7 Minutes

7 Minutes © 2015, xojoenc

“Tujuh menit sesudah nyawaku diambil….”

.

.

.

7

.

Kali ini aku berada di antah berantah. Ruangan ini putih tanpa ada sudut ruang. Sekonyong-konyong ruangan ini berdenyar, tergantikan oleh sebuah kamar rumah sakit bersalin.

Oh, aku melihatnya. Ada Ibu meneteskan air mata haru, ketika pertama kalinya membelai tubuhku yang sudah bersih dari darah. Ada Ayah, tersenyum lebar sekali. Sampai gigi-giginya terlihat. Ada juga Kakak, yang memamerkan gigi ompong beserta permen lolipop di tangannya. Ada Ibu Dokter. Tubuhnya dibalut jas putih, mulut dan hidung tertutup masker, dan terdapat bercak darah di sarung tangannya.

Mereka orang yang paling ku sayang. Bahkan, aku memilih keluarga kecilku dibanding permen gula kapas berperisa anggur.

.

6

.

Aku melihat sebuah pintu. Rasa penasaran membuncah dalam diriku. Ku putar kenopnya, dan agaknya pintu ini belum tua sebab engselnya masih lancar tanpa derit.

Ternyata aku kembali pada masa itu.

Kala itu senja sedang memamerkan kemolekan tubuhnya. Terdengar sayup-sayup radio menyuarakan lagu beken era 1990-an. Diriku sedang terduduk menopang dagu, sebuah cangkir yang mengepulkan asap tipis masih belum sempat ku cicip ada di atas meja tamu.

Sahabatku sudah menikah. Haru dan sedih, bersatu-padu menjadi suatu kesatuan yang tak terdefinisi. Aku takut jikalau sahabat satu-satuku hilang. Aku takut sahabatku takkan ada lagi untukku. Ruang terpojok pada hatiku mengatakan, “dia punya kehidupannya sendiri, kau tak berhak mengatur.”

Pikiranku menjawab, “tapi dia menikah dengan bajingan karena kecelakaan yang tak dapat dicegah! Bagaimana mungkin manusia dewasa hilang kendali!”

“Tak ada manusia yang sempurna, semua orang pernah melakukan kesalahan.” Perkataan terakhir dari hatiku menikam pikiranku untuk diam seribu bahasa.

Ugh, pergolakan kecil ini sedikit melankolis memang.

.

5

.

Sebuah tirai di sudut ruang, menarik atensiku. Penasaran setengah mati memaksa otot tanganku untuk menyibak tirainya. Ruangan bernuansa merah muda menyambutku. Keramiknya berwarna putih susu, dindingnya dicat warna senada. Satu ubin, dua ubin, tiga ubin, telah terlewat tanpa kesadaranku. Langkah ku terhenti oleh tubuh tegap seseorang. Manikku sempat bersirobok dengan maniknya.

Dia… Song Mino, cinta pertamaku. Rona merah serta rasa panas menggerayapi pipi malangku. Dentuman berontak jantung serasa ingin keluar kembali ada. Peredaran darahku lancar! Nadiku berdesir cepat sementara kaki kananku malu-malu dibalik betis kaki kiriku.

Aku merunduk, menatap warna celana seragam serta sepasang sepatunya, juga menghirup banyak-banyak wewangian tubuhnya.

Sialnya, saat aku mendongak. Aku dihadiahi lanskap menyakitkan. Paru-paruku serasa menciut, kekurangan volume oksigen yang kuhirup. Jantung seperti tak bekerja semestinya. Hampir tak berdetak. Otot kakiku seolah kehilangan kekuatannya, membuatku hampir ambruk.

Cinta pertamaku mencumbu gadis pirang. Penuh cinta. Di depanku. Saat aku masih merasa getaran itu.

Perasaan itu hanya ilusi para pencipta optik. Rasa itu hanya bualan sang pendusta ulung. Getaran itu tak lebih dari gerhana. Indah tapi menipu.

Aku berlari dengan air mata yang menganak sungai, mencari tempat berteduh lain. Sebelum pelupukku kehabisan stok air mata, seseorang menarik lenganku. Merengkuhku kedalam hangat cintanya. Membawaku pada dada bidangnya untuk bersandar.

Hingga suatu saat aku menyadari sesuatu.

Letupan-letupan menggelitik itu kembali hadir dalam jiwaku. Nadi serta jantung kepunyaanku kembali bekerja membabi buta. Membuat kecepatan berpikirku aus terkikis. Aku mendongak, tangan putih bak malaikatnya menghapus aliran menyedihkan pada pipi tembamku.

Malaikat penyelamatku, namanya Suho. Bibirku membuat garis lengkung setengah lingkaran. Alisku bertaut, sekonyong-konyong tubuh Suho hilang bak asap rokok ditiup angin beserta Mino dan gadis yang dicumbunya.

Kejadian ini menyisakan jiwaku dengan sebuah jendela. Iya, tirainya berkibar-kibar diterpa angin malam. Purnama terlihat cantik lewat kaca jendela. Daun jendela itu seolah berkata: hey, ayo buka aku lebih lebar! Akan kutunjukkan kau sesuatu yang bagus, kemarilah dan lakukan!

Perkataan daun jendela itu menguasai otot tangan dan kakiku. Aku melangkah mendekat. Jendela aneh itu menjeblak terbuka, sinar terang membuat gerak reflek tanganku menutup mata. Tanganku turun setelah sinar itu hilang. Lanskap tak asing tertangkap lensa mataku. Lagi.

.

4

.

Orang-orang berbaju hitam berlalu-lalang dalam ruangan itu. Karangan bunga ucapan duka cita banyak tertata rapi di ruang depan. Wajah seseorang dibingkai, wanita itu menggunakan hanbok.

Aku merasa diriku terduduk di meja. Memegang segelas minuman memabukkan yang menetralisir segala macam kecemasan. Wajahku kacau, lingkaran hitam di mata, bibir kering, dan baju hitam.

Seseorang mencengkeram bahuku, aku menoleh. Dia Joy. Serupa denganku, hanya busananya saja. Joy berkata, “kau tak boleh seperti ini seterusnya. Keluargamu sudah tenang disurga.” Joy tersenyum menguatkanku. Aku hanya tersenyum simpul.

Joy menyelipkan sesuatu saat aku berjabat tangan dengannya. Sebuah amplop berisi uang. Apakah aku tampak sangat menyedihkan? Aku memaki amplop itu sarkastik dalam hati.

Aku hampa. Separuh hidupku hilang dibawa maut penjemput ayah. Aku kosong. Jiwaku pergi dibawa Ibu. Aku mati. Mentalku kecil ditantang kematian kakak. Tragedi menyakitkan itu memangkas kebahagian hidupku, menerjang tanpa ampun bagai gelombang besar.

Aku hanyut dalam terjangan gelombang itu. Sebelum mati tenggelam, sesosok tanpa wajah mengulurkan tangannya padaku. Membawaku pada ruang waktu lainnya.

.

3

.

Sosok tak diketahui itu menyebabkanku berada disini. Di cafe ala perancis abad dua puluh satu. Aku terduduk bersama sahabatku, seorang pramusaji datang meletakkan dua cangkir cokelat panas setelahnya pergi meninggalkan meja kami. Di tempat ini, aku biasa membagi berbagai cerita apapun bersama sahabatku, mulai dari menyedihkan hingga konyol. Dari yang pantas diceritakan sampai yang aib.

Namanya Krystal. Rambutnya dicat merah, kemeja putih beserta celana jins belel menutup tubuh apiknya. Ceritanya barusan membuatku tertawa terbahak-bahak. Telingaku masih mengiang pengalamannya: memboncengkan nenek cerewet, pemarah, dan suka kentut.

Tawa itu lenyap ketika aku mendengarnya menyerukan: aku menyukai Chanyeol. Mataku berkedip beberapa kali. Bah, menyukai seorang lelaki yang sama. Bagai drama picisan dalam bingkai teve.

Krystal menantangku untuk memperebutkan Chanyeol. Aku menolak sebab akan berujung pada putusnya tali persahabatan. Aku memilih mengatakan, “Kau bisa melakukan apapun pada Chanyeol. Faktanya aku memang tak menyukainya.”

Aku sengaja berbohong demi lengkungan di wajahnya, kendati hatiku tak karuan. Wajahnya tampak berseri. Senyumnya seolah berterimakasih kepadaku. Matanya membulat. Pita suaranya bergetar, menyuarakan suara familiar yang sudah lama kurindu.

“Benarkah?” katanya. Aku mengangguk mantap. Aku rela melakukan apapun demi sahabatku. Satu-satunya.

Siapa yang tahu akan arti sahabat yang sesungguhnya. Tak semua orang tahu pasti. Kebanyakan berupa opini, bukan fakta.

Cinta. Siapa yang tahu arti cinta yang sebenarnya? Baik kepada famili atau orang lain. Seluruhnya beranggapan membutakan pikiran, membuai hati, dan memanipulasi ekspresi. Seseorang bersikap seolah-olah tak terjadi apapun dengan tersenyum, kebenarannya, dia tak ingin membuat orang yang dicintainya ikut bersedih.

Hilang. Seolah membuka kunci ego yang liar. Enam abjad pembawa derita, bisa jua enam abjad pembawa suka. Penyebab keretakan dinding hati kendati dindingnya sudah dibangun dengan beton terkuat. Begitu mudahkah dihancurkan oleh kehilangan?

Bahagia. Salah satu kata penyebab senyuman. Pembuai terbaik selain cinta. Obat terbaik bagi patah hati, meskipun tak semuanya sembuh total. Sering terjadi pada insan manusia yang sedang terjebak romantisme cinta. Bahagia ada karena kasih.

Aku menyebar pandang ke segala penjuru arah di cafe. Kejadian ini seperti terjadi dua kali dalam hidupku. Dulu dan sekarang. Aku masih ingat harum cafe ini, letak bangku-bangku cafe ini, serta riuh cakap orang-orang di sekitar.

Aku terhenyak. Tubuhku tersentak ke belakang. Ruangan ini terasa berputar-putar. Perutku serasa dikocok hingga membuatku mual. Entah ini semua hanya ilusi atau nyata. Aku benar tak tahu.

.

2

.

Aku mematut bayangan pada cermin berukuran sedang di hadapanku. Gaun putih menjuntai melapisi tubuhku. Wajahku dipoles berbagai macam make up. Hatiku menjerit, benarkah ini diriku yang sebenarnya?

“Sulli, ayo, Nak. Chanyeol sudah menunggu.” Suara yang sangat kukenal menghampiriku. Oh, aku ingat. Itu suara adik dari ibu–bibiku.

“Bagaimana dengan Krystal?”

“Ayolah, Nak. Bukankah beberapa bulan yang lalu kau menghadiri pernikahannya dengan Kai?”

Krystal menikah dengan Kai. Kecelakaan yang menyebabkannya mau tak mau harus menikah. Klise memang, tapi apa daya jika Tuhan berkehendak demikian? Toh sebenarnya keduanya saling suka.

Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa bukan Krystal yang menikah dengan Chanyeol? Chanyeol tak pernah menyukai Krystal, dia hanya menyukaiku, katanya. Suatu malam Chanyeol datang ke rumahku, ralat mungkin rumah pamanku. Datang menghadap untuk melamar. Dan, umurku memang sudah kepala dua, memang sudah waktunya untuk menikah bukan?

Aku memilih berpacaran sesudah menikah, dibanding berpacaran sebelum menikah. Tak salah ‘kan?

Cermin, kembali aku menatap diriku pada pantulannya. Aku bersyukur karena mampu menghias diri. Aku bersyukur karena aku mampu berjalan. Aku bersyukur karena aku… tak sempat bertemu dengan pria paling berengsek dalam hidupku.

Hari ini adalah pernikahanku dengan Chanyeol. Menyenangkan? Ya, mungkin.

.

1

.

Bibi sudah keluar. Lantai yang kupijak seolah bergoyang, berderit, dan rapuh. Kayu-kayu mulai berjatuhan ke ruang gelap dibawah sana. Satu-satu. Mulutku berteriak, namun suara tak mau keluar. Pita suaraku malas bergerak.

Aku terjatuh. Dalam balutan busana lain. Serta latar yang lain pula.

Mataku seketika berair. Menatap pemandangan di depanku. Aku berharap, semoga Tuhan melenyapkan berengsek yang memukul Ibu. Tangannya kasar, penuh dengan luka sayat. Perhatianku beralih menuju Ibu.

Apa yang sebenarnya terjadi pada Ibu?

Tangan kurusnya memegangi kepalanya. Terus merintih, meminta maaf, dan mengucap banyak kalimat. Kepala Ibu berdarah. Banyak sekali. Ibu setengah sadar. Aku menutup mulutku, tak mampu menatap kejadian ini terlalu lama.

Inikah penyebabnya Ibu lebih tertutup kepadaku?

Aku mencoba berpikir dengan tenang, namun kesabaranku tergerus emosi. Netraku mulai mengedarkan pandang. Mencari benda apapun yang dapat digunakan untuk membebaskan Ibu.

Parang besi berkarat teronggok agak jauh disamping Ibu. Aku berlari, pikiranku kacau balau. Mataku sudah pedih menatap keadaan ibu. Hatiku makin menciut. Napasku tak teratur. Aku mencoba menggapai parang itu, hanya udara yang dapat kuraih.

Inikah penyebab air muka Ibu selalu berbeda saat menatapku?

Aku menangis, meraung-raung. Menyesali serta merutuki diriku yang tak mampu berbuat apapun… untuk Ibu. Mengucap sumpah serapah untuk diriku yang terlampau lemah.

Dia menggapai kursi, aku tergagap. Dia hampir memukul Ibu dengan kursi lipat. Aku berharap Tuhan berada dipihak Ibuku. Aku berharap Ibu selalu dalam lindungan Tuhan.

Jantungku bekerja tak karuan. Peristiwa demi peristiwa membahagiakan dengan Ibuku seolah berdesir dalam nadi. Memoar itu mengajakku kembali mengarungi masanya. Memoar itu mengusir kesadaranku.

Aku tak boleh terpengaruh.

Ibu. Aku mengucapkan satu kata itu beratus kali dalam hati. Ibu semakin tertindas. Punggungnya dihantam oleh kursi lipat bertubi-tubi.

Aku menghampiri Ibu. Merengkuhnya. Mencoba melindunginya agar aku saja yang terkena hantaman sialannya. Hatiku mencelus, tubuhku hanya udara kosong. Ibu terbatuk-batuk hingga mengeluarkan darah. Tangisku semakin menjadi. Tak rela menatap Ibu seperti ini.

Tuhan. Aku berharap semoga Tuhan menjabat tanganku lewat doa. Aku berharap semoga Tuhan menyayangiku lewat melindungi Ibu. Doaku belum terkabul.

Tuhan… jahat?

Tidak. Pikiranku tak boleh seperti itu. Gelombang kepedihan itu menggila dalam hatiku, kepanikan ikut merangsek masuk dalam otakku.

Hatiku seperti ditusuk sebilah belati tak kasat mata. Belati itu mengoyakku dengan asik. Tanpa pandang bulu, mendobrak tiap-tiap pintu hatiku. Menusuk seluruh ruang dalamnya dengan bengis dan kejam. Aku seperti orang kesetanan.

Aku menyerah. Aku terduduk tanpa daya. Aku mengutuk tubuhku karena hanya mataku yang mampu bekerja semestinya. Wajah Ibu sedari tadi tertunduk, aku mengusap wajahnya. Bercak darah ada pipinya. Aku gagal saat mencoba membersihkan darah itu.

Kepalaku serasa dihantamkan ke dinding. Diriku serasa dilontarkan kembali ke dalam peristiwa itu. Saat aku mencuri dengar perkataan Ibu kepada Ayahku mengenai Ayah biologisku. Aku menjerit kendati suaraku tak terjamah oleh telinga manapun. Perasaanku diombang-ambing oleh ketidakpastian statusku dalam keluarga ini.

Aku bukan anak Ayah. Ada Ayah lain.

Aku menuntut otakku untuk bekerja lebih keras. Agaknya ini adalah alasan Ibu tak memberitahu sedikitpun tentang Ayah biologisku dan memang aku tak pernah bertanya sebab takut. Penasaran yang membakar habis diriku telah padam. Aku mendapat jawabannya.

Dia yang kasar. Dia yang penyiksa. Dia yang tak bertanggung jawab. Dia yang aku benci.

.

0

.

Sekon sialan.

Menjungkir balikkan perasaanku secara acak lewat fragmen waktu.

Tetapi, ya sudah terimakasih.

Fin.

NOTE: nah kalo masih ada yg bingung kenapa alurnya acak-acakan. Setelah manusia dicabut nyawanya otak masih bekerja selama 7 menit ya buat itu. Menit pertama kalian bakal ngeliat orang-orang yang hadis pas kalian lahir, entah kalian bakal bahagia ato enggak tergantung selama hidup kalian benci mereka ato enggak. Menit kedua mengulang kembali peristiwa bersama atau tentang sahabat. Menit ketiga bakalan jatuh cinta lagi lalu patah hati terus tar ketemu lagi sama orang lain tar ngerasain cinta (ea). Menit keempat kalian akan kembali kemasa terburuk kalian. Menit kelima kalian akan mendapatkan pelajaran tentang kehidupan, cinta, bahagia, sahabat dan lain-lain. Menit keenam kita akn mengalami sesuatu tentang diri kita, dan kita mungkin akan bersyukur atau malah menyesal. Menit ketujuh kalian akan mendapatkan jawaban yang belum pernah terjawab semasa hidup.

Source : WOW! Fakta

P.S : Maaf nyepam di macaroonseoul ehe

P.S.S: Big thanks buat iamayounglady sama echakim ❤

xx, Ay

Advertisements

2 thoughts on “7 Minutes

  1. HAI AYUUUUUUU *0*
    DUUH MOHON MAAF ATAS KETERLAMBATAN INI YAAHHH (╥_╥)

    Omaygat Sulli *0* My bias wuakakakak *0* Astaga ini bagus yu, penggalan katanya nyelekit banget/? *0*
    Ga susah buat pahamin perkatanya, duh pokoknya daebakseu/? (✿´‿`)
    Dan hei, ada namaku XD

    Like

    1. HAI ECAH LAFYA♥ Its oke wae mas ‘-‘b

      Eh tau dari mana kamu kalo tokoh utamanya Sulli :v Alhamdulillah makasih chaa. Ada yang aneh gak sih? Ada yang jonjing gak kalimatnya? Ada saran gak kak buat fic ini? Ada yang harus diganti gak? Alurnya kasar ya? ehehe maap kebanyakan tanya 😦

      Ya aku dapet Inspirasi dari foto kamu itu sis makanya masuk bigthanks♥

      Makasih sudah mau mampir dan gak php :v
      Salam sayang, Ay.

      Like

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s