Remind

remind

R E M I N D || by echaakim

Sehun & Sulli || Slice of life  || Teen

“Karena aku yang akan mengingatkanmu setiap hari..”

Tetesan air hujan itu jatuh dengan cepat membasahi bumi. Dingin. Bulir-bulir air mengembun pada jendela kaca, mengaburkan pemandangan diluar dan membuatnya tak begitu jelas. Sudah pukul 8 pagi, namun hujan diluar sana samasekali belum menampakkan tanda-tanda hendak reda walau hanya sejenak.

Sehun melepas pengikat gorden biru disebelahnya, membiarkan kain itu menutupi seluruh jendela. Pemandangan diluar membuatnya bosan, terus begitu sejak 3 jam lalu. Hanya beberapa perawat dan petugas rumah sakit yang terlihat berlalu-lalang sementara taman yang biasanya ramai kini telah ditinggalkan. Perkara hujan.

Ia beralih menatap setiap inci ruangan yang telah ditempatinya sejak beberapa hari lalu. Semuanya sama. Ruangan ini tidak terlalu besar, tapi cukup luas untuk dihuni seorang diri olehnya. Catnya yang berwarna putih membosankan ditambah dengan aroma obat-obatan begitu khas, khas rumah sakit. Sofa panjang disudut sana juga masih sama. Hanya saja bunga dalam vas diatas meja nakas disebelahnya yang sebelumnya diisi beberapa tangkai krisan, kini sudah berganti dengan baby’s breath yang segar. Sehun tak ingat kapan dan siapa yang menggantinya.

Ia baru saja hendak beranjak keluar, bermaksud sekadar berjalan-jalan di koridor ketika seseorang mendorong pintu kamar rawatnya dari luar. Seorang gadis. Ia masuk begitu saja dan menutup pintu. Gadis itu tersenyum ramah kearahnya sembari membungkuk singkat. Asing. Sehun tak pernah melihatnya sebelumnya. Dia cukup tinggi untuk ukuran seorang gadis, rambutnya panjang berwarna cokelat cerah, kulitnya seputih susu, dan cantik.

 

“Hai, selamat pagi.”

 

Gadis itu menyapanya. Ia menyisipkan rambutnya yang agak basah kebelakang telinga, mengambil beberapa langkah kearah meja nakas dan meletakkan satu parsel buah-buahan diatas sana. Sehun mengerutkan dahi. Gadis ini orang asing, siapa dia? Apa dia salah masuk kamar?

 

“Aku Jinri. Choi Jinri,” dia memperkenalkan dirinya, “aku tetanggamu, rumah kita bersebelahan dan aku akan menemanimu disini.” Lanjut gadis itu sambil mengulum senyum. Ia mendudukkan diri diujung ranjang, menghadapkan tubuhnya pada Sehun yang masih terlihat bingung.

Sehun memandangi gadis itu serius. Ia bahkan tak ingat kalau ia punya tetangga seorang gadis seumurannya. Ia berusaha mengingat gadis bernama Jinri ini. Tapi usahanya sia-sia. Ia tak mengingat apapun, siapa gadis yang mengaku sebagai tetangganya ini.

 

“Maaf, tapi aku tidak mengenalimu.”

 

Gadis itu tersenyum memaklumi. Ia mengangguk dan mulutnya seolah berbisik ‘tak apa‘ dengan pelan. Namun Sehun dapat menangkap raut kecewa diwajah cantik itu.

 

 

“Bagaimana kondisimu? Sudah baikan?” Jinri membuka pembicaraan setelah beberapa menit terjebak dalam keheningan sesaat. Ia meletakkan sebuah apel diatas pangkuan Sehun.

Sehun mengangguk. Tersenyum simpul menatap apel yang ada dipangkuannya. “Ya, aku sudah merasa baik. Terima kasih,”

Jinri mengangguk singkat, mengerti. Lalu bertanya lagi, “Kau ingat ‘kan kenapa kau ada disini? Maksudku, kau ingat kalau kau itu sakit..” katanya, sengaja menggantung kalimatnya, “tifus,” lanjutnya pelan.

“Ya,” Sehun terkekeh pelan menanggapi pertanyaan Jinri. “Aku ingat. Aku disini sejak beberapa hari lalu dan kau orang pertama yang menjengukku.” Jawabnya. Terselip sedikit nada sedih diakhir kalimatnya. Dan aku tak tahu siapa orang yang membawaku kesini.

Gadis itu tertawa ringan sambil mengangguk-anggukan kepalanya. “Benarkah? Ibuku yang membawamu kesini setelah tahu kau pingsan seorang diri dirumah.” Dia berujar serius seolah membaca isi kepala lelaki itu.

Bagus, sekarang ada satu orang lagi yang asing. Ibu gadis ini? Oh, ia bahkan belum selesai berkelakar tentang siapa gadis dihadapannya ini, namun ia harus menngingat lagi siapa wanita baik hati yang disebut Jinri sebagai ibunya. Sialnya, ia tak mengingatnya. Sedikit pun.

“Oh, ya, kakakmu juga sudah mengirimkan uang untuk biaya perawatanmu..” Jinri berseru.

“Kakak?” Sahut Sehun ragu. Ia tak merasa pernah memiliki kakak sebelumnya. Samasekali tidak pernah. Dan Sehun mengerutkan dahinya ketika gadis itu mengangguk mengiyakan.

“Ya, kakakmu. Namanya Luhan. Ia sedang di China, jadi ia belum sempat kemari.”

Sehun menggeleng pelan. Siapa lagi yang bernama Luhan ini? Seperti apa rupa wajahnya? Kakak? Sejak kapan? “Maaf, aku–”

“Tunggu sebentar,” Jinri memotong. Dia mengambil sesuatu dari tas kecilnya. Kelihatannya sebuah buku, tapi entah kenapa Sehun lebih meyakini kalau itu adalah album foto.

Dan itu benar-benar sebuah album foto ketika Jinri membuka halaman pertamanya. Ada satu foto pria asing disana dengan coretan bertuliskan ‘Luhan’ dibawahnya. “Nah, dia ini kakakmu.” Jinri menunjuk foto itu dengan antusias. Lalu tertawa sambil memperhatikan foto itu bergantian dengan wajah Sehun, seolah membandingkannya. “Tampan, ya? Mirip denganmu,” kekehnya. Sehun mengangguk meski ia tak ingat betul bahwa sosok dengan setelan kantoran yang sedang tersenyum itu adalah kakaknya. Wajahnya asing, ia baru melihatnya.

Sehun membuka halaman berikutnya dan ia menemukan satu wajah yang tak asing disana. Itu Jinri. Gadis yang duduk berhadapan dengannya. Ia tersenyum cerah dengan simbol peace ditangannya. “Ahh, itu aku!” Jinri berseru. Sehun terkekeh. Ia sedikit merasa lucu dengan gadis ini setelah melihat tulisan dibawahnya; “I’m Jinri. And I’m yours!” Apa maksudnya? Tapi Sehun memilih untuk mengabaikannya saja. Ia lebih memilih untuk menutup album itu.

 

Gadis ini pandai mencairkan suasana. Itu pendapat Sehun setelah lama berbincang ini dan itu bersamanya. Dia dengan mudah mengubah suasana canggung menjadi lebih akrab, seolah-olah mereka telah lama saling kenal satu sama lain. Bahkan Sehun bisa ikut tertawa lepas ketika gadis itu tertawa. Sehun merasa apa yang gadis itu lakukan begitu menular dengan mudah padanya.

Sehun merasa sedikit lebih hidup. Setidaknya dia punya teman ngobrol hari ini, meninggalkan sisi-sisi membosankan sebelumnya. Namun dalam hati dia menyembunyikan senyuman masamnya. Dia punya teman hari ini, tidak untuk besok. Kelainan memori di otaknya tak akan pernah membaik. Sialnya begitu. Semuanya akan kembali menjadi asing segera setelah dia membuka matanya esok pagi. Semuanya.

Well, Sehun, berceritalah sedikit tentangmu.” Jinri berkata, terdengar antusias. “Aku ‘kan tetanggamu. Tak ada salahnya jika kau terbuka padaku.”

Sehun mengulum senyum. Pelan-pelan menggelengkan kepalanya. “Entahlah,” ujarnya pelan, “aku tak tahu harus bercerita apa..” sambungnya. Lalu beberapa detik kemudian mengeluarkan senyum masam yang dipendamnya. “Anterograde amnesia. Itu membuatku tidak mengingat apa pun, sama sekali.”

Jinri tersenyum tipis. Ikut merasakan kesedihan dibalik topeng yang dikenakan Sehun. Ia tahu pemuda itu pastilah marasa sangat kesepian, merasa bahwa dia selalu hidup sendirian. Itu sulit, tentu.

“Baiklah, kalau begitu aku saja yang bercerita..” Jinri menggeser duduknya, “aku punya pacar..” gadis itu melanjutkan sambil menunduk, tiba-tiba menyembunyikan senyuman kecutnya. Ia memandangi simpul yang ia buat pada sepatu merah mudanya. Sendu dan sedih. Lalu mengangkat kepalanya memandangi Sehun lagi yang bermimik wajah ingin tahu.

 

“Dia sama sepertimu.. Anterograde amnesia itu juga merusaknya..”

 

Oh, sepertinya Sehun harus rela jadi pendengar yang baik untuk hari ini. Bagus sekali. Gadis ini punya pacar yang memiliki kelainan memori ingatan yang disebut Anterograde Amnesia–sama sepertinya. Sehun pikir akan sangat lucu sekali ketika mereka menjadi sepasang kekasih hari ini, lalu si pria akan melupakan gadis itu esok hari, menganggap si gadis–yang sebenarnya adalah pacarnya–hanyalah orang asing. Keren.

 

“Lalu?” Sehun merespon singkat. Dia bukanlah tipikal pendengar yang cukup baik. Akan menjadi membosankan baginya jika suatu cerita melankolis tersodor kearahnya. Meski setengah hati dia tak mau mendengar keluh kesah gadis ini soal kekasihnya yang punya kelainan memori sepertinya, tapi setengah hatinya memaksanya untuk mendengarkan gadis itu lagi.

Jinri menghela napas berat. “Dia mengenalku hari ini, tidak untuk esok. Tapi aku akan selalu mengingatkannya, walaupun ia tak pernah mengingat siapa aku. Masa bodoh dengan tatapan datarnya ketika aku menyapanya tiap pagi. Aku mengaku bahwa aku adalah pacarnya, lalu kami menjalani masa pacaran untuk yang pertama kali baginya, dan kesekian kali bagiku..” Dia terkekeh setelah berbicara panjang lebar.

Sehun mencernanya baik-baik. Dalam hati dia memuji kegigihan Jinri yang tanpa lelah terus bersama pria itu. Kesetiaannya patut diacungi jempol. Karena belum tentu jika orang lain berada diposisi yang sama dengan Jinri akan bertahan seperti itu.

“Kau hebat,” Sehun memuji, memberikan senyumannya, “mungkin jika orang lain terjebak dalam posisimu, orang itu akan pergi meninggalkannya begitu saja.” Ia berkelakar hati-hati, takut menyinggung perasaan Jinri. “Pacarmu orang yang paling beruntung.” Sehun mengakhiri kalimatnya dengan tersenyum sekali lagi.

 

Pembicaraan mereka harus terhenti dengan dering dari ponsel Jinri. Gadis itu bilang teman satu kampusnya yang ingin bertemu. Sehun mengiyakan. Mungkin seharian ini cukup, ia tidak merasa kesepian saat ini. Jinri pamit pergi, dia tersenyum dan melambai pada Sehun, mengucapkan salam perpisahan. Namun ketika tangannya hendak meraih knop pintu, Sehun menahannya sejenak.

 

“Apa kau akan pergi ke rumah pacarmu nanti?” Tanya Sehun. Sebenarnya ingin menahan gadis itu untuk tinggal lebih lama.

 

Jinri tersenyum, lalu menggeleng pelan, “tidak. Dia sedang sakit, aku sudah menjenguknya pagi-pagi sekali dan dia butuh istirahat total,” katanya.

 

Sehun mengangguk paham. Benar-benar gadis yang baik, benaknya. Karena tak ingin membuat Jinri merasa ditahan lebih lama, Sehun pun segera mengijinkannya pergi. “Baiklah, sampaikan salam cepat sembuhku untuknya,” kata Sehun.

 

“Oke, akan ku sampaikan nanti. Kau juga cepat sembuh, oke? Sampai jumpa lagi, Sehun.”

 

“Ya, sampai jumpa lagi.”

 

Dan pintu pun tertutup. Sehun menghela napas panjang, rasanya dunia ini memang benar-benar tidak adil. Dia akan melupakan waktu manis ini dengan mudah ketika dia mendengar cicit burung di pagi hari.

 

Sehun terbangun satu jam lebih lambat dari hari-hari sebelumnya. Dia terbangun di tempat yang sama dengan kemarin. Semuanya sama dan familiar. Sofa itu, bunga dalam vas yang masih sama dengan kemarin, aroma khas yang tak enak dicium. Semuanya.

Dia tersentak ketika pintu kamarnya dibuka dari luar. Seorang gadis masuk. Asing. Apa mungkin gadis ini salah masuk ruangan?

“Hai, aku Jinri.” gadis itu berkata to the point, “aku tetanggamu, dan aku akan menemanimu hari ini,”

Sehun menggeleng pelan, “maaf, aku tidak mengenalmu, nona.”

Gadis bernama Jinri itu tertawa ringan, mengibaskan tangannya di depan dada dengan gesture seperti menepis lalat. “Tak apa, aku akan meningatkanmu setiap hari, jika kau mau.”

 

 

—END

Igeh mwoyaaahhhhh???? ;;-;;
Miane miane kawan kawan, ini epep lama dan entah kenapa pula aku post disini sebagai pembuka bagianku ;;-;;
Endingnya amburadul otokeeehhh??? ;;-;;
Yasudala chingus, kusudahi semua ini dengan bunuh Sehun /gak ;;-;;
Miane nomu nomu miane huks ;;-;;

Advertisements

5 thoughts on “Remind

  1. echa, idemu kok bagus banget sih? ngangkat tema anterograde amnesia lagi, jadi inget-inget Anterograde Tomorrow.. 😦

    oke, langsung saja ya. aku suka cerita kamu yang ini; alurnya pas- ngaliiiir gitu. apalagi bahasa kamu, pilihan bahasamu bagus, cocok untuk bacaan anak muda kayak kita ini. XD terus, waktu Sulli bilang kalau pacarnya juga kena anterograde amnesia kayak Sehun, aku bisa berpikir kalau pacarnya Sulli itu Sehun, tapi ternyata bukan ya? endingnya gantung bangeeeet! :””)

    terus itu, kenapa kau membuat Luhan jadi kakaknya Sehun? kenapa cha, kenapa 😦 kau membuatku tak bisa move on dari Luhan T.T (oke cukup, ini menyimpang dari topik.) pokoknya tetap menulis ya 🙂 ayo lahirkan fiksi-fiksi brilian kayak gini terus 😉

    with love,
    Cathlyn,

    Liked by 1 person

    1. Ngeheeee XD
      Itu pacarnya Sulli yang dia ceritain sebenernya emang Sehun, tapi kan dia ngga mungkin ngaku ngaku sedangkan Sehun aja baru kenal dia/?
      Mianeeeeeeee >< Mau kubuat Suho tapi malah ketiknya Luhan XD

      Ah thanks ketjung sayang:*

      Like

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s