi, aku pergi diam-diam dari rumah pria itu. Mingyu saat itu tengah tertidur di sofa, jadi aku bisa memanfaatkan situasi. Namun alangkah sialnya ketika aku menyadari kalau baju yang kupakai adalah baju milik pria itu. Sial, apakah dia yang menggantikan bajuku? Astaga, sudahlah! Aku tak peduli!

Sebut saja aku ini arogan, tak tahu terima kasih. Saat ini aku hanya ingin mendahulukan keegoisanku. Bagaimana pun aku melihat kepribadiannya yang berbeda seratus delapan puluh derajat, dia tetap mengingatkanku pada Mingyu yang lain.

Lelah memikirkan semuanya, akhirnya aku memilih untuk beristirahat di salah satu bangku taman yag kulewati. Aku tahu jelas taman ini, karena sebelum semua keanehan ini terjadi, taman ini adalah taman favoritku untuk menenangkan diri.

“Rupanya melarikan diri adalah salah satu keahlianmu ya.”

Aku terkesiap dari lamunan ketika suara orang itu hadir. Samar-samar aku mendengar deru napas tak berarturan dari Mingyu yang kini duduk di sampingku. Sedikit peluh pun tak luput dari penglihatanku ketika aku menoleh padanya.

“Kau… mengejarku?”

Mingyu tersenyum begitu lebar. “Ya, tentu saja. Kau tidak mau berterima kasih padaku yang telah menyelamatkanmu ini?”

Sekarang, aku yang penuh peluh gugup. “Te-terima kasih, kalau begitu.”

“Tidak gratis.”

“Ya?” Mataku membola mendengarnya tapi bibir lelaki itu masih melengkung ke atas.

“Tidak gratis, Nona. Pertolongan yang kuberikan itu tidak gratis,” ‒Mingyu mendekatkan wajahnya secara tiba-tiba‒ “bahkan aku belum tahu siapa namamu.”

Aku tahu kalau rambatan merah itu mulai menjalar di seluruh wajahku. Jantungku juga tak bisa diajak berkompromi untuk tenang ketika peraduan netra kami terjadi. Di sana, ada bola mata cokelat yang jernih, penuh ketulusan, kehangatan, dan sedikit jenaka. Agaknya, poni rambut kecokelatannya sudah terlalu panjang dan beberapa helainya menusuk mata. Ah sial, kenapa aku terus begini?!

“A-aku— namaku—“ Sial dia semakin dekat. “Ya? Siapa namamu?”

Kenapa harus memakai suara bisikan?! Astaga, aku mulai gila.

“Namaku—“

“Hm?”

“Namaku Gill.”

“Bagus. Nona Gill, ayo ikut aku.”

Dan kini aku hanya pasrah diseret ke mana pun oleh Kim Mingyu.

Dia membawaku ke sebuah distrik yang ramai oleh orang-orang yang sedang menghabiskan waktu. Setelah menyeretku ke sana-kemari, Mingyu mengajakku ke sebuah tenda peramal. Astaga, anak ini berbeda sekali dengan Kim Mingyu yang kukenal. Aku pikir perubahannya terlalu aneh dan kenyataannya semuanya memang terasa aneh.

Mingyu terus berceloteh bertanya ini-itu kepada Sang Peramal, namun peramal itu malah terus-menerus melayangkan tatapannya padaku, membuatku risih setengah mati.

“K-kenapa kau terus menatapku?”

Mingyu berhenti berceloteh. “Apa?”

“Nyonya, kenapa kau terus menatapku?”

Nyonya itu diam dan hanya terus menatapku secara intens selama sekian sekon.

“Kita harus bicara, Nona,” –dia melirik Mingyu yang siap buka suara‒ “berdua.”

“Apa?! Apa maksudmu?!”

Gila. Peramal ini mungkin sudah gila. Apa maksudnya dia berkata kalau kini aku tengah berada di dunia cermin?! Walau pun aku merasakan beberapa keanehan yang terjadi, aku tetap tak akan percaya pada perkataannya. Hal yang mustahil seperti itu hanya imajinasi saja, mana mungkin jadi kenyataan. Terlebih lagi itu terjadi padaku, haha mustahil sekali.

“Kau memang berada di dunia cermin, Nona. Aku adalah manusia sepertimu dan pria tadi adalah manusia cermin. Dia semu, tak nyata layaknya dunia ini.”

Nyonya ini mengatakannya dengan nada bersungguh-sungguh. Hatiku mulai sedikit percaya, akan tetapi, TIDAK! Ini mungkin hanya akal-akalan dia saja untuk meraup untung.

“Kalau kau mengatakan ini untuk meraih keuntungan, kau tak akan mendapatkannya, Nyonya. Aku tak mudah tertipu.”

Dia terlihat sedikit panik ketika aku ingin beranjak. “Tidak! Jangan pergi dulu! Aku bersumpah ini kenyataan. Bukankah kau sebelumnya ingin bunuh diri?”

Aku terpaku. “Ba-bagaimana kau bisa mengetahuinya?”

Wanita paruh baya itu menghela napas. “Duduklah dulu, akan kuceritakan padamu bagaimana bisa semua ini terjadi.”

Akhirnya aku duduk dnegan tenang dan dia terlihat lebih rileks. “Aku juga sama sepertimu, Nona.”

“Apa maksudmu?”

“Sebelumnya, aku juga ingin bunuh diri. Dua puluh tahun lalu, aku begitu frustasi akan hidup dan ingin menyerah saja rasanya. Aku berpikir kalau tak akan pernah ada cinta lagi dalam hidupku, aku merasa terbuang, tersisihkan, dan terabaikan. Aku memutuskan untuk menyerah dan berniat mengakhiri hidupku, namun ada yang aneh ketika aku terbangun. Aku malah menemukan diriku berada pada dunia yang semuanya berkebalikan dengan yang selama ini aku tahu, seperti dunia cermin. Dari situ, aku masih menyangkal kalau aku berada pada dunia yang aneh ini.

“Lalu, aku menemukan sesuatu yang aneh lagi. Pada setiap orang yang aku pikir sifatnya sangat bertolak belakang dengan sebelumnya, terdapat tato kecil berbentuk cermin berbingkai klasik pada tubuhnya. Tato itu adalah penanda bagi orang-orang semu. Dan bagi orang-orang seperti kita hanya ada tiga hari untuk menentukan; apakah kau akan tinggal dan dianggap pecundang di dunia nyata atau kembali dan menjadi seorang yang berani mengambil langkah baru sebagai awal dari segalanya. Aku memilih pilihan pertama karena aku adalah pecundang, namun aku begitu menyesal. Kau tak akan bisa kembali ketika sudah memilih untuk tinggal, padahal aku sadar kalau aku mendapat begitu banyak cinta ketika aku hidup di dunia nyata. Jadi aku sarankan untuk menggunakan tiga harimu untuk menyadari segalanya. Cinta tak harus dari seseorang yang kau kasihi, terkadang cinta itu kau dapat dari orang yang bahkan tak pernah kau pedulikan. Tapi dunia cermin ini penuh godaan, kau harus berhati-hati. Tetapi percayalah, cinta yang tulus di dunia nyata tak akan hilang di dunia cermin ini.”

Bibirku bungkam dan tubuhku bergetar. Aku tak percaya ini terjadi padaku. Kenapa harus seperti ini? Mana langkah yang harus kuambil? Sekarang, kebingungan dan ketakutan itu mulai menyerangku.

“Lalu… aku harus bagaimana? Kenapa aku yang hanya ingin menyerah harus mengalami ini?”

Nyonya itu tersenyum lembut dan berdiri mendekatiku untuk mengelus rambutku sayang. “Menyerah memang cenderung dianggap pecundang, tetapi dunia cermin ini mengartikan menyerah sebagai sesuatu yang akan menyadarkanmu. Sebagai cerminan hidupmu yang ternyata penuh oleh kasih dan cinta. Aku harap kau tak akan salah memilih, Nona. Aku tahu kau akan memilih yang terbaik untuk hidupmu.”

Dan setelahnya, aku menangis tersedu dalam pelukan hangat wanita paruh baya itu.

“Gill, kenapa matamu sembab begitu? Apa yang peramal itu katakan padamu? Apakah sesuatu yang menyedihkan? Apa, apa, apa?”

Aku sedikit tersenyum mendengar celotehan Mingyu yang terus menyerbu gendang telingaku. Mungkin ini adalah godaan yang dimaksudkan Nyonya itu. Kini aku memasang senyum lebarku dan beralih menghentikan langkah untuk selanjutnya menoleh ke arah lelaki di sebelahku.

“Mingyu, apa kau mencintaiku?”

“Aku rasa peramal itu— Apa?!”

Aku menangkup wajahnya yang begitu terkejut. “Apa kau mencintaiku?”

Wajahnya gelagapan seperti telah tertangkap basah. “A-apa maksudmu? A-aku—“

Kugandeng tangannya dan berucap, “Aku anggap itu ‘ya’ darimu.”

Kim Mingyu yang kukenal di dunia nyata adalah seorang pemain wanita awalnya. Kami bertemu di sekolah menengah atas, dia seniorku yang sangat angkuh, pendiam, tetapi suka menggoda wanita. Entah bagaimana bisa dia menyukaiku, yang pasti awalnya aku sangat membencinya. Ya, dulu aku seorang yang naif, percaya kalau cinta itu tak boleh dipermainkan. Setelah beberapa penolakan, akhirnya aku menerimanya menjadi kekasih. Aku pikir dia masih terus berulah, tetapi ternyata dia telah berubah. Dia menjadi seorang yang baik walau sifat pendiamnya tak pernah hilang.

Kim Mingyu yang aku kenal di dunia nyata adalah seorang yang tenang namun hangat. Dia pandai memasak dan di setiap masakannya, aku merasakan kehangatan yang berlipat ganda. Dia hebat dan akan selalu menjadi yang terhebat untukku.

Kim Mingyu yang aku kenal di dunia nyata selalu menggenggam tanganku, menenggelamkan tanganku dalam lingkupan tangannya yang besar dan hangat. Tak seperti kebanyakan pria yang gemar melakukan hal romantis setiap waktu terhadap pasangannya, dia romantis dengan caranya sendiri. Sangat jarang tetapi selalu tepat sasaran. Dia selalu dapat meluluhkan hatiku di momen yang tepat. Dan dengan begitu, rasa cintaku untuknya semakin besar.

Kim Mingyu yang aku kenal di dunia nyata hampir sempurna. Dia ambisius dalam meraih mimpinya, aku pun mendukungnya untuk hal itu. Sampai akhirnya dia pergi, meninggalkanku untuk berjalan meraih mimpinya. Ungkapnya saat itu penuh janji dan harap, dia berjanji akan kembali dan memelukku lagi dalam kehangatan cintanya. Untuk beberapa waktu, aku terus percaya dan menunggu walau terlalu banyak kabar burung yang mengatakan dia telah meninggalkanku sepenuhnya. Tapi akhirnya aku sadar, kalau dia memang manusia biasa, tak sempurna dan punya celah buruk. Dia berengsek.

Kim Mingyu yang kukenal di dunia nyata adalah Si Berengsek yang sesungguhnya. Dan karena Si Berengsek itu, aku memilih untuk menyerah.

Menyerah untuk hidup dan mencintai.

“Wah, sebegitu berengseknya ya aku di dunia nyata? Aku tak tahu, Gill. Maafkan aku.”

Wajah Mingyu jadi murung ketika aku menceritakan semuanya. Dia terus menyalahkan dirinya karena telah memperlakukanku seperti itu. Namun anehnya, reaksiku hanya tersenyum dan justru memeluknya dengan erat. Menenggelamkan diri dalam kehangatan Kim Mingyu yang berbeda.

“Untuk saat ini, kau adalah Kim Mingyu yang berbeda bagiku. Kim Mingyu yang selalu aku inginkan di setiap mimpiku. Nyonya itu benar, menyerah tak selamanya bermakna pecundang. Dari menyerah, kau akan dapat pelajaran yang berharga.”

Mingyu balas memelukku. “Benar, aku harap kau mencintaiku sebagai orang yang berbeda. Walaupun aku tak tahu bagaimana bisa ini semua terjadi begitu cepat, aku mencintaimu sejak kali pertama aku melihatmu.”

Dari sini, aku tahu, kalau Kim Mingyu yang aku kenal di dunia nyata punya cinta yang tulus untukku. Karena cinta yang tulus itu tak akan pernah hilang, baik di dunia nyata mau pun dunia cermin.

Tiga hari.

Waktu yang begitu singkat bagiku dan Mingyu untuk menghabiskan waktu bersama. Aku begitu menikmatinya hingga aku hampir terjatuh dalam godaan dunia cermin ini. Namun lagi-lagi Mingyu selalu mengingatkanku akan dunia nyata, dia peduli padaku, walau dia ingin aku tetap bersamanya di dunia cermin. Melihatnya seperti itu, aku justru semakin gundah untuk kembali. Aku ingin tetap di sini.

“Gill, mau bertemu ibuku?”

Di tengah-tengah perdebatan kami, dia mengajakku untuk bertemu ibunya di sisa waktuku. Dan ya, kami akhirnya pergi ke tempat ibunya. Ketika sampai di sana, aku tahu kalau keterkejutanku yang ini adalah keterkejutan paling parah yang kualami.

“I-Ibu?”

Karena Ibu yang diklaim oleh Mingyu sebagai ibunya adalah ibuku.

“Siapa kau?”

Hanya dua kata, tetapi begitu menyesakkan dada ketika aku mendengarnya. Aku hanya ingin menangis seketika saat ini. Aku begitu bodoh dan egois ketika memutuskan untuk menyerah hanya karena Si Berengsek itu. Aku sama sekali tak memikirkan keluargaku, terutama ibuku. Ibuku yang selama ini selalu melimpahkan penuh kasih sayang dan cinta.

“Dia temanku, Bu. Namanya Gill. Cantik, bukan?”

Ibuku tersenyum begitu lembut. “Iya, cantik sekali.”

Untuk sejenak, aku dan Ibu hanya berpandangan dengan senyum yang terulas. Netraku mencoba menikmati paras Ibu yang lembut dan selalu cantik. Sampai akhirnya aku tak tahan lagi untuk menumpahkan air mata.

“Nyonya Kim… bolehkah aku… memelukmu?”

Dia mengangguk dengan rentangan tangan dan juga senyuman tulus yang mengembang. Aku terjatuh dalam tangis ketika kedua tangannya merengkuhku.

Satu lagi cinta yang tulus kutemukan. Ketika waktuku tiba, gaungan sebuah suara yang mempertanyakan keputusanku pun terdengar. Dengan senyuman perpisahan dan keberanian untuk melangkah ke dalam sebuah awal yang baru, aku memilih untuk kembali ke dunia nyata.

.

.

.

“Gill, kau sudah sadar?”

Aku membuka mataku perlahan. Adegan yang sama seperti di drama, aku melihat ruangan putih yang berarti aku berada di rumah sakit. Dan suara itu… apakah aku masih berada di dunia cermin?

“Gill, ini aku. Jangan pergi, jangan tinggalkan aku.”

Seorang pria dengan setelan jas mahal dan rambut biru yang ditata rapi ke atas menangis tersedu sembari menggenggam tanganku erat.

“Kim… Mingyu?”

Pria itu mengangkat kepalanya dan melayangkan sebuah senyuman walau wajahnya basah penuh lelehan air mata.

“Aku telah kembali, maaf jika ini terlalu lama untuk menepati janji itu. Janganlah seperti ini lagi, Gill. Jangan pergi.”

Aku tahu aku begitu bodoh dan naif, namun aku yakin untuk percaya bahwa apa yang diungkapkannya bukanlah sebuah harapan kosong nan semu. Dia sekarang sudah di sini, menggenggam tanganku dalam lingkup kehangatan. Kau harus tahu, terkadang menyerah itu tak selalu salah, karena menyerah membuat kita ingat kalau kita sebenarnya masih dicintai ketika melihat air mata berjatuhan karena kita.

“Gill….”

Dan satu lagi, jangan pernah melupakan cinta yang selalu abadi. Cinta dan kasih dari orang tuamu.

“Ibu, ini aku anakmu, Gill.”

fin.

Author’s Note :

HAHAHAHAHAHAHA aku tahu kok endingnya gak jelas sekali. Dibuat ngebut, semoga kalian suka dengan cerita di atas ya. Dan jangan lupakan pesan moral yang dapat kita ambil; terkadang menyerah malah menyadarkan kita untuk bersyukur. Jadi, bersyukurlah ketika kalian masih diberi kesempatan untuk hidup, merasakan cinta kasih dari orang tua dan orang yang kalian kasihi.

Jangan mudah menyerah untuk hidup dan cinta! Semangat! ❤

Dedicated for Macaroon Seoul 2nd project; Iridescember.

Xx, laxies.

Advertisements

2 thoughts on “[IRIDESCEMBER] #Track7 – The Mirror of Surrender

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s