[IRIDESCEMBER] #Track5 – Bring Me To Life

PicsArt_12-30-03.59.58

Track 5 of Iridescember : Let’s Talk About Love

Bring Me To Life

By xojoenc

560 wordcount about fail!Surrealism, fail!Dark, Family, Psychology, and Slice of Life for PG-15.

••

Selamatkan aku.

••

Tempat itu sedingin kutub. Aku terkungkung sepi dalam dekap mesra temaram. Aku takut, tempat ini mengerikan. Aku menyebutnya dengan dunia. Dimana gaung – gaung manusia kesepian berdenging di sini. Dan seseorang tercipta dari gaung tersebut, seseorang yang tak pernah aku harapkan eksistensinya. Dia parasit. Menghempaskan kewarasanku begitu saja. Menyiksa diriku hingga nyaris ingin mati.

Katanya, “Kalau begitu, kenapa tidak mati saja? Aku akan mengikutimu kemanapun. Bahkan jika itu neraka terdalam sekalipun. Ah, aku ada ide yang lebih bagus. Bagaimana jika kita bertukar, Kembaran? Aku bosan terperangkap disini. Bukankah kita satu?” Bisikan halus di telingaku.

Iya. Kau adalah aku, aku adalah kau. Tetapi ingat satu hal: Kau fana dan aku nyata. Kita dua beda yang dibatasi oleh dimensi ruang. Kau ingin kehidupan? Aku tak kan pernah membiarkan dirimu mencuri kehidupanku. Sudah cukup dengan kewarasan dan segalanya tentangku.

Semua orang yang kucintai, pada akhirnya tetap akan meninggalkanku. Dan aku sendirian….

“Hey, Bung! Kau tak sendirian.”

“Keparat! Mengapa kau ada? Mengapa kau tidak lenyap saja? Mengapa kau merebut semua kebahagiaanku?”

“Aku ada, karena kau ada. Kau yang membuatku ada. Jika aku lenyap, maka kau juga lenyap. Aku adalah kau. Ingat?” Dia menyunggingkan senyum lantas melanjutkan kalimatnya, “aku? Merebut kebahagiaanmu? Hahaha, lucu sekali. Bagaimana jika sejak awal kebahagiaan itu tak pernah menjadi milikmu?” Aku tertegun.

“Kau—”

“Apa? Kau tak akan bisa membunuhku, karena kau adalah aku,” dia menyentuh daguku. Tatapan itu. Aku membencinya. Sangat membencinya, karena aku melihat diriku disana.

“Pergi dari hidupku, Jalang!”

PRANG!

Aku terisak, lalu ada suara langkah kaki yang terdengar bagai rentetan tembakan beruntun. Keras sekali. Aku takut. Aku memejamkan mataku. Menenggelamkan wajahku diantara lututku. Aku tidak ingin mendengar apapun. Aku tidak ingin melihat apapun. Kumohon, lepaskan aku.

“Sayang, kau baik-baik saja? Apa yang kau lakukan?” Seseorang merengkuhku dalam pelukan hangat. Suaranya terdengar khawatir. Lalu—

“Oh, dia akan meninggalkanmu sebentar lagi. Siapa yang mau mencintai gadis gila yang selalu memecahkan cermin?” Suara itu berdengung di telingaku. Aku membencinya. Aku benci suara itu. Aku meronta. Berteriak. Histeris. Lalu mendadak beralih ke ketenangan yang tak biasa.

“Maafkan aku, sayang. Aku tak mau kau menyakiti dirimu sendiri.” Bisa kudengar suara lain. Suara orang yang memelukku. Siapa dia? Bagaimana dia bisa ada disini? Apa dia datang untuk menyelamatkanku?

“Tunggu beberapa menit lagi. Beliau pasti akan meninggalkanmu, pasti….” Tak tahu arah suara itu, aku mempererat pelukanku dengan tubuhku sendiri.

“Tidak apa-apa, Sayang. Ibu disini, kau tidak sendirian.” Itu Ibu, pasti Ibu akan sibuk dengan urusannya lagi lalu melupakanku lalu…. Lalu dia kembali muncul. Aku takut. Sesempit ini ‘kah dunia aku selalu bersamanya? Kembali terngiang perkataan dia tentang aku. Aku adalah dia. Takdir yang buruk.

Pikiranku kacau. Aku melangkah keluar dari kamarku, memecahkan semua cermin—bukan hanya cermin namun benda apapun yang mampu memantulkan bayangan di rumah dengan tangan telanjang.

PRANG! PRANG! PRANG!

Pecah – pecahan kaca tersebar di lantai bercampur dengan warna darah dari tananku.Sakit memang kendati rasa nyeri yang menjalari lenganku belum ada apa – apanya dengan luka kesendirianku. Terabaikan, barangkali aku tak pernah ada dalam catatan senarai manusia bumi milik Tuhan.

“Enyah kau! Kumohon enyah!” Isak tangis menggema dalam ruangan, Ibu datang terburu – buru mendekapku, selang beberapa saat Ibu membalut lukaku dengan plester dan obat merah. Aku menatap elok wajahnya, apa ini yang dinamakan bahagia? Hanya dengan menatap wajah Ibu?

“Bu. Aku ada satu keinginan.”

“Ada apa, Sayang? Katakan saja.”

“Selamatkan aku. Jangan buat aku sendirian. Bawa aku pada kehidupan yang nyata. Benar – benar nyata.”

|fin.

WAHAHAHAHA. Maapi ngespam big thanks buat iamyounglady dan teman – teman macseoul♥ Nyampah sekali btw. Sekian dan terimakasih sudah mau baca fic gagal ini._.v

Advertisements

2 thoughts on “[IRIDESCEMBER] #Track5 – Bring Me To Life

  1. WUHUUUUUUUUU~~~~~
    FINALLY, KESAMPEAN JUGA AKU BACA INI YU *-*

    Oke yu, aku tercengang-cengang ya (bayangin aja muka gue yang sodron), kenapa? iyalah, gimana ga tercengang sementara aku suka penggalan kalimat dan katanya? wadu, yu, jangan sekali-kali dirimu menyangkal setelah membaca ini:’v
    Iya yu, serius, aku suka banget dan yaaa kata-katamu itu menghipnotis lho *-*
    Beneran, gak bohong –v
    Apalagi ini orific kan ya, duh aku semakin terpincut oleh tulisanmu ❤

    Tapi yu, biarkan si cerewet ini bertanya/?
    Makna 'terkungkung' itu apa ya? Ngehehe, aku yang pengetahuannya kurang ini kepo setengah idup wkwk XD
    Dan lagi yu, mungkin (menurutku) ada beberapa kalimat yang baiknya di italic, seperti :

    – Kau ingin kehidupan?

    – “Oh, dia akan meninggalkanmu sebentar lagi. Siapa yang mau mencintai gadis gila yang selalu memecahkan cermin?”

    juga beberapa kalimat ungkapan hati si 'aku' dan kalimat yang menunjukkan kalau si 'dia' lagi berbicara atau berbisik.

    Hehe, menurutku sih itu aja yu ^^
    Overall, aku sukaaaaa banget, dan kita disini sama-sama belajar yakaann<33333
    Sekali lagi yu, aku suka fic ini dan (ingat) ini membuatku tercengang-cengang akan diksimu <333

    echaakim<3

    Like

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s