3 Years Ago

1433941239619[2]

 

3 Years Ago || by echaakim

Sehun || Slice of Life, Sad, School Life || Ficlet || Teen

“3 years passed, but  I still love you..”

Aku tak pernah membayangkan suatu akhir yang serumit ini. Yang kupikirkan diawal adalah aku harus bertahan dengan nilai yang bagus selama tiga tahun, tidak pernah membuat masalah, dan lulus dengan tenang. Yeah, hanya itu to do list yang pernah kurancang di kepalaku. Tapi itu dulu, saat pertama kali menginjakkan kaki dengan malu-malu di sekolah baru.

 

To do list-ku berjalan baik selama ini, meski ada sedikit kendala di beberapa hal. Aku bersyukur karena teratasi, tapi tidak untuk yang satu ini. Sudah 3 tahun berlalu, tapi aku tak pernah merasa terbebas sekeras apa pun usahaku. Bodoh.

 

Hari ini adalah hari kelulusan. Hari terakhir memakai seragam sebelum akhirnya menyimpannya dengan rapih di dalam lemari. Mengenang masa-masa yang menyenangkan, suka dan duka bersama. Mengingat kembali masa dimana siapa dan siapa saling bertemu, berjabat tangan, tertawa untuk merobek tirai canggung, dan perlahan menghabiskan waktu bersama.

 

Yeah, hari terakhir..

 

Lebih tepatnya hari terakhir melihat ‘masalah’ itu..

 

Iya, masalahnya. Dia.

 

Ah, aku saja yang menjabarkannya terlalu dramatis. Dia bukan akan pergi mengikuti perang dan membawa kabar duka ketika kembali, bukan itu. Hanya sebuah perpisahan bermakna lebih, bagiku.

 

Aku membetulkan ikatan rambutku yang kurasa agak mengendur, merapihkan seragamku, dan memberi simpul yang baru pada sepatuku. Menghela napas, pikiranku menerawang akan sosoknya—masalah yang sulit kuselesaikan. Bodoh, ya, seharusnya aku tak pernah mencoba untuk masuk begitu saja. Dan kini, ada secuil rasa penyesalan akan itu karena dia bahkan tak mau memberiku jalan keluar. Malah membiarkanku tersesat, dan terus di sana sampai kapan, aku tak tahu. Kejam.

 

 

“Hei, Goo Yeri—” satu suara terdengar, “—kau di sini?”

 

Aku mendongak, ekspresiku menjadi kaget setelah itu. Dia—Oh Sehun, masalah yang paling sulit kuselesaikan—berjalan mendekat. Dalam beberapa detik berikutnya yang kutemukan hanyalah diriku tengah membeku, sementara dia mengistirahatkan bokongnya pada sisi kosong bangku yang kududuki.

 

“Di dalam terlalu berisik, ya.” Sehun mengabaikan pertanyaan yang sempat di lontarkannya semenit lalu.

 

Aku hanya mengangguk, lidahku kelu untuk sekadar menjawab. Aku menyetujui kalau di dalam sana terlalu berisik, karena jujur saja, aku tak menyukai keramaian dan berisik. Tapi kebenarannya adalah aku hanya ingin menghindari jantungku yang berdetak terlalu cepat karena mataku terus memaku pada sosoknya.

 

“Oh ya, selamat ya.” Sehun berbasa-basi.

 

“Untuk?”

 

“Kau lulus dengan nilai bagus.” Katanya. Aku tersenyum tipis, malu. Dalam hati seperti ada ratusan kembang api yang meletup-letup. “Terimakasih. Selamat juga untukmu, Sehun.” Aku menjawab kikuk.

 

“Dengan nilai sebagus itu kau ingin melanjutkan kemana?” Dia bertanya lagi, membuat suara gemerisik daun kering dari ujung sepatunya.

 

Nilaiku biasa-biasa saja, sungguh. Aku bukanlah tipikal gadis dengan IQ super jenius yang bisa mengusai seluruh mata pelajaran dengan mudah. Aku payah dalam matematika, kepalaku selalu berputar saat pelajaran fisika tengah berlangsung, nilai olahragaku sering kali membuatku sebal. Satu-satunya pelajaran yang kurasa cocok hanyalah bahasa asing. Cuma itu dan biasa saja. Yeah, biasa saja sampai Kepala Sekolah menyebut namaku untuk naik ke panggung, mensejajarkan diri dengan deretan siswa bernilai memuaskan. Super duper aneh.

 

Aku memilin ujung seragamku, gugup. Rasanya seperti ada meteor yang tersangkut di kerongkonganku. “Tidak tahu,” jawabku seadanya. Diam-diam aku meliriknya. 3 tahun berlalu, kenapa kau menyiksaku seperti ini, Oh Sehun? Kenapa?

 

“Jangan salah memilih tujuan. Pilihlah tujuan yang benar-benar baik, kau tidak ingin menyia-nyiakan nilai emasmu begitu saja ‘kan?” Nadanya terdengar menasihati. Dia tersenyum, dan aku membalasnya, mengangguk dengan tangan berkeringat.

 

3 tahun berlalu, tapi kita tak pernah berbicara sebanyak ini. Aku tahu dia bukan tipikal yang selalu memperhatikan sekitar, dia selalu bersikap ‘masa bodoh’ dengan segala sesuatu yang terjadi di sekitar. Kita sekelas di kelas satu dan menjadi teman sekelas lagi di kelas tiga. Lamat-lamat aku tahu sifat teman-temanku di kelas. Termasuk dia, yang lebih sering kuperhatikan diam-diam.

 

Sehun suka pelajaran olahraga. Dia anggota klub sepak bola sekolah. Sehun tak begitu menyukai beberapa pelajaran bahasa asing. Dia pernah meminjam buku tugasku dan aku memberikannya tanpa protes.

 

“Sehun,” aku memanggilnya pelan, “apa kau benar-benar akan pindah ke Jepang?” Bermenit-menit terlewat dan pertanyaan itu keluar meski aku sudah tahu jawabannya. Ya, dia akan pergi dan aku hanya ingin mendengarnya langsung dari bibir itu.

 

Dia mengangguk, melengkungkan garis tipis dari sudut-sudut bibirnya. “Yep, aku akan pindah,” jawabnya, “segera setelah acara ini selesai,”

 

Secepat itukah? Secepat itukah dia akan pergi?

 

Aku mengangguk kecil, mengerti maksudnya. Sebenarnya aku hanya bingung harus berkata apa. Aku ingin berbincang lebih banyak, berbicara akrab tanpa ada dinding bernama gugup yang menghalangiku. Tapi, itu hanya ekspetasi semata. Acara kelulusan akan segera berakhir beberapa menit lagi. Aku bangkit berdiri, hendak kembali masuk ke ruang auditorium karena mungkin orang tuaku sedang mencariku saat ini.

 

“Aku harus masuk lagi,” kataku, berusaha agar suaraku tidak terdengar begitu gugup. “Acaranya sebentar lagi selesai,”

 

Sehun mengangguk, seulas senyum ramah terukir di wajah itu. Membungkuk sejenak, dengan berat hati, kulangkahkan kaki menjauh. Tanpa ada salam perpisahan, aku meringis dalam hati. Apa sih yang kuharapkan?

 

 

3 yang lalu dan label bahwa ‘aku menyukaimu‘ masih setia melekat sejak awal kita bertemu. 3 tahun lalu, sebagai murid baru yang pemalu.

 

 

3 tahun yang lalu dan sampai sekarang, aku masih mengunci namanya di kepalaku, menggores nama yang kerap kali kusebut ketika libur panjang terjadi.

 

 

3 tahun yang lalu dan namanya masih sering kutulis untuk memenuhi setiap lembar buku harianku.

 

 

3 tahun yang lalu dan aku masih memendam perasaan bodoh ini sampai sekarang.

 

 

Aku menyukaimu.

 

 

Aku menyukaimu..

 

 

 

“Yeri.”

 

Aku berhenti, berbalik ke belakang. “Y-ya?”

 

Sehum melambaikan tangannya. “Sampai ketemu lagi.”

 

Kita akan bertemu lagi ‘kan? Katakan padaku bahwa itu tidak hanya sebatas lelucon yang sering kau lontarkan di kelas. Jika kita bertemu lagi, akankah kau akan balas menyukaiku? Jika kita bertemu lagi, kapankah saat itu?

 

 

Aku menyukaimu..

 

 

Sangat menyukaimu…

 

 

 

“Ya, sampai ketemu lagi, Sehun.”

 

 

 

—END

Haiii gaessss~~~~ *0* /lambai-lambai
Kini kuhadir dimalam hari huohohoho XD /apasiii
Duh ini aku ngepost apa yak wkwk XD

Yeay, terhitung hari ini aku sudah luluuuussss~~~~ *0* Alhamdulillah, sekali:’) /sujud syukur
Perasaan baru kemaren ikut MOS, perasaan baru kemaren make seragam putih-biru, perasaan baru kemaren kenalan sama si blablabla hahahah XD

Okay, fic yang tak kutahu genre nya ini mewakili perasaan galo yang gentayangan tiba-tiba /nae ngomong mwoya-_-
Iya, berasa sedih aja karena harus beda haluan sama si ****/? :”v

Iyalah, aku ngaku, dia first love saya di SMP hadooooh terbuka satu aib:’v
Sebut aja nama dia A, blablabla apalah apalah uda 3 taun asdfghjkl apalaaaah ah aku malu banget astagaaaaa TT0TT

Ah sudahlah, babay/? :v

Advertisements

3 thoughts on “3 Years Ago

  1. NAH NGAHAHAH BACA AWALNYA UDAH BATIN PASTI CURHATAN SI AUTHOR TERNYATA JACKPOCT IHIW :3

    TEHEBAT’-‘b nda tau lagi mau komen apaa :”) ini nyeseq. btw kok sama sih HHAHAHAHAHAHA. Emang ya kata orang First Love itu nggak bakal tercapai ato nggak bakal tahan lama, tapi ya tergantung individunyan sih :3

    keep writing sayang,
    xx, Ay

    Like

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s