[IRIDESCEMBER] #Track3 – Summer in Your Eyes

tumblr_nntw3jactb1r0gtspo1_500

Track 3 of Iridescember : Let’s Talk About Love

SUMMER IN YOUR EYES

by aurora

3.181 words about romance, fluff, school-life, and friendship for Teenager

“Ini perihal Clary Summer dan musim panasku dengannya

.

.

“—waktu terus berputar”

Aku dan Clary bertemu untuk yang pertama kalinya di musim panas. Uh-oh, sebenarnya kami dipertemukan pada musim semi sih. Ketika tahun ajaran baru dimulai dan kami ditempatkan di kelas Bahasa Inggris yang sama. Tapi mungkin waktu itu kami tidak terlalu menyadari eksistensi satu sama lain. Kami belum terbiasa dengan teman-teman baru.

Dan, kami juga terlalu asyik dengan dunia masing-masing. Clary dengan teman-teman ceweknya yang selalu pergi ke kantin saat istirahat, dan aku bersama cowok-cowokku (tolong jangan mengartikannya ke arah situ, please) yang betah di ujung koridor sambil main Nintendo.

Pada suatu hari, tepatnya hari ke-sembilanbelas di musim panas, dewi takdir bermain-main sedikit, kurasa. Menggunakan Mr. Chuck sebagai perantara, ia mempertemukan dua bocah polos yang usianya sejumlah jari-jari tanganmu dengan label ‘teman sebangku’.

“Hai, aku Clary,” sapanya. Itu adalah kali pertama aku beradu pandang dengan cewek yang disebut-sebut sebagai anak emas Mr. Chuck—beliau pengajar Bahasa Inggris kami, dan kudengar Clary selalu aktif di pelajaran beliau. Clary memiliki postur yang cukup mungil bila dibandingkan dengan anak-anak lainnnya. Kulitnya terlampau cerah sampai-sampai aku mengira dia keturunan vampire. Kedua bola matanya mirip bola ping-pong yang berwarna cokelat gelap. Pipinya membuatku mengidam bakpao. Dan surai arangnya dikucir kuda.

Clary itu—cantik.

Eh, apa yang baru saja kupikirkan?

“Siapa namamu?” tanya Clary sambil mengeluarkan buku catatan Bahasa Inggris-nya. Aku tak lantas menjawab, justru merogoh ransel hijau tua-ku dan meraih buku catatanku.

“Jason Lee? Itu namamu?”

Aku mengangguk.

Bulan sabit terbentuk ketika Clary memamerkan senyumnya yang kepalang lebar. “Salam kenal, Jason!” dia menjabat tanganku, lalu mengguncang-guncangnya seperti kaleng minuman soda.

Asal kamu tahu, itu adalah pertama kalinya aku memegang tangan cewek selain tangan Mom dan Nenek. Rasanya tubuhku dialiri listrik bertegangan ribuan volt. Meskipun waktu itu aku nggak tahu apa itu yang dinamakan volt.

“Clary, aku akan merindukanmu!” teriak anak perempuan di bangku pojok.

“Aku nggak bakal merindukanmu, Becca!” balas Clary. Suaranya terdengar melengking. Kemudian beberapa anak tertawa.

Dia masih tersenyum. Lalu Mr. Chuck memerintahkan kami untuk memperhatikan beliau. Pria berusia tigapuluh lima tahun itu tidak suka kalau ada salah satu dari kami yang tidak fokus saat pelajaran beliau. Perlu sekitar enam detik untuk menyiapkan seisi kelas sebelum Mr. Chuck memulai ceramah tentang presentperfect tense.

Clary Summer adalah tipikal anak perempuan yang suka menunjukkan kemampuannya di bidang yang dia sukai. Dia menjawab nyaris semua pertanyaan yang dilontarkan Mr. Chuck ke kami, bahkan sebelum kami sempat memikirkan jawabannya. Untung saja dia masih bisa mengerem nafsunya. Dia mengalah sesekali, dia bahkan memberiku kesempatan untuk mendapat nilai plus di daftar nilaiku.

“Baiklah, anak-anak, ada yang tahu bentuk present-perfect interrogative  dari ‘Leo pergi ke Alysum.’”

Oke, Leo adalah nama anak di kelas kami dan dia adalah teman dekatku. Dia terkenal hiperaktif. Kemarin siang dia membuat kegaduhan kecil dengan mencampurkan saus tomat, saus sambal, dan mayones ke sup jagung Selena Friday sehingga anak perempuan pirang itu menangis dan tangisannya tidak bisa dikategorikan pelan.

Have Leo went to Alysum?” bisik Clary di telingaku.

Have Leo went to Alysum?” aku mengulangi.

“Bagus sekali, Mr. Lee!” Mr. Chuck berseru senang dan tertawa-tawa ketika menuliskan sesuatu di absensi. Berani bertaruh, Leo pasti sedang mengumpat padaku dari bangkunya sementara anak-anak lain dibuat tertawa lagi. Aku memandang Clary tak percaya. Dia baru saja menconteki teman sebangku yang baru saja dikenalnya? Anak ini baik banget, sih.

Ketika bel istirahat berdering, Clary lantas berdiri. Dia berjalan hendak menyusul teman-temannya, namun pada langkah ke-empat dia berhenti. Clary memalingkan badannya. Surainya berayun mengikuti gerakannya.

“Kamu ada kelas habis ini?”

Aku ragu ia berbicara padaku atau pada Dean yang duduk di belakangku. Tetapi suara dengkuran yang kuduga berasal dari bangku belakang membuatku yakin bahwa cewek ini memang bertanya padaku.

Err, ada. Bahasa Perancis dan Matematika.”

Aku tidak menebak kalau Clary Summer bakal mengurungkan niatnya makan siang bersama teman-temannya dan justru mendatangiku dengan kedua mata yang berbinar.

“Kamu bisa bahasa Perancis?” tanyanya dengan nada antusias. Tanpa dia sadari, wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Aku bahkan bisa merasa wangi leci campur stroberi darinya.

“Sedikit,” jawabku. Kumundurkan wajahku dan ia tersadarkan. Clary ikut memundurkan wajahnya dan hawa canggung mulai mengelilingi kami.

“Clary, kau mau melewatkan sandwich isi chicken katsu dan susu leci?”

“Aku mau diet hari ini, Nat.”

Sulit kupercaya, Clary Summer rela melewatkan makan siangnya demi mendengarkan ceritaku soal kelas Bahasa Perancis. Dia menarik tanganku dan menyeretku ke taman belakang. Kami berdua menghabiskan tigapuluh menit hanya untuk berbincang. Clary Summer sampai tidak makan siang dan aku, Jason Lee, untuk yang pertama kalinya tidak ikut main Nintendo bersama teman-temanku.

.

.

Aku tak banyak berbicara. Sungguh, aku tipe orang yang melakukan penghematan suara. Bukan karena suaraku jelek kayak kambing gunung. Tapi, yah, karena faktor malas saja, sih. Lagipula aku juga bukan tipe yang suka berceloteh panjang lebar mengenai kejadian-kejadian di hidupku.

Clary adalah kebalikan dari diriku.

Kami baru menjadi—well—teman sebangku sekitar tiga hari. Tapi dia selalu mengoceh tentang banyak hal ketika Mr. George memberi kami waktu santai. Dan berkat contekan dari Clary waktu santaiku bertambah.

Pagi ini Clary bercerita tentang ibunya yang tertawa sampai terbahak-bahak ketika mengetahui nilai Matematika Clary sejelek pantat babi. Kupikir sah-sah saja nilai 35 pada materi perpangkatan disamakan dengan pantat babi.

“’Oh apa kau benar-benar putriku?’, ‘Astaga sudah kuduga ini, Clarion Margareth Summer’, ‘Kamu memang payah sekali, hahahaha’, dan sebagangsanya yang membuatku menguap,” celoteh Clary sambil menggambar sesuatu di bagian belakang buku tulisnya.

Astaga, kalau ibuku pasti bakal menyita semua kaset video game-ku.

Aku melirik ke gambaran di belakang buku Clary. Sebuah sketsa kasar yang amatir, namun terbilang bagus untuk ukuran anak kelas 5 SD. Clary menggambar seorang gadis dengan rambut dikepang dua dan sepasang sayap bak kupu-kupu di belakangnya. Gaunnya penuh pita dan kuyakin Clary menggambarnya dengan sangat detail, bahkan sampai ke lekuk-lekuk di kainnya.

Aku memberanikan diri untuk menoleh, memandang wajah Clary yang tertunduk. “Kamu bisa menggambar, ya?” setelah kuingat-ingat, ini adalah yang pertama kalinya aku menanyai Clary duluan.

Clary mengangguk semangat. “Iya, lumayan.”

Clary Summer biasanya terlihat bersemangat, penuh antusias, tak terduga, dan kata ‘riang’ rasanya masih kurang untuk mengekspresikan dirinya. Tapi saat dia sedang menekuni coretan-coretan tak bermakna di permukaan kertas putih buku tulisnya, dia terlihat berbeda.

Dia terlihat seperti anak perempuan yang tenang, pendiam, dan misterius.

Menit-menit terakhir di pelajaran Mr. George kuhabiskan dengan memandangi Clary yang menggores-goreskan pensil membentuk sketsa kasar amatir. Bersama pikiran-pikiran tak jelas yang wara-wiri di kepalaku.

Mom mengajarkan kepadaku bahwa ada 4 musim di dunia ini. Musim semi adalah musim di mana bunga-bunga bermekaran. Namun, Mom, kupikir di musim panas-ku yang ke-sepuluh ini ada bunga yang mekar dengan indahnya.

.

.

Waktu terus berputar hingga pertemuan keduaku dengan Clary Summer di hari pertama kami sebagai siswa SMA. Waktu itu aku sama sekali tidak menyangka kalau kami akan bertemu lagi setelah tiga tahun kami berpisah di hari kelulusan SD. Aku pikir semua ingatanku tentangnya sudah habis terkikis waktu. Tapi kenyataan menyanggah pikiranku.

Aku sudah mendengar namanya pagi hari saat aku berjalan di koridor—mencari kelasku tentunya.

“Kau tahu Clary Summer? Dia masuk SMA St. Abigail dengan prestasi melukisnya, bung!”

“Aku pernah datang ke pameran lukisan pribadinya. Oh, dia jago banget padahal waktu itu dia masih empatbelas tahun.”

“Dia juga cantik, lihat rambut cokelatnya yang terlihat seperti benang sutera itu.”

Begitulah bisik-bisik dari segerombol anak cowok yang berjalan di belakangku. Untung mereka tidak melihat saat aku mengernyitkan alis keheranan—yang kuyakin aku bakal terlihat seperti orang yang mencium bau-bau aneh. Meskipun kenyataannya iya, aku agak terganggu dengan bau badan Charlie—cowok yang barusan memuji Clary cantik—bau badannya seperti bawang busuk.

“Hei, kamu Jason Lee?”

Aku membalikkan badanku. Charlie yang barusan kumaksud, menegurku dan menyebabkan obrolan teman-temannya soal Clary Summer terhenti. Empat cowok itu memandangiku seperti sedang meneliti dan aku balas menatap mereka heran. Aku berusaha menghilangkan spekulasi kalau Charlie bisa membaca pikiranku dan berniat menjadikanku kacang rebus.

“Iya, aku Jason Lee.”

Whoa, kau yang mendapat peringkat satu di ujian masuk sekolah!” Eric, salah satu dari mereka yang memakai topi Yankees menepuk bahuku. Kuapresiasi dengan senyum tipis. “Trims, bro.”

“Apa kau mau ke kelas Sastra Inggris?” tanya si rambut pirang dan hidung besar, Calvin. Aku mengangguk sambil membenarkan kacamataku yang melorot. Lalu Ed si cebol merangkulku sambil mengatakan: “Kebetulan! Ayo bareng kami!”

Aku tidak bisa melakukan apa-apa karena Eric sudah menarik tanganku lebih dulu, disusul ketiga kawannya yang tertawa-tawa. “Kita berhasil membawa anak terpintar di St. Abigail, bung!” ucapnya nyaring dan separuh anak di koridor mengalihkan perhatiannya ke kami.

“Oh, ya, kamu adalah teman kami sekarang!”

“Selamat datang di kelompok kami, anak jenius!”

Aku nggak mendengar Charlie dan Eric, pun tawa Calvin yang membahana. Soalnya aku terlalu fokus pada anak perempuan dengan rambut cokelat panjang yang dikuncir asal. Dia memakai kemeja flanel berwarna merah kotak-kotak selutut yang tidak dikancing dan kaus hitam bertuliskan ‘PANIC! AT THE DISCO’, serta celana pendek dan sepatu converse hitam.

Dia berdiri tepat di depan kelas Sastra Inggris dengan sekaleng Coke Diet. Langkah Eric terhenti, begitu pula dengan Charlie, Calvin, dan Ed. Dan aku juga. Kami berlima mematung sekitar lima meter dari si cewek.

Cewek itu menoleh. Dan detik ketika aku beradu pandang dengan iris cokelatnya yang gelap namun hangat, aku merasa deja vu. Bayang-bayang akan seorang anak perempuan kecil berusia sepuluh tahun dengan surai hitam memenuhi kepalaku.

Rasanya aku sakit kepala.

“Astaga, bung,” bisik Charlie. “Itu Clary Summer.”

.

.

Kesan pertama yang kupikirkan saat melihat wujud Clary Summer yang berusia enambelas tahun adalah:

  1. Kenapa rambutnya berwarna cokelat dan bukan hitam legam?
  2. Kenapa kulitnya makin putih?

Dan dua pertanyaan itu rasanya lebih mengusik pikiranku ketimbang dua soal essai dari Mrs. Anne, guru Bahasa Inggris kami yang separuh Perancis. Aku duduk di samping Eric, dan di depanku ada Ed, Charlie, juga Calvin yang asyik mengopi jawabanku. Sementara itu aku terus mencuri pandang ke sayap kanan kelas.

Tepatnya tiga meja dari tempatku, ada Clary Summer yang sedang mencoret-coret tidak jelas di lembar belakang bindernya. Dari situ aku yakin kalau dia adalah Clary Summer yang menjadi teman sebangkuku di Sekolah Dasar.

Tadinya aku sempat meragukannya karena kupikir dia Clary Summer yang lain. Namun setelah cerita Ed (“Clary Summer itu pernah sekolah di SD St. Timothy, bukan?”) dan melihat tabiatnya di kelas, keraguanku sirna.

Iya, dia masih penuh semangat ketika Mrs. Anne menjelaskan. Masih yang tercepat dalam menjawab pertanyaan, masih dermawan membagi pemikirannya pada teman di samping. Dan, masih gemar mengores sketsanya pada lembar terakhir buku.

“Clary memang cantik, ya,” bisik Eric membuatku terlonjak kaget. “A-apa?” tanyaku gugup.

Eric tertawa kecil, matanya menyipit. Dia mendorong hidungku dengan jari-jarinya. “Ayolah, jangan berpikir aku tidak tahu tatapan orang yang terpesona, anak jenius.” Dia mengganti tawanya dengan seulas senyum tipis.

“Aku nggak terpesona,” elakku.

“KAU terpesona sama kecantikan dan bakatnya. Ayolah, cowok mana yang nggak luluh sama cewek cantik dengan talenta besar, hm?”

Kurasakan suhu yang tinggi di kedua pipiku.

“Bagaimana denganmu?” tanyaku balik. Eric mengangkat alisnya, lantas melepaskan bolpoin biru dari genggamannya. “Aku? Aku kagum pada Clary, dia cantik dan begitu berbakat di usia muda. Bahkan tahun lalu Walikota menganugerahinya piagam khusus.”

Oh, yang benar saja. Kenapa aku nggak tahu hal itu?

“Saat remaja-remaja seusia kita populer karena tampang, Clary justru populer karena prestasi. Luar biasa, ‘kan?” Eric menelengkan kepalanya ke arahku. Aku mengerjap mencerna kalimatnya. Kemudian membenarkan omongannya.

“Tapi, Jase, tenang saja. Aku nggak bakal merebutnya darimu, kok.” Buru-buru Eric mengibaskan tangannya ke depan wajahku. Alisku mengernyit lagi. Baru saja mau kutanyakan apa maksud Eric, cowok itu langsung mengatakan kalimat yang membuat rahangku mau copot.

“Soalnya aku gay, hehehe.”

.

.

Clary sama sekali tidak menegurku. Sama sekali tidak. Bahkan melirikku pun tidak. Aku berasumsi kalau dia sudah melupakanku. Hei, sakit ya. Tapi aku juga tidak berani untuk menegurnya lebih dulu. Mungkin kalian bakal meneriakiku dengan hujatan “Kamu, kan, cowok!” tapi aku sudah kebal.

Kami bertemu lagi hari berikutnya di kelas Ekonomi. Kupikir aku nggak bakal ketemu dia saat Mr. Neil memasuki kelas dan memulai ceramah yang dikutip dari buku tebalnya—yang menimbulkan suara berdebum setiap beliau meletakkannya di permukaan meja.

Tapi saat kepalaku sudah pusing dan nyaris dipenuhi dengan problematik Ekonomi yang melanda dunia, Clary datang menyeruak dari balik pintu.

“Maaf aku telat!” teriakannya memotong dongeng (bukannya tadi ceramah?) Mr. Neil. Seisi kelas memperhatikannya. Nafasnya memburu di ambang pintu. Rambut cokelatnya tampak berantakan meski sudah dikuncir. Sweatshirt hijau pastel yang dikenakannya tampak kusut.

Mr. Neil tampak membuat raut marah pada siswi yang mengganggu acara mengajarnya. Namun beliau menghela napas dan berdeham. “Clarion Margareth Summer, beri aku satu alasan logis untuk tidak menyuruhmu berdiri di lorong dengan dua ember.”

“Ban mobilku kempes di tengah jalan dan anda pasti tahu kelanjutannya.”

Aku berdecak kagum atas keberaniannya.

“Baik, silakan ambil tempat yang kosong.”

Lalu aku menyadari kalau satu-satunya bangku yang kosong di kelas adalah di samping kananku. Aku mengerjap tatkala Clary membuat haluan ke arahku. Bisa kurasakan Charlie dan Ed memandangiku envy.

Clary duduk di sampingku, ia mengeluarkan binder dari ransel Nike hitamnya dan menyimak Mr. Neil sedangkan aku hampir dibuat tak bisa bernafas dengan harum permen stroberi-nya.

“Hei kamu,” kurasakan ada yang menepuk-nepuk bahuku.

Clary.

“Aku lupa bawa pulpen. Bisa pinjam nggak?”

Dia dengan kedua matanya yang membentuk bulan sabit. Meminjam pulpen padaku dengan senyumnya yang kelewat lebar. Kurogoh tempat pensilku dan meraih bolpoin hitam dari sana, lantas menyerahkannya ke Clary yang langsung menyambut. “Trims,” ucapnya.

Aku menggumam kecil untuk balasan. Kemudian kembali memusatkan perhatian ke Mr. Neil. Sebelum khayalanku membenarkan asumsi bahwa Clary benar-benar melupakanku. Buktinya dia memanggilku dengan ‘hei kamu’ dan bukan ‘hei kamu jason lee yang sebangku denganku di kelas lima’.

“Oi, Jase, pulpennya macet nih.”

Oh, apa Eric berpura-pura menirukan suara Clary dan komplain soal bolpoin macet? Aku menengok ke arahnya tapi anak itu sibuk dengan Calvin—menertawai janggut Mr. Neil, kupikir. Lalu aku menengok ke kanan dan mendapati Clary dengan wajah datarnya.

Yang membuatku kaget bukan fakta bahwa bolpoin yang kupinjamkan ternyata kurang bagus, justru salah satu kata yang meluncur dari bibir Clary-lah yang membuatku kena serangan jantung ringan.

“Jase, aku nggak mau dapat nilai rendah di pelajaran Ekonomi hanya gara-gara pulpenmu, tahu.”

Aku hanya tertawa sambil menukarkan bolpoin yang dipakainya denganku. “Yasudah, nanti aku lihat catatanmu saja,” ujarku. Clary merengut memandangku tajam namun sedetik kemudian ia kembali memajang senyum. “Asal kau mau membantuku mengerjakan tugas Sains.”

Clary bahkan masih ingat kalau aku menggemari pelajaran Sains—pengaruh Mom, beliau pengajar Sains di salah satu SMP swasta di New York.

“Omong-omong,” kataku. Clary mengangkat kepala. “Kenapa rambutmu jadi kayak habis disiram Milo?”

Clary memutar bola matanya. “Aku mengecatnya tahu. Orang-orang bilang aku mirip cewek Asia kalau rambutku hitam.”

“Teman-temanmu … rasis?”

“Hanya karena mereka bilang aku mirip orang Asia bukan berarti, Jase. Lalu kupikir warna cokelat cocok juga untukku. Jadi yah, begitulah.”

Clary kembali menekuri catatannya. Aku memutar-mutar bolpoin dan menggores-goreskan ujungnya ke permukaan kertas.

“Tapi ibuku memang keturunan Jepang,” lanjutnya.

“Itu cukup menjelaskan kenapa kulitmu putih banget kayak nggak pernah keluar rumah.”

“Kamu orang ke-seribu lima ratus enam puluh tujuh yang bilang begitu.”

Dan itu adalah kali pertama aku mengobrol panjang dengan Clary Summer di SMA. Hari-hari berikutnya, obrolan kami kembali berlangsung. Clary adalah salah satu cewek populer di St. Abigail. Dan sering melakukan percakapan akrab dengannya membuat namaku jadi melambung.

Charlie, Ed, Eric, dan Calvin bahkan jadi tahu kalau aku sempat satu SD dengan Clary. Mereka merangkulku erat-erat dan menyumpalkan kentang goreng sambil berkata ‘beruntung benar kau dasar bedebah!’ semacamnya.

Sementara Clary hanya tertawa-tawa, mengabadikan momentum tersebut dan meng-upload-nya ke SnapChat.

Clary Summer tidak berubah. Dan aku menyenanginya.

.

.

Waktu terus berputar sampai musim panas di tahun terakhir kami di SMA. Aku masih berteman akrab dengan Clary, juga Charlie dan kawan-kawannya yang lain. Clary memperkenalkan kami ke teman-teman populernya dan mereka cukup baik pada kami. Sesekali kami ikut mereka jalan-jalan di hari Minggu. Entah ke taman bermain atau sekedar di kafe pinggir jalan.

Kehidupan SMA-ku menyenangkan dan Clary adalah—sahabatku yang paling berharga.

Kupikir begitu.

Sampai saat Peter—teman akrabku dari SMP, menyatakan cinta pada Clary. Aku merasa begitu berat. Ganjalan terbentuk di tenggorokanku saat Clary menemui-ku di kedai es krim dan bilang kalau Peter baru saja menembaknya.

“Lalu kamu terima, nggak?”

“Nggak. Kamu tahu sendiri, kan, aku sedang nggak mau pacaran.”

Sedikit—ganjalan itu menghilang. Namun aku masih resah.

Clary mengangkat sendok berisi es krim Oreo-nya ke hadapanku. “Coba, Jase, ini enak,” katanya. Dan aku menerima suapan itu dengan debuman kencang di jantung. Darahku serasa terpompa naik ke pipi dan kuharap Clary tidak menyadarinya.

“Enak nggak?”

“Iya, enak.”

Kami berdua sibuk dengan dunia masing-masing setelahnya. Kami biarkan hening menyambangi selama sekitar lima menit. Clary mengaduk-ngaduk es krimnya dengan pandangan kosong. Sedangkan aku menikmati program spesial musim panas yang ditayangkan di televisi.

Lalu Clary memecah keheningan itu dengan suaranya. “Jase, aku mau ngomong.”

“Ya silahkan.”

“Nggak di sini.”

Aku menoleh, Clary masih menunduk. Memandangi mangkuk es krimnya yang tahu-tahu sudah kosong.

“Battery Park?”

Lalu Clary berdiri dan meraih tas tangannya.

Kami berdua terus berjalan ke Battery Park yang letaknya tidak begitu jauh. Sepanjang jalan ia tak meluncurkan satu kata pun dari bibirnya. Dan yah—bolehkan kukatakan perasaanku tidak enak?

Kami berhenti di dekat kursi panjang yang letaknya agak terkebelakang. Nyaris tak ada orang di sana kecuali kami berdua.

“Kamu mau ngomong apa?” tanyaku memulai percakapan. Clary meniup poninya sebelum memajang senyum khasnya—yang kepalang lebar dan membuat matanya seperti sabit.

“Jase,” ia memulai. “Aku benar-benar bersyukur punya sahabat sepertimu.”

Aku mengerjap.

“Mungkin kamu berpikir ‘apa yang kulakukan sampai Clary menganggapku sahabat’. Tapi Jase, ada alasan kenapa aku menganggapmu sahabat—dan bukan lebih.”

Ganjalan tidak hanya terbentuk di tenggorokanku,. namun juga di dadaku.

“Jase, aku suka kamu.”

Clary memotong jarak di antara kami sehingga hidung kami nyaris bersapa. Sekarang aku bisa melihat pantulan diriku dengan jelas di matanya. Matanya yang hangat, persis musim panas. Dan warna kecokelatan di dalamnya persis musim gugur. Kulit wajahnya seputih salju. Dan pipinya merona bak musim semi.

Namun sikapnya yang ceria dan apa adanya membuatku yakin dengan musim panas sebagai personifikasi dari Clary. Ditambah nama belakangnya.

Dan Clary Summer, si gadis musim panas, baru saja mengatakan bahwa dia menyukaiku.

Aku berdoa semoga ini bukan pengaruh karena aku kepanasan.

“Tapi,” dia menarik dirinya kembali. Perasaanku semakin tidak enak.

“Jase, aku akan pindah ke London setelah lulus nanti. Ayahku pindah dinas ke sana. Dan aku juga sudah menerima beasiswa di salah satu universitas kesenian di sana”

Langit musim panas seketika terasa runtuh di atas kepalaku.

.

.

Waktu terus berputar.

Tanpa henti, tanpa ampun.

Meninggalkan mereka yang lalai, melaju bersama mereka yang berhasil.

Aku berdiri memandangi bangunan bergaya retro di depanku. Dindingnya terbuat dari batu bata dengan etalase besar di depannya yang menampilkan beberapa lukisan yang bernilai estetik. Kuhela napas. Aku jauh-jauh terbang ke London hanya untuk datang ke tempat ini. Untuk mengakhirku hari-hari hampaku kota tempat pertemuanku dengannya.

Kudorong pintu kayu bercat putih dan pemandangan pertama yang kulihat adalah sosok perempuan dengan surai sebahu yang pirang. Apa lagi yang ia lakukan dengan rambutnya, pikirku. Perempuan itu mengenakan sweater kecokelatan dan celana pendek. Celemek bernoda warna-warni memeluk tubuhnya. Di hadapannya, sebuah lukisan bunga baby breath  di ladang rumput.

“Clary Summer.”

Dia menoleh. Kami biarkan sekon persekon terbuang dengan acara adu pandang dari kami. Udara musim panas London masuk melalui jendela besar yang dibiarkan terbuka. Menambah nilai ketika aku menyelami manik cokelat Clary Summer.

Dia mengulas senyum tipis. Membuat waktu serasa berjalan lambat, nyaris berhenti untuk kami berdua. Tetapi selamanya, waktu terus berputar.

Advertisements

One thought on “[IRIDESCEMBER] #Track3 – Summer in Your Eyes

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s