Vehement [Chapter 2]

image

2nd Chapter

Vehement : Assassin

starring Kris Wu (Wu Yifan), Brian Revine (OC), Diana Wu (OC)  genre Sci-fi, Family rate PG-15 duration Chaptered

laxies © 2015

Prolog |

.

Kris Wu begitu bersemangat, bahkan api semangatnya akan terus berkobar.

.


Saat sebuah bangkai yang kau timbun dalam-dalam mulai tercium baunya, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan menimbunnya lebih dalam atau kau akan pergi sejauh mungkin dari bangkai itu agar orang tak mengira kaulah sang tersangka? Tak pelik, jika saja kau terbuka. Namun, semuanya sudah kepalang basah, tak dapat menjadi persoalan tabu yang menjadi rahasia.

Semuanya mulai terungkap ke permukaan.

.

.

.

What the hell are you doing with your hair, Dude?”

Aku menggaruk tengkuk dengan canggung saat Ayah, Ibu, dan Diana memberikan tatapan terkejut luar biasa. Dan yang pasti, omongan penuh umpatan itu dilontarkan oleh Diana.

“Ah, a-aku hanya merubahnya sedikit.”

Terdengar helaan napas dari ayahku. Oh, itu berarti tanda ‘sudahlah, jangan dibesar-besarkan’ dari ayahku. Lantas aku merajut langkah menuju kursiku walau Diana masih saja menatapku dengan bola mata yang nyaris keluar. Tapi aku tak peduli. Jadi, aku duduk di sebelahnya dengan tenang dan mulai menyantap sarapan yang sudah disediakan oleh Ibu.

“Kris, kapan kau mengubahnya?” bisik seseorang di sebelahku. Aku meliriknya sejenak dari ujung mataku dan melanjutkan sarapanku. “Waktu malam.”

Hell, kenapa tidak membagi cat rambutnya juga denganku? Aku juga mau, bodoh!”

Aku terkekeh sedikit dan kembali berbisikkan dengannya. “Kau mau?”

Diana mengangguk semangat. Beruntungya ayah dan ibuku sedang asik mengobrol dan tak memerhatikan tingkah aneh kedua anaknya.

“Kalau begitu berubahlah jadi mutan berkekuatan api.”

“KAU INI GILA ATAU SAKIT JIWA!”

Aku tertawa keras melihat gadis itu dengan reaksinya yang berlebihan. Hasilnya, anak perempuan ini berhasil kena damprat ayahku pada pagi yang cerah ini. Hahahaha.

.

.

.

Jam sepuluh tepat, aku tiba di Metrotown. Penampilanku berubah sekali sekarang, sampai-sampai saat berkaca tadi, aku mengira ini bukanlah Kris Wu. Bahkan saat aku hendak berangkat tadi, obsidian biru Diana memicing ke arahku layaknya melihat seorang asing yang hendak menculiknya. Well… aku sendiri juga merasa asing.

Kaki panjangku berhasil mencapai pintu masuk pusat perbelanjaan yang termegah di Vancouver ini. Sebelumnya Brian berpesan padaku bahwa sesampainya di sini aku harus menyebutkan satu kalimat pada seorang wanita yang berdiri di balik meja resepsionis.

“Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?” Suara wanita itu menggaung dalam telingaku. Aku menatapnya canggung disertai gestur gugup. “Ah… Aku….”

“Ya, Tuan?”

Aku menatapnya ragu. “Um… Kau tahu… Beruang lucu pintar menari dan menyanyi, aku suka beruang.”

Terkutuklah Brian dengan kalimat sok menggemaskannya itu. Wanita itu mengangguk mengerti dan akhirnya dia memberi kode pada seorang penjaga yang berjaga di dekatnya. Penjaga itu menuntunku menuju sebuah lift yang terdapat tulisan ‘LIFT RUSAK’ namun si penjaga menebar pandang ke sekitar dan setelah merasa aman, dia melepaskan tulisan itu dan membuka lift tersebut. Aku dengan langkah ragu mengikutinya untuk masuk. Penjaga itu berdiri di dekat pintu lift yang membawa kami menuju lantai 20. Tapi aku merasakan hal yang aneh, lift ini jelas bergerak ke bawah. Apakah aku akan dibawa ke ruang bawah tanah? Maksudku, lantai 20 di bawah tanah? Yang benar saja!

TING!

Si penjaga melangkah keluar dan aku kembali mengikutinya. What the hell? Di sini ada meja resepsionis juga?!

“Dia anggota baru, apakah Tuan Bi sudah memastikannya?”

Wanita dengan wajah kaku dan tubuh berbalut setelan kantor yang sangat rapi itu melihatku dengan tatapan datar yang menyelidik. Kau tahu, rasanya seperti sedang discan. Setelah tiga puluh detik, wanita itu mengangguk pada penjaga itu. Si penjaga angkat bahu dan menoleh ke arahku.

“Anda bisa masuk ke lift itu dan menekan tombol ke lantai 3, Tuan.”

Aku berjalan dengan langkah pelan ke arah lift yang ditunjuk oleh si penjaga. Saat pintu lift terbuka, interior lift itu bernuansa putih secara keseluruhan. Aku menekan tombol lantai 3 dan kau harus tahu bahwa tombol dalam lift ini hanya ada tombol bertuliskan angka 3. Lalu, bagaimana aku bisa memilih? Ck, Brian membuat semuanya terasa sangat rumit sekarang.

Lift terbuka dan aku bisa melihat Brian yang menyambutku dengan senyuman khasnya. Dia memakai jas laboratorium dan aura seorang peneliti dari dirinya yang tengah berdiri dalam sebuah laboratorium raksasa ini begitu kentara. Yah, sedikit membuatku kikuk sebenarnya.

“Selamat datang, Kris. Kau telah sampai di laboratorium milikku yang sesungguhnya.”

Aku berjalan ke arahnya dengan langkah pelan. Sial, kenapa tubuhku mulai gemetar hanya dengan melihat ruangan super besar ini. Tanpa basa-basi, Brian langsung mengajakku untuk berjalan ke sebuah ruangan. Katanya, aku harus segera mendapatkan serum tambahan dan tentu saja agar aku tidak mati.

“Nah, kau duduklah dengan tenang di sana.” Brian menunjuk sebuah kursi yang mirip dengan kursi di tempat praktik dokter gigi, namun desainnya lebih rumit dan kursinya pun lebih besar. Aku duduk di sana dan Brian sibuk mengambil serum dari dalam sebuah brankas.

Ketika Brian mendekatiku dengan serum yang sudah siap disuntikkan ke dalam tubuhku, aku mulai gelisah. Ini gila! Aku benar-benar akan berubah menjadi mutan!

“Tenanglah, Kris. Jika kau tidak tenang, maka serum yang akan kusuntikkan ini tak akan bekerja dengan baik dalam tubuhmu,” katanya mencoba meyakinkan diriku. Aku menatapnya lamat-lamat dan mengangguk pelan.

Brian semakin mendekat dan mulai mengarahkan jarum suntiknya yang besar itu ke punggungku, tepat di mana ia menyuntikku waktu itu. Namun sebelum itu—

“Tunggu,” cegahku dengan tubuh bergetar hebat, “tunggu, Brian. Aku… aku belum siap.”

Lelaki bersurai hitam kelam itu menghela napas, sedikit jengkel mungkin. “Ayolah, Kris. Apa kau mau serum yang kutanamkan kemarin menggerogoti tubuhmu? Kau perlu serum tambahan saat ini juga.”

Aku masih gemetar dan merasa tak kuasa untuk sekadar mendapat serum tambahan itu. Ada keraguan besar dalam diriku yang bersikeras untuk melawan Brian dan menghentikan aksi gilanya mengubahku menjadi mutan. Namun sisi lain diriku mengelak dengan pasrah, entah kenapa aku yakin Brian punya maksud baik untuk mengubahku menjadi mutan.

“Brian,” panggilku lirih, “katakan padaku, apa alasanmu merubahku menjadi mutan.”

Brian terdiam. Selang dua belas sekon kemudian aku mendengar hela napasnya dan kurasa dia akan mengatakannya sekarang.

“Baiklah, kurasa memang sudah waktunya kau mengetahui alasannya. Aku… Aku ingin mengalahkan seseorang, Kris. Dia terlampau hebat dan aku ingin mengalahkannya. Dan… dan aku ingin membunuhnya dengan menggunakanmu.”

Aku terbelalak dan memandangnya tak percaya. Jadi dia menggunakanku untuk membunuh orang? Untuk sebuah niatan keji? Sialan!

“Berengsek, jadi kau menjerumuskanku ke dalam kriminalitas?! Keparat kau, Brian!”

Aku menerjangnya namun suatu kesalahanku ketika merasakan jarum itu menembus kulitku dan mengalirkan serum itu ke dalam tubuhku.

“Aku memang keparat, Kris. Asal kau tahu.”

.

.

.

Kelopak mataku terbuka perlahan. Rasanya punggungku nyeri sekali, oh, tangan dan kakiku juga terasa kaku. Aku masih mengumpulkan kesadaran saat netraku menilik dan menelusuri tempat ini. Ini sebuah ruangan putih yang benar-benar tak kosong kecuali dengan keberadaan diriku di dalamnya. Kesadaranku telah pulih dan aku pun sadar dengan tangan dan kakiku yang terikat rantai. Ini jelas bukan rantai biasa karena aku dapat melihat sebuah aliran listrik yang menahan rantai itu agar tetap kuat. Oh, asal kau tahu, aku berada dalam posisi seperti huruf X yang menurutku sangat tidak nyaman. Sialan, Brian memang benar-benar sialan.

Aku terdiam dan merenung. Namun secara tiba-tiba penglihatanku berubah menjadi merah. Aku mengerjap dan semuanya kembali normal, tetapi punggungku mulai merasakan sakit itu lagi. Sakitnya bahkan berkali-kali lipat melebihi sakit waktu itu.

“ARRRGGGHHH!!”

Mulutku terus mengeluarkan erangan-erangan menyakitkan. Sungguh ini begitu menyakitkan. Aku… aku merasa sel-sel dalam serum itu tengah membakar punggungku. Ini terlalu menyakitkan.

BRAK

“KRIS!!”

Aku membelalakkan mata melihat sosok itu tengah berdiri dengan keadaan terkejut luar biasa.

“Di-Diana?”

[To Be Continue]

HALOOO

Aduh, aku minta maaf yaa kalau updatenya nggak sesuai dengan yang aku janjikan. Aku lagi sibuk daftar sekolah jadi waktuku menulis agak terganggu. Dan aku juga mau minta maaf jika chapter ini kurang memuaskan, karena jujur aku pun ngerasa begitu. Aku lagi mandet banget menulis genre selain angst, tapi aku juga tetep bersikeras buat ngelanjutin fic ini secepatnya. Jadi, maaf ya kalau chapter ini jadinya malah aneh banget. Huhuhuhu T_T Oh ya, soal update, untuk sekarang-sekarang ini aku mungkin akan update setelah 5-7 hari setelah publish satu chapter dikarenakan kesibukanku.

ANW, MARHABAN YAA RAMADHAN SEMUAAA

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan yaa! ^^~

NILAM

Advertisements

5 thoughts on “Vehement [Chapter 2]

    1. Yha ini hasil pergulatan batin/? yang dipaksakan gegara maksa pen update cepet huhu :”) Aduh aku terhura tingkat kahyangan dibilang keren sama the real zenpay cem sima :”) Btw aku senpai apanya yawloh, tulisan absurd semua juga huhuhu ;_;

      Anw thank youu sima bebski udah ngikutin fenfik chaptered absurd ini :”) ❤ ❤ ❤ ❤

      Like

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s