Vehement [Chapter 1]

vehement12

1st Chapter

Vehement : Absorption

starring Kris Wu (Wu Yifan), Brian Revine (OC), Diana Wu (OC)  genre Sci-fi, Family rate PG-15 duration Chaptered

laxies © 2015

.

Kris Wu begitu bersemangat, bahkan api semangatnya akan terus berkobar.

.

Pernahkah kau berpikir mengenai mutan? Ya, mungkin beberapa film telah mengangkat tema mutan sebagai ulasan yang menarik. Tapi, bagaimana bila kau yang memainkan peran sebagai mutan itu? Sebagai tikus percobaan dari seorang peneliti? Dan pernahkah kau membayangkan jika kau menjadi seorang mutan secara nyata?

Jangan tanya mengapa aku bertanya seperti itu, karena aku sendiri adalah seorang mutan sekarang.

.

.

.

Pemandangan yang pertama tertangkap netraku adalah langit-langit kamarku sendiri. Aku masih mengerjap bingung selama sepersekian sekon untuk mengumpulkan kesadaranku. Kepalaku menengok ke arah jam weker yang berada di nakas, oh, pukul 3 pagi? Baiklah, tanggal berapa sekarang? Oh, bagus. Sekarang aku begitu terkejut melihat tanggal yang tertera di jam digital milikku. Hebat. Hari ini adalah tepat di mana kejadian Brian menjebakku. Hell, apa dia menciptakan mesin waktu juga? Sialan sekali ilmuwan gila itu.

Aku bangun untuk duduk dan seketika punggungku terasa nyeri lagi. Umpatan pun sukses terlontar dari mulutku ketika menyadari Brian menancapkan jarum suntiknya dengan keras di punggungku. Berapa kali lagi aku harus mengucapkan kata ‘sialan’ untuknya? Sialan.

Ah, tapi aku harus bisa menemukan cara agar aku tidak menjadi mutan. Serum sialan ini pasti sedang bekerja dalam tubuhku dan aku harus segera mengeluarkannya, tentu saja.

Secepatnya, aku harus menemui Brian si berengsek itu.

.

.

.

Kakiku menderap langkah di sepanjang lorong kampus, entah kenapa orang-orang terus menatapku. Ah, mungkinkah karena penampilanku? Well, aku hanya melakukan sedikit perubahan. Serius! Ini hanya sedikit kok. Kemeja kotak-kotak yang biasa kukenakan kini dilapisi kaus putih polos pada bagian dalamnya (yang terpenting aku tidak memasukkannya ke dalam celana), aku juga memakai celana jins, dan sepatu kets hitam. Hasratku dalam berpakaian rapi terasa berubah, aku pun tak tahu mengapa. Tapi sungguh bukan itu masalahnya. Aku harus menemukan Brian sekarang juga.

Tungkaiku semakin kupercepat lajunya ketika aku melihat punggung pria sialan itu bersama salah satu temannya. Aku menepuk bahunya dan dia langsung menoleh dengan senyum hangat—palsu—yang terpampang. Temannya mengernyit sebentar melihatku dan langsung berpamitan pada Brian.

“Ada apa? Apakah aku mengenalmu?” tanyanya dengan wajah penuh senyum. Sialan, aku jadi semakin benci senyum itu.

“Kau, berengsek, apa yang kau perbuat pada tubuhku?!” Aku menggeram dan mencengkeram kerah kausnya. Namun punggungku kembali diserang nyeri.

“Wow, santailah, kawan. Ayo, kita ke laboratorium milikku.” Dia mengalungkan lengannya pada bahuku dan secepat kilat pula aku menepisnya. Oh, apa dia pikir bisa menjebakku untuk yang kedua kalinya? Tidak, kawan.

“Hahaha, baiklah, sepertinya kau masih agak ‘trauma’ terhadap laboratorium. Kita duduk di taman kampus saja, bagaimana?”

Aku berpikir sejenak, memikirkan segala resiko yang akan kudapat jika mengikuti usulnya. Setelah aku melihat dia yang masih tersenyum meyakinkan padaku, aku berkata, “Oke.”

.

.

.

“Kris, kau sedang berada dalam tahap proses penyerapan.”

Aku mengernyit lantas dengan sengit bertanya, “Apa maksudmu?”

Brian membuka bukunya santai seperti tak berniat bicara secara serius denganku. “Kau baru saja menerima serumku dan setiap sel tubuhmu sedang menyerap segala zat yang terkandung dalam serumku.”

Aku yakin pria di sebelahku benar-benar sudah gila. Hey, kalau aku mati karena serum itu bagaimana?!

“Kau terlalu santai, kawan! Aku, Kris Wu, sebentar lagi akan berubah jadi mutan, Brian! Mutan!”

Dia terkekeh geli, sial, memangnya aku yang sedang naik pitam ini terlihat konyol?! Akhirnya dia menutup bukunya yang entah tentang apa. Manik biru mudanya jelas menatapku dengan sorot hangat layaknya mentari pagi. “Secara harfiah, kau telah menjadi mutan, Kris. Kau ingat apa yang kau semburkan saat bersin waktu itu? Itu sudah menunjukkan kalau serumku telah berhasil mengubahmu menjadi mutan.”

“Bodoh! Mana ada manusia yang mau jadi mutan? Kau sepertinya mengalami gangguan kejiwaan, Brian!”

Well, kau boleh mengataiku gila atau apa pun itu, toh kau belum mengetahui alasannya. Jangan salah, Kris. Di luar sana, banyak yang ingin mempunyai kekuatan seperti tokoh pahlawan super di komik. Asal kau tahu, banyak sekali ilmuwan yang mencoba membuat serum yang pas untuk menghasilkan mutan. Jika kau melihat kasus orang hilang secara misterius yang tak pernah ditemukan bahkan tak meninggalkan jejak sedikit pun, kemungkinan besar itu ulah para ilmuwan yang terobsesi pada mutan. Dan aku,” ‒lelaki itu menghela napas‒ ”aku telah berhasil membuat serum untuk mutan.”

Seberkas kebanggaan begitu terasa pada netra pria ini. Bagaimana pun juga, aku tak peduli pada segala omong kosongnya. Aku harus kembali menjadi manusia biasa, manusia seutuhnya, tanpa embel-embel ‘mutan’.

“Brian, kau bisa membuat serum pembuat mutan, ‘kan? Kalau begitu, kau pasti bisa membuat penawarnya. Aku sungguh bukan termasuk ke dalam daftar ‘orang yang ingin menjadi mutan’, Brian. Aku ingin kembali menjadi normal!”

Brian tersenyum ceria dan berseru nyaring, “Tentu saja tidak bisa!”

Aku mengerang frustasi, tak lupa rambut pirangku ikut menjadi pelampiasan juga. Malang sekali aku berurusan dengan ilmuwan gila sepertinya. Memang benar, penampilan bisa saja menipumu. Brian dengan rambut hitamnya, mata biru cemerlang, dan kulit putih pucatnya itu sungguh tak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia adalah seorang yang akan menjebak mahasiswa culun untuk dijadikan mutan. Si flower boy ini memang punya tipu muslihat yang terlalu jitu dan tak terdeteksi.

“Kenapa tidak bisa? Aku memerlukannya! Aku tak mau jadi mutan, Brian!” Aku mengatakannya lamat-lamat, mencoba menegaskan apa keinginanku padanya. Hey, permintaanku logis sementara pemikiran dialah yang tak waras. Hah, mengubah seseorang menjadi mutan? Rasanya aku ingin mengirim dia ke Penjara Alcatraz.

“Ada alasan mengapa aku mengubahmu menjadi mutan, Kris. Alasan vital yang tak bisa kuberitahu sekarang. Yang pasti, besok kau harus menemuiku lagi untuk kutanamkan serum pelengkap. Dan jika kau tidak datang,” ucapnya dengan seringai, “serum dalam tubuhmu akan membunuh dirimu sendiri.”

Dia bangkit dan mengecek jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Besok di Metrotown, pukul 10 pagi. Jangan beralasan ada kelas, aku tahu kau besok free. Sampai jumpa.”

Dan dia mulai melangkah pergi namun setelah beberapa langkah, dia menoleh ke arahku. “Omong-omong, kau terlihat keren sekarang, hahaha.”

Sialan! Selanjutnya Brian benar-benar pergi sambil tertawa, meninggalkanku yang sedang dalam mode kesal dan kebingungan.

Apa yang akan terjadi pada hidupku jika aku kini menjadi seorang mutan?

.

.

.

Tepat pukul lima sore, aku tiba di rumahku. Pintu kututup dengan lemas dan lanjut berjalan masuk dengan menunduk, seolah tak peduli pada sosok yang kini memandang heran padaku.

“Siapa kau?”

Aku berhenti melangkah dan menoleh ke arahnya. “Keterlaluan, masa kau tidak mengenali kakakmu sendiri, gadis tengik!”

Dia mendengus dan berjalan melewatiku. “Ada apa dengan penampilanmu? Sudah bosan jadi si Culun Yang Tertindas, ya?”

Aku tahu kalau adik perempuanku ini sedang berniat menjahiliku. Ingin membuat perang dunia di dalam rumah, sih, lebih tepatnya. Tetapi, oh ayolah, aku terlampau letih untuk sekadar membalas ejekannya. Hari ini berlalu begitu berat bagiku.

Ketika aku hendak menaiki tangga menuju kamar, sebuah tangan menahanku melaju. Aku menatap raut wajahnya yang berubah menjadi serius.

“Sungguh, Kris, ada apa?”

Aku terdiam sebentar. Rasanya aku memang butuh seseorang untuk bercerita. Tapi, bercerita kepada adik perempuanmu mengenai kau yang diubah jadi mutan oleh seorang senior di kampus? Aku yakin seratus persen, adikmu akan memeriksakan dirimu pada psikiater esoknya.

“Ah, tak ada apa-apa, Diana. Aku hanya… Aku hanya kelelahan. Ya, kelelahan.”

Diana masih menatap curiga padaku namun alih-alih memaksaku mengatakan kejujuran, dia mengembuskan napas dan melepaskan tangannya.

“Kalau begitu, istirahatlah. Aku akan membantu Ibu untuk menyiapkan makan malam.”

Aku mengangguk dan setelahnya Diana pergi ke dapur. Aku termenung sebentar di tangga. Memikirkan betapa khawatirnya adikku yang tomboy itu malah membuatku merasa membebaninya. Walau dia terlihat dingin dan usil padaku, dia adalah orang yang paling menyayangiku, begitu pun aku. Percayalah, di balik penampilannya yang sudah seperti penyanyi rock itu, ada sebersit kelembutan yang membuncah kala dia kembali ke sisi perempuannya. Yah, walau ia tak pernah sudi untuk mengakuinya. Tapi, Diana Wu akan tetap menjadi adik perempuan terbaik sejagad raya bagiku.

Setelah satu embusan napas, aku melanjutkan langkah menuju kamar. Berharap bisa istirahat setelah hari ini berlalu dengan kejamnya.

.

.

.

Aku telah siap di tempat tidur, walau pikiranku belum siap untuk diajak terbang ke alam mimpi. Entah mengapa ada hal yang aku khawatirkan, seakan-akan perubahan tubuhku memang tak akan begini-begini saja. Terkadang jika aku terlalu emosi, punggungku akan terasa sakit luar biasa. Dan semua itu makin membuatku gelisah.

DRRT DRRT

“Panggilan dari nomor tak dikenal?”

Pada akhirnya aku tetap menerima panggilan itu.

“Halo?”

Hey, Kris!

“Sialan. Ada apa?”

Wow, santai, kawan. Aku berharap kau mendengar kata-kataku tadi. Kau benar-benar akan kesakitan jika tak kuberi serum tambahan.”

Oh, aku benci Brian jika semua ini sudah menyangkut masalah permutanan. Dengan rasa kesal setengah mati, aku bangkit dan berjalan menuju balkon. “Tak bisakah kau berhenti membicarakan masalah mutan ini? Baru sehari saja aku sudah muak mendengar kata ‘serum’ dan ‘mutan’.”

Dia tertawa keras di seberang sana, sial.

Keep calm, man. Aku hanya mengingatkan, barangkali kau lupa. Ah, apa kau merasa sakit lagi?”

“Tidak. Aku rasa, sakitnya bekerja jika emosiku memuncak.”

Hening sejenak. Kenapa sekarang perasaanku tak enak?

“Kau benar-benar harus datang besok. Ah, satu lagi, besok pagi pasti akan ada perubahan pada dirimu, yah, walau hanya sedikit perubahan, sih.”

Aku mengurut pelipisku yang mulai berdenyut. Sepertinya vertigoku akan kambuh.

“Oke, aku akan datang besok. Ah ya, apakah ada mesin waktu juga? Kenapa waktunya bisa rancu begini?”

“Hahaha, ternyata kau memang menyadarinya. Hey, Kris, apa kau pikir aku mau repot mengantarmu jam dua belas malam ke rumahmu dan ditanyai oleh orang tuamu, begitu? Yah, tentu saja aku fungsikan mesin waktu milikku! Yang tak masuk dalam arus waktu ‘kemarin’ hanyalah kau dan aku, jadi ada yang mau kau tanyakan lagi?”

“Dasar sinting. Aku mengerti, terlalu banyak film bertemakan science fiction yang sudah kutonton. Eh, Brian….”

“Ya?”

Aku menggigit bibir bawahku, rasanya aku meragu untuk mengatakan apa yang sangat ingin kukatakan. “Umm… apakah aku bisa bertahan hidup dalam kondisi yang tak terduga seperti ini? Maksudku, aku—“

“Yakinlah, Kris. Aku sudah memperhitungkan segalanya sebelum memilihmu. IQ, kepadatan sel, dan sistem imunmu begitu pas dengan serumku. Kau pasti bisa menghadapi semua ini.”

“Kau begitu percaya diri mengatakan hal itu. Berengsek, kau bukan orang yang mengalaminya. Hhh, sudahlah, sampai jumpa besok.”

Aku mengakhiri sambungannya. Tubuhku berbalik untuk kembali masuk ke kamar, namun—

“ASTAGA!!”

Wajah Diana kini menempel di dadaku. Serius! Apa yang dilakukan anak ini di kamarku?!

Diana memundurkan tubuhnya. “Kenapa kau menabraku?!”

“Kenapa kau berdiri terlalu dekat denganku?!” gertakku dengan mata melotot. Hampir saja jantungku copot, dasar gadis tengik.

“Kris, apa yang kau bicarakan? Sebuah film, ya? Tentang mutan? Apa judulnya? Siapa—“

Aku melangkah dengan frustasi ke dalam kamar dan merebahkan diri di kasur. “Satu-satu, aku masih lelah untuk menyerap pertanyaanmu yang jumlahnya jutaan.”

Gadis itu merengut sedikit dan beralih tidur di sebelahku. “Apa yang kau bicarakan dengan si Brian tadi?”

“Seperti katamu, tentang film.”

Matanya berbinar penuh harap, yah dasar mahasiswa baru jurusan perfilman. “Oh ya? Apa genrenya science fiction? Siapa sutradaranya? Oh! Dan siapa pemainnya?”

Tentu saja bergenre science fiction dan sutradaranya? Oh itu pasti Brian Revine dan satu-satunya pemain adalah aku, Diana. Ini adalah sebuah film yang terlalu nyata.

“Iya. Oh, tadi itu temanku dari jurusan film yang bertanya-tanya mengenai sains padaku. Dia berencana membuat proyek nanti. Sudahlah, Diana, aku mau tidur. Sana, pergi ke kamarmu.”

Dengan wajah tertunduk dia akhirnya bangkit dan berjalan menuju pintu. Tapi sebelum keluar, dia berkata,“Omong-omong, kau sialan juga, Kris. Aku rasa kau terlalu banyak mengumpat sekarang.”

Saat Diana benar-benar menutup pintu dan pergi, aku mengacak rambutku. “Hell, dia mendengar pembicaraanku dengan Brian.”

.

.

.

Suara jam weker yang berdering nyaring membuatku membuka mata dengan malas. Sejenak aku terdiam duduk selama tiga menit sebelum akhirnya berjalan menuju kamar mandi. Kelopak mataku masih senantiasa menutup ketika aku mulai mengambil sikat gigi dan pasta giginya. Selesai menyikat gigi, aku membasuh wajah dan netraku membulat seketika saat mendapati bayangan pada cermin. Di cermin, ada seorang pria yang mirip denganku namun tak memakai kawat gigi juga—oh, rambutnya! Rambutnya berwarna merah marun kehitaman!

“K-kenapa bisa?”

Terlepas dari keterkejutanku saat ini, sebuah panggilan masuk ke ponselku, dari Brian.

“Halo, Kris. Bagaimana pagimu?”

Suaranya terdengar ceria sementara aku masih termangu menyentuh rambutku yang berubah warna secara misterius. “Rambutku… Kawat gigiku….”

“Hahaha, bagaimana? Sudah kubilang ‘kan ada sedikit perubahan nanti. Oh omong-omong, kawat gigi itu aku yang melepasnya. Yah, menyelinap ke kamarmu saat malam hari untuk melepas benda itu cukup butuh tenaga, sebenarnya.”

“Kau gila. Apakah kau teleporter juga?”

“Hahahaha, hasil tes IQ-mu memang tak berbohong, Kris. Well, tadi malam aku juga menaruh beberapa koleksiku di atas nakasmu yang mungkin akan menggugah seleramu untuk memakainya. Baiklah, jangan lupa, pukul 10 tepat.”

“Sialan, oke, sampai jumpa.”

Tungkaiku menuntunku untuk melihat apa yang dikatakan Brian sebagai ‘koleksinya’. Ada sebuah kotak hitam kecil di sana, eh? Bentuknya seperti kotak perhiasan. Oh well, ini adalah beberapa anting tindik. Tapi telingaku tak ada tindikan sama sekali, mau bagaimana aku memasangnya?

Aku berjalan menuju cermin besar di kamarku dan melihat refleksiku yang, ugh, menurutku makin tampan dan panas. Tunggu dulu, telingaku sudah ada lubang tindik? Wah, wah, wah… Brian sungguh-sungguh menghadiahiku paket komplet.

Aku meraba-raba punggungku yang terlapisi piyama tidur berwarna navy blue. Kenapa tidak sakit lagi, ya? Ah, dan ucapan Brian yang mewanti-wanti agar aku datang hari ini… membuatku sedikit takut.

Aku takut diriku tidak siap dengan perubahan hidupku yang drastissebagai mutan.

[To Be Continue]

Yippie~~~ Akhirnya chapter 1 have done!

Konfliknya masih agak kabur, belum terlalu jelas. Yang pasti inti dari chapter ini adalah perasaan tidak siap Kris akan hidupnya yang akan berubah menjadi mutan. Oh aku juga mau ngasih tau, aku akan update setiap 3 hari atau sampai 5 hari setelah publish satu chapter. Rencananya sih nggak akan terlalu banyak, tergantung ide plot yang nyamber aja. Hehehe.

Okay then, mind to review?:)

NILAM

Advertisements

9 thoughts on “Vehement [Chapter 1]

  1. Oh.. I love it babe..
    Keren banget laaamm..
    Eh.. Nanti mutannya itu maksudnya jadi kaya superhero keren gitu?
    Tapi beneran, si brian kayanya genius banget omo. Mesin waktu sama teleporter :G dia ilmuwan ataukah penyihir?
    Wuhuuu.. Lanjut ya om.. Bahasamu juga keren bgt senpay.
    Lovlovforyou

    Like

  2. Wah, ada ada aja kak..
    Tapi bagus bgt !!! Apalagi min castnya Kris 😄 jd tambah cocok deh
    *maaf nggak comment di prolognya kak
    *btw, author line brp?

    Like

      1. Wah kita ternyata cuman beda 1 tahun ya, aku line 2001. Yg usernamenya Wu Yi Han itu jg aku thor. buat selanjutnya aku pake yg Wu Yi Han. Btw kapan lanjutannya nih ??

        Like

  3. Wah, ada ada aja kak idenya..
    Tapi bagus bgt !!! Apalagi main castnya Kris 😄 jd tambah bagus deh
    *maaf nggak comment di prolognya kak
    *btw, kakak line brp?

    Like

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s