[IRIDESCEMBER] #Track4 – Riddance

Riddance cover

TRACK #4 OF IRIDESCEMBER : RIDDANCE

R I D D A N C E

by Iamayounglady
2500+ wordcount about  romance, school life, sad  for teen

Penuh intrik dan aksi dalam kisah si berandal. Siapa sangka kalau mereka akhirnya mendapat konflik dalam cinta?”

***

Jeon Jungkook, murid pindahan dari SMA Industrial Seogwipo, Jeju. Terkenal sebagai salah satu sekolah dengan tingkat kekerasan yang cukup tinggi. Dengan membawa titel bekas murid SMA berandalan, Jungkook mendapat beasiswa di SMA Jeonghan di Seoul. SMA elit berisi anak-anak orang kaya atau anak berotak cemerlang.

Hari pertamanya, cukup buruk. Hampir semua orang membicarakannya. Tentang latar belakangnya yang tidak jelas, atau bekas sekolahnya yang katanya pernah terjadi kekerasan yang mengakibatkan kematian. Tidak ada yang senang akan keberadaannya disini.

“Hey, anak baru. Kudengar kau pandai berkelahi. Mau bermain-main sebentar?”

Jungkook diam. Dia tak tahu bagaimana harus bereaksi. Dia tidak bisa berkelahi, sama sekali. Jungkook tidak ingin ditindas lagi. Tapi, ia juga tak bisa melawan. Tangannya mengepal kuat, nyaris membuat buku-buku jarinya memutih.

“Kenapa? Kau tidak bisa mengangkat tinjumu? Oh, jangan-jangan kau dulunya pesuruh di SMA Seogwipo? Ohohoh, rasanya kami mendapat mainan baru. Taehyung, Seokjin, pegang dia,” Jimin melemaskan tangannya, sementara kedua temannya masing-masing memegangi lengan kanan dan kiri Jungkook.

“T.. Tunggu. Maaf. A.. Aku.”

BUGH.

BUGH.

“Kau terlalu banyak bicara.” Jimin memukul Jungkook tanpa ampun. Menanamkan rasa takut pada  pesuruh barunya.

BUGH.

“Jangan menancapkan cakar kalian terlalu dalam pada murid sekolah ini, Park Jimin.”

Seorang gadis dengan lencana di lengannya membuat Park Jimin tersungkur dengan sekali pukulan. Jimin menatap sengit gadis itu. Lalu, pandangannya melunak.

“Kim Yuna, ingin mengunjungiku?” Jimin menunjukkan cengirannya.

“Apa yang kau lakukan merupakan pelanggaran tingkat ketiga. Dan ini, peringatan kedua dalam minggu ini. Sekali lagi kau ketahuan melakukannya, maka sebagai anggota dewan murid aku memiliki wewenang untuk memberikan detensi. Jadi, jangan membuatku harus repot memberikan hukuman pada kalian.” Yuna menuliskan sesuatu di atas papan yang ia bawa.

“Kau.” Jimin maju dan berniat menyerang Yuna, namun dengan sigap Yuna berhasil melancarkan serangan lebih dulu.

“Jika kau ingin bermain-main denganku, maka pastikan teman temanmu menyiapkan kotak PPPK, Jimin. Kau tahu aturan mainnya.” –Yuna melihat jam tangannya sekilas– “Bel akan berbunyi sepuluh menit lagi. Jadi, lebih baik kalian semua kembali ke kelas. Termasuk kau, Jeon Jungkook. Kau bisa ijin ke UKS di tengah pelajaran nanti.” Jungkook sedikit terkejut, gadis ini mengetahui namanya.

Jimin menyeka hidungnya yang berdarah lalu pergi bersama Taehyung dan Seokjin.

“Em.. Kim Yuna, terima kasih.” Jungkook membungkuk.

“Hanya melakukan tugasku. Kembali ke kelasmu sekarang.” Yuna meninggalkan Jungkook begitu saja.

***

Dia gila. Dirinya sendiri berpikir seperti itu. Jeon Jungkook pasti sudah sinting karena tetap diam di gerbang sekolah, menunggu gadis penyelamatnya. Setelah seperempat jam menunggu, Kim Yuna terlihat keluar dari gedung utama. Berjalan sendirian dengan ponsel di tangannya. Jungkook ragu. Apakah dia sungguh-sungguh akan melakukan ini?

“Kim Yuna.” Dengan segara keberanian, Jungkook memanggil gadis itu.

Yuna mengalihkan pandangannya, “ada apa?” Jungkook berlari kecil mendekatinya.

“Eh, aku.. aku..”

“Cepat, aku tak punya waktu. Jika tidak ada hal penting yang ingin kau katakan, maka aku akan pergi.” Yuna baru akan melangkah kembali saat Jungkook mencekal tangannya.

“Aku ingin.. Kau mengajariku berkelahi.” Jungkook membungkuk.

“Eh. Apa?”

“Aku ingin kau mengajariku berkelahi. Paling tidak agar aku bisa membela diriku sendiri.” Ulang Jungkook.

“Konyol. Maaf, tapi aku tidak akan mengajarimu.” Yuna pergi begitu saja.

Jungkook berjalan cepat dan menghalangi jalan Yuna, “kumohon.”

“Tidak. Pulanglah.”

***

Jungkook terus memikirkan cara agar Yuna mau mengajarinya bela diri. Ia terus teringat bagaimana gadis itu menghajar Jimin kemarin. Rencananya, hari ini ia akan kembali memohon.

BRAK.

Meja Jungkook digebrak. Ia mendongak. Jimin dan gerombolannya menunjukkan seringaian mengancam.

“Istirahat pertama, belikan dua roti sandwich, satu roti melon, dua cola, dan satu susu kocok. Lalu bawakan ke belakang sekolah. Mengerti?” Jimin menarik kerah Jungkook lalu pergi.

Jungkook sadar, peringatan Yuna kemarin tidak cukup untuk membuat gerombolan Park Jimin tidak mengganggunya. Mau tak mau, Jungkook harus menurut. Memar di perutnya kemarin sudah cukup menyakitkan. Meskipun pukulan Jimin belum ada apa-apanya jika dibandingkan ‘teman-temannya’ di Seogwipo dulu. Tapi, siapa yang sukarela untuk dipukuli?

Jungkook menyodorkan sekantong plastik yang langsung dirampas Jimin dengan kasar. Laki-laki itu berdiri dan menarik kerah Jungkook, “apa kau tuli hah? Aku bilang susu kocok, bukan yoghurt,” Jimin menarik Jungkook lalu menendangnya sampai membentur tembok.

“Jangan terlalu keras Jimin, bila Yuna memergokimu, kau akan habis di tangannya. Mungkin tidak, pastinya Kim Yuna akan sedikit lembut padamu,” Taehyung melahap roti melonnya sambil melihat Jimin memberikan pelajaran pada Jeon Jungkook.

“Dewan sekolah sedang ada rapat hari ini. Jadi tidak akan ada yang menyelamatkan berandal kecil ini.” Jimin menjambak rambut Jungkook, melihat memar-memar yang ia sebabkan. Bibirnya membentuk seringaian. Ia puas.

“Kurasa cukup untuk hari ini. Jika sampai ia pingsan, maka dia tidak akan berguna lagi,” kata Seokjin.

“Kau benar.” Jimin melepaskan Jungkook lalu pergi meninggalkannya.

Jungkook meringkuk di sudut dinding. Sekujur tubuhnya sakit sekali. Sepertinya Jimin tidak menahan kekuatannya tadi.

“Jadi, kau benar-benar seorang pecundang yang payah dan tidak berguna.” Kata Kim Yuna yang muncul entah dari mana.

“Hahaha, kau melihatnya?” Jungkook tertawa hambar.

“Sebagian kecil. Aku baru saja selesai rapat. Bagaimana dengan UKS?” Jungkook mengangguk lemah.

Yuna mengompres lebam lebam di wajah Jungkook, lalu memberi plester di bagian yang lecet. Banyak sekali bekas luka, batin Yuna.

“Tidak perlu melihatku seperti itu. Aku sudah biasa menerimanya. Jangan terlalu mengasihaniku.”

“Jadi, kau benar-benar seorang yang payah. Hhh, baiklah. Aku tak bisa setiap hari menyelamatkanmu. Aku akan mengajarimu bela diri.” –Jungkook berbinar – “Tapi, jika sekali saja aku melihatmu menindas orang lain, maka kau akan habis di tanganku. Mengerti?”

“Aku mengerti. Terima kasih, Kim Yuna.”

“Ada satu hal lagi.”

“Apa?”

“Jangan sampai kau jatuh cinta padaku, Jeon Jungkook.”

***

Latihan pertamanya, Yuna mengiriminya pesan singkat jika ia harus menunggunya di ruang olah raga saat pulang sekolah. Entah darimana gadis itu bisa mendapatkan nomor telponnya. Beberapa menit kemudian, Yuna datang dengan seragam olahraganya.

“Aku harus mengukur kemampuanmu untuk memastikan latihan seperti apa yang akan kau jalani. Pukul samsak ini sekuat yang kau bisa. Mengerti?” Yuna naik ke atas ring tinju dan menunjukkan samsak di tengah ring.

Jungkook memukul samsak itu sekeras mungkin. Tapi, benda itu hanya bergoyang sedikit.

Yuna menghela napas, “kau sebut itu pukulan? Sekarang tendang. Tendangan tinggi, rendah, apapun tak masalah.”

Tendangan Jungkook lebih tak bertenaga lagi. Yuna mengusap wajahnya perlahan. Ia maju dan meninju samsak itu. Benda itu berayun keras.

“Apa kau memiliki riwayat penyakit? Asma misalnya?” Jungkook menggeleng.

“Baiklah. Latihan pertamamu, lari. Meskipun ini lapangan indoor, tapi tidak kalah luas dengan lapangan di luar. Mulai dengan enam kali putaran dan jangan berhenti bahkan untuk bernapas. Mengerti? Apa lagi yang kau tunggu?”

Jungkook mulai berlari mengelilingi salah satu lapangan di gedung olahraga. Dua putaran tidak menjadi masalah, ia mulai sedikit terengah-engah di putaran ketiga dan keempat. Dan awal putaran kelima, kaki dan dadanya terbakar. Napasnya tak beraturan. Jungkook nyaris berhenti saat Yuna berteriak dari atas ring tinju, “kau sudah menyerah? Kalau begitu lebih baik kau pulang dan tetaplah menjadi pecundang tak berharga yang tak pernah melawan.” Jungkook memaksa kakinya terus bergerak. Meskipun rasanya sakit sekali, ia terus berlari.

“Biarkan otot-ototmu terbakar. Meskipun mereka akan patah, jangan sekali-sekali berpikir untuk berhenti. Bukankah kau tahan dipukuli? Kenapa kau tak bisa menahan sakit itu sebentar saja? Hanya enam putaran dan kau sudah kelelahan.” Yuna terus berteriak. Entah untuk mematahkan semangat, atau memberi motivasi.

Jungkook terus berlari. Lebih kencang. Meskipun kaki-kakinya seolah tak akan bisa digerakan lagi, atau dadanya yang seperti akan meledak. Lalu, sampai pada titik dimana itu benar-benar menjadi batasnya. Jungkook jatuh tersungkur.

Yuna berjalan mendekatinya, “kau tahu berapa putaran kau lari?” –Yuna tersenyum tipis – “Sembilan putaran. Dan kau bahkan tak mengeluh. Lemaskan kakimu. Aku memuji semangatmu. Tapi, kau harus berusaha untuk menaikkan staminamu yang lemah itu.” Yuna memberi sedikit pijatan.

“Besok, kaki-kaki ini akan sulit digerakan, mungkin juga lututmu akan terasa nyeri. Tapi, kau harus tetap berusaha. Larilah satu jam setiap paginya. Buat kaki-kaki lembekmu itu terbiasa. Dan nanti sampai dirumah, rendam kakimu dengan air hangat. Hari ini cukup. Aku ada sedikit urusan. Semoga harimu menyenangkan.” Yuna mengambil tasnya lalu pergi.

***

Jungkook terus berlari, seperti kemarin. Hari ini, latihannya masih sama. Entah karena Yuna yang sedikit malas mengajarinya, atau memang berlari merupakan tiket awal bagi Jungkook.

“Oh, kau berkembang sangat cepat. Larimu itu boleh juga.” Puji Yuna.

“Te.. rima.. kasih.” Jungkook terengah-engah. Pagi ini kakinya sakit sekali setelah bangun tidur, terutama lututnya. Persis seperti yang dikatakan Yuna. Namun, ia tetap bersemangat untuk latihan. Dia tidak bisa membiarkan gadis itu membantunya lagi.

“Oke cukup. Istirahatkan kakimu, waktunya tanganmu yang bekerja. Sayang sekali aku lupa membawa barbel. Kita bisa saja meminjam barbel-barbel milik sekolah, namun aku tak tahu apakah klub angkat besi mengijinkan. Jadi sekarang, mendekatlah ke tembok. Ayo.”

Jungkook menurut seperti anak anjing yang mengikuti setiap perkataan majikannya.

“Yang harus kau lakukan adalah, handstand. Aku tak tahu apakah latihan ini efektif untukmu. Sebenarnya, aku sendiri tidak yakin bisa membuatmu sedikit lebih kuat. Tapi, ada gunanya dicoba.”

Jungkook gagal dalam percobaan pertama. Yuna maju untuk membantunya, “lemparkan kakimu ke atas.” Yuna menangkap kedua kaki Jungkook lalu menekannya ke dinding dan melepasnya perlahan. “Tahan. Selama yang kau bisa. Biarkan terbakar. Mengerti?”

“Y… ya.” Sayangnya, hanya lima detik, Jungkook sudah menjatuhkan tubuhnya.

“Sepertinya sulit. Aku sendiri tak begitu menyukai jenis senam lantai seperti ini. Bagaimana dengan sit up atau push up? Apapun itu. Tapi, lakukan saja dirumah. Usahakan kekuatan otot-otot tangan dan kakimu bertambah. Ah, aku tahu. Masuk ke ring sekarang juga.”

“Ap.. apa?”

“Kau tidak mendengarku? Masuk ke ring.”

Yuna membantu Jungkook memakai sarung tinju dan pelindung kepala sebelum memakai sarung tinjunya sendiri.

“Pengalaman adalah guru terbaik, benar?” Kata Yuna sambil menunjukkan cengirannya.

“T… tunggu dulu.” Jungkook menutup matanya saat melihat Yuna akan meninjunya. Tapi hanya angin yang ia rasakan pada wajahnya. Yuna langsung menghentikan tinjunya beberapa senti dari wajah Jungkook.

“Peraturan pertama, selalu buka matamu. Memang mengerikan saat melihat pukulan mengarah ke wajahmu. Tapi, bagaimana kau akan melihat lawanmu kalau matamu terpejam? Awasi terus lawanmu. Jangan biarkan matamu tertutup barang sekejab. Kita coba lagi. Aku tidak akan memukulmu, tenang saja. Tapi tetap buka matamu. Mengerti?” Jungkook mengangguk.

Mereka mencoba lagi dan lagi. Dan Jungkook, terus menutup matanya. Dia takut. Pukulan itu lebih terasa menakutkan saat dilihat daripada dilakukan.

“Kurasa ini akan sulit. Kau bahkan tak pernah membuka matamu. Astaga. Aku tak akan bisa melatihmu kalau kau bahkan tak mau berusaha. Satu-satunya orang yang paling menganggapmu lemah adalah dirimu sendiri. Lawan rasa takutmu, nak.” Yuna memukul Jungkook tepat di hidungnya. Ia tak menghentikan tinjunya.

“Aw.” Jungkook memegangi hidungnya yang terasa perih. Berdarah.

“Aku sedikit menahan diri, jadi hidungmu tidak akan patah. Kabar baiknya, kau membuka matamu saat aku memukulmu. Entah karena kau terkejut atau apa. Itu bagus. Tapi kau mimisan.” Yuna maju dan memencet hidung Jungkook untuk menghentikan pendarahan.

Jungkook menyingkirkan tangan Yuna perlahan. Tapi tetap tidak melepaskannya. Jungkook baru tersadar saat Yuna berdehem, “maaf.” Kata Jungkook.

“Ehm. Kita lanjutkan lagi.”

Hari itu mereka berlatih dengan keras. Sepertinya Yuna mulai serius untuk membuat Jungkook pandai berkelahi dengan instan. Entah apa yang mempengaruhinya. Tapi, ia benar-benar ingin agar Jungkook bisa menjaga dirinya sendiri. Karena ia sadar, ia tak akan bisa membela laki-laki itu setiap waktu.

***

Hari ini Jungkook tidak berlatih. Yuna harus menghadiri rapat penting. Menjadi dewan murid pastilah membuatnya sangat sibuk. Tapi Yuna tetap meluangkan waktunya untuk Jungkook.

“Sepertinya kau bebas hari ini, benar begitu Jeon Jungkook?” Tanya Jimin dengan suara keras.

“Eh, apa?”

“Jangan pura-pura bodoh. Belakangan ini kau selalu bersama Kim Yuna. Kau pikir aku tidak tahu? Tapi, karena sekarang gadis keparat itu tidak ada, maka tak akan ada lagi yang bisa melindungimu. Mau bermain-main sebentar?”

“Tidak terima kasih. Masih ada yang harus kulakukan. Jadi… yah, sampai jumpa.” Jungkook mengambil tasnya dan berusaha melarikan diri. Taehyung menahannya dengan cara menarik kerah kemeja Jungkook.

“Kenapa terburu-buru?”

Jungkook spontan mengangkat kedua tangannya untuk menutupi wajah, posisi bertahan. Ini yang dipelajarinya selama dua jam kemarin. Cara melindungi diri. Jungkook mengepalkan kedua tangannya di depan muka.

“Wow. Kau lihat posisi itu? Apa yang kau lakukan nak? Pertahananmu lemah.”

BUG.

Jimin memukul perut Jungkook dengan keras. Jungkook terhuyun ke belakang. Tapi ia berdiri lagi. Jika sekali lagi ia tak bisa menahan paling tidak satu serangan Jimin, maka latihannya tiga hari ini sia-sia. Jimin sudah siap dengan tinjunya, sedangkan Jungkook sudah membentuk sikap kuda-kuda dan memantapkan pertahanannya.

“Berkelahi di dalam kelas melanggar peraturan. Detensi, Park Jimin. Kau bisa ke ruang BK setelah ini, atau kau ingin jalan yang lebih mudah? Langsung berhadapan denganku.” Kim Yuna sudah ada di bibir pintu, dengan lencana dewan muridnya.

“Oh, jangan-jangan dia kekasihmu. Apa aku benar?” –Jimin menunjuk Jungkook – “Seorang gadis berjuang untuk menyelamatkan kekasihnya. Benar-benar romantis.” Kata Jimin dengan nada sinis.

“Heh. Kau kira kau hidup di jaman apa Park Jimin? Pergilah ke ruang BK, atau temui aku di ruang olahraga akhir pekan ini. Jeon Jungkook, ikut aku.” Kim Yuna pergi bergitu saja setelah meninggalkan selembar catatan di atas meja, surat pengantar untuk Park Jimin. Jungkook mengikuti Yuna keluar.

Kim Yuna tidak membawa Jungkook ke ruang olahraga, melainkan ke atap sekolah. Tempat dimana biasanya ia sendirian. Mengubur diri dengan pikirannya sendiri.

“Kau menyelamatkanku lagi. Terima kasih. Dan, maaf. Mungkin kau berpikir kau sudah membuang-buang waktumu, karena sampai sekarang.. yah, aku belum bisa melindungi diriku sendiri. Memalukan bukan? Harus selalu diselamatkan oleh seorang gadis berulang kali. Yah, aku sudah terbiasa menjadi seorang pecundang.” Jungkook membungkuk.

“Angkat kepalamu. Yah, tidak akan ada seorang ahli bela diri yang langsung pandai dalam tiga kali latihan. Dan lagi, jangan anggap dirimu sendiri pecundang, dasar bodoh. Pikiran seperti itu mensugesti dirimu. Biasakan untuk berpikir positif. Lagi pula, kau cukup bagus. Hanya saja kau takut untuk terbang. Mengerti maksudku?” Yuna langsung berbaring.

“Ya. Oh, boleh aku bertanya sesuatu?”

“Apa?”

“Kenapa kau selalu menolongku?”

Hening sesaat. Yuna tidak langsung menjawab pertanyaan Jungkook, melainkan diam sejenak, “apa yang harus kukatakan padamu? Hm, mungkin karena itu sudah menjadi tugasku. Maksudku, aku anggota dewan murid.”

Jujur saja, Jungkook tidak puas dengan jawaban itu.

“Oh ya. Kenapa hanya Park Jimin yang selalu kau hukum? Bukankah ada dua temannya yang lain?”

“Taehyung dan Seokjin? Yah.. Tidak ada alasan khusus. Kupikir, mungkin cukup ketuanya saja yang menanggung semua beban, toh dia memang yang paling banyak melanggar. Lagipula, aku malas jika harus memberikan detensi pada tiga orang sekaligus.” –Yuna tersenyum sambil menerawang – “Ada lagi?”

Jungkook meremas tangannya. Ia ragu, apakah ia harus mengatakannya atau menunggu waktu yang sedikit lebih tepat. Lalu ia ingat kesepakatan mereka. Ia menggeleng pelan.

“Tidak ada lagi? Yasudah. Kau ingin kita turun dan berlatih lagi, atau menghabiskan waktu kita yang tak berharga dengan berbaring disini? Jujur saja, cuacanya sedang bagus.”

“Kurasa, aku juga butuh sedikit istirahat.” Jungkook ikut berbaring di samping Yuna.

Hembusan angin terasa menggelitik wajah.Yuna benar, ini cuaca yang bagus.

“Oh ya. Cobalah untuk melihat beberapa video tutorial dan panduan bela diri di internet. Tekniknya mudah diingat, dan mungkin kau bisa menjadi lebih ahli lagi. Tapi kau juga harus melatih ototmu, jika tidak, maka kau akan sering mengalami kram otot karena walaupun gerakanmu bagus, tubuhmu tak akan bisa mengimbanginya.” Yuna berganti posisi menjadi duduk.

“Akan kulakukan.” Jungkook tersenyum, menunjukkan gigi-giginya.

***

Seminggu ini, Yuna terus melatih Jungkook dengan ketat. Perkembagangan laki-laki itu juga cukup lumayan. Postur tubuhnya mendukung. Yang menjadi hambatan terbesar adalah stamina dan mental Jeon Jungkook yang terlalu pengecut untuk menghajar orang lain.

Sisi baiknya, mereka semakin dekat setiap harinya. Mengunjungi atap sepulang sekolah, menjadi rutinitas baru bagi mereka berdua sebelum berlatih kembali.

“Oh, sepertinya akan hujan. Kuharap bukan hujan deras.” Yuna memandang ke langit, ke arah gumpalan awan kelabu yang cukup jauh dari tempat mereka.

“Kau benci hujan?”

“Berlebihan jika aku mengatakan aku membencinya. Walau bagaimanapun, hujan itu anugerah. Aku hanya kurang menyukainya.”

“Sudah kuduga.”

“Apa?”

“Kau gadis terkeren yang pernah kukenal.” Jungkook membayangkan sikap Yuna yang bisa menjadi begitu serius dan formal saat membacaan ‘dakwaan’ pada pelanggar peraturan sekolah, kalimat-kalimatnya yang terdengar begitu hebat di telinga Jungkook (seperti saat membicarakan hujan), dan saat Yuna berada di atas ring (atau sedang menghajar Park Jimin). Tidak semua gadis bisa melakukan itu.

“Hahaha. Terima kasih.”

“Kumohon jangan memukulku, kurasa… aku menyukaimu.”

Hening. Benar-benar canggung. Untuk sesaat, Jungkook merutuki mulutnya. Seharusnya aku tidak mengatakannya, batinnya. Lalu, sebaris senyum muncul di bibir Kim Yuna.

“Sudah kuduga, itu akan sulit. Hahaha, tak ada orang yang tahan dengan pesonaku.” Yuna tertawa pelan.

“Jadi..”

“Jadi?”

“Apakah kau..”

“Maaf.” Potong Yuna. Wajahnya berubah serius. Hanya sepersekian detik, hening kembali menguasai. “Mungkin si pengecut Park Jimin sudah ada di ruang olahraga sekarang. Keparat itu lebih suka melawanku dari pada berhadapan dengan guru BK. Ayo, kau akan mendapat pelajaran yang bagus. Perhatikan baik-baik.” Dan Yuna membahas masalah yang berbeda.

Jungkook mengikuti Yuna menuju gedung olahraga. Dia tahu dirinya akan ditolak. Karena begitulah kesepakatan awal mereka. Tidak boleh ada perasaan yang terlibat. Tapi, Jungkook benar-benar tidak bisa menahannya.

“Jangan sampai kau jatuh cinta padaku, Jeon Jungkook.”

Kalimat itu terngiang-ngiang di telinganya. Seharusnya, dia memang tidak boleh membiarkan dirinya terjerumus begitu dalam.

Saat Yuna dan Jungkook sampai, Jimin sudah berada di atas ring, lengkap dengan sarung tinju dan setelan olahraga (sebenarnya hanya celana olahraga dan kaus tanpa lengan).

“Sepertinya kau benar-benar ingin berkelahi, Park Jimin.”

Jimin melempar sepasang sarung tinju. Yuna melepas alas kaki dan melonggarkan dasinya lalu naik ke atas ring. Dengan kondisi seperti itu, Kim Yuna terlihat sangat menawan.

“Kau siap? Hitungan ketiga.”

Tepat pada hitungan ketiga, dua orang itu mulai bergumul. Jungkook memperhatikan perkelahian itu dengan seksama. Terlihat Yuna tidak menahan dirinya. Mereka berdua hebat.

“Sombong sekali, kau tidak memakai pelindung mulut.” Yuna masih terus memukul.

“Aku tidak takut kehilangan gigiku, Kim Yuna.” Jimin menunjukkan cengirannya.

“Itu artinya kau akan membiarkan gigimu hilang?”

“Tentu saja. Jika aku diberi pilihan antara kehilangan gigi atau kehilangan cinta.”

“Kau berubah menjadi menjijikan, Jimin.” Yuna berubah menjadi mode bertahan. Pertahanannya sempurna. Jungkook diam dan tetap memperhatikan. Meskipun aneh rasanya melihat Jimin menggoda Yuna saat mereka sedang saling memukul.

“Hey, itu benar. Jika harus memilih antara gigiku, atau dirimu. Meskipun aku tak memiliki gigi, aku yakin kau akan tetap mencintaiku.”

“Kepercayaan diri yang bagus.”

“Oh ayolah, katakan kau mencintaiku. Apa salahnya membahagiakan kekasihmu sendiri?”

“Hahaha, terserah apa katamu Park Jimin.”

Pada akhirnya, bahkan langitpun sudah memberinya pertanda. Jungkook serasa dihujani ribuan anak panah. Semua terasa masuk akal sekarang. Syarat yang diajukan Yuna, Yuna yang tidak bisa menerima cintanya, dan Yuna yang selalu ada saat gerombolan Park Jimin menghajarnya. Kim Yuna tidak disana untuknya.

Kim Yuna, adalah kekasih Park Jimin.

F.I.N

Advertisements

2 thoughts on “[IRIDESCEMBER] #Track4 – Riddance

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s